PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Hutan Kematian 3


Sentuhan yang sangat lembut dan dingin, membuat keduanya tercengang dan sadar bahwa bibir mereka saling menempel satu sama lain. Lili pun bangun dan menyalakan lampu kamar yang berada di samping kasurnya yang menyala redup. Ia melihat sosok pria yang dikenalnya sedang tidur disampingnya sambil melempar senyum menggoda.


"Aihh... ternyata kau Yang Mulia. Eh, maksudku Evil."


"Fiuh, hampir saja aku melakukan kesalahan."


"Kenapa? Kau tidak suka?!"


"Seorang pria masuk ke kamar gadis muda tengah malam, menurutmu bagaimana?"


"Menurutku? Biasa saja."


"Hah?! Biasa saja katamu?! Oiee... tidak sopan tau!"


"Kata siapa?!"


"Kata aku lah!"


"Itu katamu kan."


"Kau...Ihhhh... Haishh... terserah kau sajalah."


"Kata sakralnya keluar juga."


"Hah?!"


"Sudahlah. Aku minta maaf kalau aku tidak sopan. Masuk ke kamarmu tanpa mengetuk pintu." kata Evil sambil beranjak dari tempat tidurnya.


"Sadar diri juga."


"Wanita ini, padahal aku sudah minta maaf!"


"Aku kesini hanya untuk memberimu semangat dan..."


"Dan apa?!"


Evil pun berjalan mendekat ke arah Lili. Ia memandang wajah gadis yang berdiri di depannya. Lili pun menatapnya lekat-lekat. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin lepas dari tubuhnya.


"Hati-hati." bisik Evil di telinga kanan Lili. Telinga Lili berubah menjadi merah seperti tomat. Melihat telinga Lili berubah menjadi merah karena malu, Evil pun mundur menjauh darinya.


"Eh?"


"Hati-hati dan jaga dirimu."


"Iya dan terima kasih."


"Aku pergi dulu." pamit Evil sambil berjalan menuju pintu.


"Ya. Dan ingat kalau masuk harus lewat pintu dan mengetuknya."


"Puft, iya aku mengerti. Maaf ya. Selamat malam."


"Selamat malam."


Suara pintu ditutup keras. Lili pun menghela nafas dan merosot duduk di atas kasurnya.


"Aku rasa dia tidak mengetahuinya kalau aku sudah mengintipnya dari atas jendela. Jika tidak, dia pasti bertanya. Ahh... hutan kematian, tempat seperti apa itu?! Ah sudahlah, tidur saja."


...***...


Hari yang dinantikan sudah tiba, semua murid berkumpul di Aula. Mereka memakai jubah yang berwarna hitam dengan corak sehelai bulu merak warna emas. Masing-masing dari mereka membawa senjata di punggung, di tangan, bahkan tidak ada yang membawa sama sekali termasuk Lili. Lili mengamati mereka semua. Mereka masih muda, cantik dan tampan. Tiba-tiba terdengar suara gadis muda cantik yang sedang berteriak menyampaikan pengumuman. Ia berdiri di atas panggung dan menyampaikan beberapa peraturan dalam ujian seleksi penyihir berbakat di Zwart School. Ia mengenakan gaun minim berwarna peach dengan jubah berbulu berwarna merah.


"Krisan, siapa gadis itu?"


"Dia adalah Sora. Salah satu dari murid terbaik dan berbakat di sekolah ini."


"Wahhhh... karena itu dia dipilih menjadi juru bicara di ujian seleksi ini, ya?"


Melihat Krisan terdiam, Lili melihat ekspresi di wajahnya. Pandangannya jatuh ke tangan kanan Krisan yang sedang mengepal keras.


"Krisan, kau baik-baik saja?" tanya Lili sambil menepuk lembut bahu kanan Krisan


"Ya. Maaf."


"Tidak apa-apa."


"Entah kenapa aku merasa dia sedang tidak baik-baik saja?" batin Lili


"Semuanya, dengarkan baik-baik! Hari ini kita akan melaksanakan ujian seleksi penyihir berbakat di Zwart School. Dengan catatan, semua murid di sekolah ini wajib ikut serta. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pelaksanaan ujian adalah:



Para peserta diwajibkan memakai jubah sekolah.


Boleh membawa senjata sihir jenis apapun.


Para peserta nantinya akan diberikan satu peta. Di dalam peta itu ada sebuah misi yang harus dilaksanakan. Peta akan bergerak ketika ada misi yang harus diselesaikan. Setiap peserta yang menyelesaikan misinya akan mendapatkan poin untuk tambahan nilai. Apabila Jika ditemukan kecurangan, atau memprovokasi peserta lain akan didiskualifikasi dan otomatis tidak lolos dalam ujian kali ini.


Dalam ujian kali ini meskipun kalian mendapatkan peta dan misi yang berbeda, kalian boleh bekerjasama dengan yang lain. Dengan aturan jumlah maksimal 5 orang dalam satu kelompok. Tapi poin yang didapatkan sesuai dengan misi yang kalian terima. Jadi tidak perlu khawatir. Apa kalian semua sudah paham?!!"



"Ya!" jawab semua para peserta secara serentak.


"Baik. Sekarang terimalah peta misi ujian kalian!"


Tiba-tiba sebuah gulungan peta muncul di hadapan mereka. Mereka pun mengambilnya dan memasukkannya di ruang penyimpanan milik mereka masing-masing dengan cara mengusap tangannya di udara. Melihat Lili kebingungan karena tidak tahu bagaimana cara menyimpan gulungan peta misi ini, Krisan pun mengajarkan kepadanya beberapa gerakan sederhana. Lili pun mengamatinya dengan serius. Setelah mengamati gerakan sederhana yang diajarkan oleh Krisan, Lili pun mencobanya. Ia mempraktekkan beberapa gerakan yang telah diajarkan oleh Krisan kepadanya. Sungguh luar biasa, hanya sekali mempraktekkannya, Lili sudah berhasil menyimpan gulungan peta itu ke dalam ruang penyimpanan miliknya sendiri. Namun, ia merasa tubuhnya sedikit tidak seimbang dan hampir jatuh. Beruntungnya, Krisan menahan tubuhnya sehingga ia tidak sampai jatuh. Melihat semua murid sudah menerima gulungan peta misi, Sora pun mulai bersuara.


"Baiklah, karena kalian semua sudah menerima gulungan peta misi, maka ujian kali ini telah dibuka!" kata Sora diikuti dengan suara gong yang dipukul keras.


Suara gong itu pertanda bahwa ujian sudah dimulai. Semua siswa terbang dengan mengendarai kendaraan terbang mereka. Ada yang berbentuk binatang buas, sapu terbang, bahkan pedang terbang. Melihat hal ini, Lili sangat takjub bukan kepalang. Di sisi lain, ia melihat siluet sayap putih bersih mengepak tepat di depan matanya. Kedua matanya berbinar melihat burung angsa raksasa yang dikendarai sahabatnya. Namun, ia segera sadar bahwa ia tidak mempunyai kendaraan yang bisa digunakan untuk terbang.


"Ayo naik!"


"Baik."


Lili pun naik di atas punggung angsa raksasa berbulu putih. Bukan kali pertamanya dia menaikki seekor burung raksasa sendirian. Tapi menaikki seekor angsa raksasa dengan seorang teman adalah pengalaman pertama yang paling menyenangkan. Ada seseorang yang bisa dia ajak bicara dan becanda. Mereka terbang melewati gumpalan awan, dibawahnya terlihat gunung yang menjulang yang dikelilingi pohon-pohon yang besar. Krisan pun memberi perintah kepada angsanya untuk mendarat ke bawah. Angsa itu pun membawa mereka berdua mendarat di sebuah hutan.


"Terima kasih. Kau boleh istirahat sekarang. Jangan menampakkan dirimu sebelum aku memanggilmu. Kau mengerti, kan?" Kata Krisan sambil mengelus kepala angsanya.


Angsanya pun mengangguk seolah mengerti apa yang dikatakan majikannya. Kemudian ia terbang menuju langit meninggalkan majikannya. Tinggallah mereka berdua di hutan yang sepi ini. Mereka berdua kemudian berjalan menyusuri hutan sesuai petunjuk peta sambil berbincang-bincang.


"Lili, kita sudah sampai. Inilah hutan kematian."


"Kan aku sudah bilang. Hutan ini tidak jauh berbeda dengan hutan pada umumnya. Kenapa tempat ini dinamakan Hutan Kematian?! Karena orang yang masuk ke sini tidak ada yang pernah kembali. Kalaupun kembali, itu hanya berupa mayat. Semua tergantung keberuntungan masing-masing."


"Kau bilang, hutan ini berhubungan dengan seseorang yang namanya tidak boleh disebutkan di sekolah dan di asrama. Apa hutan ini milik dia atau tempat tinggalnya?"


"Bisa dikatakan hutan ini adalah istananya."


"Hah?! Hutan sebesar dan seluas ini adalah istananya?!"


"Kemungkinan. Karena dari cerita yang aku dengar, dia mempunyai istana di hutan ini. Namun, tidak ada seorangpun yang tahu dimana istana itu. Ada tapi tak terlihat. Seperti itu."


"Ada tapi tak terlihat? Misterius dong?"


"Iya. Karena dia adalah Ratu Iblis. Tidak ada seorangpun yang tahu dimana dia tinggal. Seperti apa istananya, wajahnya, penampilannya. Bahkan keluarganya."


"Wah... semisteriuskah dia? Sampai tak ada seorangpun yang bisa menggambarkan seperti apa dirinya."


"Dia hanya menampkan dirinya di saat tertentu saja. Jadi, hanya orang-orang yang beruntung yang bisa bertemu dengannya."


"Apa kau pernah bertemu dia, Krisan?"


"Aku..."


"Aaakhhhhhhhhhh!!!"


Belum selesai Krisan melanjutkan kalimatnya, mereka mendengar suara teriakan seorang murid dari arah yang berbeda. Mendengar suara teriakan dari arah yang berbeda, keduanya pun berlari menuju asal suara tersebut. Medan yang sangat sulit untuk dilalui mereka. Karena banyaknya semak belukar dan akar rambat di setiap jalan yang mereka lalui. Pohon-pohon yang besar dan menjulang tinggi dengan dahan yang bengkok seolah pohon itu nampak hidup seperti manusia dengan kedua tangannya, menghalang-halangi perjalanan mereka. Sembari berlari menuju asal suara teriakan tersebut, Lili mengamati pohon-pohon besar yang dahannya bengkok di setiap sisi jalan yang dia lewati. Ia merasa pohon-pohon itu seperti hidup dan menyapanya. Seolah memberi hormat dan salam penyambutan kepadanya. Sebentar ia memejamkan matanya dan membukanya untuk menghilangkan pikiran dan perasaan negatifnya, meski bulu kuduknya berdiri tegak sedari tadi ia melewati pohon-pohon besar menjulang tinggi dengan dahan bengkoknya. Ia melihat punggung Krisan yang berlari di depannya. Setelah berlarian kesana kemari mencari asal suara teriakan tersebut, keduanya bertemu dengan salah satu murid yang masih satu sekolah dengan mereka. Mereka melihat murid perempuan itu sedang duduk tergeletak di atas tanah sambil ketakutan. Keduanya pun saling berpandangan dan menghampirinya.


"Hei, kau kenapa?!" tanya Krisan sambil menepuk bahu kanan murid itu dari belakang.


Merasa bahunya di tepuk lembut oleh seseorang yang berada di belakangnya, murid itu pun menoleh dan berteriak. Melihat murid itu berteriak, Krisan pun menggoncangkan tubuh murid itu sambil menyuruhnya untuk tetap tenang.


"Hei, buka matamu dan tenanglah. Apa yang sebenarnya terjadi?!"


Usaha Krisan pun tidak sia-sia. Murid itu pun akhirnya bisa tenang juga. Melihat murid itu sudah tenang, ia pun menghela nafas. Tapi wajah murid itu masih terlihat ketakutan. Seolah dia sedang melihat hantu gentayangan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Krisan


"Apa kau sendirian?" tanya Lili


Melihat ada dua gadis muda datang menyelamatkannya, pelan-pelan rasa takut itu berkurang sedikit. Ia menoleh ke arah Krisan sambil memegang tangannya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, keringat bercucuran di dahinya.


Murid perempuan itu berteriak, "Hantu! Ada hantu!"


"Hantu? Memangnya kau bertemu hantu? Dimana?" sahut Lili


Murid itu pun menanggapi sambil berbicara tergagap-gagap, "Iya! Di... disana! Disana... Dia...Dia..."


Krisan menyahut, "Dia apa?!"


"Di...dia...dia menghisap kekuatan sihir murid yang lain. Tidak hanya itu, dia juga memakan mereka!"


Mendengar perkataan murid perempuan itu, Lili dan Krisan saling menatap satu sama lain.


"Memakan mereka?!" Kau serius? kau jangan berbohong. Ini adalah ujian seleksi yang diadakan sekolah. Kau jangan mengada-ada! Kau bisa dihukum jika kau ketahuan berbohong!"


"Untuk apa aku berbohong?! Aku serius!"


"Lalu dimana kau melihat hantu itu?!" tanya Krisan.


" Mereka ada di sana. Di sebelah sana!" Jawab murid perempuan itu sambil mengarahkan jari telunjuknya lurus ke arah yang dia maksud.


Melihat arah yang ditunjukkan murid perempuan itu, Lili pun mengusap tangannya ke udara dan membuka gulungan peta miliknya. Dan ternyata, arah yang ditunjukkan oleh murid perempuan itu, adalah misi pertama yang harus dia selesaikan. Melihat ekspresi muram di wajah Lili, Krisan pun mengintip peta milik Lili yang terpampang jelas di udara.


"Ada apa Lili?"


Dengan nada pelan, Lili pun menjawabnya, "Arah itu adalah misi pertama yang harus aku selesaikan."


"Apa?! Kenapa begitu cepat?! Apa kau tidak salah lihat?!"


"Tidak. Di sini tertulis misi yang harus aku selesaikan adalah mengambil token hijau di danau abadi. Bukankah peta akan bergerak


ketika ada misi yang harus diselesaikan?!"


"Kau benar aku akan kesana menemanimu?"


"Tidak perlu lebih baik kau jaga dia, biar aku saja yang kesana."


Mendengar Lili mengatakan bahwa ia akan pergi ke danau abadi sendirian, murid perempuan itu diam-diam menyeringai tanpa di ketahui oleh Lili dan Krisan.


"Tidak boleh!"


"Hah?!"


"Di sana berbahaya, lebih baik kita pergi kesana bersama-sama"


"Lalu bagaimana dengan dia?! Dia masih syok sepertinya." kata Lili sambil menunjuk tempat dimana murid perempuan itu duduk tergeletak di atas tanah.


Betapa kagetnya Lili, melihat bahwa murid perempuan itu menghilang tanpa jejak di depannya. Tidak hanya Lili yang dibuat kaget, bahkan Krisan pun juga kaget dengan apa yang dia lihat. Keduanya mengamati area sekitar yang tiba-tiba berubah menjadi sunyi dan mencekam. Konyolnya, mereka berdua tidak merasakan adanya sihir di sekitar mereka. Kejadian ini membuat keduanya menjadi waspada dengan sekitarnya.


"Lili, waspadalah."


"Kau juga Krisan."


Keduanya pun berjalan beriringan sambil mengawasi area sekitar mereka. Mereka berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh murid perempuan itu yang menghilang tanpa jejak. Di sepanjang perjalanan, Krisan merasa terganggu dengan pemikirannya. Ia merasa ada yang mengganjal dalam hatinya. Melihat Krisan diam sepanjang perjalanan, Lili pun menggodanya.


"Krisan, kau melamun ya?"


"Ahh... tidak. Aku hanya kepikiran tentang apa yang diucapkan murid perempuan itu."


"Apa kau tidak mengenal dia?"


"Tidak. Bahkan aku tidak pernah melihatnya. Tunggu, jangan-jangan ini jebakan."


"Konyol. Ini kan ujian. Masa sekolah memasang jebakan untuk semua muridnya. Apa alasannya?!"


"Tapi..."


"Sudahlah Krisan, tidak ada apa-apa, oke. Jangan berpikiran negatif. Semua akan baik-baik saja. Yang penting kita banyak berdo'a, oke."


Baru saja Lili mengatakan itu, terdengar suara raungan mengerikan yang memekikkan telinga.