PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Maaf & Terima kasih)


Di depan gerbang istana


Angin bertiup sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan sekitar. Terlihat sebuah gerbang istana yang sangat megah dengan pintu yang dilapisi emas, tanpa satupun penjaga. Lili pun berhenti tepat di depan gerbang dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ada banyak pepohonan besar dan rimbun tumbuh di sekitar luar area gerbang istana. Yang menarik disana, ada salah satu pohon sakura yang besar dan tumbuh di sana. Tak satupun ia melihat seseorang yang lewat disana. Suasananya sangat sepi. Dalam hatinya ia berkata " Istana sebesar dan semegah ini tidak ada satupun seorang penjaga yang berjaga disini. Apa ini memang sebuah istana?!"


Sejenak ia teringat akan perkataan raja di hutan kematian. Kemudian ia merogoh saku jubahnya dan mengambil sebuah token didalamnya. Token giok berwarna emas dengan sebuah ukiran tulisan yang jika dibaca menjadi "LUCIFER". Tanpa sadar Lili membaca tulisan yang terukir di token itu. Dan secara ajaib, pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Lili pun kaget melihat pemandangan di depannya. Ia melihat pintu gerbang itu terbuka dengan seberkas cahaya yang menyilaukan mata. Ia menutup matanya dengan tangan kanannya sambil mengintip apa yang ada di dalamnya. Begitu gerbang pintu istana terbuka, Lili melihat jalanan menuju istana sangat sepi tanpa ada satupun penjaga yang berjaga di sini. Dia melihat di setiap sisi jalan banyak ribuan pohon sakura yang besar dan rimbun. Ribuan bunga mulai mekar di setiap sisi dahan dan ranting. Jalanan itu dipenuhi ribuan bunga sakura yang mekar dan berjatuhan disana. Lebih tepatnya bisa disebut jalanan bunga sakura. Bagaimana tidak, ribuan bunga sakura menutupi jalanan itu.


Lili berjalan di tengah-tengah jalan yang penuh dengan ribuan bunga sakura. Setiap ia melangkahkan kakinya, akan menimbulkan suara ribut di tengah langkahnya. Bagaimana tidak, ribuan bunga itu hampir seperti lautan bunga. Dalam hati Lili, ia berkata "Apa memang tidak ada orang yang datang membersihkan jalanan ini? Jika dibiarkan menumpuk seperti ini, bukan lagi jalanan istana namanya. melainkan lautan bunga sakura. Sebutan itu sangat tepat."


Angin berhembus kencang, menerbangkan ribuan bunga sakura yang memenuhi jalan menuju ke istana. Perlahan ribuan bunga itu berjatuhan menghujani Lili yang masih berdiri di sana. Sangat sulit baginya untuk melangkahkan kakinya karena ribuan bunga ini telah menghalanginya. Ditambah dengan hembusan angin kencang yang membuat dirinya seperti mandi bunga sakura. Seluruh tubuhnya penuh dengan bunga sakura yang menempel di jubahnya. Saat hendak melangkahkan kakinya, Lili disambut oleh salah satu pria tampan yang berjalan menuju ke arahnya. Pria itu berambut putih panjang, bertubuh tinggi tegap dan besar, memakai pakaian prajurit istana yang berwarna navy dengan model yang elegan.


"Selamat datang nona di istana ini."


"Siapa kau?"


"Aku adalah pengawal tertinggi di istana ini. Aku ditugaskan oleh raja untuk mengawal nona memasukki istana ini "


"Terima kasih. Rajamu sangat pengertian. Setidaknya dia juga tidak akan membiarkan tamunya tersesat."


"Mari aku antar nona untuk bertemu dengan raja."


"Bagaimana aku bisa berjalan cepat, jika bunga-bunga ini menimbun kakiku?" kata Lili sambil melihat ke bawah, dimana kakinya sudah tertimbun oleh ribuan bunga sakura smpe di bawah lututnya.


Mendengar hal itu, pengawal itu melihat ke arah kaki Lili yang sudah tertimbun oleh ribuan bunga sakura. Pengawal itu hanya tersenyum melihat fenomena yang langka ini. Sambil menundukkan badannya, pengawal itu mengangkat kedua tangannya ke atas udara. Dengan ajaib, ribuan bunga sakura yang menimbun kaki Lili, semuanya terangkat di udara. Pemandangan ini jelas sangat luar biasa, dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perlahan pengawal itu menghempaskan kedua tangannya ke bawah. Dan dalam sekejap, ribuan bunga sakura yang melayang di udara langung hilang dalam sekejap mata. Melihat hal itu, Lili semakin kagum kepadanya. Secara spontan, Lili bertepuk tangan sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


"Wah, kau hebat sekali."


"Nona terlalu memuji. Mari ikuti aku."


Lili mengangguk pelan.


Keduanya pun berjalan meninggalkan area itu. Lili berjalan dibelakang pria itu, mengikuti setiap langkah kakinya kemana ia pergi. Sambil berjalan, Lili mengamati di setiap sisi yang ia lewati. Ia melihat ada banyak jenis pohon dan tumbuhan disana. Ada banyak kupu-kupu terbang dan hinggap di ribuan aneka bunga yang mekar disana. Ia berjalan melewati jembatan beton kecil yang sempit, yang hanya bisa dilewati oleh dua orang. Dibawah jembatan ada sebuah kolam ikan yang dipenuhi ikan koi gemuk-gemuk di dalamnya. Mereka asyik berenang dan sesekali muncul ke permukaan air, melihat sosok wanita yang sedang menatap ke arahnya. Dengan senyum yang mengambang di wajahnya, ikan-ikan itu pun kembali menyelam ke dalam, seolah mereka bisa merasa malu karena ditatap oleh seorang wanita muda yang manis. Melihat tingkah ribuan ikan koi itu, Lili pun terkekeh. Melihat Lili terkekeh, pengawal itu pun mulai bertanya kepadanya.


"Kenapa kau tertawa?"


"Ikan-ikan disini indah dan gemuk-gemuk. Mereka sangat lucu dan unik."


"Kenapa kau berkata begitu?"


"Coba kau lihat. Mereka bisa merasa malu juga."


Karena penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Lili, pengawal itu melirik ke arah kolam. Dan dilihatnya beberapa ikan koi muncul dipermukaan, lalu kembali menyelam di dalam air hanya karena Lili tersenyum kepadanya. Ada perasaan menggelitik di hati pengawal itu.


"Apa kau pernah mendengar bahwa, ikan ini adalah simbol cinta dan persahabatan?"


Pengawal itu menggelengkan kepalanya.


"Aku membaca itu di buku. Dan dia juga diyakini sebagai ikan pembawa keberuntungan bagi pemiliknya. Semoga pemilik ikan koi di istana ini mendapatkan banyak keberuntungan dan cinta."


"Ya. Bisakah kita melanjutkan lagi?"


"Tentu."


Keduanya pun melanjutkan perjalanan menyusuri beberapa tempat di istana. Tiba-tiba sepasang mata melihat dan mengawasi mereka dari kejauhan. Merasa ada seseorang yang sedang menatap dan mengawasinya, Lili pun berhenti dan menoleh ke belakang. Dilihatnya tak ada seorangpun yang ada disana. Merasa tidak ada yang mengikutinya, pengawal itu pun menoleh ke belakang.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Ayo!"


Lili pun mengangguk pelan.


"Salam Yang Mulia permaisuri."


"Bangunlah."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Tuan Zero, kau mau kemana?"


"Menjawab Yang Mulia. Hamba hendak mengantar nona ini untuk bertemu dengan raja."


"Jadi begitu. Bisakah aku meminta bantuan darimu?"


"Bantuan apa Yang Mulia?"


Permaisuri melambaikan tangannya, seolah memberi isyarat kepada pengawal agar mendekat kepadanya. Pengawal itu mengerti dan mulai berjalan ke arahnya. Permaisuri mulai membisikkan sesuatu ke telinga pengawal itu. Dan pengawal itu pun mengangguk pelan seolah mengisyaratkan bahwa ia sudah mengerti dengan pesan yang disampaikan kepadanya. Pengawal itu pun mundur beberapa langkah dan memberi hormat kepada permaisuri dan Lili. Setelah memberi hormat, pengawal itu pun pergi meninggalkan mereka. Melihat pengawal itu pergi, Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah permaisuri. Betapa kaget dan malunya dia, bahwa permaisuri juga sedang menatap dirinya. Mengetahui bahwa gadis muda yang sedang berdiri di depannya sedang tersipu malu, ia pun tersenyum kepadanya.


"Jangan takut. Aku sudah memerintahkan pengawal itu untuk menyampaikan hal ini kepada raja."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Bisakah kita berbicara empat mata?"


"Hah?"


"Maksudku, aku ingin kau menemaniku minum teh. Dan... ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apa kau keberatan?"


Lili pun melirik ke arah pelayan yang berada di sisi permaisuri. Ada perasaan canggung yang menyelimuti hatinya. Melihat tingkah laku Lili, permaisuri pun menyuruh pelayannya pergi dengan mengisyaratkan tangannya. Pelayan itu mengerti dan segera pamit undur diri dari hadapan permaisuri dan Lili. Tinggallah keduanya berada di tempat itu. Angin berhembus sepoi-sepoi, ranting dedaunan saling bergesek satu sama lain dan menimbulkan bunyi gemerasak. Permaisuri pun menghela nafas.


"Ikuti aku."


Lili pun mengikuti kemana perginya permaisuri. Mereka berjalan meninggalkan tempat itu dan menuju ke sebuah taman bunga dengan paviliun berwarna merah. Di dalamnya terdapat meja bundar dan beberapa kursi yang terbuat dari batu giok. Ada beberapa ribuan tanaman bunga dan pepohonan disana. Setelah sampai di paviliun merah, permaisuri pun berhenti dan menoleh ke arah Lili yang mengikutinya dari belakang. Lili pun terkejut melihat permaisuri menatapnya dengan tatapan serius.


"Katakan siapa kau sebenarnya?"


Bagai disambar petir di siang bolong. Lili kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh permaisuri kepadanya. Ia berusaha untuk bersikap tenang.


"Lili, Yang Mulia permaisuri."


"Bukan itu yang kumaksud?"


"Lantas? Apa yang Yang Mulia permaisuri maksud kan?"


"Siapa orang yang berada di belakangmu?"


Lili pun menoleh ke belakang, dilihatnya tidak ada siapapun. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah permaisuri.


"Tidak ada siapapun di belakangku, permaisuri."


"Jangan berpura-pura. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau?"


Mendengar hal itu, Lili pun tersenyum dingin. Sorot matanya yang lembut, tiba-tiba berubah menjadi tajam dan penuh amarah. Betapa kagetnya permaisuri dengan pemandangan di depan matanya. Samar-samar ia melihat sosok pria yang dikenalnya, berada di dalam tubuh Lili.


"Sudah lama tidak bertemu, istriku?"


Permaisuri mengedipkan kedua matanya, berharap ini hanyalah halusinasinya saja. Tapi, ini bukan halusinasi. Gadis muda bertubuh kecil, berwajah manis tidak ada di hadapannya. Melainkan sosok pria yang tinggi tegap, tampan dan gagah dengan pakaian dan jubah yang ia kenakan. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah mantan suaminya sendiri yang telah lama menghilang puluhan tahun lamanya.


"Kau?!"


Dengan sorot tatapan yang sangat tajam, pria itu tersenyum dingin ke arahnya.