
Mengingat kembali memori saat ia bertemu secara pribadi dengan raja, membuat Lili sedikit sedih. Ia pun menghela nafas.
"Sudahlah, waktunya untuk tidur." gumam Lili.
Ia pun berbaring di atas sofa sambil menyelimuti dirinya. Tidak lupa ia membuat pelindung disekitarnya, agar mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Suasana dikamar itu menjadi sunyi sepi. Mendengar tidak ada kegaduhan dikamarnya, putra mahkota Feng langsung bangun dari tempat tidurnya. Ia melihat ke arah Lili yang sedang tertidur dengan menggunakan gaun tipis dan dilindungi oleh pelindung disekitarnya. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri Lili. Ia melihat tubuh Lili yang kecil dengan kulitnya yang putih. Dua gundukan gunung yang putih, terlihat keluar menonjol di belahan gaun tidurnya. Ia tertidur dengan sangat pulas. Melihat kemolekan tubuh Lili, putra mahkota Feng hanya bisa menelan ludah. Ia meminta Lili untuk tidur pisah ranjang dengannya di malam pertamanya. Tapi siapa sangka jika pesonanya sangat menggoda mata pria yang memandang. Tapi harus diakui, Lili sangatlah pintar. Jika seorang wanita yang sudah menikah, diminta oleh suaminya pisah ranjang dimalam pertamanya. Mungkin dia akan marah-marah, dan pulang mengadu kepada kedua orang tuanya. Tapi berbeda dengan Lili. Ia sangat santai, bahkan membuat pelindung disekitarnya. Sungguh wanita yang sulit untuk disentuh dan ditebak hatinya.
Putra mahkota Feng merogoh sesuatu di dalam sakunya. Ia mengambil sebotol kecil obat didalam sakunya. Ia menatap ke arah botol obat itu. Ia teringat kepada pesan ayahhandanya untuk meracuni Lili dimalam pertamanya. Ia pun menghela nafasnya sambil melirik ke arah Lili yang masih tertidur. Tanpa sengaja, putra mahkota Feng melihat potongan gaun yang dikenakan Lili terbuka dan memperlihatkan kedua paha mulusnya. Ia segera membalikkan badannya dan segara berjalan menuju tempat tidurnya. Ia pun berbaring dan mulai memejamkan kedua matanya. Diluar istana, Pangeran Sirzechs berdiri diatas pohon. Ia memandang ke arah istana, kediaman adik tirinya. Ia teringat kejadian pagi tadi. Dimana ia bersembunyi diatas pohon dengan menggunakan jubah berwarna hitam dengan cadar hitam. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, pernikahan adik tirinya dengan gadis yang ia cintai. Sekarang, ia melakukan hal yang sama yang ia lakukan pagi tadi. Hanya saja, yang ia kenakan bukanlah jubah hitam seperti yang ia kenakan pagi tadi. Ia mengenakan jubah yang sering ia pakai untuk melakukan kultivasi. Dengan perasaan sedikit kecewa dihatinya, melihat ia tidak berhasil menikahi gadis yang ia cintai, membuat pangeran Sirzechs berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Ia segera pergi ke sebuah gua untuk melakukan kultivasi tertutup. Ia berharap kelak ia bisa bertemu dengan Lili suatu hari nanti. Meski hanya sebatas kakak adik ipar.
...****************...
Lili pun terbangun dari tidurnya karena ia merasakan hawa panas di dalam kamarnya. Ia pun bangun dan melirik ke arah tempat tidur putra mahkota Feng. Tempat tidurnya masih sangat rapi dan kosong.
"Kemana ia pergi? Apa dia sudah bangun ya? Ini kan masih malam? Ah sudahlah, apa urusannya denganku." batin Lili.
Karena merasa gerah, Lili pun beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pelindung yang ia buat tadi. Kemudian ia pun berjalan menuju kamar mandi. Saat membuka kamar mandi ia melihat sebuah kolam mandi yang sangat besar dipenuhi ribuan bunga mawar yang menutupi seisi kolam itu. Di sisi lain ia melihat ada jendela yang tirainya terbuat dari beberapa kain putih yang sangat panjang, berjejer-jejer yang menghiasi kolam itu. Lili pun berjalan dan kemudian berjongkok di tepi kolam. Ia mengambil sedikit air didalam kolam itu dengan tangan kanannya dan menciumnya. Airnya sangat dingin dan wangi bunga mawar. Disisi kolam terdapat pancuran air yang berbentuk ikan yang mengalirkan air yang sangat jernih.
"Benar-benar kolam mandi yang sangat mewah di kerajaan. Ini baru kolam mandi pangeran. Bagaimana dengan kolam mandi raja atau ratu? Mungkin lebih mewah dari ini? Tapi, kemana perginya putra mahkota Feng? Ah sudahlah, aku pakai saja kolam ini terlebih dahulu." gumam kagum Lili.
Ia pun berdiri dan segera melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Ia pun mulai berjalan menuruni anak tangga yang terdapat di sisi kolam. Segera ia berjalan di tengah kolam sambil merendam seluruh tubuhnya di dalam kolam. Sesekali ia mencium wangi bunga mawar yang bertaburan dan memainkannya. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang berdiri dibelakang dan menabraknya. Lili pun kaget karena merasa dirinya menabrak sesuatu yang lembut. Antara ragu dan takut untuk menoleh ke belakang, akhirnya Lili memberanikan dirinya. Ia segera membalikkan badannya dan melihat bahwa yang ia tabrak adalah perut seksi seorang pria yang berdiri di depannya. Ia melihat tubuh kekar pria itu yang basah oleh air dan ada beberapa kelopak mawar yang tertinggal di tubuhnya. Ia sangat tinggi dengan delapan otot perut yang sangat seksi di tubuhnya. Ia menatap tajam ke arah Lili. Lili yang kaget melihat pria yang ia tabrak adalah suaminya sendiri, putra mahkota Feng segera membalikkan badannya. Ia segera menjauh darinya, namun siapa sangka jika putra mahkota Feng langsung memeluk tubuhnya dari belakang dengan cepat. Seketika wajah Lili langsung merah merona dan jantungnya berdegup kencang.
"Hai... istriku sayang. Kau mau pergi kemana?" goda putra mahkota Feng sambil mengecup leher Lili dengan lembut.
"Ini orang habis kesambar petir apa kepalanya habis terbentur sesuatu. Kenapa jadi sedekat ini denganku?" batin Lili.
"Eng..." erang Lili dengan nada lirih
Karena merasa kesakitan, Lili pun membalikkan badannya dan hendak menampar pipi putra mahkota Feng. Sayangnya, tangannya ditangkap dengan cepat oleh putra mahkota Feng. Dengan agresif, putra mahkota Feng menarik tubuh Lili kedalam pelukannya dan mulai mencium bibirnya yang imut. Lili berusaha meronta, namun usahanya sia-sia. Tenaga putra mahkota Feng sangat kuat. Putra mahkota Feng sangat menikmati bibir Lili yang lembut. Ia sangat liar dalam berciuman dan membuat Lili kesulitan untuk bernapas. Karena tak tahan, Lili pun menggigit bibir bawah putra mahkota Feng. Karena merasa bibirnya tergigit dan sakit, ia segera menarik bibirnya. Bibir bawah putra mahkota Feng terlihat bengkak dan sedikit berdarah. Ia pun menjilat bibirnya yang sedang terluka.
"Berani sekali kau menggigitku?" tanya putra mahkota Feng dengan nada dingin.
"Itu karena kau bersikap kurang sopan kepadaku!"
"Kurang sopan? Bukannya kita berdua sudah menjadi suami istri? Kenapa mencium pasangan saja harus ijin?!"
"Karena aku tidak suka disentuh."
"Cih. Bahkan dengan aku, suamimu sendiri."
Mendengar perkataan putra mahkota Feng, Lili tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri tidak tahu, apakah putra mahkota Feng mencintainya atau tidak. Begitu pun sebaliknya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap suaminya sekarang. Lili pun berbalik dan berjalan menjauh dari putra mahkota Feng. Tapi dengan gerakan cepat, putra mahkota Feng memeluk tubuhnya dari belakang dan menekan titik akupuntur di tubuhnya.
"Kau!"
"Maaf, tapi... aku adalah suamimu sekarang. Kau menyukaiku atau tidak, kau harus melakukannya. Melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri, yaitu melayani suamimu." tegas putra mahkota Feng sambil mengangkat tubuh Lili dan menggendongnya keluar dari kolam pemandian.
Lili pun kaget mendengar perkataan putra mahkota Feng. Malam ini, dia harus melayani pria yang sama sekali tidak mencintainya. Kini keduanya bertelanjang bulat saat keluar dari kolam pemandian. Dengan kekuatan sihir yang dimilikinya, putra mahkota Feng melirik ke arah kain putih panjang yang menjadi tirai jendelanya. Tirai itu terbang dengan sendirinya dan menyelimuti tubuhnya dan tubuh Lili. Ia pun berjalan sambil menggendong Lili dikedua lengannya menuju tempat tidurnya.