PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Rahasia Tersembunyi


Lili berjalan menuju kamar mandi. Ia melihat air kolam yang dipenuhi dengan mawar merah. Melihat suasana di dalam kamar mandi, Lili menjadi sedikit khawatir. Karena semalam ia tak waspada, yang mengakibatkan dirinya berakhir di atas kasur. Ia mengamati seluruh isi dalam ruangan, untuk memastikan hanya ada dirinya sendiri. Ia memejamkan kedua matanya dan merapalkan mantra. Dengan kekuatan yang dia milikki, ia bisa melihat dengan cara menembus ke segala arah termasuk tembok sekalipun. Dalam penglihatannya, ia tidak melihat siapa-siapa. Perlahan ia membuka kedua matanya. Ia berjalan mendekat ke arah kolam dan mulai turun ke dalam kolam. Air kolam kali ini sangat jernih dan segar daripada semalam. Bau air kolam sangat harum karena tercampur dengan aroma bunga mawar. Lili pun berendam sambil menggosok tangannya. Setelah selesai mandi, ia segera naik ke atas dan berjalan menuju kamar. Ia melihat di atas kasurnya ada sebuah gaun berwarna putih kesukaannya. Ia pun terheran-heran melihat melihat kasurnya sudah rapi dan berganti warna. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun yang ada di dalam kamarnya. Ia segera melepas handuknya dan mulai memakai gaun yang sudah disiapkan. Gaun itu berwarna putih dengan model potongan wiru berbentuk daun yang memperlihatkan paha mulusnya. Segera ia berjalan menuju meja rias dan mulai menyisir rambutnya. Ia melihat dirinya di dalam cermin yang penuh dengan tanda cinta di sekitar lehernya. Lili pun meletakkan sisirnya di atas meja rias. Ia pun meraba-raba lehernya yang sedikit merasa sakit akibat pergulatan semalaman sampai pagi.


"Dia... benar-benar brutal!" gumam Lili


"Siapa yang brutal?!"


Lili pun kaget setelah mendengar suara yang sangat familiar. Ia melihat ke dalam cermin yang memantulkan bayangan putra mahkota Feng, suaminya. Ia pun menoleh kebelakang, dan dilihatnya putra mahkota Feng menatapnya tajam.


"Kenapa? Kaget ya?!"


"Sedikit."


Putra mahkota Feng lalu mengambil sisir berwarna hitam di atas meja rias.


"Menghadaplah ke cermin, aku bantu kau menyisir rambutmu." perintah putra mahkota Feng.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." kata Lili sambil mengambil sisir yang masih dipegang oleh suaminya.


Bukannya memberi, putra mahkota Feng malah mengangkat tangan kanannya ke atas. Ia enggan memberikan sisirnya kepada Lili. Lili yang melihat tingkahnya menjadi sangat kesal.


"Bukankah sudah ku bilang. Biar aku sendiri!"


"Tidak mau."


"Ya sudah. Kau sisir saja rambutku. Tapi tolong, pelan-pelan ya."


"Humph, aku akan pelan-pelan. Kau tenang saja."


Lili dengan wajah cemberutnya langsung menghadap ke arah cermin. Ia melihat pria yang sangat dihormati oleh rakyat, pria yang sangat acuh tak acuh kepadanya, sekarang sedang menyisir rambutnya. Lili melirik ke arah cermin, ia melihat putra mahkota Feng sangat cekatan menyisir rambutnya. Merasa Lili memperhatikannya di dalam cermin, putra mahkota Feng tersenyum kepadanya. Melihat dirinya ketahuan karena melirik putra mahkota Feng (suaminya), Lili langsung menunduk.


"Sudah selesai."


Lili mendengar putra mahkota Feng mengatakan bahwa ia telah selesai. Ia melihat ke dalam cermin. Rambutnya telah rapi disisir.


"Maaf aku tidak pandai mengikat rambut."


"Tidak apa-apa. Terima kasih." kata Lili sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sisir yang masih dipegang oleh putra mahkota Feng, suaminya.


Saat ia membalikkan badannya, tiba-tiba dari belakang putra mahkota Feng memeluknya.


"Kau."


"Apa aku tidak boleh memelukmu?"


"Bukan begitu, tapi..."


"Tapi apa?"


"Yang Mulia, aku ingin mengunjungi rumah orang tuaku. Apa kau mengizinkannya?"


"Kapan?"


"Sekarang."


"Aku antar."


"Tidak perlu. Kau pasti sibuk." ucap Lili sambil melepaskan pelukan suaminya dan berbalik menatapnya.


"Aku tidak sibuk. Atau, kau memang malu mempunyai suami sepertiku?"


"Kalau begitu bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu sekarang. Tapi sebelumnya, kau harus sarapan bersama kami. Aku tunggu kau di ruang makan."


Setelah selesai mengatakan hal itu, putra mahkota Feng lalu pergi meninggalkan Lili sendirian di dalam kamar.


"Sarapan bersama? Itu artinya, aku akan satu meja dengan Sirzechs?" gumam Lili.


Lili memandang dirinya di dalam cermin.


Di Ruang Makan


Lili masuk ke dalam ruang makan, yang pintunya telah dibuka oleh dua pengawal yang menjaga disana. Ia melihat ada tiga orang yang sudah duduk di tempat duduknya masing-masing. Meja itu berbentuk persegi panjang. Raja duduk di tengah sedangkan permaisuri ada di sebelah kanannya. Di sebelah kiri Raja ada putra mahkota Feng, suaminya. Melihat Lili yang masih berdiri di sana, putra mahkota Feng beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Lili dan menariknya. Ia menarik kursi yang akan di dudukki Lili yang berada tepat di sampingnya.


"Duduklah!" perintah putra mahkota Feng.


Lili segera duduk mendengar perintah suaminya, diikuti oleh putra mahkota Feng yang juga duduk di sebelahnya. Melihat putra dan menantunya sudah duduk, raja mulai memperhatikan keduanya.


"Apa yang kalian berdua tunggu? Makanlah!"


Lili melihat meja makan yang penuh dengan bermacam-macam makanan enak dan mewah, membuatnya bingung mau mengambil yang mana terlebih dahulu. Putra mahkota Feng yang terlebih dahulu mengambil makanan dan meletakkannya di dalam piringnya, melirik ke arah Lili. Ia melihat piring Lili yang masih kosong.


"Apa yang kau tunggu? Kenapa piringmu kosong?"


"Maaf. Aku bingung mau mengambil yang mana."


Mendengar jawaban Lili, putra mahkota Feng segera mengambilkan sedikit nasi dan lauk cumi asam manis, ditambah dengan lobster bakar, lalu tumis aneka sayuran. Setelah dirasa cukup, ia menyodorkan piring yang ia pegang kepada Lili. Tak lupa juga, Feng mengambil sepotong kue coklat dan diletakkan di atas piring kecil. Kemudian ia letakkan di sebelah piring Lili. Melihat piringnya terisi penuh makanan ditambah dengan sepotong kue coklat, membuat perut Lili terasa kenyang hanya dengan melihatnya saja.


"Kenapa masih diam saja? Kau tidak suka?" tanya putra mahkota Feng dengan wajah cemberut.


"Tidak. Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu."


"Feng, kau tidak boleh sekasar itu kepada istrimu. Terlebih kalian berdua baru saja menikah." ucap permaisuri.


"Ibunda, aku tidak kasar. Bukan begitu Lili?"


Mendengar suaminya mengatakan hal itu, kedua tangan Lili yang sedang memotong cumi, langsung terhenti.


"Tidak kasar? Benar kau tidak kasar. Tapi brutal!" batin Lili.


"Apa benar yang dikatakan suamimu itu?" tanya permaisuri.


"Yang Mulia ratu tidak perlu khawatir. Dia... maksudku... suamiku, dia orang yang baik. Tidak kasar. Memang nada bicaranya saja yang seperti itu."


"Sudah ku katakan tapi ibunda masih tidak mempercayainya."


"Oh... syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Oh ya Lili, mulai sekarang kau jangan memanggilku dengan Yang Mulia Ratu. Panggil aku Ibu suri."


"Baik Ibu suri."


Putra mahkota Feng melirik ke arah kursi yang kosong di sebelah Ibu suri.


"Ibunda, apa kakak belum keluar dari kultivasi tertutupnya."


Ibu suri kaget mendengar pertanyaan dari anaknya. Saat ia hendak berbicara, tiba-tiba pembicaraannya dipotong oleh suaminya.


"Kau bicara tentang kakakmu? Dia sedang dalam pengasingan."


Mendengar hal itu, Lili sangat kaget dan tanpa sadar menjatuhkan garpunya di atas lantai. Putra mahkota Feng yang berada duduk disebelahnya, mendengar Lili menjatuhkan garpu yang ia pegang tanpa sengaja. Ia hanya melirik ke arah Lili yang masih melamun.