PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Jujur Saja


Brakk!!!


Suara meja dipukul sangat keras oleh Raja Iblis Feng.


"Beraninya kau datang mengunjungi kakakku tanpa sepengetahuan aku?!"


"Memangnya ada yang salah?!"


"Jelas ada!!! Kau tidak bisa menghormati aku sebagai suamimu!!"


"Kau bilang, aku tidak bisa menghormatimu sebagai suamiku?! Apa pernah kau menghormati aku sebagai istrimu?!"


"Jangan terlalu meninggikan dirimu! Kau itu hanya selir! Tidak lebih!"


"Selir tetaplah istri! Selir juga bisa naik menjadi Ratu!"


Plakkk!!!!


Suara tamparan keras yang dilayangkan Raja Iblis Feng kepada selirnya. Lima jari itu meninggalkan bekas merah di pipi Putri Cariz yang putih itu. Sambil menahan sakit di pipinya, Putri Cariz menatap suaminya sambil memegang pipi kirinya yang terkena tamparan keras dari sang suami.


"Kau... kau menamparku?!"


Raja Iblis Feng mengangkat tangan kanannya dan menatapnya untuk sesaat, lalu menariknya kembali. Ia berbalik menatap Putri Cariz.


"Kenapa? Kau merasa keberatan, aku menamparmu?!"


Plakkk!!!!


Putri Cariz berbalik menampar Raja Iblis Feng, suaminya. Melihat dirinya ditampar oleh selirnya, Raja Iblis Feng langsung mencengkeram tangan kanan yang digunakan untuk menamparnya.


"Aaaahhh!" teriak Putri Cariz kesakitan karena pergelangan tangannya di cengkram oleh suaminya dengan keras.


"Berani sekali kau menamparku! Kau masih tidak ingat posisimu disini?!"


"A... aku... minta maaf, suamiku! Aku... aku terlalu impulsif. Akhhh!"


Dengan emosi, Raja Iblis Feng menghempaskan Putri Cariz hingga ia tersungkur di atas lantai.


"Sebaiknya kau ingat posisimu disini! Jangan terlalu meninggikan dirimu! Memangnya kau punya kualifikasi apa, bisa menggantikan posisi permaisuriku?!"


"Kualifikasi? Yang Mulia, permaisuri sudah lama menghilang dan masih belum bisa ditemukan sampai sekarang. Kenapa kau masih tidak mengikhlaskan kepergiannya?! Dan kenapa kau masih terus mencarinya sampai sekarang?! Bahkan kau tidak bisa melepaskan obsesimu terhadapnya?!"


"Diam!!!"


"Memang benar kan apa yang aku katakan, bukan?! Kau masih terobsesi dengan dia!"


"Jaga bicaramu!"


"Kau menyuruhku untuk diam! Konyol! Sebagai istrimu, kau menganggap aku sebagai apa?!"


"Selir. Tidak lebih!"


"Apa?!"


"Aku tidak mau berdebat denganmu! Jika aku mendengar hal ini lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu!"


"Kau ingin membunuhku?! Silahkan! Kenapa kau masih diam saja?!"


"Kau pikir aku akan mengotori tanganku?! Sungguh picik sekali dirimu!"


"Apa?!"


Raja Iblis Feng berjalan mendekat ke arah Putri Cariz. Ia berjongkok dan membisikkan sesuatu di telinga Putri Cariz, selirnya.


"Humph, kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan dibelakangku?! Apa kau siap untuk mendengarnya?!"


Mendengar hal itu, jantung Putri Cariz berdegup kencang. Keringat mulai bercucuran membasahi dahinya.


"A... apa maksudmu?!"


"Humph, aku tanya... apa kau siap untuk mendengarnya?!"


"Soal apa?!"


"Kelakuanmu dibelakangku?!"


Bagai di sambar petir di siang bolong. Putri Cariz sungguh tak menyangka jika Raja Iblis mengetahui perbuatan yang ia lakukan di belakangnya. Tapi, ia berusaha untuk bersikap tenang.


"Yang Mulia, aku tidak mengerti apa yang kau maksud?!"


"Sederhana saja. Kau tidak perlu mengerti apa yang aku maksud. Kau cukup mengerti posisimu disini seperti apa. Jika kau melewati batas, jangan salahkan aku jika bersikap kasar kepadamu... juga kepada keluargamu!"


"Kau mengancamku!"


"Hanya memperingatkan saja!"


"..."


"Untuk sementara ini, jangan menampakkan dirimu dihadapanku. Sekarang kau boleh pergi!"


"Yang Mulia, kenapa kau begitu dingin kepadaku?! Bahkan di malam pengantin, kau sama sekali tidak mempedulikan aku!"


"Pergi!"


"Yang Mulia, aku belum selesai bicara!"


"Darkie!!!"


Tiba-tiba muncullah Darkie di tengah-tengah pembicaraan mereka berdua. Darkie langsung membungkuk dan memberi hormat kepada Raja Iblis Feng.


"Yang Mulia, hamba disini!"


Betapa kagetnya Darkie mendengar perintah dari tuannya. Ia harus menyingkirkan selirnya untuk keluar dari kamar tuannya. Sungguh sebuah pekerjaan yang berat. Ia lebih memilih memusnahkan monster, menangkap orang jahat, daripada harus mengusir selir kesayangan raja.


"Kenapa masih diam! Apa kau tidak mendengar perintahku?!"


"Baik Yang Mulia." jawab Darkie sambil membalikkan badannya dan berjalan mendekati Putri Cariz yang masih duduk di atas lantai.


"Yang Mulia, mari hamba antar anda kembali ke kamar anda!"


"Tidak perlu! Aku bisa kembali sendiri!" bentak Putri Cariz sambil beranjak dari tempat duduknya.


Putri Cariz mengibaskan gaunnya yang terkena debu di lantai dengan menggunakan kedua tangannya. Ia melirik ke arah suaminya yang membelakanginya. Dengan wajah kesal, Putri Cariz pergi meninggalkan kamar itu tanpa berpamitan.


"Huh! Dasar pria bodoh!" umpat Putri Cariz sambil berjalan meninggalkan kamar itu.


Darkie yang secara tidak sengaja mendengar umpatan Putri Cariz, hanya bisa menahan tawanya. Ia melirik ke arah tuannya dan segera buka suara.


"Yang Mulia, selir Putri Cariz sudah pergi dan beliau tidak mau hamba antar."


"Biarkan saja! Tak usah pedulikan dia!"


"Eh?!"


"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?!"


"Mohon ampun Yang Mulia, hamba sudah mencarinya dan tidak berhasil menemukannya."


"Benarkah?!"


"Ya, Yang Mulia."


"Apa kau sudah menyisir semua tempat di negeri ini?!"


"Ya, Yang Mulia. Tak ada satupun petunjuk yang mengarah tentang keberadaan Yang Mulia permaisuri. Semuanya nihil. Bahkan jejak Lili pun ikut menghilang."


"Lili?!"


"Ya, Yang Mulia. Gadis yang anda bawa pulang ke istana yang dikabarkan menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan."


"Kebetulan sekali, Lili menghilang dan ahh... semoga ini hanya mimpi!"


"..."


"Lalu, tentang selir."


"Selir?"


"Apa kau tahu, apa yang akhir-akhir ini selir lakukan di belakangku?!"


"Menurut laporan yang hamba terima, selir bertemu dengan kakak tiri Yang Mulia di istananya. hari ini."


"Apa kau tahu, apa yang membuatnya datang menemui kakakku diistananya?!"


"Beliau ingin menanyakan perihal tentang... Ratu Iblis."


"Humph, untuk apa ia bertanya hal itu kepada kakakku secara sembunyi-sembunyi, tanpa meminta izin kepadaku, suaminya sendiri!"


"Soal ini, hamba tidak mengerti Yang Mulia. Mungkin karena dulu kakak tiri Yang Mulia, lebih dulu akrab dengan permaisuri daripada Yang Mulia yang pernah menjadi suaminya."


"Oh, jadi begitu! Jadi, kau ingin mengatakan kalau aku... adalah orang ketiga yang merusak hubungan mereka!"


"Bukan seperti itu maksud hamba, Yang Mulia."


"Lalu apa?!"


"Hamba hanya mengatakan, kalau kakak tiri Yang Mulia, kemungkinan lebih dulu bertemu dan mengenal Permaisuri daripada Yang Mulia. Jadi, selir Cariz ingin bertanya soal permaisuri kepada kakak tiri anda, Yang Mulia. Itu hanya tebakanku saja."


"Begitu ya. Tapi jika dipikir-pikir, idemu itu tidak ada salahnya untuk dicoba?!"


"Hah?!"


"Kirim surat kepada kakakku. Dan katakan kepadanya, bahwa aku akan menemuinya besok pagi!"


"Baik Yang Mulia! Hamba undur diri dulu."


"Ya."


Keesokan harinya di Istana Pangeran Sirzechs


Di dalam kamar yang begitu elegan, berdirilah seorang pria yang menghadap ke luar jendela. Korden berwarna putih tertiup angin sepoi-sepoi. Cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya dan dengan malu-malu menyinarinya. Tiba-tiba datanglah seorang pengawal kepadanya.


"Yang Mulia, Raja Iblis sudah datang." kata salah satu pengawal datang untuk melapor kepadanya.


"Suruh dia masuk!"


"Baik, Yang Mulia!" jawab pengawal itu sambil berjalan meninggalkan kamar tuannya.


Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki seseorang berjalan mendekat memasukki kamarnya. Mendengar suara derap langkah kaki mendekat, Pangeran Sirzechs meliriknya. Ia mengenali suara langkah kaki itu.


"Salam, kakak. Kamarmu masih sama seperti dulu. Sangat rapi."


"Terima kasih atas pujiannya. Katakan, apa keinginanmu?!"


"Wah kakak benar-benar sangat peka. Aku semakin menyukaimu."


"Aku bukan belok."


"Hahaha! Kalau begitu aku langsung to the point saja. Kakak, menurutmu... bagaimana permaisuriku?!"