
Hati itu bukan terbuat dari kaca
Bukan pula terbuat dari batu
Tapi hati itu ciptaan Tuhan
Bagaimana Tuhan menciptakan?
Seperti apa bentuknya?
Yang jelas, dia sangat lembut, terkadang keras
mudah tersentuh, mudah pula tergores,
mudah pula diperbaiki namun sulit melupakan
mudah tertutup, mudah pula terbuka
***
"Kejar! Cepat tangkap dia!!!"
"Sial! Kemana larinya bocah tengik itu!"
"Bagaimana ini bos?! Kita semua kehilangan jejaknya!"
"Segera berpencar, cari sampai ketemu!"
Segerombolan pria bertopeng menggunakan jubah hitam mulai berpencar menyisir ke dalam hutan. Seolah mereka memburu mangsanya yang sedang kabur dari cengkeraman mereka. Di sudut lain, dua pria muda bersembunyi sambil menghela nafas.
"Syukurlah mereka tidak bisa menemukan kita, Yang Mulia."
"Tak kusangka kau pandai membuat sihir semacam ini."
"Anda terlalu memuji, Yang Mulia."
"Katakan dimana kau mempelajarinya, Blackie?"
"Itu...."
PLOK...PLOK...PLOK!!!
Mendengar suara tepuk tangan dari arah lain, kedua pria muda itu menoleh ke arah sumber suara. Sepasang kedua mata pria itu membelak. Spontan mereka membuat gerakan pertahanan.
" Tidak perlu serius begitu, Pangeran Sirzechs. Serahkan benda yang ada ditanganmu!"
"Apa ini yang kau maksud?!" kata Sirzechs sambil mengeluarkan kantong kain berwarna putih dengan corak matahari dari ruang penyimpanan mistisnya.
"Cepat serahkan benda itu!"
"Ambillah jika kau bisa?!"
"Siapa kau?!" tanya ketua gerombolan pria bertopeng itu saat melihat siluet bayangan hitam berjalan ke arah mereka berdua.
Pangeran Sirzechs dan Blackie menoleh ke arah siluet bayangan hitam yang berjalan ke arah mereka. Derap langkah kaki itu semakin keras terdengar mendekat ke arah mereka. Sebuah jubah hitam berkibar dalam tiupan angin kencang. Butiran-butiran kristal es menari-nari tertiup angin kencang disekitarnya. Setiap ia melangkahkan kakinya, es yang membeku disekitarnya akan pecah dan menghilang. Bulan purnama yang tertutup awan hitam muncul dan memancarkan sinarnya yang terang benderang menyinari langit malam yang mendung tanpa bintang. Cahayanya seolah terpantul oleh sosok siluet bayangan hitam dengan jubah hitamnya yang berkibar. Kepalanya tertutup oleh topi jubah hitam yang dikenakannya. Beberapa helai rambut hitamnya yang panjang tergerai disamping wajahnya, menari-nari tertiup angin dingin, seolah helaian rambut itu menutup wajah misterius dibalik jubah hitam itu. Postur tubuh kecil ramping berjalan tegap ke arah mereka. Tatapan mata yang tajam dengan lengkung senyuman dingin dari bibirnya yang merah alami, wajah yang putih seputih awan dilangit, membuat mata siapa saja yang memandang akan sulit untuk melupakan. Sosok bayangan hitam itu terlihat jelas dengan pantulan sinar cahaya bulan purnama pada dirinya. Sangat terlihat jelas seperti apa wajah dibalik jubah hitam tersebut. Sosok gadis muda bertubuh kecil dengan wajah angkuhnya menatap tajam kepada ketiga pria yang berdiri didepannya dengan jarak lima meter darinya. Gadis kecil itu melihat pemandangan sekitarnya yang penuh mayat bergeletak dengan panah es yang menancap ditubuh mereka.
"Apakah kau yang membunuh anak buahku?!"
"Oh... jadi mereka anak buahmu?!"
"Tak usah banyak bacot! Kau kan yang membunuh mereka?!"
"Aku tidak membunuhnya. Hanya saja ada serangga-serangga kecil yang melukai teman-temanku. Tentu saja aku harus memusnahkan mereka."
"Keparat! Kau mengatakan anak buahku serangga! Terima ini! Hiyaattt!" sambil mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya ke arah gadis kecil berjubah hitam.
Ribuan pedang panjang tajam keluar dari telapak tangan pria bertopeng itu dan terbang menuju ke arah gadis kecil. Melihat ribuan pedang terbang mengarah padanya, bukannya lari atau melawan, ia hanya tersenyum sinis. Hanya berjarak satu inci dari wajahnya, ribuan pedang itu bergetar seolah lemas tak berdaya berhadapan dengan musuh yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, meski hanya dengan tangan kosong. Terdengar suara getaran pedang yang diiringi dengan suara retakan, akhirnya ribuan pedang itu langsung musnah dalam sekejap mata tanpa sisa. Melihat jurus ribuan pedangnya musnah didepan matanya sendiri, pria bertopeng itu marah besar. Kedua matanya membelak merah padam.
"Aiyoyo... pemimpin dari pria bertopeng bisa naik darah juga. Aku sarankan kau untuk jangan terlalu banyak mengkonsumsi daging kambing. Tidak baik untuk kesehatanmu!"
"Tsk, ternyata kau masih hidup, gadis tengik!"
"Apa kau menyesal?!"
"Menyesal?! Buhahahahaha... dengar! Semua orang ingin kau dan keluargamu mati! Jatuh dan berakhir mengenaskan?! Sungguh sangat disayangkan, kalau ternyata gadis pembawa sial sepertimu masih hidup. Keberuntunganmu tidak buruk!"
"Pernahkah kau mendengar "orang jahat ditakdirkan mati terlalu lama?!"
"Kau mengakuinya juga, Ratu Iblis?!"
" Tidak. Hanya saja aku menyukainya. Semakin kalian membenciku , semakin kalian menginginkan kematianku, semakin besar keinginanku untuk membuat kalian hidup segan mati tak mau!" ancam Ratu dengan sorot mata tajam berapi-api yang siap menerkam mangsanya. Aura hitam mulai menyelimuti tubuhnya.
"Ratu Iblis?! Itu berarti dia adalah.... " gumam Pangeran Sirzechs sambil menoleh ke arah Blackie.
Ia melihat Blackie, yang sedang menatap gadis kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ternyata dia masih setia dengan tuannya" batin Pangeran Sirzechs
"Karena kau ada disini, matilah dengan tenang!"
"Kau saja sendiri, rubah tua!"
Pertarungan tak terhindarkan. Keduanya masing-masing bertarung dengan mengeluarkan sihirnya. Sekilas orang awam bisa menilai siapa pemenangnya. Dilihat dari cara mereka bertarung, hanya Ratu Iblis yang sangat santai. Pria bertopeng itu mengeluarkan jurus andalannya yang terakhir "sihir ilusi".
"Tsk, sampah!"
"Hahaha, matilah kau gadis sialan?!"
"Hentikan!!!"