PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Roh Misterius dan Kekuatan Misterius 1)


Mendengar roh itu meminta tolong kepadanya, Lili merasa tak enak jika menolaknya. Ditambah dengan wajahnya yang menunjukkan ekspresi sangat menyedihkan, membuat Lili semakin tidak tega untuk menolaknya.


"Boleh. Selama itu hal baik, aku akan menolongmu. Tapi, jika itu hal buruk, maaf aku tidak bisa menolongmu."


"Hahahaha... sudah kuduga kau pasti akan mengatakan hal itu."


"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau harus bertanya?"


"Aku hanya mengetesmu saja."


"Apa?!"


"Hahaha, hanya bercanda."


"Aku harap begitu."


"Ikutti aku!"


"Kemana?"


"Tenang saja. Aku tidak akan memakanmu. Bahkan jika aku hidup sekalipun, aku tidak akan pernah memakanmu."


"Kenapa?"


"Karena aku mempunyai keluarga. Aku tidak akan rela jika anggota keluargaku disakiti oleh orang lain."


"Jadi, kau tidak akan membunuhku dan memakanku bukan?"


"Tentu saja tidak. Aku menganggap kau sebagai anakku sendiri. Meski kalian berdua berbeda."


"Tentu saja berbeda. Karena kau bukan ayah kandungku."


"Hahaha... kau benar. Tapi bukan itu yang aku maksud."


"Lalu apa yang kau maksud?! Apa dia masih bayi? Apa dia laki-laki atau perempuan?"


"Dia... laki-laki. Sangat tampan seperti aku."


"Tentu saja kau mengatakan itu, karena dia adalah anakmu sendiri. Bahkan jika itu adalah ayahku, dia pasti akan mengatakan hal yang sama dengannya." batin Lili.


Roh itu pun terbang ke atas diikuti oleh Lili yang berada di belakangnya. Mereka menuju ke sebuah gua yang ditutupi oleh semak belukar, dan pepohonan yang tinggi. Kemudian keduanya mendarat. Lili berjalan mengikuti roh itu. Mereka memasukki gua tersebut. Gua itu sangat gelap dan lembab. Roh itu pun menyalakan api di jari telunjuknya dan berjalan ke bagian dalam gua. Gua yang tadinya gelap gulita, menjadi terang karena api yang dibawa roh itu. Di atas dinding gua banyak terdapat kelelawar yang bersarang di sana. Bunyi tetesan air disela-sela bagian dinding gua terdengar menggema.


"Apa masih jauh?"


"Sebentar lagi sampai."


Lili berjalan sambil mengamati dinding dalam gua. Tiba-tiba langkah Lili terhenti melihat roh yang berada di depannya juga berhenti. Lili melihat tengkorak manusia yang masih utuh memakai pakaian yang sama persis dengan yang dipakai oleh roh itu.


"Ini. Kau bisa melihatnya bukan?! Itu adalah tubuhku yang hanya tinggal tulang belulang saja."


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa tubuhmu menjadi seperti itu?"


"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Ada seseorang yang mencoba membunuhku saat aku ditugaskan oleh ayahhandaku, Raja terdahulu."


"Apa kau tahu siapa pelakunya?"


"Ya."


"Siapa orangnya?"


"Ayahhandaku sendiri."


"Apa??!!"


Lili kaget mendengar bahwa pelaku pembunuhannya adalah ayah kandung roh pria yang berdiri di depannya yang tak lain adalah raja terdahulu. Sungguh sangat miris. Bahkan harimau pun tidak akan memakan anaknya sendiri. Tapi, mengapa raja terdahulu malah ingin membunuh darah dagingnya sendiri? Pertanyaan yang semakin membuat Lili penasaran. Namun, ia tak berani mempertanyakan hal ini lebih dalam lagi. Ia takut, akan menyinggung perasaan roh ini. Ia lebih memilih untuk diam menunggu roh ini angkat bicara. Jika roh ini tidak angkat bicara, ia tetap memilih diam seolah ia tak tahu apa-apa dan tak mengingat kejadian ini.


"Mungkin kau kaget mendengar hal ini. Karena yang kau lihat dan yang kau dengar dari orang lain, bahwa keluarga kerajaan sangat harmonis. Namun, kenyataannya tidak. Sebagian orang tidak mengetahui bahwa aku bukanlah anak kandung dari Raja terdahulu."


Seolah disambar petir di siang bolong, Lili sangat terkejut bukan main mendengar roh ini mengatakan bahwa ia bukan anak kandung dari Raja terdahulu. Sungguh sesuatu yang diluar dugaan. Keluarga kerajaan yang sangatlah terkenal glamor, harmonis, ternyata menyimpan misteri di dalamnya yang tertutup rapat. Sangat masuk akal jika Raja terdahulu menginginkan dia mati, karena bukan anak kandungnya. Lalu, siapa ayah kandung dari roh ini?


"Maaf jika aku lancang. Yang Mulia, apa kau yakin dengan apa yang kau katakan? Apa kau tidak takut, ini akan menjadi skandal? Apa kau tidak takut, jika hal ini terdengar sampai di luar, akan mencoreng nama baik keluarga kerajaan? Yang Mulia, kau tahu bukan apa hukuman bagi seseorang yang mencemarkan nama baik keluarga kerajaan?"


"Aku tahu itu. Yang aku katakan itu benar. Mungkin kau bertanya, siapa ayah kandung? Dan mengapa Raja terdahulu sangat menginginkan kematianku. Sederhana saja, karena aku bukan anak kandungnya. Jelas, ia tak menginginkan aku naik tahta menggantikannya. Namun, sedari awal aku tidak pernah tertarik untuk naik tahta."


"Kau benar. Dulu aku berpikir seperti itu. Tapi, semuanya hancur. Dan aku semakin yakin, bahkan jika aku naik tahta sekalipun, ada banyak orang yang menginginkan kematianku termasuk dia."


"Kenapa? Itu hanya prasangka burukmu saja."


"Aku berharap begitu. Tapi kau tak tahu, betapa bencinya dia kepadaku. Jika bukan karena almarhum ibuku, mungkin aku sudah mati di usia yang sangat muda. Dan konyolnya, adikku sendiri juga menginginkan kematianku. Hahahaha!!"


"A... Apa?"


"Mustahil. Bahkan adiknya sendiri juga menginginkan kematiannya. Itu berarti, yang dia maksud adalah Raja yang memimpin negeri ini sekarang?"


"Kau jangan becanda!"


"Hahahaha... kau pikir aku becanda?! Jika aku bercanda, untuk apa aku meminta tolong kepadamu. Dan untuk apa aku membawamu ke sini?!"


"Dia benar juga." batin Lili


"Meski begitu tak peduli apapun alasannya, kau tidak boleh bicara sembarangan!"


"Jadi kau tidak percaya padaku?"


"Itu... selama tidak ada bukti, aku tidak berani mengatakan apapun."


"Memang gadis yang sangat cerdas. Aku berharap kau berjodoh dengan anakku."


"Ehh?!"


Melihat ekspresi Lili yang memerah mendengar kata "berjodoh" membuat roh itu tersenyum kecil. Ia mengalihkan pandangannya ke atas dinding gua. Melihat ekspresi sedih di wajah roh pria ini, Lili merasa tak enak hati dengan sikap dan kata-katanya.


"Maaf... aku minta maaf. Bukannya aku tidak mempercayaimu, hanya saja."


"Tak apa. Kau tak perlu minta maaf. Memang sangat wajar jika kau tidak mempercayaiku. Karena keluarga kerajaan sudah sangat terkenal di luar akan kehormanisannya. Namun semuanya hanyalah sebuah panggung drama belaka."


"Lalu, pertolongan apa yang kau minta padaku?"


Roh itu mengangkat tangannya ke arah baju yang masih melekat oleh tengkorak tubuhnya. Baju itu pun terlepas dengan sendirinya, dan terbang ke arah Lili. Ajaibnya, saat Lili menerimanya, baju itu sudah terlipat rapi. Sungguh takjub Lili melihat pemandangan di depannya. Meski hanya sebuah roh, tapi kekuatan sihirnya sangat kuat.


"Kau bawa ini dan berikan kepada istri dan anakku!" kata roh itu sambil mengeluarkan dan memberikan token dan plakat giok yang tersembunyi di dalam saku bajunya. Lili menerimanya dengan penuh tanya.


Ada dua token yang tergeletak di atas baju yang dibawa Lili. Token yang satunya berwarna emas dengan ukiran dua nama di atasnya. Sedangkan yang satunya adalah plakat giok dengan dua ukiran nama diatasnya. Melihat ukiran nama di atas plakat giok, Lili merasa sangat familiar dengan nama itu.


"Ada apa?"


"Plakat ini... apakah Yang Mulia yang mengukirnya sendiri?"


"Ya. Kenapa?"


"Aku... merasa sangat familiar dengan nama yang ada di plakat giok ini."


"Benarkah?"


"Ya. Bahkan aku sudah pernah bertemu dengannya Yang Mulia."


"Begitu ya. Dia sudah dewasa sekarang." sahut roh itu sambil tersenyum


"Iya Yang Mulia. Kau benar, dia sangat tampan sepertimu."


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak semulia yang kau kira."


"Yang Mulia, kau adalah anggota keluarga kerajaan. Sudah sepatutnya aku menghormatimu tidak peduli statusmu di istana apa."


"Terima kasih. Sudah lama aku tidak mendengar ada orang yang perhatian denganku setelah puluhan tahun aku terjebak berada di sini."


"Kasihan. Dia pasti sangat kesepian. Terlebih meninggal di tempat yang sepi tanpa orang terkasih di dekatnya."


"Yang Mulia, aku pasti akan memberikan ini kepada istri dan anakmu. Kau tenang saja. Beristirahatlah dengan tenang."


"Terima kasih."


"Kalau boleh aku tanya, siapa nama istrimu?"


"Katie Luo."