PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 8 (Pertemuan Kakak Adik)


"Sangat sempurna. Tapi, aku lebih menyukai pemiliknya daripada boneka buatannya."


Tiba-tiba suara itu terdengar begitu santai dari belakang punggung Lili. Ia pun menoleh dan dilihatnya Pangeran Sirzechs sedang berdiri tepat di belakang punggungnya. Ia tersenyum tulus kepadanya. Lili segera menghindar dari pangeran Sirzechs. Entah berapa lama ia tak menyadari keberadaan pangeran Sirzechs di belakang punggungnya.


"Kau lagi kau lagi! Mau sampai kapan kau akan terus mengejarku?! Apa kau tidak merasa lelah?!"


"Mengejar seseorang yang sangat kau cintai, apa itu cukup melelahkan bagimu?"


"Aku tidak pernah mengejar."


"Apa kau menunggunya?!"


"Apa maksudmu?"


"Menunggu dia mengejarmu?"


"Humph. Aku bukan orang sesenggang itu."


"Benarkah?"


"Terserah kau saja."


"Lili, mau sampai kapan kau akan tetap keras kepala?!"


Mendengar perkataan Pangeran Sirzechs yang cukup menusuk hatinya, Lili hanya meliriknya dengan tatapan sinis. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Krisan. Dilihatnya gadis muda itu sedang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Gadis muda yang polos, lugu, yang banyak menghabiskan waktunya dengan boneka buatannya. Meski bukan dia yang menghabiskan hari demi hari, waktu demi waktu dengannya, Lili bisa mengetahui bahwa hati anak ini sangat tulus. Bahkan saat Lili mengatakan bahwa yang menemaninya bukankah dirinya sendiri, melainkan boneka mana buatannya.


"Krisan, kau bisa melihatnya sendiri bukan? Ada banyak orang yang menargetkan aku, mengejarku, bahkan ingin membunuhku. Bukan karena aku membenciku, juga bukan karena aku tidak ingin berteman denganmu. Tapi aku, hanya ingin kau selamat. Aku ingin kau hidup bahagia seperti gadis lain pada umumnya. Tidakkah itu yang kau inginkan? Jika kau terus bersamaku, itu hanya akan menyiksamu. Aku tidak menginginkan hal itu terulang kembali. Jadi, aku mohon kepadamu, pergilah. Tinggalkan aku sendiri."


"Tidak! Aku tidak mau! Kau adalah satu-satunya teman yang aku milikki. Tidak peduli jika yang menemaniku itu adalah sebuah boneka atau hantu, aku hanya ingin menjadi temanmu. Menemanimu agar kau tidak merasa kesepian."


Mendengar hal itu, Lili tidak tahu apakah dia harus menangis atau terharu. Memang benar, selama ini ia menjalani hidupnya sendirian. Baginya sepi, sudah menjadi teman hidupnya. Tak peduli ia berada di keramaian sekalipun, ia tetap merasa sendiri dan kesepian. Jadi, tidak masalah jika ia sendiri atau tidak. Baginya kesepian adalah hal yang sudah biasa ia jalani.


"Dasar bodoh! Sejak kapan kau menjadi seseorang yang keras kepala?!"


"Sejak aku mengenalmu."


"Apa?"


"Entah itu kau atau boneka milikmu, yang pasti dari semua hal yang pernah aku lewati denganmu... aku belajar banyak hal. Belajar untuk mencoba hal baru, belajar menjadi tangguh dan banyak hal lainnya."


"Begitu ya."


"Ya. Karena itu, aku seharusnya berterima kasih kepadamu. Dan tolong, jangan minta aku untuk pergi meninggalkanmu."


"Huff, terserah kalian berdua saja. Aku malas berdebat dengan dua orang yang sama-sama keras kepala!"


"Lili, kau boleh mengabaikan aku. Tapi jangan kau abaikan temanmu ini. Bukankah, kau juga butuh seorang teman yang sama denganmu?!"


"Pangeran Sirzechs, tidakkah kau berpikir bahwa kau... sudah melewati batas."


"Kau!"


Lili berbalik dan meninggalkan mereka berdua.


"Lili, tunggu!" teriak Krisan


Saat Krisan mau mengejarnya, tiba-tiba di depannya muncul sebuah es berwarna hitam dari dalam tanah yang menjulang berbentuk menyerupai duri yang tajam. Dengan cepat, pangeran Sirzechs menarik tangan kiri Krisan untuk mundur ke belakang. Betapa kagetnya Krisan saat ia melihat ribuan es berwarna hitam menjulang dari dalam tanah dan berwarna hitam. Yang membuatnya semakin kaget, saat ia menyadari bahwa dirinya telah ditarik oleh seorang pria yang tadi adu mulut dengan sahabatnya, Lili. Dilihat dari dekat, pria itu sangat tampan dan kekuatan sangat luar biasa. Jika dibandingkan mungkin Setar dengan Raja Iblis dan Lili yang sekarang. Entah darimana Lili bisa mengenal pria tampan ini dengan sangat baik. Meski tidak terlihat baik jika dilihat dari hubungan mereka barusan.


"Maaf." kata Pangeran Sirzechs sambil melepaskan genggamannya.


"Tidak apa-apa. Terima kasih Yang Mulia."


"Yang Mulia?"


"Lili memanggilmu dengan sebutan pangeran. Apa aku salah jika memanggilmu dengan sebutan Yang Mulia?"


"Tidak. Aku rasa, sebaiknya kau ikutti kemauan Lili."


"Kenapa?!"


"Bukankah sudah jelas, jika ia menginginkan keselamatanmu."


"Tapi aku tidak bisa membiarkan dia sendirian. Dia pasti kesepian."


"Untuk apa kau peduli dengannya? Bahkan dia sendiri tidak pernah mempedulikan dirinya sendiri."


"Apa maksudnya?!"


"Dia lebih memilih menyimpannya sendiri."


"Kenapa? Bukankah itu hanya akan membebani dia?"


"Itu sudah menjadi sifat dia. Menyimpan segala sesuatunya sendirian. Tak pernah membiarkan orang lain mengetahuinya."


"Cinta? Aku hanya berteman dengan dia."


"Benarkah? Tapi, aku melihat tidak seperti itu."


"Apa maksudmu?!"


"Kau terlihat jauh lebih memperhatikan dia daripada aku, yang hanya sebagai temannya. Bahkan orang bodoh sekalipun juga bisa melihat kalau kau, memperlakukan dia lebih dari seorang teman."


"Heh, tidakkah kau mendengarnya. Dia tidak butuh seorang teman."


"Apa kau mempercayainya? Aku yakin, kau pasti tidak akan mempercayainya. Jika tidak, mana mungkin kau mengejarnya sampai sekarang."


"Huh, ternyata aku salah sangka. Aku pikir kau hanyalah gadis muda biasa seperti gadis lain pada umumnya. Tapi ternyata, aku salah. Kau pandai meramal."


"Hah?!"


"Hahaha... aku becanda. Setidaknya ingat kata-kataku. Jangan ganggu dia. Biarkan dia sendiri. Ikutti kemauannya. Itu adalah caramu menghargai dia sebagai seorang teman."


"Aku tidak salah. Kau benar-benar... sangat mengenal dia dengan baik. Kau..."


"Cukup! Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik."


Pangeran Sirzechs langsung terbang meninggalkan Krisan yang sendirian di tempat itu. Melihat dirinya sendirian di tempat itu, Krisan bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sampai ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Suara yang tak asing di telinganya. Ia pun menoleh dan dilihatnya sosok Raja Iblis Evil berdiri di belakangnya ditemani dua orang pengawalnya.


"Yang Mulia!"


"Blackie, antar dia kembali ke asrama."


"Baik Yang Mulia."


"Maaf Yang Mulia, aku..."


"Berhenti bicara. Sebaiknya kau kembali ke asramamu dan beristirahat. Blackie akan mengantarmu."


"Terima kasih Yang Mulia." kata Krisan sambil membungkuk memberi hormat. Ia pun berjalan mengikuti Blackie yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan.


Melihat kedua punggung orang itu berlalu, Raja iblis langsung mengalihkan pandangannya ke atas langit.


"Apa kau yakin melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, Buto?"


"Ya Yang Mulia. Hamba yakin. Hamba tidak salah melihat. Dia... dia... adalah Yang Mulia Ratu. Dia juga yang membunuh Tetua Menzy dengan tangannya sendiri. Tidak hanya itu, Yang Mulia. Hamba juga mendengar kalau dia berkata..."


"Berkata apa?!"


"Dia juga berkata bahwa dia membuat boneka mana yang sangat persis dengan dirinya."


"Jadi maksudmu, dia menipu gadis itu."


"Ya. Lebih tepatnya, orang yang berada disisi gadis itu selama ini hanyalah sebuah boneka."


"Jadi, yang selama ini aku lihat... apa itu juga sebuah boneka?"


"Ya, Yang Mulia."


"Humph. Kau boleh pergi sekarang. Aku minta padamu untuk menjaga hal ini dari orang lain secara rahasia."


"Dimengerti Yang Mulia. Hamba undur diri dulu." kata Buto sambil membungkuk memberi hormat kepadanya.


Raja iblis Evil pun melambaikan tangannya. Melihat Buto menghilang dari hadapannya, Raja Iblis Evil pun langsung terbang ke atas langit. Ia terbang melewati bulan purnama yang besar dan indah saat ini. Ia melihat di bawah ada sebuah istana yang sangat megah. Ia pun mendarat di dalam halaman istana itu. Ia mengamati seisi istana itu, tidak ada siapapun yang berjaga atau melintas. Istana itu sangat sepi dari dalam dan luar. Tak ada satupun penjaga yang terlihat berjaga diluar maupun di dalam. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat. Ia pun menoleh ke belakang dan dilihatnya Pangeran Sirzechs yang berjalan mendekatinya. Karena sudah tertangkap basah olehnya, Pangeran Sirzechs langsung menghentikan langkahnya.


"Ada apa gerangan adik jauh-jauh datang kemari, menyusup ke dalam istanaku? Apa kau tidak sabar menunggu sampai matahari terbit esok hari?!"


"Humph, kau masih tidak berubah, kakak."


"Kau juga, masih tidak berubah. Katakan, apa yang membawamu kemari?!"


"Hmm, karena kakak sudah mengatakan hal itu, aku tidak perlu basa basi lagi. Kakak, apa kau bertemu dengan dia?!"


"Dia? Siapa?!"


"Permaisuriku."


"Tidak."


"Bohong! Kau sudah bertemu dengannya bukan. Jawab!"


"Aku sudah menjawabnya, Yang Mulia Raja Iblis... Feng."


"Kau!"