PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Benci Dan Cinta 2)


"Sepakat! Tapi harus ada hitam diatas putih." kata Lili sambil mengangkat tangan kanannya ke udara. Tiba-tiba muncul sebuah gulungan kertas dan pena berbulu di udara mendarat di atas telapak tangannya.


Kemudian ia menyodorkan kertas dan pena kepada Tetua Menzy. Dengan ragu-ragu, Tetua Menzy langsung menandatangani kertas yang bertuliskan perjanjian pengalihan hak otoriter hukuman di sekolah. Melihat Tetua Menzy menandatangani surat perjanjian tersebut, senyum mengambang di wajah Lili. Harus diakui bahwa orang licik selamanya akan licik. Tentu saja Tetua Menzy tidak akan tinggal diam. Setelah ditandatangani oleh Tetua Menzy, surat perjanjian itu di simpan oleh Lili. Hanya dengan jentikkan jarinya, surat dan pena itu langsung menghilang.


"Jangan senang dulu kau!" teriak Putri Cariz dengan nada ketus.


"Hidup itu sekali. Kalau tidak dibuat senang, lalu bagaimana caranya menikmati hidup?"


"Menarik."


"Yang Mulia memang tahu bagaimana caranya menikmati hidup. Semoga harimu menyenangkan, Yang Mulia. Aku pamit undur diri dulu."


"Mau kemana kau?!"


"Tentu saja pulang ke rumah. Bukannya, kau yang menghukumku, Tetua Menzy?! Apa kau sudah pikun?" jawab Lili sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Kau!"


"Tetua Menzy!"


"Ah, maaf Yang Mulia... aku terlalu impulsif."


"Bocah tengik! Kau sekarang bisa tertawa, tapi sebentar lagi... kau akan menangis darah. Tunggu pembalasanku!!!" batin Tetua Menzy.


"Tetua Menzy, maaf sudah mengganggu waktumu."


"Tidak Yang Mulia. Justru, hamba yang minta maaf karena kesalahan murid kurang ajar hamba."


"Aku rasa dia tidak kurang ajar."


"Apa maksud Yang Mulia?"


"Dia anak yang baik. Selain itu, dia gadis yang sangat imut dan manis."


"Hah?!"


Mendengar Putra mahkota memuji Lili, Putri Cariz mulai kebakaran jenggot.


"Yang Mulia, manis darimananya?! Jika dibandingkan denganku, tentu aku yang paling sempurna di antara gadis-gadis di negeri ini."


"Yang Mulia, apa yang dikatakan Putri Cariz itu benar. Anak itu adalah gadis yang kurang ajar, tidak punya etika. Jika dibandingkan dengan Putri Cariz, ibarat bumi dan langit."


Putra mahkota mulai berjalan meninggalkan mereka. Merasa dirinya tidak diperhatikan oleh calon suaminya, Putri Cariz sangat geram. Terlebih, putra mahkota pergi meninggalkan dirinya tidak sepatah kata perpisahan. Hatinya semakin sakit dan benci kepada Lili. Kemudian ia memanggil Tetua Menzy dan membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Putri... apakah kau yakin, ini akan berhasil?"


"Tentu saja. Kau tidak ingin kehilangan jabatanmu, bukan? Memberikan hak otoriter hukuman, itu sama saja memberikan jabatan. Kau mau kerja kerasmu hilang begitu saja hanya karena seorang gadis kecil? Apa kata orang tentang ini?"


"Putri benar. Hari ini, hamba akan bergerak sesuai dengan rencana."


"Bagus."


"Lili, kesenangan akan segera dimulai!" batin Putri Cariz.


Di rumah Lili


Di sebuah ruang tamu yang tertata rapi, duduklah Lili dan adiknya di sofa lain yang tepat berhadapan dengan sofa panjang yang juga didudukki oleh kedua orang tuanya. Melihat kakaknya yang duduk tenang berhadapan dengan kedua orang tuanya, membuat Lexi cemas. Ia takut, kakaknya akan membuat ayahnya marah besar. Sesekali ia melirik ke arah kakaknya yang duduk di sebelahnya dan sesekali melirik ke arah ayah dan ibunya.


"Aku sudah mendengar berita ini. Apa benar, kau melawan Tetua Menzy, guru besar di Zwart School?"


"Ya Ayah. Salah beliau sendiri tidak bisa bersikap adil."


"Haruskah aku diam ayah dengan ketidakadilan ini? Semua teman-teman yang ada di sana, tak ada satupun yang mau menjadi saksi kejadian itu. Itu hanya akan membuat Putri Cariz semakin besar kepala. Karena ada seseorang yang sukarela menjadi tameng di depannya!"


"Tetap saja kau tidak boleh begitu!"


"Ayah, kau tidak percaya padaku?!"


"Bukan ayah tidak mempercayaimu. Ayah tidak ingin kau memiliki reputasi buruk di negeri ini."


"Aku tahu. Maafkan aku ayah."


"Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Tentu saja aku akan pergi."


"Kakak, kau akan pergi ke Hutan Kematian itu? Sebaiknya kau minta maaf saja kepada guru besar. Kau tidak boleh pergi kesana." rengek Lexi sambil memegang kedua paha Lili.


"Lexi, jangan khawatir. Kakak baik-baik saja."


"Tapi, kalau kakak pergi... siapa yang akan mengantar dan menjemput Lexi di sekolah?"


"Lexi, kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Ayah dan ibu yang akan secara bergantian mengantar dan menjemputmu." sahut Ibu.


"Tapi..."


"Sudah. Malam sudah larut, ayo pergi tidur."


"Baik ayah." jawab Lili dan Lexi secara bersamaan.


Lexi turun duluan dan berjalan diikuti Lili dari belakang.


"Lili!"


Lili berhenti mendengar ayahnya memanggil namanya.


"Ada apa ayah?"


"Kau baik-baik saja?"


"Ayah, aku baik-baik saja. Kau dan ibu tenang saja. Aku pasti akan kembali dengan selamat."


"Ya. Ayah dan ibu akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, agar kau kembali dengan selamat dan berkumpul dengan kita."


"Terima kasih ayah ibu."


Keduanya mengangguk pelan. Lili berjalan menuju kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Ia memegang dadanya dan berjalan terhuyung-huyung menuju tempat tidurnya. Ia menghempaskan tubuhnya dan berguling menahan rasa sakit ditubuhnya. Sedari tadi ia menahan rasa sakit di tubuhnya akibat meridiannya hancur. Ia tidak ingin kedua orang tuanya tahu keadaannya sekarang. Mengingat kejadian yang terjadi padanya saat perjalanan pulang, membuat hatinya terasa sakit dan ingin balas dendam.


3 Jam sebelumnya


Di sebuah jalanan pinggir ibukota yang biasanya sangat ramai, tiba-tiba menjadi sepi. Lili merasakan ada yang aneh dengan tempat ini. Seperti dipasang sebuah formasi yang tak terlihat. Lili menjentikkan jarinya dan keluarlah api dari ujung jari telunjuknya. Ia meletakkan api itu diatas tanah dan terdengar suara semburan api yang menyebar. Dan benar dugaan Lili, sebuah formasi rumit telah terpasang di sekitar tempat ia berdiri. Terdengar suara tepuk tangan seseorang dari belakang.


"Hebat... hebat... sangat hebat! Pantas saja kau sangat percaya diri untuk memasukki Hutan Kematian. Kemampuanmu tidak bisa diremehkan. Namun, kau salah memilih lawanmu!"


"Salam Tetua Menzy. Tetua Menzy, aku punya saran kepadamu. Sebaiknya kau jangan bersahabat dengan ular berbisa. Itu hanya akan membuatmu sial tujuh turunan."


"Lancang!" Teriak Tetua Menzy sambil menghunuskan pedangnya ke arah Lili.


Dengan cepat Lili menghindarinya. Namun, keberuntungan sedang tak berpihak kepadanya. Dari arah yang berlawanan, muncullah beberapa penyihir berjubah hitam menyerang Lili secara bersamaan. Dengan cepat, Lili memukul mereka secara bersamaan dengan jurus andalannya hujan panah sihir es beku. Dalam kondisi mendesak, Lili mengeluarkan jurus andalannya yang banyak menguras kekuatan sihirnya.


"Hebat! Jurus yang sangat hebat! Tapi, kau tidak akan bisa berbangga diri sekarang!!!"