PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 1


Betapa terkejutnya Krisan mendengar perkataan Lili. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sudah 6 bulan lamanya, ia menghilang dari ujian seleksi. Bahkan raja memerintahkan semua pengawal istana untuk mencarinya ke seluruh pelosok negeri, tak terkecuali dia. Namun, siapa sangka jika menghilangnya Lili akan berakibat seperti ini. Ia dilupakan oleh sahabatnya sendiri. Hatinya sangat kecewa.


"Lili, apa kau benar-benar tidak mengingatku?!"


"Memangnya siapa kau?! Seberapa pentingnya kau bagiku? Dan kenapa pula aku harus mengingatmu?!"


"Ini..."


Pikiran dan hati Krisan sangat kacau. Ia bingung dan tak tahu harus berkata apa lagi. Lili melihat ekspresi di wajah Krisan. Wajah polos, lugu, lucu, sedih, panik semua ada dalam dirinya sekarang. Ingin rasanya hatinya tertawa, namun ia takut menambah dosanya. Tiba-tiba, Krisan merasa seseorang menepuk bahu kanannya. Ia pun menoleh dan melihat Lili tersenyum kepadanya.


"Hanya becanda. Jangan terlalu serius."


"Eh?!"


"Bagaimana kabarmu, Krisan?"


"Lili, Lili... kau... kau tidak hilang ingatan?!" tanya Krisna sambil menggenggam kedua tangan Lili dengan erat.


"Tentu saja tidak. Kau kan sahabatku?!"


Saat Lili mengucapkan kata "sahabatku", Lili menjadi teringat akan kenangan di masa lalu. Bahwa selama ini, ia tidak pernah mempunyai sahabat yang selalu ada kemanapun ia pergi dan selalu menemaninya di saat suka maupun duka. Ia selalu ditemani oleh beberapa pengawal kepercayaannya dan beberapa binatang buas peliharaannya. Namun, ia tak pernah punya tempat untuk bersandar dan berbagi. Keluarganya dihancurkan. Harga dirinya diinjak-injak. Dan yang lebih menyakitkan dan tak pernah bisa ia lupakan, ia melepaskan kehormatannya disaat ia mulai menaruh kepercayaan kepada orang yang ia cintai. Tapi, yang ia dapatkan sebaliknya. Sebuah pengkhianatan sebagai balasannya. Keluarganya sudah dibinasakan tanpa sepengetahuan dirinya. Terikat oleh sebuah pernikahan yang telah diatur oleh raja terdahulu yang membawanya menuju kehancuran. Hal ini lah yang membuat Lili menutup pintu hatinya. Menutup dirinya dari dunia. Bertahun-tahun lamanya, ia berteman sepi. Kesepian yang abadi, baginya bukan sesuatu yang harus ia takutti. Namun, apalah daya. Sekuat apapun seorang wanita, ia juga membutuhkan sandaran dihidupnya. Seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, berbagi suka dan duka dengannya tanpa menyudutkan dirinya. Apa hal sederhana itu ada?


"Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku."


"Dan maaf , sudah menyusahkamu."


"Tidak apa-apa. Oh ya, bagaimana dengan tokenmu? Kau dapat berapa?!"


"Token?!"


"Iya token. Jangan bilang kau becanda lagi."


"Token? Token? Apa seperti ini?!" kata Lili sambil merogoh saku bajunya.


Ia mengambil sebuah kantong kain berwarna ungu dari balik sakunya dan membukanya. Saat Lili membuka kantong kain itu, keluarlah seberkas cahaya di dalamnya dan ada banyak token melayang di udara. Krisan pun takjub bukan main. Sebelum ia berpisah dengan Lili, Lili berhasil mendapatkan satu token. Namun, sudah enam bulan sejak menghilangnya dia, ia malah berhasil mendapatkan semua token dalam ujian tersebut. Jika dibandingkan dengan Krisan yang hanya berhasil mendapatkan tiga token dalam ujiannya, sangat berbeda jauh dengan Lili yang mendapatkan dua puluh token dalam ujian tersebut. Ini adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Baru kali ini dalam sejarah, ada seorang murid yang mampu memecahkan rekor ujian dalam mengumpulkan token tahun ini. Rekor ini pernah dicapai oleh ratu iblis mantan alumni sekolah ini. Dan sekarang, rekor itu jatuh kepada seorang gadis yang hanya beberapa bulan saja belajar sihir di sekolah itu.


"Wahhh, Lili... kau... bagaimana kau bisa mendapatkan itu semua?!"


"Hanya sebuah keberuntungan saja." jawab Lili sambil menutup kantong kainnya itu. Secara ajaib, token itu langsung masuk ke dalam kantong kain itu dengan sendirinya.


"Keberuntungan? Itu tidak mungkin. Lili, sebenarnya selama enam bulan ini, kau pergi kemana?!"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku hanya ingin tahu saja, apa yang terjadi padamu selama kau menghilang."


"Oh."


"Lili? Semua orang pergi mencarimu. Bahkan raja memerintahkan semua pengawalnya untuk mencarimu ke seluruh pelosok negeri. Tapi tak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukanmu?!"


"Aku tidak menyuruh orang lain untuk mencariku. Kenapa mereka mencariku? Apa kau juga sama seperti mereka?!"


"Ya. Aku juga mencarimu."


"Bagaimana dengan teman-teman yang lain. Apa mereka juga ikut mencariku?!"


"..."


"Kenapa diam saja Krisan? Ahahaha... kau tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu. Tak ada satupun dari mereka yang pergi mencariku bukan? Lalu, apa semua guru juga ikut mencariku?!"


"Ya. Mereka semua juga ikut mencarimu. Karena mereka juga bertanggung jawab atas ujian ini. Jadi mereka semua pergi mencarimu selama enam bulan."


"Oh."


"Lili, jika kau tidak mau menceritakan hal ini... tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Aku sangat senang kau kembali dengan selamat."


"Terima kasih. Oh ya, bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan di festival lentera nanti malam. Itung-itung sebagai perayaan atas kembalinya aku kesini, bagaimana?!"


"Ini... Lili, maaf aku tidak bisa."


"Oh ayolah, jangan menolaknya."


"Aku tidak suka keramaian."


"Bohong."


"Sungguh."


"Krisan oh Krisan, kau masih muda dan kau hanya menyukai kesendirian. Itu aneh menurutku."


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak suka keramaian. Bukan menyukai kesendirian."


"Tentu saja beda."


"Terserah kau saja. Malam ini aku akan pergi ke kamarmu."


"Untuk apa?!"


"Untuk apa? Tentu saja pergi menjemputmu untuk pergi jalan-jalan ke acara festival lentera."


"Sudah kubilang aku tidak mau!"


"Kau yakin, kau tidak mau pergi?!"


"Iya!"


"Apa kau takut digoda oleh pria?!"


"Aku tidak takut. Mana ada hal semacam itu?!"


"Baiklah karena kau tidak mau. Aku tidak akan memaksamu dan aku tidak akan menjemputmu. Kau bisa menemuiku jika kau mau ikut. Kalau begitu, aku pergi dulu."


Melihat Lili pergi meninggalkannya, ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Krisan lalu memanggil nama Lili.


"Lili!"


"Ada apa lagi?"


"Baiklah aku ikut."


"Kemana? Bukannya kau tadi bilang tidak ingin ikut? Kenapa sekarang kau ingin ikut?!"


"Kau bilang, hanya untuk merayakan kembalinya dirimu."


"Iya benar."


"Jadi aku sebagai sahabatmu juga ingin merayakannya denganmu. Itu pun kalau kau mau?!"


"Tentu saja aku mau. Namun, jika kau tidak menyukai keramaian... kau boleh tidak ikut. Aku bisa jalan-jalan sendiri."


"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu."


"Apa kau yakin?!"


"Sebenarnya bukan karena aku tidak menyukai keramaian."


"Lalu?!"


"Aku takut akan merepotkan orang lain."


"Hahaha, mana ada hal semacam itu Krisan. Kita pergi kesana hanya untuk bersenang-senang. Kau tidak perlu memikirkan hal yang lain."


"Baiklah kalau begitu. Tapi..."


"Tapi kenapa?!"


"Aku, Lili... bolehkah aku menginap di kamarmu."


"Tentu saja boleh. Tapi, kenapa kau tiba-tiba ingin. menginap ke tempatku."


"Tidak apa-apa."


"Apa kau takut kehilangan aku?"


"Ya."


"Kenapa?"


"Karena kau satu-satunya temanku dan juga keluargaku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi "


"Aku mengerti. Sekarang ayo kita kembali ke asrama. Lagipula, kepulanganku tidak disambut dengan baik disini. Memang benar, yang kuat akan selalu dipandang kuat. Dan yang lemah akan menjadi santapan bagi mereka yang kuat."


"Sabar Lili. Setidaknya, kau masih punya aku yang akan selalu menyambutmu."


"Ya. Dan aku bersyukur akan hal itu. Ayo kembali."


"Mmm." sahut Krisan sambil mengangguk.


Keduanya pergi meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba dari arah belakang, ada sebuah gelombang aura hitam yang melintas dalam sekejap lalu menghilang.