PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Rahasia Tersembunyi (7)


Di depan cermin, Lili menyisir rambutnya sambil melihat bayangan dirinya di dalam cermin. Ia melihat dirinya yang jauh lebih kurus dari sebelum dia menikah. Ia lalu meletakkan sisirnya di atas meja. Lalu ia mengangkat tangan kanannya, mencoba menggunakan kekuatan sihir miliknya. Setelah ia menikah, ia tidak pernah menggunakan kekuatan sihirnya di istana. Karena suasana hatinya sekarang buruk, ia mencoba menggunakan kekuatan sihirnya di dalam istana, hanya untuk menghibur dirinya sendiri. Namun, siapa sangka jika ternyata di dalam istana, ia tidak dapat menggunakan kekuatan sihirnya. Untuk ketiga kalinya, ia mencoba mengalirkan kekuatannya ke dalam tangannya, namun tetap saja gagal. Feng yang tanpa sengaja melihatnya, merasa sangat kasihan kepada Lili. Gadis polos yang tidak bersalah, yang tak pernah menyakiti orang lain, harus merasakan kejamnya kehidupan ini. Feng merasa bersalah kepadanya, karena telah menyakiti dirinya luar dan dalam. Sebagai seorang suaminya, ia bukan melindunginya, malah menyakitinya secara diam-diam tanpa ia ketahui. Melihat raut wajah sedih Lili, Feng berjalan mendekatinya. Ia berpura-pura menanyakan tentang keadaannya.


"Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?!"


Mendengar Feng bertanya kepadanya, Lili sontak kaget dan mengalihkan pandangannya. Ia berusaha menyembunyikan perihal kekuatannya yang tidak bisa ia gunakan di dalam istana. Ia tidak ingin hal ini diketahui oleh orang lain, bahkan termasuk suaminya sendiri.


"Tidak ada apa-apa. Aku mau istirahat dulu." kata Lili sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kasurnya. Ia berbaring, di atas kasurnya sambil menarik selimut tebal berbulu berwarna merah untuk menutupi sebagian tubuhnya. Tiba-tiba ia melihat Feng datang menghampirinya. Ia segera membalikkan badannya, memunggungi Feng yang sudah berbaring di sebelahnya. Lili berpura-pura tidur. Hatinya sangat kesal dengan tingkah laku Feng. Tiba-tiba suara Feng terdengar di telinganya.


"Lili, malam ini istirahatlah. Sesuai janjiku, aku akan mengajakmu untuk pergi mengelilingi istana. Selamat malam." ucap Feng Yu sambil mencium pipi kiri Lili.


Kemudian ia berbaring untuk tidur. Sebelum memejamkan kedua matanya, Feng melirik ke arah Lili yang masih memunggunginya. Feng menghela nafas dan berbalik memunggungi Lili. Keduanya saling memunggungi satu sama lain. Pelan-pelan Lili membuka kedua matanya.


"Dia sama sekali tidak meminta maaf. Dasar pria angkuh." batin Lili.


Kemudian ia kembali memejamkan kedua matanya. Setidaknya malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak, tanpa gangguan suaminya.


Pagi Hari,


Sesuai janjinya, Feng mengajak Lili berjalan-jalan mengelilingi istana. Selama satu jam mereka mengelilingi istana. Tiba-tiba Lili memberanikan diri untuk berbicara dengan Feng.


"Su... suamiku."


"Ada apa?"


"Aku ingin meminta izin kepadamu. Aku ingin... jalan-jalan keluar istana. Apakah kau mengizinkannya?!"


"Kenapa kau sangat ingin jalan-jalan keluar istana?!"


Mendengar Feng menanyakan alasannya keluar dari istana, Lili sudah mempersiapkan jawabannya.


"Aku bosan berada di istana terus."


"Kenapa? Bukankah kau sudah pernah keluar dari istana?"


"Itu keluar mengunjungi keluargaku. Bukan keluar jalan-jalan."


"Aku mengizinkanmu."


"Benarkah?!"


"Ya. Tapi aku yang akan menemanimu jalan-jalan."


"Terima kasih suamiku." ucap Lili sambil mencium pipi kiri Feng secara tiba-tiba.


Feng kaget mendapat serangan mendadak dari istrinya. Raut wajahnya berubah menjadi merah seketika.


"Kau tidak tanya, kenapa harus aku yang menemanimu jalan-jalan?!"


"Untuk apa? Bukankah kau suamiku. Jadi sudah sewajarnya bukan, jika seorang suami menemani istrinya pergi jalan-jalan."


Mendengar jawaban Lili, Feng tak berkutik. Dia tahu bahwa tugas seorang suami, bukan hanya sebagai kepala rumah tangga, tapi juga sebagai tempat yang nyaman bagi istrinya. Menemaninya, melindunginya, bertanggung jawab atas kebutuhan istrinya. Namun, dia juga sadar, bahwa ia tidak bisa menjadi tempat berlindung dan tempat yang nyaman bagi Lili. Sebagai seorang suami, bukannya melindunginya, tetapi malah menyakitinya. Perasaan bersalah inilah yang masih menghantui pikirannya.


"Kau mau jalan-jalan kapan?"


"Sekarang, apa boleh?"


"Ya."


"Kalau begitu, kau tunggu sebentar disini. Aku akan pergi ganti baju dulu."


"Untuk apa?! Kau pakai saja pakaian itu. Tidak perlu ganti baju lagi."


"Suamiku, aku tidak ingin tampil mencolok di luar istana. Ada banyak rakyat kita yang hidupnya serba kekurangan. Bagiku, itu sangat tidak pantas."


"Baiklah."


"Kau juga harus ganti baju."


"Hah??!! Kenapa aku juga?!"


"Tsk."


"Ayo." ucap Lili sambil menarik tangan Feng.


"Kau mau apa?!"


"Menggantimu dengan pakaian yang tidak terlihat mencolok."


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


"Baiklah kalau begitu."


Keduanya berjalan bersama menuju kamar.


Di Pasar


"Wahhh... lampionnya banyak sekali." teriak kagum Lili.


"Kau ini, terlalu kekanak-kanakan." ejek Feng.


"Humph. Daripada kau yang seperti katak dalam tempurung." ejek Lili.


"Apa?!"


"Oh ayolah suamiku. Jangan kaku seperti itu. Kau terlalu lama tinggal di istana. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bebas seperti ini."


"Apa kau tidak merasa bebas di istana?!"


"Tentu saja. Tinggal di istana bukanlah keinginanku. Aku lebih menyukai tinggal di tempat yang sepi, tenang."


"Kenapa kau tidak menolak saja, sewaktu ayahanda merencanakan pernikahan ini?!"


"Aku ini siapa? Apa pantas aku menolak perintah raja? Mungkin aku bisa menerima konsekuensinya. Tapi bagaimana dengan keluargaku? Maaf aku tidak bisa."


"Kau mengorbankan kebahagiaanmu, kebebasanmu sendiri hanya demi keluargamu?!"


"Tentu saja. Karena tempat terbaik untuk pulang, adalah keluarga."


"Kalau begitu, ayo kita pulang."


"Hah? Tidak. Aku bahkan belum jalan-jalan mengelilingi kota."


"Apa kau tidak lelah?!"


"Tidak."


"Huff, ayo pergi!" perintah Feng Yu sambil menarik tangan kanan Lili.


"Pergi kemana?!"


"Aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat indah."


"Dimana itu?!"


"Kau ikutti aku saja." ucap Feng sambil menarik tangan Lili.


Keduanya pergi ke pinggiran kota. Berjalan dalam waktu yang cukup lama. Tak lama kemudian, akhirnya keduanya sampai di danau yang terletak cukup jauh dari istana. Danau itu cukup unik dan sangat jernih airnya. Dikatakan danau itu sangat unik karena bentuk danau itu menyerupai hati. Di sisi pinggiran danau, terdapat banyak tanaman bunga beraneka ragam. Beberapa pepohonan yang rindang tumbuh subur di sisi danau itu. Feng duduk di atas batu besar di pinggir danau. Ia mengajak Lili untuk duduk diatas pangkuannya. Awalnya, Lili ragu-ragu untuk menolak keinginannya. Namun, Feng dengan gigih terus memaksanya.


"Lili, kemarilah. Apa yang kau takutkan?! Kau sendiri yang bilang, kalau kita adalah suami istri. Jadi, kenapa harus menjaga jarak?! Kemarilah!"


Lili melirik ke arah Feng yang masih menatap dirinya. Karena melihat Lili yang tak kunjung bergerak, Feng menarik tangan Lili dan memeluknya. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain.


"Apa kau takut, aku berbuat sesuatu kepadamu?!" bisik Feng di telinga Lili.


Degggg