PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Musuh Lama (11)


Tanpa basa basi Gres berdiri dan menampar pipi Sean. Terdengar suara tamparan yang sangat keras. Semua murid terkejut melihat pemandangan yang sangat langka. Sean melotot ke arah Gres sambil memegang pipinya yang telah ditampar oleh Gres. Bekas kelima tangan Gres menghiasi pipinya yang putih bersih itu.


"Maaf Sean." kata Gres dengan nada lirih


Gres pun mengalihkan perhatiannya ke arah Lili. Ia pun berjalan mendekat ke arahnya.


"Kau sudah lihat! Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Sekarang penuhi janjimu!"


"Janji? Seingatku... aku tidak pernah berjanji padamu?!"


"Kau! Jangan keterlaluan!"


"Keterlaluan?! Bagaimana mana itu?!"


"Lili, semua orang di sini bisa menjadi saksi. Dan sekarang kau ingin mengingkarinya?!"


"Saksi? Hahaha... jangan membuatku tertawa. Bukankah aku bilang aku hanya ingin menyembuhkanmu. Bagian mana dari perkataanku yang ada kata janji?! Kalau kau masih ngotot, coba kau tanyakan pada mereka semua."


"Kau!" kata Gres sambil mendengus


"Hahaha...sudahlah. Sebagai pria, kau harus belajar mengendalikan emosimu. Guru Rey, bisakah kau membantuku?!"


"Humph, kau bilang kalau kau bisa menyembuhkanku, kenapa malah meminta bantuan Guru Rey?!" sindir Gres


Mendengar sindiran pedas yang terlontar keluar dari mulut Gres, semua murid saling berbisik satu sama lain. Seolah mereka semua yakin kalau Lili hanyalah membual. Lili seolah tidak peduli dengan semua murid yang membicarakan dia dibelakangnya. Melihat situasi yang terjadi saat ini, dengan nada tenang Guru Rey menjawabnya.


"Ya. Katakan saja."


"Guru, bisakah kau menyediakan aku sebaskom air es kemari?!"


"Hanya itu?"


"Ya."


"Tidak ada yang lain?!"


"Tidak."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menyuruh sese..."


"Guru, biar aku saja guru." teriak Krisan sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Krisan dengan percaya diri mengajukan dirinya kepada Guru Rey untuk membantunya.


"Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi tugasku sebagai murid."


Krisan pun pamit undur diri kepada Guru Rey dan mulai berjalan melangkah keluar. Tak lama kemudian, Krisan masuk sambil membawa baskom sebening kristal yang didalamnya terdapat air es sesuai permintaan Lili. Kemudian ia meletakkan baskom itu diatas meja tepat didepan Lili. Lili pun mengungkapkan terima kasih dan dibalas senyuman manis dari Krisan.


"Guru Rey, bisakah guru memeriksa apakah air ini murni air es? Atau kah ada campuran lainnya? Agar semua orang tau... kalau didalam air ini murni air es tidak ditambahkan sesuatu." pinta Lili kepada Guru Rey


"Baiklah." Jawab Guru Rey sambil berjalan mendekat ke arah baskom kristal tersebut.


Ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam baskom tersebut. Ia merasakan tidak ada sesuatu didalam air es tersebut, hanya sensasi dingin menyelimuti jari telunjuknya. Guru Rey pun mengangkat jari telunjuknya dan mengangguk pelan ke arah Lili. Sebuah isyarat yang menyatakan bahwa di dalam baskom tersebut tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


"Lili, aku sudah memeriksanya sesuai keinginanmu. Sekarang giliranmu." perintah Guru Rey


Karena Guru Rey sudah memberinya sebuah isyarat dan perintah, maka Lili tidak lagi merasa sungkan. Ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di depan wajahnya diantara hidung dan mulut, sembari menutup kedua matanya. Ketiga jarinya berdiri sejajar, sementara jari manis dan jari kelingkingnya ia tekuk kebawah. Ia merapalkan sebuah mantra. Terlihat sebuah aura berwarna biru menyelimuti di sekitar tangan kanannya. Lili pun membuka matanya dan mengarahkan ketiga jarinya yang berdiri sejajar ke arah baskom kristal itu. Dari tangannya keluarlah angin berwarna biru dan percikan kristal es yang mengelilinginya dan menyebar ke dalam baskom yang berisi air es. Dalam hitungan detik, ia mengangkat tangannya dan tersenyum. Lalu ia memberi isyarat kepada Gres untuk merendam tangan kanannya ke dalam baskom itu. Gres tak bergerak sedikit pun. Ia hanya melirik ke arah Lili seolah tatapannya penuh dengan ketidakpercayaan.


"Kenapa masih melamun? Kau tidak ingin tanganmu sembuh?!" tanya Lili kepada Gres yang masih mematung.


Gres pun maju kedepan dan mulai memasukkan tangan kanannya yang menghitam kedalam baskom itu. Sungguh sebuah keajaiban, tangan kanannya yang semula menghitam kini telah menghilang tanpa meninggalkan bekas. Semua murid dan Guru Rey tercengang melihat kejadian ini. Seolah semua mata tidak percaya akan kejadian yang terjadi di depan mata mereka saat ini. Gres pun mengangkat tangan kanannya. Ia sendiri tidak percaya bahwa tangannya sembuh dan tidak ada bekas luka sama sekali.


"Bagaimana perasaanmu melihat tanganmu kembali seperti sedia kala?" tanya Lili kepada Gres


Mendengar Lili bertanya tentang bagaimana perasaannya, Gres memasang wajah acuh tak acuh. Perasaan malu, gengsi bercampur aduk di dalam hatinya sehingga ia menutup rapat mulutnya. Melihat Gres tak menanggapinya,. Lili pun melanjutkan kata-katanya.


"Hmmm... baiklah aku harap ini yang terakhir kalinya. Tidak ada lain kali. Jika tidak, aku pastikan kau tidak memiliki kedua tanganmu!" Ancam Lili


Melihat Lili mengancamnya, sontak membuat jantung Gres berdegup kencang. Bukan karena takut pada ancamannya. Tetapi pada tatapan kedua sorot matanya. Seolah yang dia lihat didepannya bukanlah Lili, melainkan sosok orang lain dengan kekuatan yang sangat besar. Yang dengan mudahnya bisa melenyapkan dirinya hanya dalam jentikkan jari.


"Ahem...ahem... karena tangan Gres sudah sembuh, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Dan aku harap, kalian berdua kedepannya bisa saling rukun satu sama lain. Baiklah semuanya kembali ke tempat duduk kalian masing-masing." kata Guru Rey


Semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing. Gres yang masih berdiri dikejutkan oleh tepukan lembut di bahunya.


"Kenapa masih berdiri disini. Ayo duduk!" ajak Sean.


"Sean, aku ingatkan kepadamu. Jangan pernah mengganggu Lili." kata Gres


"Hah? Apa maksudmu?!"


"Tidakkah kau lihat tatapan kedua sorot matanya tadi. Ia seperti berubah menjadi orang lain. Sangat menakutkan."


Mendengar nasehat Gres, pandangan Sean tertuju kepada Lili. Ia mencoba memastikan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu benar atau tidak. Siapa sangka bahwa Lili menyadari tatapannya. Lili pun menoleh dan tersenyum ke arahnya, seolah sedang mengejeknya. Sean yang menyadari bahwa Lili sedang mengejeknya, ia mengepalkan tangan kanannya sambil melotot ke arah Lili. Tiba-tiba pandangan melotot Sean berubah seolah ia melihat sesuatu yang menakutkan. Tubuhnya gemetar dan kepalan tangannya merosot. Menyadari bahwa Sean bertingkah aneh, Gres pun mengalihkan pandangannya ke arah dimana Sean memandang.


Jantung Gres seolah berhenti seketika melihat pemandangan didepan matanya. Lili yang dia lihat berubah menjadi seorang wanita yang memakai baju yang berwarna hitam memperlihatkan sebagian dada dan pahanya yang mulus, dengan rambut hitam panjang lurus. Bibir berwarna merah muda dengan pipi yang merah merona, tersenyum dingin kepadanya.