
Ruang Penjara Bawah Tanah
Di sebuah ruangan yang minim cahaya, terdengar suara cambukan yang sangat keras.
Plakk... Plakk... Plakk... (suara cambuk melayang di sekujur badan Pangeran Sirzechs)
"Akkhhh... Akkhhh!
Ia digantung di atas seutas tali dan menerima semua cambukan api yang melayang di sekujur tubuhnya. Satu orang bertugas mencambuk, dan satu orang bertugas mengawasinya. Terdengar suara derap langkah seseorang masuk ke dalam penjara ruang bawah tanah. Seratus cambukan telah menghantam tubuh kekarnya. Pangeran Sirzechs kemudian dilepaskan oleh kedua orang yang bertugas sebagai pengawas dan tukang eksekusi hukuman. Tubuhnya terjatuh diatas tanah. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka bekas cambuk dan kulitnya merah seperti terbakar. Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, ia perlahan-lahan membuka kedua matanya. Samar-samar ia melihat, ayah tirinya menjenguknya.
"Bagaimana hukumannya?!"
"Sudah selesai Yang Mulia."
"Bagus. Bawa dia ke dalam kamarnya, dan kurung dia. Jangan biarkan dia keluar tanpa perintah dariku!"
"Baik Yang Mulia."
Kedua orang itu berjalan mendekati Pangeran Sirzechs. Melihat ada dua orang berjalan menuju ke arahnya, Pangeran Sirzechs melambaikan tangannya. Memberi isyarat untuk berhenti mendekatinya. Kedua orang itu menghentikan langkah mereka. Dengan sisa tenaga yang ada, Pangeran Sirzechs berusaha berdiri sendiri. Melihat kegigihan anak tirinya, membuat raja merasa sedikit geram.
"Kau cukup kuat juga!"
"Terima kasih atas pujian yang ayahanda berikan kepadaku." sahut Pangeran Sirzechs sambil memberi hormat kepada ayahandanya.
"Sirzechs, kau tahu akibat dari melawanku?!"
"Ya."
"Tampaknya hukuman yang aku berikan, tidak memberimu efek jera!"
"Apapun hukuman yang kau berikan kepadaku sekalipun nyawaku yang menjadi taruhannya, aku tidak takut!"
"Humph, kau benar-benar pria sejati. Hanya demi seorang wanita seperti dia, kau berani melawanku!"
"Kau salah ayahanda. Aku melakukan ini demi reputasimu sendiri. Reputasi negeri kita, keluarga kita."
"Kau terlalu munafik!"
"Pengawal, bawa dia ke dalam kamarnya. Biar aku yang mengurungnya sendiri!"
"Apa maksudmu ayahanda?!"
"Kau tidak diizinkan untuk keluar sampai hari pernikahan adikmu tiba?!"
"Apa?!"
"Kau hanya akan di bebaskan disaat hari pernikahanmu telah tiba!"
"Cih, pernikahan?! Kau tidak akan pernah melihatnya, ayahanda."
"Apa maksudmu?! Apa kau ingin membatalkan pernikahanmu?!"
"Tentu saja!"
"Berani sekali kau! Dasar anak kurang ajar! Tidak tau malu!"
"Satu-satunya yang pantas untuk menjadi permaisuriku, hanyalah Lili seorang. Tak ada yang lain!"
"Brengsek! Kau ingin mengambil calon istri dari adikmu sendiri?!"
"Bukankah, kau juga merebut istri dari kakakmu sendiri, Yang Mulia!"
"Kau... sudahlah aku sudah lelah."
"Beristirahatlah ayahanda. Kau tidak perlu khawatir kepadaku. Sesuai dengan keinginanmu, aku tidak akan keluar sampai hari pernikahan adik tiba. Dan, kau tak perlu repot-repot menyuruh anak buahmu untuk mengurungku. Aku akan mengasingkan diri."
"Aku berharap kau bertindak sesuai dengan pria sejati. Kalian berdua, lepaskan dia. Biarkan dia pergi."
"Baik Yang Mulia."
Selesai mengucapkan perkataan itu, raja pergi meninggalkan Pangeran Sirzechs yang masih bersama kedua orang yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengeksekusi hukuman kepadanya, di ruang penjara bawah tanah. Melihat punggung ayahandanya sudah tidak terlihat, Pangeran Sirzechs menoleh ke belakang. Ditatapnya kedua orang itu dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kalian berdua dengar, raja memerintahkan kalian berdua untuk melepaskan aku!"
"Ampun Yang Mulia Pangeran. Kami hanya menjalankan tugas."
"Terima kasih Yang Mulia."
Pangeran Sirzechs membalasanya dengan anggukan kepala. Dengan tertatih-tatih ia berjalan keluar dari penjara bawah tanah. Sesampainya dia diatas, dia sudah disambut oleh adik tirinya. Melihat kondisi kakaknya yang sangat menyedihkan. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka bekas cambuk api, yang membuat kulitnya merah terbakar. Melihat adiknya menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, Pangeran Sirzechs berjalan melewatinya.
"Kakak, apa kau baik-baik saja?!"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Sebaiknya kau khawatirkan dirimu sendiri. Jika kau mengecewakan ayahanda, kau harus siap terima konsekuensi atas perbuatanmu sendiri."
"Aku mengerti. Lagipula, aku tidak selemah kau, kakak. Yang hanya demi seorang wanita, kau rela melepaskan semuanya." sindir Putra mahkota Feng kepada kakaknya.
Mendengar sindiran halus yang keluar dari mulut adik tirinya, Pangeran Sirzechs menghentikan langkahnya. Dengan senyum menyeringai di wajahnya, dengan dinginnya ia membalas sindiran halus sang adik.
"Jangan terlalu meninggikan dirimu. Mungkin sekarang kau merasa kuat tak terkalahkan. Tapi, ketika kau berhadapan dengan cinta... kau akan menjadi lemah tak berdaya."
"Humph, persetan dengan yang namanya cinta! Aku tak butuh itu!"
"Baguslah jika kau mempunyai pemikiran seperti itu. Bahkan pembunuh berdarah dingin sekalipun, tidak akan menyangka bahwa dirinya akan takluk dengan cinta."
"Humph!"
Pangeran Sirzechs meninggalkan adiknya sendirian disana. Dengan langkah kakinya yang tertatih-tatih, ia berusaha untuk berjalan menuju kamarnya. Di depan kamarnya, ia disambut oleh pengawal setianya, Shion. Melihat tuannya terluka sangat parah, Shion membantu memapahnya masuk ke dalam kamarnya. Ia membantu membaringkan Pangeran Sirzechs dia atas kasurnya. Shion langsung berjalan menuju pintu dan menutupnya. Tak lupa juga ia mengambil sekotak obat di tangannya. Perlahan-lahan ia membersihkan luka di sekujur tubuh Pangeran Sirzechs yang masih terbaring lemas di atas kasurnya.
"Yang Mulia, kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kesalahan apa yang kau perbuat, sehingga menyebabkan raja marah dan menghukummu seperti ini?"
"Hanya masalah sepele saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tapi Yang Mulia, kondisimu sudah separah ini. Apa perlu aku panggilkan dokter kerajaan?"
"Tidak perlu. Kau bantu aku mengobati lukaku. Sisanya, biar aku sendiri yang mengobati."
"Baik Yang Mulia."
"Shion."
"Ya Yang Mulia."
"Apa kau sudah dapat kabar tentang Lili? Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Yang Mulia tenang saja. Menurut mata-mata kita, dia dan keluarganya baik-baik saja. Mereka menjalani kehidupan mereka seperti biasanya. Yang Mulia tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya Shion, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu."
"Ada apa Yang Mulia?"
"Aku akan melakukan kultivasi tertutup selama tiga tahun."
"Apa?! Tapi Yang Mulia, kondisimu sekarang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan kultivasi tertutup bukan?!" cemas Shion.
"Karena itu, bantu aku mengobati diriku agar cepat pulih dan bisa melakukan kultivasi tertutup ini."
"Kenapa Yang Mulia memutuskan untuk berkultivasi secara tertutup? Ditambah dengan kondisimu yang seperti ini."
"Kau tidak perlu tahu alasanku, kenapa aku melakukan hal ini. Yang perlu kau tahu dan yang kau lakukan, rawat dan obati aku.""
"Maafkan aku Yang Mulia, aku mengerti."
"Satu lagi. Selama aku melakukan kultivasi tertutup ini, aku meminta kau untuk menjaga dan mengawasi Lili."
"Yang Mulia, kau begitu mengkhawatirkannya. Apa kau jatuh cinta kepadanya?"
"Apa aku terlihat seperti itu?!"
"Err..."
"Shion, sekalipun aku jatuh cinta dan mencintainya. Aku hanya bisa menjaga dan melindunginya. Melihat senyumannya, itu sudah cukup bagiku."
"Yang Mulia anda..."
"Ingat pesanku ya. Jangan sampai kau melupakannya. Dan, tolong jangan ceritakan kejadian ini kepadanya."
"Baik, aku mengerti Yang Mulia."