PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Dalang Sebenarnya


Tak lama kemudian, Lili telah sampai di depan hutan kematian. Karena kekuatan sihirnya melemah, mantra teleportasi yang ia gunakan hanya mampu membawanya berada di depan hutan kematian. Ia pun berjalan memasuki hutan kematian menuju istananya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba sebuah bilah pedang muncul di hadapannya menghentikan langkahnya. Bilah pedang itu tajam dan hampir menggores lehernya jika ia tidak berhati-hati. Lili pun menoleh ke arah lain. Dilihatnya seorang pria dengan jubah berwarna hitam dengan topeng wajah yang menutupi wajahnya, sedang mengacungkan pedang padanya.


"Oh... jadi kau pemilik pedang ini?!" tanya Lili dengan ekspresi mengejek di wajahnya.


"Ratu Iblis, kau harus mati!!!" teriak pria itu sambil mengayunkan pedangnya, namun berhasil di hindari oleh Lili.


Dengan cepat, Lili melompat dan terbang melayang di udara. Ia mengangkat tangan kanannya dan sebuah seruling berwarna hitam muncul di atas telapak tangannya. Senyum menyeringai terlukis di wajahnya. Dengan gerakan indah ia mengayunkan seruling yang ia pegang memutar di udara. Mengeluarkan aura hitam yang berputar membentuk pusaran angin dan menghantam pria bertopeng, berjubah hitam misterius itu. Tidak sempat untuk menghindar, pria itu terkena serangannya dan langsung mati di tempat dengan luka di sekujur tubuhnya. Melihat lawannya sudah terkapar di atas tanah dengan bersimbah darah, Lili segera mendarat di sebelahnya. Dilihatnya mayat pria misterius itu mati akibat terkena serangan darinya. Lili pun berjongkok dan membuka topeng wajah yang menutupi wajah pria itu. Setelah topeng ia buka, Lili terkejut dengan apa yang dia lihat. Ternyata pria bertopeng dengan jubah hitam itu adalah salah satu pengawal istana, saat dirinya masih menjadi istri dari putra mahkota.


Prok... Prok... Prok... (suara tepuk tangan dari arah lain.)


Mendengar ada suara tepuk tangan dari arah lain, Lili pun menoleh ke arah sumber suara itu. Ia pun berdiri dan melihat wajah yang sangat familiar baginya, pada saat dua ratus tahun yang lalu. Tubuhnya tinggi dengan kulit yang putih, mengenakan gaun berwarna merah yang memperlihatkan bagian dada dan belahan gaunnya memperlihatkan kedua paha mulusnya. Wajahnya sangat cantik dengan bibir berwarna merah seperti buah ceri. Dengan rambut hitam panjang yang terurai dengan sepatu high heels berwarna merah, berdiri tepat di hadapannya. Dan wanita bertubuh seksi ini tidak lain adalah Putri Cariz, selir Raja Feng.


"Salam Yang Mulia permaisuri."


"Humph, aku rasa kau salah orang?!"


"Mana mungkin aku salah mengenalmu, permaisuri raja. Oh tidak, Ratu Iblis." ejek Putri Cariz


"Terima kasih selir Raja." ejek Lili.


Mendengar Lili mengejeknya dengan memanggilnya Selir Raja, membuat hatinya terbakar. Ia pun melancarkan serangannya dengan menggunakan busur panah yang ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Dengan sangat cepat, Putri Cariz menyerangnya tanpa ada jeda. Ia menembakkan satu anak panah dan saat di tembakkan ke udara, tiba-tiba anak panah itu yang semula satu, berubah menjadi ribuan. Ribuan anak panah itu mengejar Lili seolah seperti petir yang terus-menerus menyambar ke arah Lili. Dengan gerakannya yang sangat cepat, Lili berhasil melewati hujan ribuan anak panah yang dilancarkan oleh Putri Cariz kepadanya. Lili pun terbang dan mendarat di atas pohon besar yang daunnya lebat. Ia menatap Putri Cariz yang berada di bawahnya.


"Tsk, kau pikir dengan kekuatan sihirku yang melemah, aku akan takut padamu. Jangan mimpi!" teriak Lili sambil meniup serulingnya.


Dari balik suara seruling yang ia mainkan, terdengar lantunan lagu nyanyian kematian. Putri Cariz pun gemetar ketakutan. Sekujur tubuhnya menggigil ketakutan. Lagu nyanyian kematian ini adalah ilmu sihir yang diciptakan Lili. Yang apabila seseorang mendengarkan lantunan lagu ini, seluruh inderanya akan menjadi kacau. Yang lebih parah, dia bisa menjadi gila karenanya. Bahkan mati mendadak karena lagu nyanyian kematian ini.


Putri Cariz pun menggunakan sihir di kedua tangannya, mencoba untuk menyerang Lili. Namun serangan itu berhasil ia hindari. Lili melompat dari atas pohon dan melayang di udara. Sekalipun Lili memainkan serulingnya dengan melayang di udara, ia mampu menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Putri Cariz kepadanya. Bagi Lili, akan sangat mudah melayang di udara untuk menghindari setiap serangan yang tertuju kepadanya.


"Sialan! Mau sampai kapan kau menghindarinya, dasar j*lang!!" teriak Putri Cariz.


Mendengar Putri Cariz mengumpatnya, Lili menghentikan permainan serulingnya dan mulai mengangkat serulingnya ke udara. Ada aura hitam yang sangat besar sedang menyelimuti seruling itu. Lili pun mengayunkan serulingnya dan mengarahkannya tepat ke arah putri Cariz yang berada di bawahnya. Aura hitam itu langsung bersatu membentuk sebuah topan besar dan menyerang putri Cariz. Putri Cariz yang tanpa persiapan, tidak bisa menghindar dari serangannya.


Booommmmm!!!!


Suara ledakan terdengar sangat keras memekikkan telinga yang mendengarnya. Lili melihat dari atas, memastikan apakah putri Cariz masih hidup atau tidak. Hembusan angin menyapu ledakan tadi dan memperlihatkan putri Cariz sedang duduk bersimpuh di atas tanah, sambil muntah darah.


"Uhuk... uhuk... uhuk...! Sialan! Kau memang pantas disebut Ratu Iblis!!! Sekalipun kekuatan sihirmu melemah, siapa sangka metode yang kau gunakan mampu melumpuhkan lawanmu!"


"Terima kasih atas pujianmu. Tapi, aku masih jauh jika dibandingkan denganmu!" sindir Lili.


"Apa maksudmu?!"


"Jika aku adalah Ratu Iblis, kau adalah wanita ular!"


"Brengsek! Dasar j*lang! Beraninya kau menyebutku wanita ular!!!"


"Kenapa tidak berani?!"


"Humph, kau menyebutku wanita ular, tapi kau telah membunuh raja, mertuamu sendiri!"


"Aku tidak membunuhnya, hanya bermain-main saja dengannya. Tapi siapa sangka, jika dia terlalu tua untuk aku ajak main!"


"Mulutmu manis sekali!"


"Tidak semanis dan selicik dirimu!"


"Benarkah?!"


"Ya. Sampai sekarang aku masih penasaran, siapa dalang dibalik kematian keluargaku ini!"


"Memangnya apa urusannya denganku!"


"Humph, aku mendengar bahwa ada seorang peramal yang datang menemui raja. Ia berkata bahwa akan ada penyihir aliran hitam yang akan merebut tahtanya dan menghancurkan kerajaannya. Tidak hanya itu, ia juga memberi saran kepada raja, untuk membunuh semua penyihir yang ketahuan mempelajari ilmu hitam. Dan naasnya, sang raja menurutinya, tanpa mencari tahu, asal usul dari mana peramal ini berasal? Mengapa ia sampai datang ke kerajaan ini dan menemui raja untuk menyampaikan hal ini?! Menurutmu, tidakkah ini sangat tidak masuk akal?!"


Mendengar Lili mengatakan hal itu, ekspresi di wajah putri Cariz berubah pucat pasi. Ia tidak menyangka bahwa Lili telah menyadari kejanggalan ini. Ia berusaha untuk tetap bersikap tenang menghadapinya, agar tidak ketahuan oleh Lili, bahwa dia adalah dalang di balik pembunuhan keluarganya dan kematian raja, ayah dari putra mahkota Feng yang sekarang menjadi seorang raja yang bergelar "The King Evil Darkness."


"Benarkah?! Kau yakin, kalau kau tidak terlibat dalam hal ini?!"


"Apa maksudmu?!"


Lili pun mulai memainkan serulingnya. Tiba-tiba dari arah lain terdengar suara seseorang yang berlari cepat dan melesat di udara. Putri Cariz pun menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari asal sumber suara tersebut. Tiba-tiba terbanglah seseorang yang menggunakan jubah berwarna hitam dengan topi jubah yang menutupinya, mendarat tepat di samping Lili. Lili pun berhenti meniup serulingnya dan mulai membuka topi jubah yang menutupi wajah orang yang berdiri di sebelahnya. Putri Cariz pun terkejut melihat pemandangan yang sangat familiar di hadapannya.


"Apa kau mengenalnya?!" tanya Lili dengan senyum dingin di wajahnya.


Orang yang berdiri di samping Lili, tidak lain adalah orang suruhan dari putri Cariz. Dia diperintahkan untuk menyamar menjadi seorang peramal dan menyuruhnya untuk datang ke istana menemui raja. Karena tidak ingin kejahatannya terungkap, ia berbohong kepada Lili bahwa ia tidak mengenal orang itu.


"Tidak! Aku tidak mengenalnya!"


"Kau yakin, kau tidak mengenalnya?!"


"Tentu saja tidak! Memangnya siapa dia?!"


"Bukankah kau yang memerintahkan dia untuk menyamar menjadi seorang peramal dan menyuruhnya untuk datang ke istana, menemui raja."


"Heh, jangan fitnah kau!"


"Kau dengar itu, majikanmu mengatakan kalau dia tidak mengenalmu! Bahkan dia bilang, aku yang memfitnahnya!"


Orang yang berdiri di samping Lili, mengepalkan kedua tangannya dan melompat maju, menyerang putri Cariz yang berada di hadapannya. Putri Cariz kaget dan langsung menangkis serangannya. Terjadilah pertarungan sengit keduanya. Tiba-tiba di tengah pertarungan, orang berjubah hitam itu meminta tolong kepada putri Cariz.


"Putri, tolong... tolong aku!"


Putri Cariz pun kaget dan spontan ia menusuk orang itu dan orang itu langsung menghilang seperti serpihan kaca yang hancur berkeping-keping. Putri Cariz pun kaget dibuatnya. Ia pun melirik ke arah Lili. Dilihatnya, Lili tersenyum dingin kepadanya.


"Dasar j*Lang! Trik kotor apa yang kau gunakan kepadaku?!"


"Tidak ada?!"


"Humph, kau pikir aku bodoh! Menggunakan trik kotor seperti ini kepadaku, kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan?!"


"Benarkah?! Karena kau sudah mengetahuinya, kau mau apa?!"


"Tentu saja, aku akan membunuhmu!"


"Membunuhku? Hahaha, jangan mimpi! Kau pikir dengan kau meminjam pisau seseorang untuk membunuhku, kau bisa menutupi semua kejahatanmu! Kau terlalu meninggikan dirimu!"


"Oh, jadi kau sudah mengetahuinya?! Kalau memang ya, akulah dalang di balik kematian keluargamu dan kematian raja, apa yang kau lakukan?! Itu tidak akan menghapus fakta bahwa pelaku pembunuh raja, adalah kau?!!!"


"Memang benar, fakta bahwa aku adalah pembunuh raja tidak bisa dipungkiri lagi. Tapi, kau harus membayar atas perbuatanmu!"


"Memangnya kau berani membunuh selir seorang raja?!"


"Kenapa tidak berani?! Hanya seorang selir yang bermimpi untuk menjadi permaisuri dengan menaikki ranjang seorang raja suatu hari nanti. Itu membuatku tertawa, hahaha!"


"Brengsek! Mati saja kau!!!"


Putri Cariz menyerang Lili dengan pedang di tangan kanannya. Dan sesekali ia melemparkan serangannya dengan menggunakan sihir di tangan kirinya. Lili pun tidak tinggal diam saja. Ia juga berbalik menyerangnya hanya dengan menggunakan seruling sebagai senjatanya untuk menangkis serangan pedang milik putri Cariz dan juga memblokir serangan sihir yang ada di tangan kirinya. Merasa kekuatannya sudah mencapai batas, Lili pun mulai memainkan serulingnya. Ia memainkan sebuah lagu yang bisa membuat seseorang berada dalam sebuah ilusi dan menjebaknya dengan menjadikan ketakutan lawannya sebagai senjata untuk membunuhnya. Lagu ini dinamakan "Pesona Kematian." Putri Cariz pun menjatuhkan senjatanya dan berteriak kesakitan sambil menutup kedua telinganya dengan menggunakan kedua tangannya.


Tiba-tiba Lili mendengar ada sesuatu yang melesat cepat dengan kekuatan yang sangat besar mendekat ke arahnya. Ia pun segera menghindarinya dan langsung mendarat di atas tanah. Dan benar saja itu adalah serangan kilat yang dilancarkan oleh mantan suaminya, Feng. Lili pun menghentikan permainan serulingnya. Putri Cariz yang melihat putra mahkota Feng datang menyelamatkannya, wajahnya berubah menjadi ceria. Ia langsung berlari menghampiri putra mahkota Feng, namun langkahnya terhenti mendengar Feng menyuruhnya untuk berhenti.


"Berhenti disana! Jangan mendekatiku!"


"Feng, apa yang kau katakan? Aku ini selirmu!"


"Sekarang tidak lagi!"


"Apa maksudmu?!"


"Aku tidak butuh seorang selir berhati iblis sepertimu!" hina Feng sambil melotot tajam ke arah putri Cariz.