
"Kau!"
Putra mahkota Feng langsung mendorong Putri Cariz menjauh darinya. Melihat putra mahkota Feng mendorongnya, putri Cariz berpura-pura terjatuh di atas lantai.
"Akhhh..."
Melihat Putri Cariz terjatuh karena dia, putra mahkota Feng lalu berjongkok menolongnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Iya. Tapi, kakiku sakit. Sepertinya terkilir." terang Putri Cariz sambil memijat kakinya yang terkilir.
Putra mahkota Feng akhirnya mengangkat dan menggendong Putri Cariz dengan kedua tangannya. Putri Cariz melilitkan kedua tangannya di leher putra mahkota Feng sambil menyandarkan kepalanya di dadanya.
"Aku akan mengantar Putri Cariz untuk mengobati kakinya. Kau tunggu aku di taman istana ini. Nanti aku akan menyusul."
Putra mahkota Feng membawa Putri Cariz meninggalkan Lili yang berdiri sendirian di tempat itu. Melihat pemandangan itu, Lili hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak lama kemudian ia berbalik dan melihat punggung putra mahkota Feng yang berjalan menjauh darinya. Dari belakang, ia mendengar suara kursi roda yang didorong berjalan mendekat ke arahnya. Ia pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Pangeran Sirzechs yang duduk diatas kursi roda yang didorong oleh Shion berhenti tepat di hadapannya.
"Yang Mulia."
"Kenapa kau masih berdiri di sini? Dimana Feng?" tanya Pangeran Sirzechs sambil melirik ke kanan dan kiri.
"Yang Mulia mengantarkan putri Cariz mengobati kakinya."
"Putri Cariz datang kemari? Tumben dia berkunjung di kediaman istana pangeran? Shion, apa Yang Mulia raja memerintahkan Putri Cariz datang kemari?"
"Maaf Yang Mulia. Pagi ini, aku tidak mendapat surat pemberitahuan dari istana raja terkait kedatangan Putri Cariz ke kediaman istana pangeran ini."
"Begitu rupanya."
"Yang Mulia, aku pamit dulu."
"Kau mau kemana?"
"Pulang."
"Tidak ingin pergi ke taman? Di sana ada banyak jenis bunga yang bisa kau lihat."
Tiba-tiba Lili teringat perkataan Yang Mulia Feng kepadanya. Ia diminta untuk menunggunya di taman istana. Tapi, entah Kenapa di hatinya masih ada sedikit keraguan dan tidak ingin pergi ke sana.
"Kenapa melamun? Kau tidak ingin pergi kesana denganku?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku hanya sedikit merasa lelah."
"Tenang saja. Kau bisa beristirahat di sana. Lagipula sebentar lagi kau akan menikah dengan adikku. Akan sangat sulit bagiku untuk menemuimu mulai sekarang."
"Shion, tolong sampaikan pada pelayan dapur untuk menyiapkan jamuan makan dan diantarkan ke taman istana pangeran."
"Baik Yang Mulia."
Shion pun berpamitan kepada tuannya dan kepada Lili. Ia pun melangkah dan meninggalkan mereka berdua di sana. Keduanya bertemu pandang satu sama lain.
"Lili, maukah kau mendorong kursi rodaku?"
"Iya."
Lili pun berjalan menghampiri pangeran Sirzechs dan memegang pegangan kursi roda itu yang terbuat dari kayu jati yang sangat bagus. Pelan-pelan ia mendorong kursi itu ke depan.
"Apa aku berat?"
Lili pun mendorong kursi roda itu sesuai arahan Pangeran Sirzechs. Ia menunjukkan arah kemana mereka berdua pergi. Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka berdua di sepanjang jalan.
"Lili, apa kau tahu. Hari ini aku senang sekali."
"Apa yang membuat Yang Mulia merasa senang hari ini?"
"Aku senang, kau datang menjengukku. Mendorong kursi rodaku. Berjalan berdua dan tertawa bersama. Ini semua seperti mimpi."
Mendengar perkataan Pangeran Sirzechs, Lili langsung menghentikan langkahnya. Ia merenung dengan apa yang terjadi hari ini. Merasa kursi rodanya tidak bergerak, pangeran Sirzechs menoleh ke belakang. Ia melihat Lili sedang melamun.
"Lili... Lili... Lili..." panggil pangeran Sirzechs sambil melambaikan tangan kanannya tepat di depan wajah Lili.
Lili yang tersadar dari lamunannya langsung menundukkan kepalanya. Selang beberapa saat kemudian, ia mengangkat wajahnya yang sedang tertunduk lesu.
"Kau melamun? Apa kau tidak enak badan?".
"Maaf Yang Mulia. Aku hanya sedikit lelah."
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku telah menyuruhmu mendorong kursi rodaku. Aku tidak tahu kalau kau sangat lelah."
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Bukankah Yang Mulia mengatakan aku bisa beristirahat di sana?"
"Jika kau tidak keberatan."
"Tentu saja tidak. Kau adalah calon kakak iparku."
Mendengar Lili memanggilnya dengan sebutan kakak ipar, wajah pangeran Sirzechs yang sebelumnya ceria, langsung berubah menjadi muram. Ia tertunduk lesu memikirkan bahwa gadis yang ia cintai, kelak akan memanggilnya dengan sebutan "kakak ipar." Memikirkannya saja membuat hatinya sangat kesal. Setelah beberapa menit, keduanya telah sampai di taman istana milik pangeran Sirzechs. Betapa kagetnya Lili melihat pemandangan di depannya. Tanpa sengaja, ia berhenti mendorong kursi roda pangeran Sirzechs. Pangeran Sirzechs yang mengetahui kursinya berhenti bergerak, ia langsung menengadah. Ia melihat pemandangan yang berada di depannya. Pemandangan dimana adik tirinya, putra mahkota Feng sedang duduk berdua di sana bersama putri Cariz, di dalam paviliun miliknya. Keduanya bersenda gurau dengan sangat mesra seperti layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Menyadari akan hal itu, Pangeran Sirzechs menoleh ke arah Lili. Dilihatnya gadis itu masih menatap ke arah mereka berdua. Pangeran Sirzechs lalu menghela nafas.
"Lili, apa kau cemburu melihat kedekatan calon suamimu dengan gadis yang lain?"
Mendengar pangeran Sirzechs bertanya apakah dia cemburu kepada Putri Cariz, karena dekat dengan calon suaminya. Membuat Lili tertawa terbahak-bahak.
"Yang Mulia, Untuk apa aku cemburu? Lagipula kami berdua masih calon pengantin. Belum resmi menjadi pasangan suami istri yang sah. Jadi untuk apa harus cemburu? Kau bisa melihatnya sendiri bukan, kalau gadis itu menyukainya."
"Humph. Mau gadis itu menyukainya atau tidak, tetap saja kalian berdua yang akan menikah dan menjadi pasangan suami istri yang sah."
"Pangeran Sirzechs, segalanya bisa terjadi bukan."
"Apa kau pernah berpikir untuk membatalkan pernikahanmu dengan adik tiriku?"
"Tidak, Yang Mulia. Aku tidak punya hak untuk membatalkan pernikahan ini, sekalipun aku tidak menyukainya. Bagaimana dengan Yang Mulia sendiri?"
"Kau akan mengerti suatu hari nanti. Bagaimana? Apa kau akan pergi ke sana?"
Mendengar perkataan Pangeran Sirzechs itu, Lili mengepalkan kedua tangannya. Dengan cepat ia memasang ekspresi wajah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tentu saja Yang Mulia. Bukannya kau yang memintaku untuk pergi ke tempat ini."
"Hahaha... kau benar. Aku pikir kau akan rapuh."
"Pria tidak hanya dia saja bukan."
Mendengar Lili mengucapkan hal itu, membuat rasa kesal yang ada di dalam hati pangeran Sirzechs, langsung hilang. Ia tersenyum kecil. Ia merasa masih ada harapan meski itu hanya satu persen. Lili kembali melanjutkan mendorong kursi roda pangeran Sirzechs.
"Feng!"
Mendengar seseorang dari belakang memanggil namanya, Putra mahkota Feng dan Putri Cariz menoleh secara bersamaan. Keduanya kaget dan tidak menyangka bahwa Pangeran Sirzechs dan Lili datang menghampiri mereka. Putra mahkota Feng dan Putri Cariz langsung memberi salam dan hormat kepada mereka berdua. Pangeran Sirzechs hanya membalasnya dengan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia menatap kedua pasangan itu dan mengalihkan pandangannya ke arah adik tirinya, Feng.
"Feng, apa yang kau lakukan di sini dengan Putri Cariz?!"