
Beberapa saat kemudian, Lili sampai di depan pintu kamarnya. Ia terdiam sesaat saat melihat pintu kamarnya. Ia merasa ada keraguan di dalam hatinya. Haruskah ia tetap tinggal di sini ataukah harus pergi meninggalkan tempat ini? Ribuan pertanyaan saling berbenturan di dalam pikirannya. Sesaat ia segera menghela nafas. Dengan penuh hati-hati, ia membuka pintu kamarnya.
Kreekkk (Suara pintu kamar telah dibuka.)
Saat Lili membukakan pintu kamarnya, ia melihat Feng sedang berdiri menghadap ke jendela kamarnya. Lili segera masuk dan menutup pintu kamarnya. Tak lupa juga ia menguncinya. Setelah mengunci pintu kamarnya, Lili membalikkan badannya dan berjalan menuju meja riasnya. Setelah sampai di depan meja riasnya, Lili melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Ia melihat seluruh tubuh dan bajunya kotor, dikarenakan ia harus membersihkan kekacauan yang ia perbuat akibat dari menguping pembicaraan suami dan ayah mertuanya. Keheningan mulai menyelimuti suasana di dalam kamar itu. Tiba-tiba, Feng terlebih dahulu mulai membuka suaranya.
"Kau sudah kembali?"
"Ya."
Feng melirik dan melihat Lili sedang membawa pakaian di tangannya. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela kamarnya.
"Apa yang kau bawa di tanganmu itu?!"
"Pakaian."
"Kau mau pergi kemana?!"
"Mandi."
Karena sudah tidak ada yang mereka bicarakan lagi, Lili segera berbalik dan berjalan menuju ke kamar mandi. Mendengar suara langkah kaki Lili menjauh, Feng meliriknya. Ia melihat Lili pergi masuk ke kamar mandi.
"Huff. Seharusnya aku bertanya kepadanya. Apa dia sengaja mendengar percakapanku dengan ayahanda atau tidak?!" gumam Feng.
Satu Jam Kemudian
Lili yang sudah selesai mandi, segera pergi meninggalkan kolam. Lalu ia berjalan masuk ke dalam sketsel (pembatas ruangan). Ia segera mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, Lili selesai mengganti pakaiannya dan berjalan keluar menuju kasurnya. Ia melihat tak ada Feng di dalam sana. Tanpa pikir panjang, Lili berjalan dengan santai menuju kasurnya.
"Lili."
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti mendengar Feng memanggil namanya. Ia segera menoleh ke belakang. Dilihatnya, Feng menatapnya dengan tatapan tajam.
"Feng? Ada apa?!"
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Dan aku harap kau menjawabnya dengan jujur."
"Tentu. Silahkan. Selama aku mengetahuinya, aku akan menjawab seadanya."
"Kau yakin hanya sekedar lewat disana?!" tanya Feng dengan nada mengintimidasi.
"Ya." jawab Lili dengan wajah yang tenang.
"Lalu kenapa kau bisa terjatuh dan pot itu pecah?!"
"Kakiku tergelincir."
"Lili jangan coba-coba untuk membohongiku. Kau tahu akibatnya jika kau berani membohongiku?!"
"Ya."
"Sebentar lagi aku akan dinobatkan sebagai raja. Jadi aku meminta kepadamu untuk menjaga sikapmu sekarang. Karena sebentar lagi, kau akan menjadi ratu. Berusahalah untuk menjadi ratu yang baik." ucap Feng sambil pergi meninggalkan Lili.
"Yang Mulia, kau mau pergi kemana? Apa kau tidak tidur disini?!"
Flashback
"Lili, berhati-hatilah dengan Feng."
"Kenapa? Bukankah dia adalah adikmu sendiri?"
"Adik? Dia dan aku hanya saudara tiri."
"Kenapa kau memintaku untuk berhati-hati dengannya?!"
"Kau akan mengetahuinya sendiri."
"Huh, kau pasti cemburu kan? Iya kan?!"
"Sekalipun aku cemburu, apa itu bisa mengubah hatimu? Apa itu bisa mengubah keputusan ayahanda?!"
"Apa maksudmu, Sirzechs?!"
"Lili, seharusnya kau sudah mengerti maksud dari perkataanku ini. Kau bersikeras untuk tidak membatalkan pernikahanmu dengannya. Jika waktu itu, kau mau membatalkan pernikahanmu dengannya... mungkin yang menjadi pengantin prianya adalah aku. Bukan dia."
"Sirzechs, bahkan jika aku membatalkan pernikahanku dengan adikmu, apa itu bisa mengubah keputusan ayahandamu?! Keputusan raja adalah sesuatu yang mutlak. Tidak bisa diubah. Jika kau menentangnya, itu sama saja dengan mengantarkan nyawamu kepadanya." terang Lili kepada Pangeran Sirzechs yang masih menatapnya dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Aku tidak peduli dengan nyawaku. Selama aku bisa hidup berdampingan denganmu. Lili, aku akan selalu melindungimu, menjagamu dari orang-orang yang ingin menyakitimu. Karena aku... mencintaimu."
Mendengar Sirzechs mengutarakan isi hatinya, wajah Lili berubah menjadi memerah. Rona malu di wajahnya, membuat Pangeran Sirzechs semakin menyukainya. Ia terlihat seperti gadis polos dengan ekspresi pemalu dimatanya.
"Sirzechs. Berhenti becanda. Hal seperti itu tidak boleh didengar oleh orang luar." kata Lili dengan nada cemas.
"Aku tidak becanda. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Apa kau juga mencintaiku, Lili?!" tanya Pangeran Sirzechs sambil menggenggam kedua tangan Lili dengan erat.
Lili melihat genggaman tangannya yang sangat erat dan terasa hangat. Lili tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan kepada pria yang ada dihadapan sekarang. Ia selalu menganggap pria itu adalah temannya. Teman pertamanya. Tapi siapa sangka, pria yang ia anggap sebagai teman dekatnya memiliki perasaan romantis kepadanya. Lili sangat bingung. Ia berada dalam posisi yang sangat sulit. Disisi lain ia harus mematuhi perintah raja, disisi lain dia harus memberi jawaban kepada teman dekatnya perihal perasaannya kepadanya.
"Lili, Lili?!"
"Maafkan aku Sirzechs. Aku hanya menganggapmu sebagai temanku. Teman terdekatku tidak lebih." jawab Lili dengan nada lirih sambil melepaskan genggaman tangan Sirzechs.
Pangeran Sirzechs yang mendengar jawaban Lili, hanya bisa tertunduk lesu. Ia berusaha menenangkan dirinya dari perasaan kecewa akan jawaban Lili. Lili merasa bersalah kepada Pangeran Sirzechs. Ia tahu, pangeran Sirzechs saat ini sangat kecewa dengannya setelah mendengar jawaban darinya. Pangeran Sirzechs mengangkat kepalanya dan menatap Lili. Dengan terpaksa, ia tersenyum di depan Lili. Menyembunyikan kesedihannya yang sangat mendalam.
"Sirzechs, apa kau marah padaku? Kecewa padaku?!"
"Tidak. Aku tidak marah, apalagi kecewa kepadamu. Aku hanya merasa iri kepada adik tiriku. Aku tidak seberuntung dia. Yang tak butuh waktu lama untuk mendapatkan dirimu. Wanita yang aku cintai." ucap Pangeran Sirzechs dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Sirzechs, aku..."
"Lili, sampai kapan pun... aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa yang terjadi padaku, aku tetap mencintaimu. Tidak peduli berapa banyak waktu yang aku lalui, aku akan tetap mencintaimu. Sekarang dan untuk selamanya."
...****************...
Mengingat pernyataan cinta yang diucapkan oleh Pangeran Sirzechs kepadanya, membuat hati Lili terasa sakit. Ia harus kehilangan salah satu teman dekatnya hanya karena cinta. Dan sekarang, hanya karena sebuah cinta dan benci yang berjalan beriringan seiring dengan waktu yang ia lewati dengan putra mahkota Feng (suaminya), membuat Lili semakin sakit hati. Pria yang sudah mengambil keperawanannya. Pria yang memberikan dia sebuah imajinasi tentang pernikahan yang diiringi dengan perasaan cinta yang tulus, yang berujung pada sebuah penghianatan. Lili menyadari bahwa apa yang ia alami dengan suaminya, hanyalah imajinasi kosong belaka. Namun, ia tetap mencoba untuk mempercayai suaminya sekali lagi. Sampai ia meyakini dirinya sendiri dengan bukti yang kuat, bahwa putra mahkota Feng, benar-benar orang yang sudah menyegel kekuatannya atau bukan. Tanpa bukti yang kuat, perkataannya hanya akan menjadi lelucon di dalam istana. Dan parahnya, ia akan menyeret seluruh keluarganya dan berakhir pada kematian.
"Huff. Aku mencoba untuk mempercayaimu sekali lagi, sampai aku mendapatkan bukti kuat tentang kau yang sudah menyegel kekuatanku. Aku harap, sampai saat itu tiba, kau bukanlah orang yang menyakitiku, suamiku... Feng." ucap Lili sambil berlinangan air mata.