
Raja Elf itu berdiri tepat di hadapan Lili. Ia menatap Lili dengan tatapan yang sangat tajam. Tatapan matanya kemudian beralih kepada Krisan yang bersembunyi di balik punggung Lili. Krisan yang merasa dirinya ditatap oleh Raja Elf, langsung menunduk ketakutan sambil memegang erat lengan Lili. Lili yang merasakan lengannya sedikit sakit karena diremas oleh Krisan, langsung menoleh ke arahnya. Dilihatnya, Krisan sangat ketakutan karena ditatap oleh Raja Elf. Lili pun berbalik memegang tangan Krisan yang sedari tadi masih meremas lengannya. Krisan yang merasa tangannya disentuh hangat oleh Lili, langsung menoleh. Ia melihat Lili tersenyum kepadanya.
"Jangan takut. Tidak ada apa-apa. Santai saja."
Krisan pun mengangguk pelan. Meski dirinya ketakutan dan hatinya gelisah, tapi ia berusaha tenang agar tidak menambah beban Lili. Ia pun menghela nafasnya dan perlahan melepaskan genggamannya. Lili yang merasa lengannya bebas dari cengkraman Krisan, merasa lega. Ia pun berbalik menatap ke arah Raja Elf. Mereka saling bertukar pandang. Hingga akhirnya, Raja Elf berjalan mendekat menuju ke arah Lili. Tubuhnya yang tinggi seperti raksasa itu, membuat Lili harus melihatnya ke atas. Ia merasa bahwa dirinya hanyalah seekor semut yang siap diinjak oleh gajah. Tapi siapa sangka, hal yang terjadi malah di luar dugaan. Raja Elf itu rendah hati, berjongkok dihadapannya seraya memberi hormat kepadanya. Seperti ia memberi hormat kepada penguasa yang paling tertinggi, dan dia hanyalah bawahan kecil. Melihat pemandangan mengejutkan seperti itu, Krisan tak berhenti mengucek kedua matanya. Seolah ia tak percaya, bahwa gadis seperti Lili yang kekuatan sihirnya tidak bisa dirasakan oleh dia, mampu menaklukkan raja Elf.
"Bangunlah!"
"Terima kasih, Yang Mulia.
"Apa? Yang Mulia?! Apa aku tidak salah dengar? Raja Elf itu memanggil Lili dengan sebutan Yang Mulia?!" batin Krisan.
"Lili, apa aku tidak salah dengar? Makhluk aneh itu memanggilmu dengan sebutan Yang Mulia?!"
Tiba-tiba sebuah pedang tajam bergerak dan hampir menusuk leher Krisan setelah dihentikan oleh Lili.
"Apa yang kau lakukan?!"
Raja Elf yang mengacungkan pedangnya tepat di depan leher Krisan langsung berhenti. Kemudian ia memasukkan pedang miliknya ke dalam sarung pedangnya yang terselip di pinggangnya.
"Maaf Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Kenalkan, ini sahabat baikku. Namanya Krisan."
"Salam."
"Suaranya indah sekali. Sayangnya, dia adalah Raja Elf. Sungguh sial!!" batin Krisan.
"I, Iya. Aku Krisan."
Raja Elf itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Kenapa kau tidak bersalaman dengannya, Krisan?"
"Eh? Haruskah?!"
"Aih, sudahlah. Lupakan. Kenapa kau ada disini, anak manis?!"
"Apa??!! Apa Lili sudah gila?! Beraninya dia memanggil Raja Elf dengan sebutan anak manis?! Apa dia sudah bosan hidup?!"
"Itu karena mereka menculik orang-orangku."
"Apa kau yakin? Aku lihat kau sedang melampiaskan amarahmu. Sehingga kau membiarkan orang-orangmu membunuh mereka yang tak berdosa. Katakan apa yang terjadi sebenarnya?!"
"Aku tidak berani membohongi Yang Mulia."
"Apa kau punya saksi?!"
"Tentu. Kemarilah!"
Mendengar perintah raja, dari sebelah barisan kanan, muncullah elf yang lain dengan seukuran anak kecil. Bentuk tubuh Elf ini sangat unik. Setengah manusia dengan kakinya setengah ikan. Ia terbang maju ke depan menuju Lili. Namun, ia berhenti di belakang punggung tuannya.
"Ini saksiku Yang Mulia."
"Anak kecil?!
"Ya Yang Mulia. Dia satu-satunya yang selamat dari insiden itu."
"Selamat?"
"Ya. Kau, cepat ceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Yang Mulia."
"Gugugugu... gugugugu...gugu!!!"
Mendengar makhluk ini berbicara aneh, Krisan mulai diliputi rasa penasaran untuk bertanya kepada Lili.
"Lili, memangnya kau mengerti apa yang dia ucapkan?!"
Mendengar pertanyaan semacam itu, Lili hanya membalasnya dengan senyuman. Ia berbalik memandang elf kecil itu dengan wajah melasnya.
"Jadi kau terpisah dengan kakakmu?!"
"Gugu."
"Apa kau yakin, mereka yang menculik kakakmu dan elf yang lain?!"
"Gugugugu. gugu. gugugu!"
"Bagaimana Yang Mulia? Apa kau sudah percaya?!"
"Baiklah jika itu permasalahannya. Aku akan membantu mencari kakakmu dan yang lainnya."
Mendengar Lili mengatakan hal itu. Seluruh elf yang berdiri di depannya bersorak gembira. Melihat pemandangan yang semakin hari semakin aneh, Krisan semakin penasaran dan mendekat ke samping Lili. Melihat gelagat Krisan yang sedikit aneh, Lili pun bertanya kepadanya.
"Ada apa?!"
"Hanya apa?!"
"Bagaimana kau bisa mengerti apa yang makhluk itu katakan?! Sedangkan aku lihat, kau tidak mempunyai kekuatan sihir apapun. Apa begitu lemahnya kau, atau aku yang terlalu lemah? Sejujurnya, aku tidak tahu kalau kau mempunyai keterampilan seperti ini."
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Penasaran saja."
"Hanya itu saja? Apa kau tidak ingin belajar?!"
"Eh, apa aku boleh belajar?"
"Tentu saja. Setelah aku menyelesaikan masalah ini."
"Masalah apa?"
"Orang-orang yang diculik?"
"Maksudmu, makhluk yang bernama elf itu?!"
"Ya."
"Bagaimana kita harus mencari mereka yang hilang?!"
"Tidak perlu mencari. Seseorang akan datang dengan sendirinya."
"Hah?!"
"Kau tidak perlu khawatir. Sekarang pergilah. Aku takut, kawananmu akan bertambah angka kehilangannya. Serahkan semuanya kepadaku."
"Siapa suruh kalian pergi?!!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan marah dari atas awan diikuti suara petir menyambar. Lili mengerutkan dahinya. Ia merasakan ada sesuatu yang kuat yang sedang bergerak menuju ke tempatnya sekarang. Dengan cepat Lili membuat pelindung yang besar untuk melindungi dirinya dan semua elf yang ada bersamanya. Dan benar saja, sebuah kilatan petir menyambar dengan keras di atas pelindung besar itu. Raja Elf dibuat terkejut olehnya. Dengan gerakan cepat, ia tak bisa merasakan kekuatan sedikit pun yang dikeluarkan oleh Lili. Raja Elf hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sadar diri, bahwa orang yang melindungi dia dan orang-orangnya tidak lain adalah gadis kecil ini. Kekuatan yang sangat besar dan kuat, tersembunyi dengan baik, bahkan orang kuat sekalipun tidak akan bisa memprediksi kekuatannya. Tiba-tiba muncullah sosok pria dari balik awan. Ia kemudian terbang dan mendarat ke bawah. Ia melihat pelindung yang sangat besar, sedang melindungi para elf dan dua orang manusia disana. Pelindung itu sangat kokoh dan tidak ada keretakan di setiap sisinya.
"Yang membuat pelindung sebesar dan sekokoh ini, jelas bukan orang biasa. Tapi, siapa dia?" batin pria itu.
"Katakan siapa kau?!" tanya pria itu
"Manusia."
"Aku tahu kalau kau itu manusia. Yang aku maksud bukan itu?!
"Lalu apa?!'
"Katakan sejujurnya siapa kau?!"
"Aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi kau harus menjawab pertanyaannku terlebih dahulu."
"Apa itu? Cepat katakan?!"
"Dimana kalian menyembunyikan mereka semua?!"
"Apa maksudmu? Menyembunyikan siapa?!"
"Apa kau tahu bahasa manusia? Atau kau memang bodoh?!"
"Sialan!!! Apa maksudmu mengatakan hal itu kepadaku?!!"
"Jangan panas dulu. Bukankah aku hanya bertanya dan kau harus menjawabnya. Sangat tidak adil, dari tadi kau bertanya dan memaksaku untuk menjawabnya. Sekarang, aku bertanya dan kau malah marah-marah. Bukankah itu aneh?!"
"Diam!"
"Baiklah. Aku rasa, kau tidak bisa diajak bermain secara halus. Jangan salahkan aku, kalau aku bermain sedikit kasar denganmu!"
"Banyak bacot. Serang dia!"
Tiba-tiba ribuan penyihir dengan level yang sangat tinggi, datang secara bersamaan dari balik awan dan menghancurkan pertahanan pelindung itu sampai keropos. Melihat hal itu, para elf menjadi marah. Tangan mereka sudah gatal untuk menghajar orang-orang yang berusaha menghancurkan pelindung kasar. Tak terkecuali sang Raja Elf.
"Yang Mulia, aku mohon. Beri aku perintah untuk menghancurkan mereka semua dengan orang-orangku."
"Tidak perlu. Jangan impulsif dan jangan terburu-buru. Lagipula, kau mempunyai sesuatu yang harus kau jaga."
"Yang Mulia, kau..."
"Jangan khawatir. setelah ini, aku akan membantumu."
"Te... terima kasih Yang Mulia."
Ribuan penyihir itu belum berhasil membuat keretakan pada pelindung besar itu."
"Tuan, pelindungnya... sulit untuk ditembus?!"
"Aku tidak mau tahu. Kalian semua harus menghancurkan pelindung itu. Termasuk orang-orang yang berada di dalamnya."