PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Pesona Ratu Iblis


"Ya. Tidak peduli berapa tahun aku berkultivasi, kekuatanku yang tersegel hanya bisa dibuka oleh pelakunya sendiri."


"Lalu, apa itu berpengaruh terhadap melemahnya kekuatanmu, ratu?"


"Entahlah. Karena separuh kekuatanku saja yang tersegel. Ditambah dengan kekuatan spiritualku yang melemah, akibat meridianku hancur. Aku tidak tahu apakah kekuatanku yang sekarang melemah atau tidak."


"Ratu."


"Hana, kau pasti lelah. Istirahatlah."


"Emm, ratu... dimana aku bisa istirahat? Istana ini sangat besar dan ada banyak ruangan. Aku takut, aku salah memasukki ruanganmu."


"Istirahatlah di kamar lantai bawah."


"Ehm..."


"Huff, ayo ikutti aku. Aku akan mengantarmu ke kamarmu."


"Baik Ratu." ucap Hana dengan wajah berseri-seri.


Melihat ekspresi Hana yang berseri-seri, Lili hanya bisa menghela nafas. Keduanya berjalan menyusuri sebuah ruangan yang ada di lantai dasar. Tibalah keduanya di depan pintu kamar dengan ukiran tumbuhan rambat yang indah dengan warna putih. Melihat ukiran itu, Hana sangat takjub sampai tak mengedipkan matanya. Ia sangat terpesona melihat ornamen dan segala yang ada di dalam istana milik ratunya.


Krekkk! (suara pintu dibuka.)


Betapa takjubnya Hana melihat isi kamar miliknya. Semua furniture di dalamnya sangat minimalis dan indah, membuatnya lupa diri. Ia segera berlari masuk ke dalam sambil memutar badannya dengan kedua tangannya yang direntangkan. Ia berjalan mengelilingi seluruh isi kamarnya dan sesekali menyentuh beberapa furniture di dalam kamarnya. Melihat Hana yang sedang gembira mengamati seluruh isi ruangan kamarnya, membuat Lili hanya tersenyum. Tiba-tiba Hana tersadar dan berbalik ke belakang. Ia melihat Lili tersenyum kepadanya. Sambil malu-malu, ia berjalan menghampiri Lili dan memberi hormat kepadanya.


"Ratu, terima kasih."


"Sama-sama. Apakah kau menyukainya?"


"Iya. Aku sangat menyukainya."


"Baguslah kalau kau menyukainya. Tapi, jika kau tidak menyukainya, kau boleh membuangnya, menggantinya, mengubahnya sesuka hatimu."


"Kenapa ratu mengatakan hal seperti itu?!"


"Karena mengukur dalamnya lautan sangatlah mudah. Namun mengukur dalamnya hati seseorang, sangatlah rumit."


"Apa maksudnya Ratu? Aku tidak mengerti?!" tanya Hana dengan wajah penasaran.


"Ibaratnya kita menghilangkan duri dalam bunga mawar untuk kita berikan kepada orang lain. Namun, tanpa kita sadari, kita telah melukai diri kita sendiri. Terkadang kita menjaga perasaan orang lain, tapi orang lain belum tentu memikirkan perasaan kita. Jadi, cintailah dirimu sendiri. Pikirkanlah dirimu sendiri. Sebelum kau mencintai dan memikirkan orang lain. Karena manusia selalu bisa berkhianat, tapi tidak dengan Tuhan."


"Jadi begitu maksud ratu. Apa yang ratu katakan benar adanya. Terkadang kita mencintai orang lain, tapi yang ada kita malah sakit karenanya. Aku tidak mau jatuh cinta!"


"Kenapa kau berkata seperti itu?!"


"Karena jatuh cinta hanya akan membuatku gila. Sakit hati. Menangis tidak ada alasan. Aku... aku tidak akan mampu menanggung itu semua, ratu."


"Hana, di dunia ini kau tidak akan pernah bisa lepas dari jeratan cinta."


"Kenapa? Kenapa ratu mengatakan hal semacam itu?"


"Karena bahaya terbesar di dunia ini adalah cinta. Dengan cinta orang tak mempedulikan dirinya. Yang hanya ia pedulikan adalah orang yang ia cintai. Rela mengorbankan segalanya demi orang yang dicintai. Dan dengan cinta pula, orang bisa berbuat kejam. Lebih kejam dari binatang. Siapapun tidak akan pernah bisa lepas dari cinta, termasuk aku."


"Lalu apa bedanya dengan benci?! Jika cinta berbahaya, apakah benci juga lebih berbahaya daripada cinta?!"


"Cinta dan benci hanya sebuah garis tipis."


"Jadi begitu."


"Hana, aku berharap semoga kau tidak pernah mengalami apa yang pernah aku alami. Semoga kau mendapatkan pria pujaan hatimu, yang bertanggung jawab, rela berkorban, dan tentunya mencintaimu apa adanya. Menerimamu, harus menerima keluargamu."


"Aku akan mengingatnya ratu. Dan semoga Tuhan mengabulkan keinginanku dan keinginanmu."


"Keinginanku?!"


"Ya. Keinginanmu ratu. Aku juga berdo'a agar kau segera menemukan kebahagiaanmu."


"Terima kasih. Sekarang kau beristirahatlah. Tapi, sebelum kau beristirahat, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."


"Apa itu ratu?!"


"Aku akan melakukan kultivasi tertutup. Dan, aku minta kau untuk menjaga istana ini. Tidak peduli ada hal ribut apa di luar istana, kau jangan sekali-kali melangkah keluar dari dalam istana ini. Jangan pernah sekalipun keluar dari istana ini!" tegas Lili dengan ekspresi wajah yang serius.


"Kenapa ratu?!"


"Karena di luar istana ada banyak binatang buas yang sedang berjaga."


"Apa kau memeliharanya, ratu?!"


"Apa aku terlihat sebagai penyayang binatang?!"


"Itu..."


"Pfft, hahaha... Hana oh Hana. Kau tahu sendiri bahwa aku tidak tertarik untuk memelihara binatang."


"Lalu, kenapa ada banyak binatang buas yang berjaga di luar istana?"


"Mereka semua adalah binatang roh. Aku hanya menyelamatkan mereka. Tapi siapa sangka, mereka menginginkan aku untuk menjadi majikannya."


"Apa kau menyetujuinya ratu?!"


"Tentu saja tidak. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku hanya menyelamatkan mereka. Aku tidak tertarik untuk menjadi majikan mereka. Aku... hanya tertarik untuk berteman dengan mereka, itu saja."


"Dan mereka mematuhinya?!"


"Sepertinya begitu. Bahkan mereka tidak peduli, aku mau menjadi majikan mereka atau tidak. Yang aku tahu, mereka selalu menghormatiku. Jadi Hana, aku berharap kau bisa mematuhi perintahku. Untuk tidak keluar dari istana ini."


"Engg..."


"Kau tidak perlu khawatir. Akan ada seseorang yang mengirim makanan kemari."


"Siapa dia ratu?!"


"Kau akan tahu sendiri siapa dia. Jika dia tidak berkenan untuk memperkenalkan dirinya kepadamu, tunggu aku memperkenalkannya kepadamu."


"Baik Ratu."


"Istirahatlah."


"Tunggu ratu!"


"Ratu, kau mau pergi kemana?!"


"Bukankah aku sudah berkata kepadamu, aku akan melakukan kultivasi tertutup."


"Berapa lama?!"


"Terserah aku."


"Hah?!"


"Hehehe, jaga dirimu baik-baik dan ingat pesanku. Jangan keluar dari istana. Apa kau mengerti."


"Baik."


Lili pun berjalan meninggalkan Hana dan menutup pintu kamarnya. Ia pun berjalan keluar dari istananya, menuju hutan. Semakin jauh langkah kakinya, semakin ia meninggalkan istananya. Saat ditengah perjalanan, ia mendengar derap langkah kaki para binatang buas yang datang mendekat. Lili pun menoleh ke belakang. Dilihatnya ribuan binatang buas mulai dari kuda bertanduk dengan kedua sayapnya, rusa dengan tanduk warna-warninya, raja kera raksasa, harimau bersayap dan ribuan binatang menunduk memberi hormat kepada dia. Lili pun menerima penghormatan mereka dengan sebuah senyuman. Tiba-tiba salah satu dari binatang buas (harimau putih bersayap), mengerang seperti memberi tahu ada seseorang yang sedang menyelinap ke arah mereka. Lili pun memberi perintah kepada salah satu harimau bersayap itu untuk diam. Mendengar perintah Lili, harimau bersayap itu langsung terdiam.


"Keluarlah!" ucap Lili sambil menatap ke arah sebuah pohon besar yang tak jauh darinya.


Tiba-tiba keluarlah Hana dari balik pohon itu.


"Hana?!"


"Ratu, maafkan aku." ucap Hana sambil berjalan menuju ke arahnya dan berlutut sambil memohon maaf kepadanya.


"Apa yang kau lakukan disini?! Bukankah aku menyuruhmu untuk berdiam di Istana. Kenapa kau malah melanggarnya?!"


"Aku mendengar suara berisik di luar dan... aku mengkhawatirkanmu."


"Jika seandainya aku tidak ada di sini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu."


"Aku minta maaf ratu. Aku bersalah. Tolong beri aku hukuman!"


"Huff, sudahlah. Teman-teman, dia adalah pelayanku. Namanya Hana. Dia yang akan menjaga istanaku selama aku melakukan kultivasi tertutup. Jadi, maaf merepotkan kalian untuk menjaganya."


"Ratu, tidak perlu khawatir. Kami akan menjaganya." ucap beruang raksasa kepada Lili.


"Terima kasih Tuan beruang."


Beruang raksasa itu mengangguk diikuti oleh semua binatang buas yang hadir disana. Pertanda mereka sangat menghormati Lili. Hana yang melihatnya sangat takjub melihat nona yang selama ini ia kenal ternyata mampu menundukkan beberapa bintang buas.


"Ra... ratu... mereka semua berbicara?!"


"Iya. Bahkan ada salah satu diantara mereka yang bisa berwujud seperti manusia."


"Apa???!!!!"


"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi. Baiklah teman-teman, terima kasih kalian sudah mau menemui aku sebelum aku melakukan kultivasi."


"Ratu, jaga dirimu. Dan berhati-hatilah." ucap harimau bersayap kepada Lili.


"Terima kasih Tuan Tiger. Bagaimana dengan istrimu? Apakah dia baik-baik saja setelah melahirkan anakmu?"


"Terima kasih atas bantuan Ratu. Kondisi istriku dalam keadaan baik. Dan sekarang tubuhnya sangat sehat, sehingga ia bisa menyusui anak-anak kami."


"Syukurlah. Aku harap bayi kembar kalian tumbuh besar, kuat dan hebat seperti kalian berdua."


"Terima kasih ratu."


"Oh ya. Hana juga bisa ilmu pengobatan. Jika kalian butuh bantuan, minta tolong saja kepada dia."


Seluruh binatang buas itu berbalik menatap ke arah Hana. Hana yang baru pertama kali melihat binatang buas dengan bentuk dan tampang yang sangat unik dan bermacam-macam, membuat dia gemetaran.


"Ratu sepertinya ia takut kepada kami."


"Dia hanya belum terbiasa dengan kalian saja. Hana jika kau takut, tetaplah tinggal di dalam istana dan jangan pernah keluar dari istana. Kau tidak perlu takut. Mereka sudah mengenalmu sebagai orangku. Hanya, kau tahu kondisiku sekarang. Diluar sana ada banyak orang yang memburu mereka semua, termasuk kita."


"Apa?! Apa itu berarti, raja dan Yang Mulia putra mahkota Feng..."


"Ya. Jadi aku mohon padamu, jangan melanggar perintahku!"


"Baik Ratu."


Lili pun melambaikan tangannya ke arah Hana dan semua binatang buas lainnya. Ia pun berjalan meninggalkan mereka. Tinggallah Hana dengan ribuan binatang buas disana yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Ahaha... bisakah aku kembali ke istana terlebih dahulu?!" tanya Hana dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.


Tak lama kemudian, Hana berjalan menuju ke arah istana dengan duduk di atas punggung harimau bersayap dan diikuti oleh ribuan binatang buas yang mengikuti mereka dari belakang.


"Ternyata kalian binatang yang baik juga ya."


"Kau juga manusia yang baik sama seperti ratu. Berbeda dengan manusia lainnya."


"Benarkah?!"


"Ya."


"Wah bisakah kalian menceritakan tentang pertemuan kalian dengan ratu?!"


Harimau bersayap itu saling berpandangan dengan teman-temannya. Semua teman-temannya pun mengangguk.


"Kami akan menceritakan tentang pertemuan kami dengan ratu. Tapi setelah ratu kembali dari kultivasi tertutupnya. Sebaiknya nona Hana tetap tinggal di dalam istana sesuai perintah Ratu. Dan jangan pernah meninggalkan istana, sekalipun ada suara berisik dari luar." terang Harimau bersayap kepada Hana.


"Tapi ratu mengatakan kepadaku, akan ada seseorang yang datang mengantarkan makanan ke istana? Apa aku tidak keluar untuk mengambil makanannya?!"


"Tentu saja kau keluar hanya untuk mengambil makanan yang dia antar. Setelah itu dilarang untuk keluar dari istana. Apa kau mengerti?!"


"Aku mengerti."


Mereka semua berjalan bersama-sama menuju ke arah istana yang sudah hampir terlihat. Di sisi lain, Lili telah sampai di depan mulut gua es yang berada di bagian dalam hutan kematian. Ia memasukki sebuah gua es yang dilindungi oleh sebuah perisai pelindung yang tak kasat mata. Ajaibnya, ia bisa melewati perisai pelindung itu. Dan perisai pelindung itu tidak hancur. Malah semakin kuat melindungi mulut gua itu. Di luar hutan kematian, ribuan tentara istana sedang melakukan pengejaran terhadap Lili dan Hana yang masih menjadi buronan.


"Yang Mulia, mungkinkah mereka berdua ada di dalam hutan kematian ini?!" teriak salah satu pengawal kepada putra mahkota Feng.


"Kalaupun mereka berdua ada di dalam hutan kematian ini, bagaimana caranya kita bisa masuk?!"


"Itu..."


Putra mahkota Feng hanya bisa menghela nafas dan melihat hutan kematian itu yang terlihat sama saja seperti hutan lainnya. Namun, ia bisa merasakan aura kebencian yang mendalam dari sana.


"Lili, apa kau ada disana?! Apa kau membenciku sekarang?!" batin putra mahkota Feng sambil mengepalkan kedua tangannya.