PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kesedihan Ratu Iblis (2)


Feng terbang ke bawah dengan sangat cepat dan menangkap Lili dengan kedua tangannya. Ia segera mendarat di atas tanah, tepat di halaman rumahnya.


"Turunkan aku!" teriak Lili sambil meronta-ronta dalam pelukan suaminya.


"Tidak! Kau mau pergi kemana?! Apa kau tidak tahu, seberapa bahayanya tadi?! Apa kau ingin bunuh diri?!" bentak Feng dengan ekspresi marah di wajahnya.


"Memangnya aku mau?! Apa kau sama sekali tidak punya perasaan?! Apa kau tidak melihat, di atas sana ada anak kecil yang berusaha mati-matian menghadapi orang dewasa yang kekuatannya jauh diatasnya?! Dan itu adalah adik iparmu! Adik kandungku sendiri?! Lepaskan aku!"


"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak!!!"


Melihat Feng yang bersikeras tidak mau menurunkannya, membuat Lili terpaksa menggigit lengannya.


"Akkhhhhhh!!!" teriak Feng kesakitan.


Tanpa sadar, ia melepaskan kedua tangannya yang membuat Lili berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya. Lili pun segera berlari menjauh darinya sambil berteriak memanggil Hana.


"Hana! Hana!"


Tak lama kemudian bayangan hitam terbang menuju ke arahnya dan Hana muncul tepat di hadapannya.


"Ada apa putri, kau memanggilku?" tanya Hana sambil berlutut di hadapan Lili yang sedang panik.


"Bantu aku selamatkan adikku Lexi yang berada di luar istana."


"Tuan muda kecil Lexi?"


"Iya. Saat ini dia berada di luar istana yang sedang dilindungi oleh pelindung tak kasat mata. Jadi ia tidak bisa memasukki istana ini. Ditambah, dia sedang bertarung hidup dan mati dengan pria bertopeng di atas sana!"


"Apa?! Seorang pria menindas anak kecil?!"


"Ya. Jadi aku memanggilmu, karena aku ingin minta tolong kepadamu. Hancurkan pelindung itu dan bawa aku kesana!" perintah Lili dengan ekspresi panik di wajahnya.


"Baik putri!"


Hana pun melakukan gerakan memutar tangannya di udara dan terbentuklah sebuah tombak raksasa berwarna merah yang disekelilingnya dipenuhi aura berwarna merah. Ia pun mengambil tombak itu dan menembakkan ke udara. Saat ia hendak menembakkan tombak itu ke udara, tiba-tiba aura berwarna merah yang menyelimuti tombak itu, perlahan memudar dan tombak itu menghilang dari tangannya. Hana dan Lili sangat terkejut melihatnya, tapi berbeda dengan Feng. Ia hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Hana pun mencoba mengulangi gerakannya untuk memanggil tombaknya kembali. Tapi kali ini ia gagal. Bahkan Hana bisa merasakan bahwa kekuatannya di segel oleh sesuatu. Ia pun berbalik menatap Lili dengan ekspresi panik di wajahnya. Lili yang menyadari kekuatan Hana telah disegel, hanya bisa memejamkan kedua matanya dan menghela nafas. Perlahan ia membuka kedua matanya dan berjalan menghampiri Hana. Ia memeluk Hana dan membisikkan sesuatu ke telinga Hana dengan lembut.


"Terima kasih. Setidaknya kau telah berusaha menolongku." bisik Lili sambil memeluk Hana.


"Tapi putri, aku telah mengecewakanmu. Aku..."


"Cukup. Kau tidak salah." ucap Lili sambil melepaskan pelukannya.


"Apa maksudmu putri?!" tanya Hana dengan ekspresi penuh tanya di wajahnya.


"Seseorang harus bertanggung jawab atas ini!" jawab Lili dengan nada ketus sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ia pun berbalik dan berjalan ke arah Feng, suaminya. Ia memukul dada Feng dengan sekuat tenaga dan menarik kerah bajunya dengan kedua tangannya.


"Kau, kau lepaskan sekarang juga segel yang kau pasang pada Hana! Cepat lepaskan!"


"Kau memintaku untuk melepaskan segel yang aku pasang pada pelayanmu dengan cara seperti ini?!" tanya Feng dengan nada dingin.


"Jadi, kau juga yang melakukan hal ini kepadaku?! Jawab?!" bentak Lili sambil menatap tajam ke arah Feng.


Cengkaramanya semakin kuat pada kerah baju Feng. Tatapan matanya kali ini penuh dengan amarah dan kebencian pada Feng, suaminya.


"Bagaimana jika aku tidak mau menjawabnya?! Apa yang akan kau lakukan padaku? Membunuhku?!" ucap Feng sambil menggenggam kedua tangan Lili yang masih mencengkeram kerah bajunya.


Mendengar perkataan Feng, Lili semakin marah. Kedua matanya berwarna merah dan berkaca-kaca. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Kemarahannya semakin memuncak. Perlahan-lahan ia melepaskan cengkeramannya dan mundur beberapa langkah menjauh dari Feng. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan adiknya.


"Kakakkkk!!!" teriak Lexi yang terjatuh dari iblis hitam.


"Putri, lihat itu!" teriak Hana sambil menunjuk ke arah Lexi yang sedang terjatuh ke bawah.


Lili segera menoleh dan melihat ke atas. Ia melihat Lexi adiknya jatuh dari punggung iblis hitam (elang hitam peliharaan Lili yang diberikan oleh ayahnya.)


"Lexiiii!!!" teriak Lili sekeras-kerasnya.


Ia melihat adiknya terjatuh dan ditangkap oleh sekilas bayangan hitam, lalu menghilang. Iblis hitam raksasa yang membawanya berubah kembali ke wujud aslinya, elang hitam dan terjatuh ke atas tanah. Lili yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa tertunduk dan berlutut di atas tanah. Tubuhnya terasa lemas tak sanggup untuk berdiri lagi. Ia menangis sekeras-kerasnya, melihat adiknya terjatuh di depan mata kepalanya sendiri. Sementara ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan adiknya itu. Rasa sakit hati, penyesalan bercampur aduk di hatinya. Hana yang melihat tuannya sedang berlutut di atas tanah sambil menangis, tidak berani untuk mendekatinya. Feng yang melihat istrinya menangis sekeras-kerasnya, ia hanya berpaling dan menatap ke atas langit. Kedua matanya memancarkan kilatan cahaya kuning dan perlahan-lahan pelindung istana itu samar-samar terbuka. Melihat pelindung istana itu terbuka, ia segera terbang ke atas dan mendarat ke luar istananya. Ia memeriksa sekeliling istana. Hana yang melihat putra mahkota Feng terbang keluar istana, langsung berlari menghampiri Lili.


"Putri, putri... lihat. Putra mahkota, dia... dia bisa keluar dari istana ini." kata Hana yang ikut berlutut di sampingnya sambil menunjuk ke atas langit.


Lili pun menoleh ke atas langit dan melihat bahwa pelindung istana yang tadinya tidak bisa dihancurkan oleh Hana, tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.


"Dimana putra mahkota?!" tanya Lili dengan ekspresi dingin di wajahnya.


"Dia terbang ke atas putri."


"Apa kekuatanmu sudah kembali?" tanya Lili sambil berbalik menatap Hana.


Hana pun mencoba mengeluarkan sedikit kekuatannya melalui telapak tangan kanannya. Lili melihatnya dengan seksama. Dari telapak tangannya keluarga aura berwarna merah yang keluar menyembur seperti api yang berkobar. Ia pun segera menarik kembali kekuatannya.


"Putri, kekuatanku sudah kembali.


"Segera bawa aku ke atas sana."


"Baik."


"Ahhhh!!!" teriak Lili yang tertarik ke bawah.


"Putri!" teriak Hana sambil mengejar Lili ke bawah.


Lili yang terkejut dirinya telah dililit oleh sulur panjang berduri itu, segera berusaha meronta untuk melepaskannya. Hana yang mengejar di belakangnya berusaha untuk menolongnya dengan mengeluarkan kain panjang dari balik jubah bajunya. Sayangnya, saat kain panjang itu menyentuh sulur hijau berduri itu, langsung terbakar. Melihat kain putihnya terbakar, Hana segera melepaskannya.


"Cih, sial! Sulur macam apa itu?!" umpat Hana sambil terus mengejar Lili.


Betapa terkejutnya Hana saat ia melihat, Lili ditangkap oleh putra mahkota Feng, suaminya sendiri. Ekspresi wajah putra mahkota Feng sangat menakutkan. Hana pun mendarat di atas tanah dan memberi hormat kepadanya.


"Yang Mulia."


Feng yang melihat Hana memberi hormat kepadanya, langsung mencambuknya dengan sulur hijau berduri itu.


"Akhh!" teriak Hana sambil terjatuh di atas tanah dengan tubuh penuh luka akibat cambukan sulur hijau berduri milik putra mahkota Feng.


Ia melihat sulur hijau berduri itu berasal dari telapak tangan kiri putra mahkota Feng.


"Berani sekali kau pelayan rendahan!"


Plakkkk!! (suara tamparan keras Lili yang dilayangkan di pipi kiri suaminya.)


Feng memegang pipi kirinya yang ditampar oleh Lili. Terasa sangat sakit, namun entah kenapa ia merasa jauh lebih sakit hatinya. Ia berbalik menatap Lili dengan tatapan tajam.


"Berani sekali kau menamparku?!" hardik Feng sambil menangkap tangan kanan Lili dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Ngg... lepasakan aku!" kata Lili sambil mengerang kesakitan.


Feng tak peduli dengan Lili yang kesakitan akibat mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Feng. Semakin Lili berontak, semakin kuat cengkeramannya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Lili dari arah belakang.


"Kakak." sapa Lexi dengan nada lirih.


Lili yang mendengar suara adiknya langsung menoleh ke belakang. Ia melihat Lexi berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi iblis hitam di tangannya yang sedang terluka parah. Feng yang melihat kehadiran adik iparnya, tanpa sadar perlahan melonggarkan cengkeramanya. Lili yang melihat cengkeraman Feng melonggarkan segera menarik tangannya dan berlari menuju adiknya. Saat hendak memeluknya, Lexi jatuh pingsan, namun dengan cepat Lili menangkapnya.


"Lexi... Lexi... bangunlah! Lexi, Lexi!" teriak Lili sambil menepuk kedua pipinya secara bergantian.


Perlahan-lahan, Lexi membuka kedua matanya. Ia melihat kakaknya sedang menangis di depannya.


"Kakak, kenapa kau menangis?" tanya Lexi dengan nada lirih sambil mengusap air mata kakaknya dengan tangan kanannya.


"Kakak senang kau baik-baik saja. Kakak minta maaf, karena tidak bisa menyelamatkanmu... hiks... hiks..." jawab Lili sambil menangis.


"Kakak, kau sudah menyelamatkanku."


"Apa?!"


"Saat aku terjatuh dari punggung iblis hitam, seseorang menangkapku dan membantuku membunuh pria bertopeng yang sedang mengejarku."


"Siapa yang menyelamatkanmu? Dan siapa pria bertopeng itu?!"


"Aku tidak tahu siapa yang menyelamatkan aku. Karena wajahnya tertutupi oleh masker. Dan pria bertopeng itu... merekalah yang telah membunuh ayah ibu. Kakak, tolong ayah dan ibu. Ayah dan ibu menyuruhku untuk memberitahukanmu tentang ini. Kakak, selamatkan mereka. Ayah, ibu... aku sudah bertemu kakak. Dan sudah menyampaikan semuanya kepada kakak. Tapi, aku minta maaf ayah ibu. Aku tidak bisa menemani kakak seperti keinginan kalian."


"Cukup! Jangan katakan itu, kakak akan menyembuhkanmu!"


"Tidak kakak. Kau tidak perlu melakukan itu. Kakak, jika aku tidak ada di dunia ini... apa kau akan menyayangiku seperti kau menyayangi anakmu?"


"Tentu. Tentu aku akan menyayangimu. Selamanya. Karena itu, kau harus hidup, untuk menemani kakak di dunia ini." ucap Lili sambil menangis tak kuasa menahan air matanya.


Hana yang tersungkur diatas tanah, tak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia tak kuasa menahan air matanya.


"Kakak, aku minta maaf. Aku minta maaf karena tidak bisa menemani kakak. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu."


"Tidak. Tidak. Kau adikku yang sangat baik. Penurut."


"Benarkah?"


"Ya."


"Terima kasih kakak. Kakak, jangan menangis lagi ya. Hiduplah bahagia demi aku, demi kedua orang tua kita. Janji ya?"


"Iya... aku janji."


"Janji jari kelingking ya." kata Lexi sambil mengangkat jari kelingking kanannya pelan-pelan.


"Aku janji." kata Lili sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Lexi.


Lexi yang melihatnya tersenyum manis. Perlahan-lahan ia menutup kedua matanya dan jari kelingkingnya melonggar dan terjatuh di atas tubuhnya. Tangan kiri yang ia gunakan untuk membawa iblis hitam perlahan melonggar dan membuat iblis hitam terjatuh di sampingnya. Lili yang melihat iblis hitam terjatuh disampingnya, semakin panik. Seluruh tubuhnya gemetaran merasakan tubuh adiknya berubah menjadi kaku dan dingin. Lili yang melihat tangan Lexi tidak bergerak lagi, langsung menggoyangkan tubuh adiknya.


"Lexi... Lexi bangun! Lexi, jangan buat kakak takut! Lexi... Lexi...!" teriak Lili sambil menepuk-nepuk kedua pipinya secara bergantian. Sesekali ia menggoyangkan tubuh adiknya yang kaku itu.


Dengan tangan gemetaran, ia memeriksa denyut nadi adiknya dan nafas dihidungnya. Ia merasakan tak ada tanda kehidupan dalam tubuh adiknya. Ekspresi wajahnya berubahnya menjadi muram. Ia berteriak sekeras-kerasnya sambil menangis memeluk adiknya erat-erat. Air matanya tak henti-hentinya mengalir di kedua pipinya.


"Tidakkkkkkkkk! Lexi jangan pergi! Jangan tinggalkan kakak sendiri! Ahhhhhhhhhh!!!!!!" teriak Lili sambil menangis sekeras-kerasnya dengan memeluk erat tubuh adiknya yang sudah menjadi mayat.