
Ribuan pasang mata menatap ke arah Lili. Lili hanya meliriknya dengan wajah acuh tak acuh. Ia pun duduk di bangkunya yang berada paling belakang. Melihat Lili sedang mengacuhkan seolah menganggap dirinya tidak ada, gadis itu datang menghampirinya. Ia memukul meja Lili sangat keras. Hingga suara pukulannya membuat seisi kelas menoleh ke arah mereka berdua.
"Kau sedang mengetes kekuatan meja ini?"
"Brengsek!"
"Kau!"
"Hey gadis sialan, tempatmu bukan disini!"
"Memangnya siapa kau?!"
"Siapa aku? Hahahaha... kau bahkan tidak tahu siapa aku?! Konyol! Semua murid disini mengenalku dan tahu siapa aku!"
"Apa urusannya denganku?"
Di sisi lain terdengar suara bisik-bisik dari beberapa murid yang masih berada di dalam kelas. Mereka berbisik sambil menatap keduanya yang sedang beradu mulut.
"Lihat... lihat ada yang seru ini!"
"Wah bakalan ada pertarungan hebat ini?! Jadi penasaran siapa pemenangnya?"
"Husttt! Jangan bicara sembarangan. Tidakkah kau tahu siapa orang yang disinggungnya?!"
"Bukankah dia adalah seorang putri?"
"Maksudmu... dia adalah Putri Cariz?"
"Benar! Dan kabarnya, putri itu sudah bertunangan dengan calon putra mahkota."
"Mampuslah dia! Sudah berani menyinggung seorang putri yang sebentar lagi akan menjadi calon putri mahkota!"
"Aku harus berhati-hati bergaul dengannya. Jika tidak, nyawaku yang jadi taruhannya."
Mendengar suara bisikan dari segala arah, Lili hanya membatin dalam hatinya, "Putri? Apa dia tunangan putra mahkota?"
"Hei!!! Kenapa kau bengong??! Kau tuli ya!"
"Berisik!"
"Wahhh... lihat! Dia berani menggertaknya!"
"Kalau aku punya keberanian setinggi gunung sekalipun, tidak akan berani menyinggung orang seperti dia yang kelak akan menjadi putri mahkota."
"Mmm."
"Tapi menurutku, sebagai calon putri mahkota, tidak seharusnya dia berkata kasar kepada orang yang tidak mengganggunya."
"Memangnya siapa yang mengganggu siapa?"
"Apa kau tidak lihat. Siapa yang memprovokasi duluan?!"
"Hah?! Memangnya siapa?!"
Mendengar bisikan dari mulut-mulut para murid yang berada di dalam kelas, Putri Cariz semakin geram. Kedua tangannya mengepal erat.
"Sialan!" teriak Putri Cariz sambil memukul Lili dengan sihir di telapak tangan kanannya.
Dengan gerakan cepat, Lili mengangkat mejanya dan membalikkannya ke arah Putri Cariz untuk menahan serangannya. Meja yang ia lemparkan ke arah Putri Cariz, berhasil dilelehkan oleh sihir milik Putri Cariz. Meja itu meleleh akibat terkena sihir racun milik Putri Cariz. Ia melihat Lili yang telah melempar meja ke arahnya, sudah menghilang. Spontan, Putri Cariz langsung mencari di setiap sudut isi kelas.
"Kau mencariku?"
Tiba-tiba Putri Cariz merasa bahunya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Ia menoleh terkejut dan langsung mundur ke belakang. Melihat reaksinya, Lili hanya tersenyum dingin kepadanya. Kedua matanya berwarna merah seperti api yang membara. Putri Cariz yang sedari tadi bersikap sombong, melihat perubahan penampilan Lili yang terlihat sangat menakutkan membuat nyalinya ciut.
"Ada apa? Bukannya sedari tadi kau bersikap sombong?!"
Mendengar Putri Cariz meneriakki Lili dengan sebutan iblis. Semua murid yang berada di dalam kelas langsung diam seribu bahasa.
"Iblis? Siapa yang kau panggil iblis?"
"Kau!!!"
"Sepertinya kau sudah bosan hidup!"
"Apa maumu? Jangan mendekat!!!"
"Mauku? Tentu saja ingin mengulitimu. Lalu, semua darahmu akan aku kuras untuk ku jadikan ramuan awet muda. Lagipula kau masih perawan dan sangat cantik. Darahmu pasti sangat lezat." kata Lili sambil menyentuh pipi kanan Putri Cariz yang seputih salju itu.
Merasa merinding saat Lili menyentuh pipinya, Putri Cariz langsung mendorong tubuh Lili untuk menjauh darinya. Namun, saat Putri Cariz hendak mendorongnya, Lili langsung menghilang dari hadapannya. Putri Cariz semakin ketakutan. Ia berteriak seperti orang gila.
"Kemana?! Kemana perginya si j*lang itu! Kalian semua kenapa diam saja! Dimana dia bersembunyi? Cepat katakan!!!"
Melihat seluruh teman sekelasnya tidak bergerak dan bersuara, Putri Cariz semakin panik. Ia melihat ekspresi wajah pucat pasi teman-teman sekelasnya. Mereka semua seperti patung, tak bergerak sama sekali. Melihat semuanya menjadi aneh, Putri Cariz pun semakin menjadi-jadi. Ia berteriak seperti anak ayam kehilangan induknya.
"Apa yang terjadi pada mereka? Kau apakan mereka?!"
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Tadi mereka baik-baik saja. Kenapa mereka menjadi seperti ini?!"
"Kenapa kau tidak bertanya kepada mereka saja!"
"Kau bodoh ya?! Kau tidak lihat ekspresi wajah mereka semua?!"
Lili hanya melirik ke arah teman-teman sekelasnya. Dilihatnya, teman-teman sekelasnya diam tak bergerak, dengan wajah pucat pasi tanpa ekspresi. Tidak hanya itu, dia juga melihat ada aura jahat mengelilingi tubuh mereka semua. Melihat hal itu, Lili tersenyum puas. Ia merasa apa yang ia coba gali sekian lama, akhirnya membuahkan hasil.
"Tidak ada yang aneh dengan wajah mereka."
"Omong kosong! Kau... kau pasti pelakunya! Kau yang membuat mereka seperti ini! Kau adalah dalangnya!"
"Aku dalangnya, dan kau adalah ratu drama dalam tokoh serialku, yang akan aku matikan!"
"Kau!!!" teriak Putri Cariz sambil mengeluarkan teknik sihir pengontrol pikiran.
"Kau pikir ini akan melukaiku. Kau terlalu naif tuan putri!" kata Lili sambil menjentikkan jari kanannya.
"BOOMMMMM!!!"
"Sialan
Suara ledakan disertai angin kencang, menghantam tubuh Putri Cariz ke atas lantai. Ledakan dan angin kencang itu berasal dari LilI. Lili mengangkat tangannya, ledakan dan angin kencang itu langsung berhenti mematuhi perintahnya. Melihat hal itu, Putri Cariz semakin yakin bahwa Lili melakukan hal jahat yang dilarang di negerinya ini Tapi apa yang bisa dia buktikan untuk menyeret Lili ke dalam hukuman keluarga kerajaan.
"Kau berlatih hal jahat! Tunggu saja, aku akan melaporkan kejadian ini kepada pihak sekolah!"
"Ouh silahkan. Dengan senang hati, aku akan berterima kasih kepadamu. Kau tahu kenapa? Karena kau telah membantuku mempromosikan diriku. Tapi, sebelum itu, bagaimana kalau kita bermain dulu. Hahahaha!!!"
"Tiiiiidaaaaakkkk!!!!
Tiba-tiba terdengar suara pintu kelas dibuka paksa. Baik Lili dan Putri Cariz, keduanya menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya sosok seorang pria tampan berdiri di sana menatap ke arah mereka.
"Tsk. Padahal tinggal sedikit, aku bisa membereskan dia!! batin Lili.
Lili pun tersenyum masam. Tak butuh waktu lama bagi dia untuk membereskan Kekacauan yang dia buat. Hanya dengan menatap mereka semuanya, semua teman-teman sekelasnya kembali normal. Ada yang menguap, ada yang kebingungan, dan ada yang kembali berbisik. Melihat semua teman-temannya sudah kembali menjadi normal, Putri Cariz semakin yakin bahwa itu semua adalah ulah Lili yang belajar sihir jahat.
"Lihatlah semuanya kembali normal, Yang Mulia! Ini semua pasti ulah dia!" teriak Putri Cariz sambil menunjuk ke arah Lili.
"Yang Mulia, sebaliknya kau disiplinkan kekasihmu! Agar kelak dimasa depan, tidak akan memalukanmu."