PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Perpisahan)


Semua orang yang hadir saling berbisik satu sama lain. Melihat pemandangan yang mengusik dirinya, Raja mulai berteriak menyuruh mereka semua untuk diam. Melihat reaksi Yang Mulia yang tidak biasa, dengan tenang Lili memecahkan keheningan yang canggung ini.


"Yang Mulia, maaf sebenarnya apa yang terjadi selama hamba tidak ada disini?"


"Humph, kau masih pandai berpura-pura!"


"Maaf Yang Mulia, hamba tidak mengerti apa Yang Mulia maksud?"


Di sisi lain, Lili mulai berkomunikasi dengan roh pria itu.


"Woahhhh... Raja mulai mencurigaimu Yang Mulia."


"Aku serahkan semuanya kepadamu."


"Kau, aihhh kau lelaki yang tak bertanggung jawab!"


"Apa katamu?!"


"Kenapa? Kau marah? Lihat perbuatanmu barusan?! Haishhh!"


Mendengar Lili mengeluh dengan perbuatannya, roh itu hanya bisa diam mendengarnya.


"Haruskah aku perjelas di sini, tentang siapa kau sebenarnya?!"


Mendengar hal itu, Lili tersenyum kecil.


"Kenapa kau tertawa?!"


"Maaf Yang Mulia, bukankah semuanya sudah jelas. Kalau aku sudah berhasil keluar dengan selamat dari hutan ini. Apalagi yang perlu diperjelas?!"


"Kau?!!!"


"Yang Mulia, tahan emosimu." bujuk permaisuri sambil menggenggam tangan kiri raja yang sedang mengepal erat seolah ingin memukul orang yang sedang berdiri di depannya sekarang.


Melihat permaisuri menggenggam tangan kiri Raja, Lili hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia tahu kalau roh itu sedang terbakar api cemburu yang membara.


"Kau cemburu ya?" goda Lili sambil melirik


ke belakang melihat ekspresi roh itu yang lucu, unik karena terbakar oleh api cemburu.


Baru kali ini Lili melihat ekspresi roh pria yang sedang cemburu melihat kekasihnya, bukan, mantan istrinya sedang bermesraan dengan pria lain yang tak lain adalah saudara beda ibu dengannya. Ingin rasanya Lili tertawa, tapi ia takut dosa. Mendengar Lili menghasutnya, roh pria itu bukannya marah, ia malah tertunduk lesu. Melihat ekspresi sedih di wajah roh itu, Lili merasa bersalah dengan ucapannya.


"Lili, maafkan sikap Raja terhadapmu. Ini hanya salah paham saja."


"Tidak apa-apa Yang Mulia permaisuri. Tapi, bisakah hamba mengetahui kesalahpahaman macam apa yang permaisuri maksud itu? Hamba tidak mengerti?"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Lili kepadanya, permaisuri memandang ke arah Raja yang sedang memasang wajah kesal. Permaisuri mengalihkan pandangannya ke arah Lili seolah ia tahu apa yang harus ia lakukan terhadap gadis yang sedang berdiri di depannya sekarang.


"Yang Mulia akhir-akhir ini sangat sibuk. Jadi ia kelelahan dan mungkin bersikap sedikit impulsif terhadapmu. Mungkin tidak hanya kepadamu, tapi kepada semua orang yang hadir disini, aku meminta maaf atas nama suamiku. Mohon semuanya untuk memaklumi hal ini."


"Tidak apa-apa Yang Mulia permaisuri. Anda tidak perlu khawatir akan hal ini. Kami bisa memakluminya, bahwa Raja sangat sibuk dengan urusan negeri ini. Jadi wajar saja jika beliau sedikit bersikap berbeda dari biasanya."


"Ya itu benar! Permaisuri tidak perlu khawatir."


Ribuan orang mulai ramai saling menjilat kepada Raja. Lili yang melihat pemandangan ini seolah ingin pergi secepat kilat dengan membawa keluarganya. Dari sisi lain, ia mendengar roh itu sedang mengejeknya dari belakang.


"Apa kau yakin bisa mengatasi hal ini, Lili?"


"Eits, kau panggil aku apa?!"


"Lili. Itu namamu kan?! Aku mendengar, semua orang memanggilmu begitu. Aku pikir itu adalah namamu."


"Selamat, kau mendapatkan hadiah piring cantik."


"Gadis yang lucu!"


"Apa kau menghinaku?"


"Menghina? Bagian mana aku menghinamu?!"


"Kau barusan mengatakan kalau aku itu lucu. Tidakkah kau tahu bahwa itu adalah penghinaan secara halus tanpa kau sadari."


"Aku tidak menghinamu secara halus. Aku mengatakan tulus, jujur dan apa adanya. Apa itu salah?!"


"Tidak."


"Lalu, kenapa kau beranggapan bahwa aku menghinamu secara halus? Jangan-jangan kau..."


"Cukup. Hentikan pembicaraan ini! Apa kau ingin menemui istrimu?"


"Tentu saja! Sayangnya, dia sudah menjadi istri dari orang lain."


"Tidakkah kau ingin tahu, apa alasannya dia meninggalkanmu dan menikahi pria lain tanpa seijinmu?"


"Dia tidak meninggalkan aku. Tapi aku yang meninggalkan dia dan anakku."


"Kau terlalu sentimentil!"


"...."


"Baiklah, serahkan semuanya kepadaku. Tapi dengan syarat, kau harus memenuhi persyaratanku. Dan kau tidak boleh bertindak gegabah seperti tadi."


"Ya. Ingat kata-kataku barusan!"


"Iya... iya."


Mendengar roh itu menyetujui persyaratan dan permintaannya, Lili pun tersenyum dan mengakhiri percakapan telepatinya. Ia memandang ke arah Raja dan permaisuri yang masih menatap ke arahnya, seolah mereka berdua menargetkan hidupnya.


"Yang Mulia Raja, Yang Mulia permaisuri. Maafkan aku atas tindakanku yang kurang sopan terhadapmu."


"Tidak apa-apa Lili. Oh ya, bagaimana kau bisa keluar dari hutan ini. Bisakah kau membagikan ceritamu kepada orang-orang yang ada disini?!"


"Seperti Yang Mulia ketahui dan semua yang kita ketahui bahwa, jika ada seseorang yang berani masuk ke hutan kematian itu, maka ia tidak akan pernah kembali. Namun, jika beruntung, ia akan keluar dengan selamat. Dan aku berada di pilihan yang terakhir."


"Wahhh... keberuntungan yang luar biasa. Benar kan sayang?"


"Aku rasa tidak!"


"Tapi tidakkah kau membuka mata hatimu?!! Tidak ada satupun orang di negeri ini yang bisa seberuntung seperti dia?!"


"Ehem... maaf mengganggu. Yang Mulia permaisuri, bolehkah aku meminta waktumu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan empat mata denganmu sekarang?" ajak Lili


"Hei kau ini siapa?! Kalau mau bicara, ya bicara saja disini! Untuk apa harus berbicara empat mata dengan istriku? "


"Sayang, kau seharusnya tidak boleh berkata seperti itu. Dia hanyalah seorang gadis yang baru saja tumbuh dewasa."


"Maaf Yang Mulia raja dan permaisuri atas ketidaksopanan anak hamba."


Kemunculan ayahnya yang menjadi penengah antara Lili dan penguasa kerajaan di negeri ini.


"Ayah? Apa yang kau lakukan disini?"


"Diam!"


"Tidak apa-apa Tuan Lee. Ini hanya sebuah kesalahpahaman saja. Ku harap kau bisa mengerti."


"Maafkan hamba Yang Mulia Raja dan permaisuri."


"Tidak apa-apa. Oh ya Lili, bisakah kau menceritakan kepadaku apa yang terjadi di sana? Seperti apa hutan kematian itu? Apakah sama seperti yang dirumorkan?"


"Tidak Yang Mulia permaisuri."


"Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa keluar dari hutan itu dengan selamat?"


"..."


"Baiklah jika kau tidak mau menceritakannya disini. Kau bisa datang ke istana dan menemuiku."


Mendengar istrinya mengatakan hal itu kepada Lili, raja pun menatap tajam kepadanya. Merasa dirinya ditatap tajam oleh seseorang yang duduk disampingnya, permaisuri menggenggam tangan raja. Sebuah isyarat agar raja menenangkan emosinya. Dengan terpaksa, raja mengiyakan permintaan istrinya.


"Kami berterima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Raja dan permaisuri."


Raja dan permaisuri mengangguk secara bersamaan. Lili dan ayahnya pamit undur diri dan berjalan menuju barisan samping. Raja pun beranjak dari tempat duduknya dan ia mengambil langkah maju ke depan.


"Semuanya, sudah seperti yang kita lihat dan kita tunggu selama tiga hari lamanya. Akhirnya kita semua bisa menyaksikan sesuatu diluar dugaan kita selama ini. Seorang gadis, salah satu dari murid akademi sekolah Zwart School berhasil memasukki dan keluar dari hutan kematian ini dengan selamat tanpa luka sedikitpun. Sungguh suatu keajaiban yang sangat luar biasa. Kita patut bersyukur dan bangga akan hal ini. Sesuai dengan janjiku, mulai hari ini Lili yang akan memegang hak otoriter hukuman di sekolah Zwart School. Dan untuk Tetua Menzy, mohon untuk lapang dada menerima hal ini."


"Terima kasih berkat dan rahmat Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia tidakkah kau merasa aneh."


"Apa maksudmu Tetua Menzy?!"


"Gadis ini jelas-jelas meridiannya rusak. Bagaimana ia bisa keluar dari hutan kematian ini?!"


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Tetua Menzy, semua orang yang hadir disini mulai membuat keributan. Mereka saling berbisik satu sama lain, mempertanyakan tentang kejelasan hal ini.


"Apa? Meridiannya rusak?!" tanya salah satu orang yang berada di barisan sisi kiri.


"Bagaimana ia bisa keluar jika meridiannya rusak?"


"Jangan-jangan dia mempelajari ilmu hitam?"


Melihat semua orang membicarakan tentang anaknya, ayah Lili pun mulai bertanya kepada Lili yang berdiri di sampingnya.


"Lili, apa benar yang dikatakan oleh Tetua Menzy?"


Mendengar ayahnya bertanya kepadanya, Lili tidak menjawabnya. Ia malah berbalik menatap ke arah Tetua Menzy sambil tersenyum dingin.


"Tetua Menzy, bagaimana kau bisa tahu... kalau meridianku rusak? Bahkan orang tuaku tidak mengetahui hal ini, bagaimana kau bisa tahu? Apa kau tahu siapa pelakunya? Atau jangan-jangan..."


"Kau! Yang Mulia, gadis ini... dia menuduhku!"


"Menuduhmu?! Konyol! Kapan aku menuduhmu?!"


"Jelas-jelas kau tadi mengatakan hal itu dan semua orang disini menjadi saksinya!"


"Begitu ya? Jadi kau sudah mengakuinya?!


"Apa?!!"


"Dasar orang tua bodoh! Bisa-bisanya dia terjebak dengan kata-katanya sendiri!! Sia-sia aku memeliharanya!" umpat Putri Cariz dalam hati.


"Tetua Menzy, bisakah kau menjelaskan hal ini?!" ancam Lili dengan kedua matanya yang berubah menjadi merah.