PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 2 (Raja Elf)


"Lili, menurutmu bagaimana?"


Lili pun menoleh dan melihat Krisan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia sangat takjub melihat penampilan Krisan saat ini. Dia memiliki kecantikan alami yang membuat orang lain iri melihatnya, bahkan Lili sekalipun. Gaun yang dikenakan Krisan sangat berbeda dengan yang biasa ia kenakan. Gaun ini dirancang oleh Lili sendiri sesuai dengan postur tubuh Krisan. Gaun berwarna hijau cerah seperti dedaunan, dengan belahan bawah dari depan sampai diatas lututnya, yang memperlihatkan bentuk kakinya yang ramping. Gaun ini memperlihatkan lekuk tubuh Krisan yang ramping dengan bawahan seperti ekor duyung. Rambutnya di kedua sisi diikat menjadi satu dengan poni yang menutupi wajahnya. Ditambah dengan sedikit riasan natural yang semakin menambah kecantikannya yang luar biasa. Ia sangat terlihat anggun dengan penampilannya saat ini.


"Cantik. Sangat cantik. Memang benar ya, orang cantik memakai apapun akan terlihat cocok dan sempurna."


"Kau juga cantik."


"Tidak juga. Orang bilang, aku itu jelek. Yang bilang aku cantik itu cuman..."


"Cuman siapa?"


"Ayahku dan kau?"


"Pufffttt, ahahaha! Kau becanda ya Lili."


"Tidak. Aku serius."


"Oke... oke. Kau memintaku untuk berdandan seperti ini, lalu bagaimana dengan kau sendiri?"


"Memangnya kenapa denganku?"


"Apa kau akan pergi ke festival lentera hanya dengan menggunakan gaun berwarna hitam seperti itu?"


"Memangnya kenapa?"


"Kau terlihat seperti berkabung."


"Itu bagus."


"Hah?!"


"Setidaknya berkabung jauh lebih baik daripada terlihat seperti iblis?!"


"Kenapa kau berkata begitu?!"


"Apa kau tahu Krisan, diantara ribuan manusia, ada salah satu iblis disana."


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Nanti kau akan tahu. Yang jelas, aku tidak ingin terlihat mencolok sekarang."


"Bukankah kau berpenampilan seperti itu akan sangat terlihat mencolok??"


Lili memperhatikan penampilannya yang sedikit berantakan. Rambutnya dibiarkan terurai panjang dan memakai gaun berwarna hitam dengan belahan depan yang memperlihatkan bentuk paha mulusnya. Dan dibagian belakang gaun itu dibiarkan memanjang. Ia mengenakan jubah berwarna hitam yang menutupi bentuk tubuhnya. Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah Krisan sambil tersenyum.


"Aku menyukainya."


"Oke, kau yang menang."


"Hehe. Ayo pergi."


"Ya."


Keduanya langsung pergi ke luar dari asrama menuju ke sungai tempat diadakannya festival lentera. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai ke sebuah sungai yang tidak begitu besar namun jernih warna airnya. Ada banyak ribuan orang yang hadir memenuhi tempat itu sambil membawa lentera di tangan mereka.


"Wah sudah ramai."


"Iya."


"Oh ya, kita tidak membawa lentera, Lili. Sebentar aku akan membelinya. Kau tunggu disini."


"Baiklah."


Krisan meninggalkan Lili sendirian di sana. Ia berjalan menuju toko yang menjual bermacam-macam lentera dalam bentuk apapun yang tak jauh dari tempat itu. Sambil menunggu sahabatnya kembali, Lili mengamati seluruh tempat itu. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Dan benar saja, ada sekilas bayangan nampak berseliweran di antara kerumunan ribuan orang. Lili menangkap siluet bayangan itu dengan kekuatan indra penglihatannya dari jarak jauh. Tampak jelas bahwa siluet bayangan itu adalah elf. Elf yang merasa kehadirannya tertangkap basah oleh seseorang langsung melarikan diri dan menghilang. Lili tersenyum dingin melihatnya.


Krisan pun sudah selesai membeli dua lentera dengan bentuk bunga teratai Saat hendak memberikannya kepada Lili, ia melihat Lili tersenyum dingin. Senyumnya itu sangat berbeda dengan senyuman yang terdahulu. Ada sebuah kebencian dan dendam dibalik senyuman itu. Merasa dirinya ditatap oleh seseorang, Lili pun menoleh.


"Kau sudah membelinya?"


"Iya. Ini lenteranya. Aku tidak tahu kau menyukai lentera bentuk apa. Jadi, aku membeli ini. Kuharap kau menyukainya." jawab Krisan sambil memberikan lentera bunga teratai itu kepada Lili.


"Terima kasih. Aku menyukainya."


"Syukurlah. Ayo kita hanyutkan lentera ini ke sungai dan jangan lupa dengan permohonan kita."


"Permohonan ya?"


"Iya."


"Jangan bilang kau tidak punya permohonan?!"


"Konyol! Mana ada permohonan seperti itu. Jika semua orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, maka akan ada banyak orang abadi yang hidup di muka bumi ini."


"Lalu apa permohonanmu, Krisan?"


"Permohonanku sederhana. Mempunyai suami yang bertanggung jawab, setia, penyayang, bisa menjalani hidup dengan orang yang aku cintai seumur hidupku."


"Permohonan yang bagus. Semoga segera terwujud."


"Iya. Semoga saja. Kalau kau sendiri? Apa permohonanmu, Lili?"


"Permohonanku ya. Menghapus seseorang dari hidupku, selamanya."


"Maksudmu, melupakan seseorang? Lili, oh Lili. Melupakan seseorang itu memang tidak mudah. Semuanya butuh waktu. Terlebih jika kalian berdua mempunyai banyak kenangan, melewati suka duka bersama. Mempunyai ikatan cinta yang sangat kuat. Itu jauh lebih sulit melupakannya."


"Apa yang kau katakan, semuanya benar. Tapi, antara aku dan dia... tidak ada ikatan cinta yang kuat seperti yang kau katakan barusan."


"Hah?! Lalu, ikatan macam apa yang kau milikki dengan dia?"


"Dendam! Menurutmu, melupakan seseorang yang sangat berarti itu sangat sulit. Tapi tidak bagiku. Baik yang berarti maupun yang tidak, bagiku sama-sama sulit untuk dilupakan. Terlebih jika itu sangat menyakitkan. Bahkan jika ada penggantinya sekalipun, luka itu, kenangan itu, tak kan bisa berubah. Sekalipun ia dikubur dalam-dalam, ditutup rapat-rapat, ia akan muncul secara tiba-tiba di saat yang tidak kita duga."


Mendengar perkataan Lili, Krisan tak bisa berkata-kata lagi. Yang ia tahu, sangat sulit melupakan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Tapi, bukankah melupakan seseorang yang menyakiti kita itu bukanlah hal yang sulit. Kenapa Lili, mengatakan keduanya adalah hal yang sangat sulit. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melupakannya Terlebih jika kita memiliki penggantinya, bukankah itu adalah hal yang sangat mudah untuk melupakannya?


"Mungkin kau bertanya, kenapa bisa seperti itu? Karena setiap orang mempunyai keteguhan hati yang berbeda. Kemampuan yang berbeda, sifat yang berbeda. Sebagian mudah melupakan, mudah juga dilupakan. Sebagian ada yang melekat, ada juga yang terlepas lalu menghilang."


"Jika seperti itu... orang yang pernah menyakiti kita, itu berarti dia pernah menjadi orang yang spesial di hati kita?"


"Krisan, orang yang berpotensi untuk menyakiti kita... adalah orang terdekat kita. Mereka yang pernah dekat dengan kita. Dan itu jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan orang lain."


"Apa yang menyakitimu itu... adalah orang yang pernah dekat denganmu?"


Mendengar pertanyaan Krisan, Lili menghela nafas sambil menutup kedua matanya. Seolah ia merasa, beban dihatinya sangat berat untuk dibagikan. Ia berusaha untuk menahannya di depan Krisan. Perlahan ia membuka kedua matanya dan menatap Krisan lekat-lekat.


"Sebentar lagi akan tengah malam, sebaiknya kita hanyutkan lentera ini. Lupakan semua apa yang aku katakan malam ini. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal ini kepadamu."


"Baiklah, jika itu maumu. Ayo kita hanyutkan bersama-sama."


"Ya."


Mereka berjalan menuju tepi sungai dan mulai menghanyutkan lentera bunga teratai yang mereka bawa secara bersamaan. Lentera bunga teratai itu perlahan hanyut terbawa arus sungai yang tidak begitu deras. Setelah mengucapkan permohonannya, Krisan menatap Lili. Dilihatnya wajah yang ceria itu, berubah menjadi suram. Ada kesedihan yang mendalam dibalik ekspresi wajahnya yang selama ini tak pernah ia perlihatkan kepada orang lain.


"Lili, sebenarnya aku penasaran siapa dirimu? Kau banyak berubah setelah kau menghilang selama enam bulan lamanya. Terkadang aku melihat kau sangat ceria, lembut dan penuh kehangatan. Terkadang aku juga melihat, dirimu terlihat sangat kejam, dingin dan angkuh. Entah apa yang terjadi padamu saat itu atau bahkan dimasa lalu. Setidaknya aku ingin, kau hidup bahagia seperti gadis lain pada umumnya." batin Krisan


Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang tak jauh dari mereka. Semua orang berhamburan lari tak tentu arah. Dari atas langit, Lili dan Krisan melihat ada banyak ribuan elf terbang dan mulai menyerang orang-orang yang berada di sana. Melihat hal itu, Krisan merasa darahnya mendidih. Ia mengambil senjata sihirnya berupa pedang dari ruang penyimpanan di bawah alam sadarnya. Ia ingin membunuh makhluk itu, namun dihalangi oleh Lili.


"Tunggu!"


"Apa maksudmu Lili? Apa kau membiarkan ribuan makhluk iblis itu membunuh orang-orang yang tak berdosa?!"


"Apa aku terlihat seperti itu?!"


"..."


"Krisan, dengar aku. Kau bukan tandingan mereka."


"Kalau aku bukan tandingan mereka, lalu kau apa?! Minggir!!!" bentak Krisan sambil mendorong Lili dari hadapannya.


Melihat dirinya di dorong mundur ke belakang, Lili hanya terdiam. Ia melihat Krisan bertarung habis-habisan dengan ribuan elf yang menyerangnya. Merasa dirinya terpojokkan, Krisan menoleh ke arah Lili. Dilihatnya, Lili berdiri tenang di tempatnya. Anehnya, tak ada ribuan elf yang menyerangnya. Melihat hal itu, Krisan langsung terbang mendarat ke arah Lili.


"Bagaimana? Apa kau sudah lelah menghajar mereka?!"


Melihat wajah Krisan yang memerah karena malu dan tak sanggup mengucapkan kata-kata, Lili menghela nafas.


"Bersembunyi di belakangku."


"Apa yang akan kau lakukan?!"


"Diam dan lihatlah."


Ribuan elf itu mulai turun secara bersamaan. Mereka berbaris sangat rapi berhadapan dengan Lili dan Krisan yang bersembunyi di belakangnya. Ribuan elf itu sangat unik bentuknya. Ada yang menyerupai bentuk tubuh manusia, ada juga yang tubuhnya setengah manusia setengah ikan. Mereka semua menatap Lili dan Krisan yang berada di hadapannya. Ribuan mayat bertebaran dimana-mana. Bahkan lentera bunga yang mereka hanyutkan di sungai terbakar karena ulah brutal ribuan elf itu. Tiba-tiba barisan ribuan elf itu memisah menjadi dua barisan. Angin berhembus kencang saat ribuan elf itu memisahkan diri menjadi dua barisan kanan dan kiri.


"Dia sudah datang."


"Siapa?!"


"Raja mereka."


"Raja?!"


Tiba-tiba ada sebuah kursi terbang yang terbuat dari logam emas yang dibentuk menyerupai bulan sabit, dengan hiasan oranmen batu permata berwarna merah di setiap sisinya. Kursi itu berwarna merah dengan membawa seseorang yang berada di dalamnya. Kursi terbang itu berhenti tepat berada di tengah-tengah barisan ribuan elf yang sudah terbagi menjadi dua. Turunlah seseorang dari kursi terbang itu. Dia bertubuh tinggi seperti raksasa, namun berwajah tampan, dengan pakaian yang sangat mewah. Dia adalah raja elf tertampan diantara ribuan elf yang lainnya.