PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kesedihan Ratu Iblis (3)


Lili terus menangis tersedu-sedu melihat adiknya sudah tidak bernyawa lagi di dalam pelukannya. Dengan tubuh yang penuh luka, Hana berusaha untuk bangkit dan berjalan tertatih-tatih menghampiri Lili yang masih menangisi kematian adiknya. Dengan lembut, Hana menepuk bahu tuannya.


"No... nona. Jangan bersedih lagi. Itu hanya akan membuat tuan muda kecil sedih, jika ia melihat kakaknya menangis." hibur Hana yang juga ikut menitikan air mata.


Lili tak menghiraukan kata-kata Hana yang menghiburnya. Sampai ia mendengar suara seseorang yang sangat akrab di telinganya, menyuruhnya untuk berhenti menangis.


"Berhenti menangis!"


Lili pun menghentikan tangisannya. Hana yang mendengar suara itu, langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya putra mahkota Feng menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Bantu tuanmu untuk berdiri dan segera bawa dia masuk ke dalam istana. Untuk mayat adiknya, biar para pengawal istana yang mengurusnya." terang putra mahkota Feng.


Mendengar pernyataan putra mahkota Feng, Hana berbalik menatap ke arah Lili, tuannya. Ia sangat takut menyinggung perasaannya. Karena ia tahu, saat ini hati tuannya sedang sensitif karena kematian adiknya.


"Nona..."


"Hana, apa kau bisa terbang?"


"Eh..."


Hana pun kaget mendengar Lili bertanya kepadanya, apakah dirinya bisa terbang atau tidak.


"Aku... tidak bisa terbang nona. Hanya bisa menggunakan mantra teleportasi saja."


"Tidak apa-apa. Setidaknya bawa aku dan Lexi pergi menjauhi dari istana ini." ucap Lili dengan suara parau.


"Kemana nona akan pergi?"


"Kerumahku. Aku ingin melihat kedua orang tuaku."


"Baik."


Melihat keduanya tidak kunjung bergerak dari tempatnya, putra mahkota Feng sangat marah.


"Apa yang kalian berdua lakukan disana?! Cepat letakkan mayat anak itu dan segera kembali ke Istana!"


Mendengar hal itu, telinga Lili semakin sakit. Ia ingin membunuh suaminya sendiri saat ini. Tapi ia tak punya kekuatan untuk melakukannya. Ia segera menoleh ke arah Hana dan memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya pelan. Hana yang mengerti isyarat yang disampaikan oleh Lili kepadanya, segera menutup kedua matanya dan mulai merapalkan mantra teleportasi yang akan membawa mereka keluar dari istana dan kembali ke rumah Lili. Putra mahkota Feng yang melihatnya, mulai menyadari bahwa Hana sedang merapalkan mantra teleportasi. Tanpa pikir panjang, putra mahkota Feng langsung melakukan serangan mendadak dengan mengeluarkan jarum perak yang tersembunyi di balik lengan bajunya dan dilemparkannya ke arah Hana. Sayangnya, sebuah cahaya yang menyilaukan mata keluar dari dalam tubuh Hana, membuat jarum perak putra mahkota Feng terpental dan jatuh di atas tanah. Cahaya silau itu membuat putra mahkota Feng, tak kuasa menutup kedua matanya dengan tangan kirinya. Perlahan-lahan cahaya yang menyilaukan mata itu, segera memudar. Putra mahkota Feng segera melihat ke arah tempat dimana istrinya duduk bersimpuh menangisi kematian adiknya itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat istrinya dan pelayannya menghilang tanpa jejak. Ia melihat jarum peraknya jatuh di atas tanah.


"Sial! Pelayan itu bisa menggunakan mantra teleportasi!" geram putra mahkota Feng sambil mengepalkan tangannya.


"Buto!" teriak putra mahkota Feng


"Hamba disini, Yang Mulia." jawab Buto yang tiba-tiba muncul di belakang punggung putra mahkota Feng.


"Kau cari permaisuriku sekarang juga! Tidak peduli dia masih hidup atau mati, bawa dia kemari!"


"Baik Yang Mulia."


Buto segera pergi meninggalkan putra mahkota Feng yang masih berdiri di sana.


"Lili, kau tidak bisa lari genggamanku." gumam putra mahkota Feng.


Tak lama kemudian, Lili dan Hana sampai di depan rumah. Lili yang masih menggendong Lexi di dalam pelukannya, seketika sangat terkejut melihat rumahnya yang kini hanya tinggal abu. Ia pun berbalik dan menyerahkan mayat Lexi kepada Hana, untuk digendong. Hana pun menerimanya. Dengan hati-hati, ia menggendong mayat Lexi yang sudah kaku dan dingin. Ia berbalik menatap ke arah rumah majikannya yang sudah berubah menjadi abu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Lili, tuannya. Ia melihat tuannya sedang berjalan ke arah rumah yang sudah berubah menjadi abu, untuk mencari mayat kedua orang tuanya. Sayangnya, ia tak berhasil menemukannya. Bahkan abu kedua orang tuanya pun , tak berhasil ia temukan di antara puing-puing sisa kebakaran hebat di rumahnya. Lili pun duduk lemas diantara sisa-sisa puing rumahnya yang hangus menjadi abu. Hatinya semakin hancur berkeping-keping. Ia harus kehilangan nyawa adik laki-laki satu-satunya tanpa bisa menolongnya. Ditambah ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan rumahnya. Rumah yang memberikan sejuta kenangan indah semasa ia masih kecil hingga tumbuh menjadi dewasa dan menikah. Setelah ia menikah, ia hanya mengunjungi rumahnya sekali. Dan ini kedua kalinya, ia mengunjungi rumahnya dalam keadaan hancur menjadi abu. Hana mengerti kesedihan yang dirasakan oleh Lili. Ia pun berjalan dan berjongkok di samping Lili, sambil menggendong Lexi di lengannya.


"Nona, sekarang apa yang akan kita lakukan? Putra mahkota pasti tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan menyuruh seseorang untuk mengejar kita."


"Kau benar. Dia memang menyuruh seseorang untuk mengejar kita."


"Apa?"


"Dan orang itu sudah sampai dan sekarang dia sedang berdiri di belakang kita."


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Lili, Hana pun menoleh ke belakang. Ia tak percaya jika yang dikatakan oleh tuannya benar adanya. Ia melihat Buto sedang sedang berdiri di belakang mereka. Hana pun mencoba untuk berdiri, namun dihadang oleh Lili yang terlebih dahulu berdiri memunggunginya.


"Nona."


"Diam disana. Jaga mayat Lexi untukku."


"Baik."


"Apa yang akan dilakukan oleh nona Lili? Kekuatannya sedang di segel sekarang. Bahkan putra mahkota Feng belum juga bisa menemukan orang yang telah menyegel kekuatan nona Lili. Jika kekuatan nona Lili tidak disegel, aku yakin... Buto bukanlah tandingannya." pikir Hana dalam hati.


Melihat istri putra mahkota Feng berdiri di hadapannya, dengan sopan Buto memberi hormat dan salam kepadanya.


"Salam Yang Mulia permaisuri."


"Aku bukan ratumu!"


"Hehe, Yang Mulia bisa becanda juga. Sebentar lagi, tuan akan diangkat menjadi raja, dan kau sebentar lagi akan menjadi ratu. Jadi..."


"Benar Yang Mulia. Maaf jika aku bersikap tidak sopan terhadapmu."


"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Kedatanganmu kemari, pasti ada alasannya bukan?!"


"Benar Yang Mulia. Putra mahkota Feng memintaku untuk menjemputmu dan membawamu pulang ke istana."


"Nona?" tanya Hana dengan wajah sedikit cemas.


Buto melirik ke arah Hana yang sedang memanggil Lili, sambil menggendong mayat Lexi di lengannya.


"Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu berada di samping permaisuri sebelumnya?" tanya Buto kepada Hana.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya Buto, jika kau bersembunyi di dalam kegelapan." sahut Lili.


"Ahahaha... Yang Mulia, kau sangat pengertian."


"Terima kasih atas pujianmu. Bisakah kau melepaskan kami?"


"Sama-sama Yang Mulia. Tapi maaf Yang Mulia, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu itu."


"Jadi kau ingin melawanku?!"


"Aku tidak berani melawan Yang Mulia permaisuri dan aku tidak berani menentang perintah dari putra mahkota Feng."


"Lalu?!"


"Tolong permaisuri membantuku."


"Jika aku menolaknya?!"


"Maaf Yang Mulia. Dengan terpaksa, aku akan membawamu ke istana."


"Kalau begitu, cobalah."


"Hah?!"


"Hana, kita pergi ke hutan kematian sekarang!"


Mendengar Lili menyuruhnya untuk membawa ke hutan kematian, sekujur tubuhnya menggigil ketakutan. Melihat Hana menggigil ketakutan, Lili segera berjongkok dan menepuk bahu Hana dengan lembut.


"Kau tidak perlu khawatir. Ada aku disini."


"Tapi nona, bagaimana dengan kau? Kekuatanmu sedang disegel. Aku takut... kalau kau..."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Percayalah padaku."


Dengan ragu-ragu, Hana pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia mencoba percaya kepada Lili. Ia pun segera memejamkan kedua matanya dan mulai merapalkan mantra teleportasi. Buto yang melihatnya, segera berlari ke arah mereka untuk melukai Hana agar ia tidak bisa melakukan teleportasi sekali lagi. Sayangnya, usahanya tidak berhasil. Ia di hadang oleh burung elang hitam raksasa milik Lili yang tiba-tiba muncul entah darimana, menyerang ke arahnya.


"Cih, burung sialan! Aku jadikan kau burung bakar sebentar lagi!" umpat Buto.


Saat hendak melancarkan serangan baliknya, tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya yang menyilaukan matanya. Ia segera menutup kedua matanya. Perlahan-lahan


cahaya yang menyilaukan mata itu mulai memudar. Buto perlahan-lahan membuka kedua matanya. Betapa kagetnya ia ketika melihat tidak ada seorang pun yang ada dihadapannya.


"Sialan! Kemana mereka pergi!" umpat Buto.


"Tidak perlu dicari lagi."


Tiba-tiba Buto mendengar suara yang sangat akrab di telinganya . Segera ia menoleh ke belakang. Dan dilihatnya putra mahkota Feng sudah berdiri di hadapannya. Ia pun memberi hormat dan salam kepada putra mahkota Feng sambil membungkukkan sedikit punggungnya.


"Salam Yang Mulia."


"Mmm."


"Yang Mulia, apa sungguh kita tidak perlu mengejar mereka lagi?"


"Tidak perlu. Lagipula, mereka tidak bisa pergi jauh-jauh."


"Memang benar. Namun meski saat ini permaisuri kekuatannya sedang disegel oleh sesuatu. Tapi, ia memiliki seorang pelayan yang kekuatannya tidak bisa dipandang sebelah mata."


"Kau tidak perlu khawatir. Dia setara denganmu. Tapi, kita juga harus tetap waspada. Karena kita tidak tahu, apa yang akan mereka rencanakan. Ayo kembali ke istana."


"Baik Yang Mulia."


Keduanya pun menghilang dari tempat itu seperti kilatan bayangan. Rumah yang berdiri tegak dan mewah. Rumah yang menyimpan banyak kenangan pemiliknya, kini berubah menjadi setumpuk abu bersama dengan sisa-sisa puing-puing yang terbakar. Tempat itu pun sepi dengan debu-debu yang bertebaran tertiup angin.