PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Rahasia Tersembunyi (3)


Jantung Lili berdegup kencang mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Feng.


"Tidak." ucap Lili sambil melepaskan diri dari pelukannya.


"Humph. Kau tidak pandai berbohong, Lili."


"Terserah kau saja. Aku hanya ingin istirahat." kata Lili sambil membalikkan badannya.


"Bukannya kau sangat ingin mengunjungi kedua orang tuamu?"


Langkah kakinya berhenti saat Lili mendengar Feng menanyakan kesediaan dia untuk mengunjungi keluarganya. Lili berbalik dan menatap ke arahnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Bukankah di depan ayahhanda, kau mengatakan sangat ingin bertemu dengan kedua orang tuamu? Atau jangan-jangan, itu hanya alasanmu saja untuk bisa keluar dari Istana ini?!" ucap Feng sambil berjalan mendekati Lili.


"Lili, jangan pernah berpikir untuk pergi dari istana ini. Sebaiknya kau tahu, bahwa sekali kau masuk ke dalam istana, kau tidak akan pernah bisa kembali."


"Aku tahu. Aku akan mengingatnya. Karena kau sudah mengatakan hal ini, jadi untuk apa kau menanyakan tentang ketersediaanku untuk berkunjung ke rumah orang tuaku?!"


"Sebagai seorang suami aku harus menjadi suami yang baik untukmu. Tapi, perlu kau ingat. Kemanapun kau ingin pergi, harus melalui persetujuanku."


"Aku mengerti."


"Lalu bagaimana rencanamu? Kapan kau akan mengunjungi kedua orang tuamu?"


"Jika Yang Mulia tidak keberatan, aku ingin mengunjungi mereka sekarang. Tapi, jika Yang Mulia sibuk, aku sendiri yang akan pergi menemui mereka."


"Tentu saja aku tidak keberatan. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


Feng membisikkan sesuatu ke telinga Lili.


"Temani aku malam ini. Oh tidak, temani aku kapanpun aku mau. Bagaimana? " bisik Feng.


"Aku adalah istrimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk melayani suamiku."


Setelah membisikkan sesuatu di telinga Lili dan mendengar jawaban darinya, Feng hanya menyeringai. Ia menjauhkan dirinya dan berjalan melewati Lili.


"Kau siapkan barang apa saja yang akan kita bawa, karena malam ini aku akan menginap di rumahmu. Besok pagi, kita harus segera kembali ke istana."


"Yang Mulia, apa aku boleh meminta sesuatu."


"Katakan."


"Yang Mulia tolong berikan aku waktu selama tiga hari untuk tinggal disana."


Feng membalikkan badannya dan menatap ke arah Lili.


"Lili, harus berapa kali aku mengatakan ini padamu. Jangan panggil aku dengan sebutan "Yang Mulia". Panggil aku dengan namaku, jika kita sedang berduaan."


"Maaf... Feng."


"Itu tergantung bagaimana performa kau malam ini. Aku sangat menantikannya." sahut Feng sambil berbalik dan berjalan menuju ke pintu.


Terdengar suara pintu ditutup. Lili berbalik dan berjalan menuju kasurnya. Ia merebahkan tubuhnya sambil menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Terdengar suara isak tangis di dalam kamarnya. Rupanya, Lili sedang menangis. Ia menangisi tentang nasibnya yang takkan bisa keluar dari istana. Tidak bisa mengunjungi kedua orang tuanya, adiknya, teman-temannya. Semua harus melalui persetujuan dari suaminya. Ia merasa dirinya seperti manusia yang berada di dalam penjara yang dilapisi emas dan dipenuhi tanaman duri. Jika ia melawan, tanaman berduri itu akan menyakiti dirinya. Sungguh sangat menyedihkan nasib yang ia alami. Meridiannya hancur. Kekuatan sihir hitamnya di tentang oleh banyak orang kecuali keluarga dan Pangeran Sirzechs, sahabatnya. Suaminya tidak menentang ilmu sihirnya, tapi Lili menyadari bahwa kekuatannya ditekan saat ia berada di dalam istana. Hal inilah yang membuat Lili semakin frustasi. Semua orang menganggap dia adalah wanita yang sangat beruntung bisa menikah dengan calon raja. Tapi, jauh didasar hatinya yang paling terdalam, ia tidak menyukai kehidupan yang seperti ini. Ia ingin hidup bebas bersama dengan orang yang ia cintai dan mencintainya. Tidak mengekang dan memenjarakan dirinya di dalam istana. Terlebih memenuhi penghuni harem di istana. Ia hanya ingin menjadi satu-satunya wanita yang dicintai suaminya. Bukan berakhir menjadi wanita yang dikhianati maupun di duakan oleh suaminya.


"Kau sudah melakukan yang aku perintahkan?!"


"Sudah ayahhanda. Tidak hanya melemahkan kekuatannya, tapi aku juga menekan kekuatannya. Agar ia tidak bisa menggunakan kekuatannya."


"Bagus. Kau memang anakku."


"Ayahanda, maaf jika ananda sedikit lancang. Apa benar kakak dalam pengasingan?"


"Ya."


"Kenapa?"


"Melanggar perintah raja dan aturan istana, menurutmu hukuman apa yang pantas diberikan kepada kakakmu?"


"Maaf ayahanda, ananda tidak mempunyai kualifikasi untuk memutuskan hukuman apa yang pantas untuknya."


"Heh, kau adalah calon raja yang akan memimpin negeri ini. Kau harus bersikap tegas, bahkan jika itu adalah saudaramu maupun istrimu sendiri."


"Aku akan mengingatnya ayahanda."


"Bagus. Satu lagi yang harus kau ingat. Jangan sekali-kali kau jatuh cinta kepada Lili. Kalau perlu, kau harus membunuhnya pelan-pelan."


Betapa terkejutnya Feng mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh ayahanda. Dia harus membunuh istrinya sendiri secara pelan-pelan. Ia tahu bahwa alasan ayahhanda ingin membunuh Lili, karena ramalan itu. Namun, hati kecilnya menolak untuk membunuhnya. Feng tahu dan menyadari bahwa dimatanya, Lili bukanlah seseorang yang sangat istimewa didalam hatinya. Dia hanyalah seorang perempuan yang ia nikahi karena dekrit raja. Bahkan jika Lili menyerahkan keperawanannya kepada dirinya, dia tetaplah gadis biasa yang tak mempunyai tempat dihatinya. Tapi entah kenapa, hati kecilnya menolak untuk membunuhnya.


"Kenapa kau diam saja Feng?! Jangan bilang padaku kalau kau juga jatuh cinta kepadanya, sama seperti yang kakakmu lakukan!"


"Tidak ayahanda. Aku tidak mempunyai perasaan sedikit pun kepadanya."


"Bagus! Aku memang mengharapkan hal itu darimu. Jangan pernah mengecewakan aku. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama persis dengan kesalahan yang telah dilakukan, oleh kakak tirimu itu. Kau tahu hukumannya apa jika melanggar perintah raja?!"


"Ananda mengerti ayahanda."


"Hmm. Satu lagi. Aku ingin menyerahkan tahtaku kepadamu tiga bulan lagi."


"Maaf ayahanda, apa tanggapan para menteri dan rakyat jika raja mereka masih sehat dan bugar, malah menyerahkan tahta kerajaan kepada anaknya?!"


"Kau memang benar. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku harap kau tidak mengecewakanku kali ini."


"Ananda mengerti."


"Pergilah! Jangan biarkan istrimu menunggumu. Cara terbaik untuk membunuhnya adalah dengan membuatnya jatuh cinta kepadamu. Dengan begitu, kau bisa mengontrolnya sesuka hatimu."


"Ananda mengerti ayahanda. Kalau begitu, ananda pergi dulu." pamit Feng sambil memberi hormat kepada ayahnya.


Raja hanya melambaikan tangannya ke udara, mengisyaratkan bahwa ia mengizinkan Feng untuk keluar dari kamarnya. Feng segera berjalan keluar menuju pintu dan menutupnya kembali. Ia berjalan menuju kamarnya sembari mengingat perkataan yang diucapkan oleh ayahanda.


"Kenapa kau diam saja Feng?! Jangan bilang padaku kalau kau juga jatuh cinta kepadanya, sama seperti yang kakakmu lakukan!"


Perkataan yang diucapkan oleh ayahandanya itu, masih menghantui pikirannya. Tak lama kemudian, ia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Ia masuk dan melihat sosok perempuan yang sangat cantik dengan rambut terurai dan mengenakan gaun berwarna biru muda dengan rok yang mempunyai potongan, yang memperlihatkan paha mulusnya dari depan. Gaun itu juga memperlihatkan sebagaian gundukan gunung kembar yang putih. Wajahnya sangat cantik dengan riasan yang terlihat sangat natural. Bibirnya merah, membuat jantung Feng berdegup kencang dengan ekspresi tersipu malu.


"Feng, aku sudah siap. Bisakah kita berangkat sekarang?" tanya Lili dengan nada yang sangat lembut sambil melemparkan senyum ke arah Feng yang masih melamun, takjub melihat dirinya.


"Dia... sangat cantik hari ini." batin Feng dengan wajah yang tersipu malu.