PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 9


"Kau pikir dengan kau mengganti namamu, kulitmu, aku tidak akan tahu... kalau itu adalah kau, adikku tersayang."


"Kau memang kakak yang perhatian."


"Begitu juga denganmu."


"Heh, tentu saja aku berbeda denganmu!"


"Ya. Kau memang benar. Kita dilahirkan dari rahim ibu yang sama, tapi dari benih yang berbeda."


"Hahaha, aku baru tahu kalau kau mempunyai sisi seperti ini kakak."


"Sayang sekali kalau begitu. Kau bukan adik yang baik."


"Benar sekali apa yang kau katakan, kakak. Aku tanya sekali lagi, apa kau sudah bertemu dengan, istriku?!"


"Tidak."


"Kakak, kau naif sekali. Kau pikir, aku anak kecil yang dengan mudah kau bohongi?!"


"Aku tidak berpikir seperti itu."


"Oh ya?!"


"Ya."


"Baik! Karena kau tidak bisa diajak bicara baik-baik, mari kita selesaikan secara jantan!"


"Ide bagus. Maka aku tidak akan melunak padamu!"


"Tsk, tak usah banyak basa-basi! Terima ini!" teriak Raja Iblis sambil mengayunkan pedangnya ke arah Pangeran Sirzechs.


Dengan cepat, pangeran Sirzechs melompat menghindari serangan dari jurus pedang milik raja iblis. Ia mulai menarik pedangnya dari ruang penyimpanan miliknya.


"Lumayan juga seranganmu. Sayangnya, itu meleset. Kau harus banyak belajar!!!" teriak pangeran Sirzechs sambil mengayunkan pedangnya tepat di depan Raja Iblis Feng. Namun, serangannya dengan cepat ditahan oleh Raja Iblis Feng dengan pedangnya.


Keduanya dengan cepat beradu pedang diudara. Kedua pedang itu saling berbentrokan satu sama lain di udara. Pertarungan keduanya sangat sengit. Tak ada yang menang maupun kalah. Baik Raja Iblis maupun pangeran Sirzechs saling beradu mengeluarkan jurus dan kemampuan mereka masing-masing.


*Klang... Klang... Klang


Boom... Boom... Boom...


Whuush... Whuush... Whuush*...


Lagi-lagi pedang mereka berdua saling berbentrokan dan menyebabkan ledakan di atas tanah. Kedua pedang itu memancarkan aura pedang dan menyebabkan petir bergemuruh di langit. Baik Pangeran Sirzechs dan Raja Iblis saling menahan serangan masing-masing yang mengalir dari energi pedangnya.


"Tsk, hanya segini kemampuan!" ejek Pangeran Sirzechs


"Tutup mulutmu, brengsek!" bentak Raja Iblis Feng.


Pangeran Sirzechs melompat menjauh darinya. Ia membuat gerakan pedang memutar ke atas dan keluarlah energi dari pedang itu yang menimbulkan sebuah lingkaran angin yang semakin membesar disertai kilatan petir di setiap sisinya. Lalu ia mengayunkan pedangnya ke udara dan lingkaran angin itu melaju cepat menuju ke arah Raja Iblis. Melihat jurus yang dikeluarkan oleh kakaknya, Raja Iblis dengan cepat mengayunkan pedangnya ke atas dan dari dalam tanah keluarlah tembok raksasa yang tebal.


Whuush ... Boom....


Suara angin dan ledakan menggema di udara. Tembok yang menahan serangan dari Pangeran Sirzechs, seketika lenyap tersapu angin. Keduanya saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh dan tak ada satupun yang terluka. Raja Iblis yang melihat kakaknya masih berdiri tegak tanpa luka sedikitpun merasa geram. Ia langsung melompat ke udara dan menghunuskan pedangnya ke arah Pangeran Sirzechs. Namun usahanya sia-sia, Pangeran Sirzechs menahan pedangnya hanya dengan kedua jarinya. Sambil tersenyum mengejek, Pangeran Sirzechs berkata, "Kau... butuh seratus tahun lagi untuk melawanku!!" teriak ia sambil menghempaskan pedang Raja Iblis yang mengakibatkan Raja Iblis Feng terdorong dan terpental jauh darinya. Dengan cepat, Raja Iblis Feng melakukan gerakan memutar badannya di udara dan mendarat di tanah dengan kedua kakinya.


"Akui saja kekalahanmu!"


"Humph, ini belum berakhir! Hiyaattt!" teriak Raja Iblis Feng sambil melompat dan terbang ke arah Pangeran Sirzechs.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berlarian sambil berteriak memanggil Pangeran Sirzechs.


"Yang Mulia... Yang Mulia!"


Mendengar teriakan orang itu, Raja Iblis Feng tidak mempedulikannya. Ia semakin dekat dengan Pangeran Sirzechs dan lagi-lagi keduanya beradu pedang.


"Yang Mulia... Yang Mu... lia!"


Melihat adegan pertarungan kakak beradik ini, membuat Shion merinding ketakutan. Pangeran Sirzechs yang mendengar teriakkan Shion hanya meliriknya. Ia melihat Shion berdiri termenung menyaksikan pertarungannya dengan adik tirinya itu. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah adik tirinya. Ia melihat ekspresi di wajah adiknya yang sangat marah karena belum bisa menjatuhkan dirinya. Pangeran Sirzechs dengan gerakan cepat memukul Raja Iblis, dengan menggunakan energi spiritualnya yang dia alirkan ke dalam pedangnya yang mengakibatkan Raja Iblis terdorong ke belakang. Melihat tuannya berhasil memukul mundur adik tirinya, Shion berlari mendekati Pangeran Sirzechs. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Pangeran Sirzechs. Setelah mengerti, Pangeran Sirzechs menatap adik tirinya yang masih berdiri dan hendak melancarkan serangan kepadanya.


"Kita akhiri pertarungan seri ini. Hari ini aku kedatangan seorang tamu. Apa kau tidak ingin menemui tamuku?"


"Tamu yang spesial. Apa kau tidak tertarik untuk menemuinya?!"


Dengan perasaan ragu-ragu, Raja Iblis Feng akhirnya menuruti kemauan kakak tirinya. Ia menyimpan pedangnya dan berjalan mendekati kakaknya. Keduanya bertemu pandang dan tak lama kemudian Raja Iblis Feng memilih berjalan terlebih dahulu, diikuti Pangeran Sirzechs dari belakang. Baru beberapa langkah, Pangeran Sirzechs tiba-tiba berhenti dan diikuti Shion yang berjalan di belakangnya. Pangeran Sirzechs menoleh ke belakang. Pandangannya tertuju ke sebuah pohon maple merah yang sangat besar dan rimbun. Tiba-tiba senyum manis mengambang di wajah tampannya. Melihat tuannya tersenyum, Shion menoleh ke arah dimana pandangan tuannya tertuju ke arah pohon maple besar yang rimbun. Shion melihat tidak ada siapa-siapa disana. Ia pun melirik ke arah tuannya dan dilihatnya tuannya masih tersenyum ke arah pohon maple itu.


"Yang Mulia... Yang Mulia!"


"Ada apa?!"


"Apa Yang Mulia baik-baik saja?!"


"Ya." jawab Pangeran Sirzechs sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju istana.


Melihat tingkah laku aneh tuannya, sekali lagi Shion melirik ke arah pohon maple itu. Dilihatnya tidak ada siapa-siapa. Ia pun berbalik dan dengan cepat mengikuti langkah tuannya yang terlebih dahulu meninggalkannya.


Di balik pohon maple merah yang besar dan rimbun itu, tiba-tiba muncullah Lili dan pengawal setianya sedang berdiri di atas dahan pohon maple itu. Pengawal disisi Lili bukanlah seorang pria. Melainkan seorang gadis muda yang sangat cantik dengan mengenakan gaun yang sangat seksi. Gaun itu memperlihatkan setiap lekuk tubuh indahnya. Ditambah rambutnya yang dikucir kuda dengan poni yang menutupi dahinya dan beberapa helai rambut yang dibiarkan panjang terurai di sisi wajahnya. Pengawal cantik itu bernama Aria.


"Huff, hampir saja. Yang Mulia, aku rasa kita ketahuan."


"Tidak juga."


"Hah?!"


"Jika ketahuan, ia akan menyeretku ke dalam istananya."


"Begitu ya. Tapi, aku merasa... sepertinya Pangeran Sirzechs sudah mengetahui kalau kita berada di sini untuk mengawasi dia."


"Memangnya kenapa kalau dia mengetahuinya?"


"Ratu, kau tidak takut dengannya?!"


"Takut?! Bukankah aku sudah mengatakannya, kalau ketahuan... dia akan menyeretku masuk ke dalam istana dan menguncinya. Sama seperti yang dilakukan adiknya."


"Ratu, aku rasa... beliau tidak sama seperti Yang Mulia Raja."


"Berhenti berbicara omong kosong. Ayo pergi!"


"Baik!"


Keduanya pun menghilang seperti siluet bayangan. Angin berhembus meniup daun maple merah yang berjatuhan di atas tanah.


Setelah berjalan cukup lama, Pangeran Sirzechs akhirnya sampai di aula perjamuan. Ia melihat adik tirinya sedang berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang ia kenal. Wanita itu tak lain adalah mantan tunangannya, Putri Cariz yang kini telah menjadi selir adik tirinya. Melihat adik tirinya tak kunjung mengambil tempat duduknya. Pangeran Sirzechs pun berjalan mendekati adik tirinya itu dan menepuk bahunya pelan.


"Kenapa tidak duduk. Duduklah!"


"Jadi ini yang kau bilang tamu spesialmu, kakak?!"


"Ya. Jika kalian ada sesuatu yang ingin kalian katakan, aku harap kalian menyelesaikannya di istana kalian... bukan di istanaku. Aku tidak menyukai keributan!" sindir Pangeran Sirzechs kepada adik tirinya dan juga mantan tunangannya.


"Kakak jangan khawatir. Aku tidak akan membuat keributan di istanamu."


"Baguslah! Kalau begitu, kalian duduklah!"


"Terima kasih Yang Mulia." jawab Raja Iblis dan selirnya secara bersamaan.


Keduanya sama-sama mengambil tempat duduk yang disediakan. Sangat kebetulan bahwa tempat duduk Raja Iblis Feng bersebelahan dengan selirnya, Putri Cariz. Pangeran Sirzechs berjalan dan duduk di atas kursinya yang megah. Ia melihat adik tirinya yang memasang ekspresi kesal di wajahnya karena duduknya bersebelahan dengan selirnya. Dengan tenang, Pangeran Sirzechs menyapa Putri Cariz, mantan tunangannya sekaligus selir adik tirinya.


"Ada apa gerangan adik ipar jauh-jauh datang kemari ke istanaku yang kecil ini?!"


"Maafkan aku kakak, jika kedatangan adinda telah menyinggung kakak, tanpa memberi kabar terlebih dahulu."


"Tidak perlu dikhawatirkan. Katakan, apa tujuanmu datang ke istanaku?!"


"Maafkan aku kakak ipar jika sikapku lancang."


"Katakan."


"Baik. Aku mendengar bahwa... Ratu Iblis telah kembali. Apa itu benar Yang Mulia Pangeran Sirzechs?!"


Mendengar pertanyaan itu, baik Pangeran Sirzechs dan Raja iblis Feng langsung kaget mendengar nama itu. Nama yang sudah lama menghilang tak ada kabar selama dua ratus tahun itu, kini kembali lagi. Membuat Raja Iblis dan Pangeran Sirzechs terdiam sesat sebelum mereka angkat suara.