
"Aaahhhh!" teriak Sean
Suara teriakan Sean membuat seluruh murid menoleh kepadanya tak terkecuali Guru Rey.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau berteriak?" tanya Guru Rey
Mendengar pertanyaan dari guru Rey, Sean tidak bisa menjawabnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Jika dia mengatakan kepada semua orang tentang apa yang dia lihat, pasti semua orang tidak akan pernah percaya kepadanya. Ia melihat dalam diri Lili ada sekilas bayangan wanita muda bertubuh mungil sama persis dengannya. Hanya saja yang membedakan dari bayangan wanita itu dengan Lili adalah sorot matanya yang tajam seperti pembunuh berdarah dingin. Disekeliling tubuh bayangan wanita itu diselimuti udara hitam pekat yang dipenuhi oleh aura kebencian. Udara hitam yang pekat dan dipenuhi oleh aura kebencian merambat masuk dan menusuk sekujur tubuh Sean. Ia merasakan sakit yang luar biasa dalam dirinya termasuk di dalam hatinya. Sakit tapi tak terlihat. Terluka tapi tak berdarah. Ya, sebutan itu sangat cocok untuk menggambarkan apa yang dia rasakan sekarang. Sean hanya bisa meminta maaf kepada Guru Rey dan teman-temannya atas tindakan tidak sopannya karena berteriak secara tiba-tiba. Melihat ekspresi wajah Sean yang ketakutan dan berkeringat dingin, Guru Rey pun menghela nafas. Ia segera mengakhiri pelajarannya dan meminta semua muridnya untuk pulang beristirahat di rumah. Segerombolan siswa putra mengelilingi Sean yang tak lain adalah gengsternya sendiri.
"Sean apa yang terjadi padamu?! Kenapa kau berteriak?!"
"Kalian semua tidak akan mengerti. Ini... sangat sulit untuk dijelaskan." kata Sean dengan pandangan kosong lurus ke depan.
Semua teman-temannya saling bertukar pandangan setelah mendengar perkataan Sean.
"Bagaimana situasinya?" tanya seorang wanita yang berdiri tegak menatap ke arah luar jendela. Dengan gaun lebarnya yang berwarna merah dengan belahan di sekitar kedua pahanya yang memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus. Dengan sepatu berhak tinggi berwarna merah, rambut hitam digulung keatas, dengan poni yang menutupi dahinya diikuti dua belahan rambut panjang dikedua sisinya. Bibirnya merah seperti cabe merah segar yang baru dipetik.
"Menjawab putri. Menurut mata-mata kita, gadis itu melukai teman sekelasnya."
"Melukai? Humph, berani sekali dia!"
"Ya putri. Dia melukai teman sekelasnya dengan burung peliharaannya yang ia ciptakan dengan sihirnya sendiri."
"Sihir? Sejak kapan ia bisa menggunakan sihir?!"
"Ini hamba tidak mengerti putri."
"Gadis ini benar-benar membuatku penasaran. Siapa dia? Dan darimana asalnya? Mengapa ia bisa menggunakan sihir semacam itu? Murid seusia dia, tidak mungkin bisa menggunakan sihir semacam itu . Hanya senior yang berpengalaman dan memiliki kekuatan sihir yang kuat yang mampu membuat sihir semacam itu. Kecuali, jika gadis itu adalah..." batin wanita itu
"Beritahu kepada Tuan Leaf, untuk mengadakan ujian sihir kepada murid-muridnya satu minggu ke depan. Dan katakan padanya, bahwa ujian ini diadakan di hutan kematian. Semua murid wajib mengikuti ujian ini, untuk menentukan apakah mereka layak menjadi penyihir atau tidak!"
"Ini... putri, apa ini tidak terlalu terburu-buru?!
"Oh, kau meremehkan keputusan tuanmu?!"
"Kalau begitu segera temui Pak tua itu. Jika pak tua itu tidak menurutti kata-kataku, ia harus menanggung konsekuensinya!"
"Baik Tuan."
"Pergilah!" kata wanita itu sambil melambaikan tangan.
Bawahan yang sedari tadi berlutut dibelakangnya, langsung pamit undur diri. Ia menghilang seperti bayangan angin hitam.
Wanita itu berbalik kebelakang. Dilihatnya bawahannya sudah menghilang dari hadapannya. Ia pun berjalan menuju meja kerjanya. Di depan meja kerjanya, ia melambaikan tangannya ke atas. Tiba-tiba, muncullah sebuah kotak berwarna emas di atas meja. Kotak itu mengeluarkan udara yang membentuk sebuah lingkaran berwarna biru yang mengitarinya. Bibir wanita itu mengucapkan sebuah mantra dan lingkaran biru yang mengitari kotak itu menghilang dalam sekejap. Kotak itu pun terbuka dengan sendirinya. Sebuah kertas terbang dari dalam, dan melayang keluar. Kertas itu pun melayang di udara dan mendarat tepat di tangan wanita itu. Sebuah foto wanita muda cantik bertubuh mungil dengan jubah berwarna hitam yang menutupi gaun hitamnya, sedang duduk diatas kepala burung raksasa berwarna hitam. Ia memperlihatkan kedua pahanya yang terbuka. Rambutnya hitam terurai, dengan bibir berwarna merah muda, senyumnya yang dingin, tatapan matanya yang tajam. Siapa saja yang melihat foto ini akan terpesona dengan aura kecantikan dingin yang terpancar darinya. Melihat foto itu, ia menggertakkan giginya.
"Tidak peduli kau hidup atau mati, bereinkarnasi berapa kali, aku akan selalu menghancurkanmu. Membuatmu dibenci, diasingkan diseluruh dunia. Merasakan kesepian yang abadi. Seluruh orang yang kau cintai akan mengkhianatimu. Aku tidak akan berhenti membuatmu merasakan rasa sakit yang abadi. Aku ingin melihatmu menderita, tenggelam dan hancur. Yah, aku sangat menantikannya. Hahaha!" kata wanita itu sambil meremas foto itu dan membakarnya menjadi abu dengan api sihir miliknya.
"Kau bilang apa?!" kata Tuan Leaf sambil memukul mejanya dengan penuh amarah.
"Apa Tuan Leaf masih belum paham dengan ucapanku?!" tanya pria berjubah hitam kepadanya
"Bukan begitu Tuan Moro, ini...tidak bisakah mengganti tempatnya?!"
"Itu adalah perintah dari putri!"
"Aku tahu. Tapi bagaimana aku bisa menjelaskan hal ini kepada Raja? Dia pasti akan menggantung kepalaku! Tidak, dia pasti akan menelanjangiku dan menggantungku didepan semua orang!"
"Kau adalah kepala sekolah disini. Putri yakin kau bisa menyelesaikan hal ini."
Tuan Leaf adalah kepala sekolah Zwart School, semenjak kepala sekolah yang lama telah meninggal. Ia naik jabatan yang semula wakil kepala sekolah menjadi kepala sekolah. Sedangkan pria yang berbicara dengannya adalah Tuan Moro. Ia adalah bawahan setia Putri Cariz. Siapa yang tidak kenal dengan putri yang satu ini. Putri Cariz dulunya adalah calon Ratu yang akan mendampingi Raja Iblis (Evil) di masa depan. Namun siapa sangka, ia harus menelan pil pahit. Raja Iblis tidak memilihnya menjadi permaisuri sampai sekarang. Hal inilah yang membuat dirinya sangat membenci Lili, sang Ratu Sihir Ilmu Hitam yang juga menjadi Ratu di hati Evil. Ia telah merebut kekasih masa kecilnya. Ia juga yang menghancurkan hubungannya dengan Evil. Apapun akan ia lakukan untuk menarik hati Evil. Tidak peduli cara licik apapun, bahkan jika ia jatuh ke neraka sekalipun, ia tidak akan berhenti untuk tidak mencintai Raja Iblis itu. Ia harus menaklukkan hati sang Raja Iblis ini, kekasih masa kecilnya.
"Tapi, Tuan Moro..."
"Cukup! Jika kau ingin mengeluhkan hal ini, kau bisa menemui putri sendiri!" kata Moro sambil menghilang dari hadapannya.
Seolah berada dijalan buntu, Tuan Leaf melampiaskan amarahnya dengan membuang buku-buku yang tertata rapi di atas mejanya. Ia mengepalkan kedua tangannya.