PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Aku tergoda


Mendengar Lili memohon kepadanya, putra mahkota Feng akhirnya melepaskan titik akupuntur di tubuh Lili. Lili pun merasa lega, bahwa putra mahkota telah melepaskan titik akupuntur di tubuhnya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri putra mahkota Feng.


"Yang Mulia, tolong ampuni dia. Aku yakin, dia pasti tidak sengaja."


"Pergi dan ganti baju!"


"Hah?!"


"Apa perlu aku ulangi!"


"Ti... tidak Yang Mulia. Aku pamit pergi ke kamar dulu."


Lili pun lamgsung pergi sambil menyeret Hana yang masih berdiri mematung. Mereka berdua berjalan menaiki anak tangga menuju kamar. Sesampainya di depan kamarnya, Lili menghela nafas.


"Huff... huff... sialan! Pria berwajah poker itu datang tak diundang. Kau tidak apa-apa Hana? Aku tidak apa-apa nona. Maaf... maafkan aku."


"Lupakan. Kau tidak perlu minta maaf lagi kepadaku. Ini bukan salahmu. Oh ya, dimana Lexi?"


"Dia sedang tidur di kamarnya. Karena aku haus, aku pun turun ke dapur untuk mengambil ai minum. Tapi, siapa sangka aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku lihat. Maafkan aku nona."


"Tidak apa-apa. Aku akan pergi ganti baju dulu. Aku titip Lexi kepadamu. Tolong jaga dia baik-baik."


"Nona, mau kemana?"


"Aku tidak tahu. Sepertinya, Yang Mulia mengajakku untuk pergi. Tapi beliau tidak mengatakan akan pergi kemana. Beliau hanya menyuruhku untuk berganti pakaian."


"Tolong hati-hati nona."


"Terima kasih."


Lili pun masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan memilih pakaian apa yang akan ia kenakan. Setelah memilih pakaian, ia kembali menutup lemarinya. Ia menanggalkan pakaian tipisnya dan memakai pakaian yang telah ia pilih. Gaun panjang berwarna biru dengan model potongan yang memperlihatkan paha mulusnya dari depan, sangat sesuai dengan dirinya. Dengan cepat, ia menyisir rambutnya yang sedari tadi terurai. Saat hendak menguncir rambutnya, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memegang tangan kanannya. Lili pun. menoleh ke belakang. Ia melihat putra mahkota Feng, sedang memegang tangan kanannya sambil tersenyum.


"Aku tahu, ini adalah pernikahan yang telah diatur oleh ayahanda. Suka atau tidak suka, kau harus menerimanya. Setidaknya, jangan mempermalukan aku."


Lili pun kaget dan langsung menarik tangannya.


"Yang Mulia, tidak sopan masuk ke dalam kamar seorang gadis tanpa mengetuk.pimtu dulu."


"Apa perlu calon suami mengetuk pintu kamar calon istrinya?!"


Tanpa disadari oleh putra mahkota Feng, Lili sudah mengacungkan pedangnya ke arah leher putra mahkota Feng.


"Kau!"


"Sabar tidak ada batasnya. Marahnya seseorang ada batasnya, Yang Mulia."


"Humph, Menarik." ejek Putra mahkota Feng


"Keluar dari kamarku!" bentak Lili


Melihat Lili membentaknya, putra mahkota Feng langsung keluar dari kamarnya. Ia keluar sambil membanting pintu kamar Lili. Lili pun duduk di kursi meja rias. Ia menatap cermin yang memantulkan wajahnya.


"Lili oh Lili, bisakah kau menikah dengan pria semacam itu?!" gumam Lili sambil menatap dirinya di depan cermin.


Tak lama kemudian Lili keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga didampingi oleh Hana di belakangnya. Melihat Lili sudah berdiri di hadapannya, putra mahkota Feng langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap Lili dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan penampilannya yang seperti itu, putra mahkota Feng tertawa kecil. Dimatanya, Lili terlihat sangat imut dengan postur tubuhnya yang kecil. Sungguh perbandingan yang teramat jauh dengan dirinya.


"Yang Mulia, bisakah kita pergi sekarang?!"


"Tentu saja."


"Hana, mohon bantuannya ya. Tolong jaga Lexi dan rumah."


"Baik nona."


"Terima kasih."


"Kau tidak perlu khawatir soal rumahmu."


"Apa maksud Yang Mulia?!"


"Aku sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk berjaga di sekitar sini."


"Apa yang dia maksud pengawal bayangannya?" batin Lili.


"Terima kasih Yang Mulia."


Keduanya berjalan keluar pintu diikuti Hana dari belakang. Hana memberi hormat kepada keduanya dan segera menutup pintu rumahnya.


"Kau lihat pelayanmu? Dia sangat sopan sekali. Langsung menutup pintu tanpa melihat kepergian tuannya!"


"Yang Mulia, aku minta maaf atas sopanan pelayanku. Mohon Yang Mulia bisa memakluminya. Karena aku memintanya untuk menjaga Lexi."


"Tapi dia masih anak-anak Yang Mulia."


"Ayo masuk ke kereta!"


Putra mahkota Feng berjalan terlebih dahulu di depan Lili. Saat pintu kereta dibuka oleh pengawal, putra mahkota Feng meminta Lili untuk masuk terlebih dahulu, dan diikuti dia dari belakang. Kereta pun mulai berjalan.


"Yang Mulia, kita akan pergi kemana?"


"Ayahanda berkata bahwa kita harus sering-sering menghabiskan waktu berdua."


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk mendekatkan hubungan kita."


"Sekalipun kita berdua sering menghabiskan waktu bersama, apa secepat itu hubungan kita bisa dekat satu sama lain?!"


"Kalau kau tidak suka, kau boleh menolaknya."


"Menolak apa Yang Mulia?!"


"Ajakanku. Menurutmu apa lagi? Apa kau ingin mencoba untuk membatalkan pernikahan ini?!"


"Jika diberi kesempatan, tentu saja aku mau membatalkannya."


"Apa alasanmu ingin membatalkan pernikahan ini?!"


"Karena aku tidak bisa hidup berdampingan dengan orang yang tidak mencintaiku."


"Memangnya kau tahu darimana, kalau dia mencintaimu apa tidak?!"


"Bukankah terlihat sangat jelas di wajahnya terlebih perilakunya terhadapmu, jika dia tidak mencintaimu?"


"Apa kau juga begitu?!"


"Apa maksud Yang Mulia?!"


"Menurutmu apa aku mencintaimu? Dan apa kau mencintaiku?!"


"Maaf Yang Mulia, yang tahu hatimu adalah dirimu sendiri. Dan yang tahu hatiku, adalah diriku sendiri."


"Humph!


"Yang Mulia, kita sudah sampai." Teriak salah satu pengawal yang ada diluar kereta.


"Ayo turun!"


Lili pun turun mengikuti Putra mahkota Feng. Ia melihat istana yang sangat berbeda dari istana raja. Melihat Lili mengamati sekeliling, putra mahkota Feng menegurnya.


"Ada apa? Apa yang kau lihat?!"


"Tempat apa ini Yang Mulia."


"Istana pangeran. Kenapa?!"


"Jadi ini tempat tinggal Yang Mulia?"


"Tidak. Ini tempat tinggal kakakku."


"Kakakmu? Maksudmu... pangeran Sirzechs?"


"Ya. Sepertinya kau sangat akrab dengannya."


"Tidak juga."


"Oh ya?"


"Terserah Yang Mulia saja. Kau boleh mempercayaiku atau tidak."


Mendengar hal itu, putra mahkota Feng mengalihkan pandangannya. Kemudian ia berjalan masuk ke istana kakaknya. Istana milik kakaknya ini tak ada satupun pengawal yang menjaganya. Bahkan pintu gerbangnya terbuka sendiri. Lili yang melihat pemandangan ini sangat takjub. Ia pikir hanya istana raja yang seperti ini. Ternyata istana pangeran juga seperti ini. Sepanjang perjalanan, Lili mengamati sekeliling isi istana. Ia merasakan ketenangan di dalam istana ini. Ada banyak tanaman bunga, ada kolam ikan, dan ada beberapa pohon maple merah di beberapa sudut tempat. Namun ada satu tempat yang sangat menarik baginya. Ada ribuan tanaman bunga mawar dengan beraneka warna yang tumbuh di sana. Dan ternyata tempat itu adalah kamar pangeran Sirzechs. Ketika putra mahkota Feng mengetuk pintu kamar itu, pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya. Betapa terkejutnya Lili yang melihat pangeran Sirzechs terbaring lemah tak berdaya di atas ranjangnya. Pangeran Sirzechs juga kaget, melihat Lili mengunjunginya di temani oleh adik tirinya.


"Sirzechs?"


"Lili?"


Keduanya saling memangil nama lawannya tanpa menyadari, putra mahkota Feng sedang mengamati gerak gerik mereka berdua.


"Ehem, ternyata hubungan kalian tidak sesederhana itu ya?!" sindir Putra mahkota Feng.