
Keesokan harinya, putra mahkota Feng bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan ayahandanya. Ia secara pribadi menemuinya di ruang belajar ayahnya, hanya untuk menayangkan perihal tentang kakaknya.
"Salam Ayahanda."
"Hmm." ucap raja sambil menulis di buku tanpa menoleh sedikit pun ke arah putra mahkota Feng.
"Ayahanda, maaf mengganggu."
"Ada apa? Katakan saja."
"Ayahanda, maaf jika pertanyaanku sedikit lancang."
"Katakan."
"Ini tentang kakak."
Mendengar putra mahkota Feng mengungkit kakaknya, raja langsung menghentikan tulisannya. Kemudian, ia menatap ke arah putra mahkota, anak kandungnya sendiri.
"Kenapa kau menanyakan hal itu sekarang?"
"Aku bertemu dia saat aku pergi berdua dengan istriku di tepi danau."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu apa yang ia bicarakan kepadaku istriku."
"Kau tidak bertanya kepada istrimu?!"
"Tidak. Dia bahkan mulai mencurigaiku, kalau aku menyembunyikan sesuatu darinya."
"Lalu? Apa yang kau lakukan sekarang?!"
"Aku tidak tahu, ayahhanda."
"Tetap lakukan seperti rencana awal. Jangan buat dia semakin mencurigaimu. Bersikaplah tenang saat kau hanya berdua dengannya. Untuk kakakmu..."
"Eh?"
"Aku sudah mengusir dia keluar dari istana ini!"
"Apa?! Kenapa ayahanda? Bukankah dia berpamitan untuk melakukan kultivasi tertutup?"
"Ya. Dia memang melakukan kultivasi tertutup. Namun, sebelum ia pergi melakukan kultivasi tertutupnya, aku terlebih dahulu menemuinya."
"Dan kau mengusirnya?!"
"Ya. Aku rasa pembicaraan ini sudah selsai. Aku berharap agar kau tak pernah mengungkit segala hal tentang kakakmu."
"Tapi, apa kata orang lain dan rakyat jika kakak tidak ada ayahhanda?!"
"Orang-orang hanya tahu bahwa kakakmu melakukan kultivasi tertutup. Oh, ya bagaimana dengan kondisi Lili?!"
"Sesuai keinginan ayahhanda. Kekuatannya mulai melemah saat ia mencoba menggunakannya di dalam istana dan di luar istana." terang putra mahkota Feng.
"Humph. Tanpa dia sadari, ketika dia berada di dalam istana, kekuatannya secara otomatis telah disegel. Akan tetapi, ketika ia berada di luar istana, kekuatannya masih bisa digunakan. Hanya tidak sekuat dahulu."
"Apa?!! Kenapa bisa seperti itu, ayahhanda?! Bukankah kau bilang hanya akan melemahkan kekuatannya saja. Kenapa bisa sampai kekuatannya tersegel otomatis di dalam istana?! Apa yang sebenarnya terjadi ayahhanda?!"
"Sederhana saja. Jurus terlarang yang kau gunakan untuk menyerap kekuatan, secara otomatis akan menyegel kekuatannya saat berada di istana. Apa kau tahu kenapa hal itu bisa terjadi?!" ucap raja sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Feng.
"Kenapa ayahhanda?!"
"Itu karena saat kau menggunakan jurus terlarang yang secara turun temurun, diturunkan oleh raja terdahulu kepada calon penerusnya, mempunyai kelemahan."
"Kelemahan? Apa itu?!"
"Saat kau menggunakan jurus terlarang itu, ada sesuatu yang harus kau korbankan untuk mengaktifkan segelnya. Dan sesuatu itu adalah yang paling berharga dalam dirimu dan hidupmu."
"Sesuatu yang paling berharga dalam diriku dan hidupku?!"
"Ya. Dan itu adalah perasaanmu."
"Apa?!"
"Apa?! Tidak mungkin!"
"Feng... oh Feng anakku. Jangan bilang kau mempunyai perasaan kepadanya, sama seperti yang kakak tirimu lakukan. Menentang perintahku hanya demi seorang wanita yang sangat ia cintai!"
"Aku tidak berani ayahhanda."
"Apa kau tahu kelemahan seorang pria itu apa?!"
"Apa?!"
"Ketakutan dan Kehilangan. Ketakutan akan ditinggalkan orang yang kau cintai, tidak bisa membahagiakan dia dan kehilangan orang yang sangat kau cintai dalam hidupmu. Itulah kelemahan seorang pria."
"Apa?!"
"Jadi itulah kenapa, kakakmu sangat lemah. Itu karena dia tidak ingin menyakiti orang yang ia cintai. Aku berharap kau tidak melakukannya. Karena itu hanya akan menghancurkan kerajaan kita."
"Ayahanda, bolehkah aku bertanya kepadamu?!"
"Katakan. Selama itu tidak menyangkut kakak tirimu!"
"Apa kau yang membunuh ayah kandung pangeran Sirzechs, kakak tiriku?!"
Bagai disambar petir, ia mendapatkan pukulan keras akan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak kandungnya sendiri.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?!"
"Saat kami berdua masih kecil, aku merasa kau bertindak tidak adil kepada kami berdua. Aku selalu berpikir, mungkin karena saat itu usia kakak yang terpaut jauh denganku. Sehingga ia harus mengalah kepadaku. Tapi semakin dewasa, aku semakin yakin. Bagaimana caramu memperlakukan aku dengan bagaimana caramu memperlakukan dia, semuanya sangat tidak adil. Kau sangat pilih kasih terhadapku. Kau sangat menyayangiku tapi kau sangat membencinya. Aku tidak tahu kenapa kau bersikap seperti ayahhanda?! Aku tidak tahu seberapa besar rasa bencimu kepadanya. Bagiku, itu sangat menyedihkan. Kau membenci seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, bahkan sampai ia dewasa. Kenapa ayahhanda?! Kenapa kau tidak menyayangi kami berdua?! Kenapa kau hanya menyayangi aku saja?!"
Plakkkkk!!!
Tamparan keras dari sang ayahanda melayang di udara dan meninggalkan bekas di pipinya. Rasa sakit di pipinya tak sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh kakak tirinya. Penderitaan yang dipenuhi oleh ketidakadilan selama bertahun-tahun.
"Cukup! Berhenti menanyakan hal itu kepadaku! Kau itu masih anak-anak, tidak baik anak-anak ikut campur urusan orang dewasa!'
"Dulu aku anak-anak, tapi sekarang aku bukan anak-anak lagi!"
"Humph. Feng, sejak kapan kau menjadi sentimentil seperti ini?!"
"Apa?!"
"Sejak kau telah mewarisi jurus terlarang itu, aku melihatmu tidak pernah mempedulikan orang lain. Tapi, kenapa sekarang kau menjadi mempedulikan orang lain?! Sepertinya kau mulai jatuh cinta kepada istrimu?!"
"Aku sudah mengatakan dari awal, aku tidak berani ayahhanda!"
"Huff, baiklah... terserah apa yang kau katakan dan kau lakukan sekarang. Lagipula, kau sudah menggunakan jurus terlarang itu kepadanya atau tidak?!"
"Aku sudah menggunakannya."
"Baiklah jika kau memang sudah melaksanakan tugaasmu dengan benar. Aku akan melihat hasilnya. Aku tidak ingin kerajaanku hancur dan jatuh ke tangan mereka yang belajar ilmu sihir hitam!"
"Ayahanda, aku mendengar bahwa sebuah pedang bisa menyakiti dan melindungi, itu tergantung dari si pengguna. Bahkan ilmu sihir hitam juga demikian. Kenapa kau bersikeras untuk melemahkan kekuatan yang dimilikki oleh Lili?! Apa karena ramalan konyol itu!"
"Cukup!!! Pergi dari hadapanku sekarang! Kau ingat ini Feng, ini adalah peringatan dariku! Jangan pernah mencoba mengkhianati aku seperti yang telah dilakukan oleh kakak tirimu itu! Jika tidak, aku tidak hanya akan membuatmu kehilangan perasaanmu. Tapi aku juga akan membuat kau merasakan bagaimana rasanya hidup kesepian sendiri di dunia ini!"
"Ayahanda, terima kasih atas peringatanmu." ucap Feng dengan nada yang sangat berat.
"Pergilah! Untuk sementara ini, jangan menemuiku lagi!"
"Baik ayahhanda. Aku pamit undur diri dulu."
"Hmm."
Dengan langkah kaki yang sangat berat, ia pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak menyangka hanya karena sebuah ramalan yang tak pasti kebenarannya, ayahandanya bersikap seperti itu. Ia benar-benar membuang perasaannya. Perasaan kasih sayang, cinta yang pernah ia milikki, kini telah hilang. Entah karena dendam di masa lalu atau karena ramalan itu, ayahandanya membuang segala perasaannya. Selama ia berjalan, Feng memikirkan tentang dirinya sendiri. Akankah ia menjadi seperti ayahandanya? Membuang segala perasaannya? Mengingat ia telah menggunakan jurus terlarang dan mengaktifkan segelnya kepada Lili, dengan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya yaitu perasaannya. Semakin dipikir semakin ia menjadi pusing tujuh keliling. Ia memutuskan untuk mengajak Lili minum teh bersama. Pucuk dicinta ulam pun tiba, seseorang yang diharapkannya ternyata muncul di hadapannya sedang duduk di paviliun merah sambil memandang kolam ikan yang berada di bawahnya. Ia terlihat sangat cantik sekali saat di pandang dari arah sebelah, dengan pose duduk menghadap ke kolam ikan yang berada di bawahnya. Tanpa sadar, Feng merasa sangat terpesona kepadanya. Melihat Lili berada disana, Feng segera datang menghampirinya. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu, apa yang harus aku lakukan saat aku berhadapan dengan dia?!" gumam Feng sambil menatap ke arah Lili yang masih memandang kolam ikan.