
Di sebuah taman belakang sekolah ada sebuah pohon mangga yang besar, rimbun daunnya dan buahnya tumbuh besar dan lebat. Dibawah pohon itu terdapat sebuah kursi kayu panjang berwarna putih dan meja bundar berwarna putih yang dihiasi ornamen ukiran yang indah. Angin sepoi-sepoi meniup dedaunan kering yang berjatuhan seolah mereka menari melayang diudara dengan anggun. Lili dan Krisan, keduanya berjalan ke arah pohon itu dan duduk di kursi panjang berwarna putih itu.
"Ada apa Lili?"
"Hmm... kenapa namaku ada di sana? Apa mereka salah mengetik nama orang lain?!"
"..."
"Apa aku boleh mengundurkan diri?!"
"Tidak boleh."
"Kenapa? Jelas-jelas aku tidak semahir kau dalam ilmu sihir, bagaimana bisa aku mengikuti ujian?"
"Lili, sejak zaman dulu, murid-murid disini tidak ada yang berani mengundurkan diri dalam ujian ini. Kau tahu kenapa?! Karena jika kau mengundurkan diri, kau akan dihukum."
"Hah?! Dihukum? Hukuman seperti apa?"
"Kau akan dibuang ke dalam jurang keputusasaan. Dan kau tahu tempat apa itu?! Di sana kau akan merasakan hal-hal yang akan membuat kau merasa putus asa, gila dan mungkin akan meninggalkan trauma."
"Hah?! Sesadis itukah? Apakah itu hukuman fisik atau mental?!"
"Entahlah. Menurut cerita yang aku dengar, dulu ada salah satu murid yang pernah dihukum dan dibuang ke jurang keputusasaan."
"Lalu bagaimana?!"
"Murid itu berhasil keluar dari jurang tersebut. Anehnya saat ia keluar dari jurang itu, ada ribuan binatang buas yang mengikutinya dari belakang."
"Wah sekuat itukah dia? Apa dia tampan atau cantik? muda tua? apa dia..."
"Stop! Hari ini sudah sore, senja mulai memerah. Ayo kita pulang."
"Tapi, aku belum selesai bicara?!"
"Nanti saja jika sudah sampai di rumah ya."
"Oke deh."
...***...
Di Asrama
Krisan masuk ke kamar Lili setelah Lili membuka pintu kamarnya dan menguncinya. Krisan langsung duduk dengan cepat di sofa panjang sambil melihat-lihat seisi kamar Lili.
"Kamarmu benar-benar mewah dan rapi seperti saat pertama kali aku kesini. Terlihat seperti kamar putri bangsawan."
"Kamarmu juga pasti bagus. Jauh lebih bagus dari kamarku."
"Memangnya kau pernah masuk ke kamarku?"
"Tidak. Kau tidak pernah mengajakku kan?!"
"Bukannya kamar anak perempuan lebih rapi daripada kamar anak laki-laki?!"
"Tidak juga, hehehe."
"Oh ya, kau mau cerita apa? Ayo lanjutkan?" tanya Lili sambil memberikan segelas air putih kepada Krisan. Krisan menerimanya dan meneguknya sekali dan diletakkan di atas meja. Ia pun menghela nafas sambil melihat langit-langit kamar Lili.
"Apa kau tahu kenapa aku tidak melanjutkan cerita tentang Hutan Kematian?" tanya Krisan sambil mengalihkan pandangannya ke arah Lili. Lili menggelengkan kepalanya.
"Itu karena Hutan itu berhubungan dengan seseorang yang namanya tidak boleh disebut di sekolah dan di asrama ini. Siapa saja yang berani menyebut nama itu baik di sekolah atau di asrama, dia akan mendapat hukuman yang berat."
"Kenapa? Memangnya nama siapa yang tidak boleh disebut?"
"Ratu Iblis."
"Apa?! Itu berarti Ratu Iblis bukannya... permaisuri Raja Iblis yang menghilang selama dua ratus tahun yang lalu kan?"
"Iya. Sebenarnya namanya bukan Ratu Iblis. Itu hanya julukannya saja. Tidak hanya Ratu Iblis saja. Dia mempunyai banyak julukan. Itu karena dia kekuatan sihir hitamnya yang luar biasa tak tertandingi. Meski dia mempunyai kekuatan yang luar biasa, ia tidak pernah menyakiti siapapun. Malahan, dia disakiti oleh banyak orang."
" Begitu ya. Kasihan sekali. Kenapa mereka menyakiti dia padahal dia tidak pernah menyakiti siapapun."
"Lili... sebaik apapun kau kepada orang lain, jika dia membencimu, di mata hatinya kau tetap buruk. Tidak ada hal baik secuil pun. Bahkan jauh lebih buruk."
"Tapi, mau seperti apapun seseorang membenci kita, setidaknya kita harus berbuat baik kepada mereka. Meskipun balasannya hanya caci maki saja. Atau mungkin lebih dari itu."
"Kau benar. Tapi akan ada saatnya seseorang merasa bahwa yang dilakukannya hanyalah sia-sia."
"..."
"Hutan Kematian itu... kenapa dia bernama Hutan Kematian?! Karena orang yang masuk ke sana tidak ada yang pernah kembali. Kalaupun kembali, itu hanya berupa mayat. Semua tergantung keberuntungan masing-masing."
"Kenapa? Kenapa bisa begitu?!"
"Aku sendiri tidak tahu. Buku sejarah di sekolah ini tidak menceritakan hal detail tentang hutan itu. Yang aku tahu, orang yang bisa keluar dengan selamat dan membawa ribuan hewan buas bersamanya, yang tak lain dan yang tak bukan, siapa lagi kalau bukan Dia seorang, Ratu Iblis... Lili."
"Namanya...sama dengan namaku. Dan orang itu adalah permaisuri Raja Iblis, Evil." batin Lili
"Namanya memang sama denganmu. Hanya yang membedakan dari kalian berdua adalah sifatnya. Dia terkenal berdarah dingin, kejam, angkuh...ahhh jika aku sebutkan mungkin tidak cukup sehari. bisa sekian purnama."
"Hah? Sejahat itukah dia?!"
"Bagi yang membencinya dia sosok penjahat yang licik, berdarah dingin, kejam, angkuh. Tapi bagi yang mengenal dia, mencintai dia, menyayangi dia... dia...hangat bagaikan mentari pagi yang bersinar."
Krisan berkata seperti itu sambil terbayang kenangan masa kecilnya. Dimana saat itu dia harus kehilangan kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya dituduh menyembunyikan melakukan praktek sihir hitam secara diam-diam. Keluarganya di hukum dengan hukuman gantung. Saat prosesi hukuman gantung dan tiba dirinya untuk di hukum, seseorang berjubah hitam menculiknya dari prosesi tersebut. Dialah satu-satunya yang masih selamat dari hukuman itu karena diculik oleh seseorang yang tidak ia kenal. Dalam semalam, keluarganya hancur tak bersisa. Rumah, keluarga, sanak saudara semua sudah hancur. Tubuhnya yang kecil meringkuk, menangis ketakutan di dalam pelukan seseorang yang berjubah hitam tersebut. Ia masih menangis ketakutan karena mengira dirinya akan mati seperti keluarganya. Tiba-tiba ia mendengar suara samar-samar yang lemah lembut berbisik di telinganya.
"Jangan takut anak manis. Aku di sini untuk menolongmu. Sekarang berhenti menangis dan tutup matamu. Aku mau membersihkan serangga-serangga kecil yang menggangu jalan kita. Kau mengerti?!"
Mendengar bisikan itu, Krisan kecil pun berhenti menangis dan menutup kedua matanya rapat-rapat. Sejak dirinya dibawa lari oleh seseorang berjubah hitam untuk menyelamatkannya, Krisan merasa bahwa banyak orang di belakang yang mengejar mereka berdua. Ribuan penyihir di seluruh negeri dikerahkan untuk menangkap dirinya dan penyelamatnya yang misterius ini. Krisan kecil bisa merasakan suara ledakan dan jurus dari masing-masing penyihir yang mengarah ke arah mereka. Entah kenapa Krisan kecil merasa aman dalam pelukannya. Dengan berani, Krisan membuka kedua matanya dan dilihatnya sosok yang memeluknya sekarang.