
Mendengar Lili menanyakan kabar tentang dirinya, putra mahkota Feng tidak mempedulikannya. Ia melirik ke arah ayahnya yang tergeletak di atas tanah dengan berlumuran darah. Ia segera berlari menuju ke arah ayahnya. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat kepala ayahnya dan menepuk pelan-pelan kedua pipinya secara bergantian.
"Ayahanda, ayahanda, bangun!" teriak putra mahkota Feng.
Melihat tidak ada respon dari ayahnya, putra mahkota Feng memeriksa denyut nadinya, dan meletakkan jari telunjuk kanannya di bawah hidung. Ia memeriksa apakah ayahnya masih bernafas atau tidak. Mengetahui ayahnya sudah tidak lagi bernafas, ekspresi wajahnya putra mahkota Feng berubah menjadi murung.
"Ada apa?!" tanya Lili dengan ekspresi tidak berdosa di wajahnya.
"Kau! Apa yang kau lakukan pada ayahandaku?!"
"Hanya becanda. Kita hanya bermain adu pukulan. Siapa sangka, ayahandamu terlalu tua dan lemah menerima seranganku." jawab Lili dengan nada santai.
"Kau bilang bermain?! Apa kau tidak sadar, kalau kau telah membunuh ayahandaku yang juga ayah mertuamu!" bentak putra mahkota Feng dengan ekspresi marah di wajahnya.
Mendengar putra mahkota Feng, mantan suaminya membentak dirinya, ekspresi wajah Lili berubah menjadi suram.
"Ayah mertua?! Aku sadar, dia adalah raja yang juga sekaligus ayahmu dan ayah mertuaku. Selama ini aku selalu menghormati beliau sebagai raja dan ayah mertua. Aku tidak pernah membangkang perintahnya. Tapi, yang aku tahu... tidak ada seorang ayah di dunia ini yang tega menyakiti anaknya sendiri. Terlebih jika itu adalah anak perempuan yang dicintai oleh anaknya sendiri."
"Apa maksudmu?!"
"Feng, aku tahu kau menghormati kedua orang tuamu, termasuk ayahmu. Tapi kenapa kau diam saja ketika ayahmu membantai kedua orang tuaku?!" bentak Lili dengan penuh emosi.
Bagai disambar petir di siang bolong, Feng terkejut mendengar Lili, istrinya mengatakan hal itu kepadanya. Darimana istrinya mengetahui akan hal ini. Yang selama ini dengan sangat rapi, ia tutup-tutupi. Melihat mantan suaminya terdiam tanpa kata, Lili mengernyitkan dahinya.
"Kenapa diam?!"
"Darimana kau mengetahuinya?!"
"Bukan urusanmu! Jadi itu benar, kan?!"
"Aku bertanya, darimana kau mengetahui hal itu?!"
"Berbicara denganmu, hanya membuang-buang waktuku!" ucap Lili sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Berhenti!" teriak putra mahkota Feng.
Mendengar teriakan putra mahkota Feng, Lili tak menghiraukannya. Ia terus berjalan menjauh dari mereka. Melihat Lili tak menghiraukan kata-katanya, membuat Feng sangat marah kepadanya.
"Aku bilang berhenti!" teriak Feng sambil mengangkat tangan kanannya.
Dari telapak tangan kanannya, keluarlah tanaman rambat yang penuh duri dan disekelilingnya dipenuhi aliran listrik. Mendengar suara berisik dari arah belakang, Lili pun menoleh. Dilihatnya tanaman rambat berduri dengan aliran listrik di sekitarnya, membuat Lili segera melompat menghindarinya.
"Sial! Rambat Duri Listrik!" gumam Lili yang mendarat di atas tanah yang berjarak sepuluh meter dari rambat itu.
Melihat Lili yang berhasil menghindarinya, Feng semakin marah. Ia menggerakkan tanaman rambatnya dengan tangan kanannya menuju ke arah Lili. Lili yang melihat tanaman rambat itu bergerak ke arahnya ia segera melompat terbang dan mendarat dari pohon satu ke pohon lainnya. Rambat duri listrik itu mengejarnya kemanapun ia pergi.
"Sial! Bagaimana caranya aku memotong tanaman rambat ini!" umpat Lili sambil terbang dan melompat dari pohon satu ke pohon yang lainnya.
Saat Lili mendarat di atas dahan pada salah satu pohon, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya. Ia memegang perutnya sambil meringis, menahan rasa sakitnya. Tiba-tiba rambat duri listrik itu berhasil menangkap kedua kakinya lalu melilitkan dirinya. Lili yang telah menyadari bahwa kedua kakinya telah dililit oleh rambat duri listrik milik Feng, (mantan suaminya) menariknya turun ke bawah. Ia tidak sempat memotongnya apalagi melarikan diri. Ditambah ia harus merasakan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya. Rambat duri listrik itu menyeret tubuh Lili dan berhenti tepat di hadapan Feng, mantan suaminya.
Rambat duri listrik itu perlahan-lahan masuk ke dalam telapak tangan kanannya dan menghilang. Melihat kedua kaki Lili yang terikat oleh rambat duri listrik, sedang meringis kesakitan sambil memegang perutnya, membuat Feng sedikit merasa kasihan kepadanya. Ia mengibaskan tangan kanannya, dan seketika rambat duri listrik itu lenyap di kedua kakinya. Bukannya malah merasa baikan, Lili malah meraung kesakitan sambil memegang perutnya. Putra mahkota Feng bingung melihat Lili kesakitan sambil memegang perutnya. Ia berguling-guling di atas tanah sambil meringis menahan sakit yang luar biasa pada perutnya. Melihat hal itu, putra mahkota Feng langsung berjongkok dan hendak menyentuhnya. Melihat putra mahkota Feng hendak menyentuhnya, Lili langsung berteriak.
"Pergi!!! Pergi!!! Jangan mendekat!!!" teriak Lili dengan ekspresi wajah yang pucat pasi, menahan rasa sakit di perutnya.
Melihat wajah Lili yang pucat pasi dan tidak ingin disentuh, membuat putra mahkota malah semakin ingin menyentuhnya. Tanpa sengaja, putra mahkota Feng melihat gaun yang dikenakan oleh Lili telah berlumuran darah yang mengalir ke luar. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Lili yang masih berteriak memegang perutnya sambil menahan rasa sakitnya.
"Jangan-jangan dia..." gumam Feng.
Menyadari Feng tidak juga pergi menjauh darinya, Lili pun menyeret tubuhnya menjauh darinya.
"Berhenti!"
"Pergi!! Jangan sentuh aku!" teriak Lili sambil menyeret tubuhnya untuk menjauh dari putra mahkota Feng, mantan suaminya.
"Lili, kau... berlumuran darah." ucap Putra mahkota Feng sambil melihat gaun yang dikenakan istrinya penuh berlumuran darah yang terus mengalir ke luar.
"Apa?!"
Lili pun mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandangan Feng. Ia sangat terkejut melihat bahwa dirinya berlumuran darah.
"Lili, ikut aku pulang kembali ke istana."
"Tidak! Aku tidak mau! Pergi!"
"Lili, jangan keras kepala! Ikut aku kembali sekarang juga!"
"Lili, jika kau bersikeras... maka jangan salahkan aku jika aku memaksamu kembali ke istana! Aku melakukan ini untukmu!"
Lili yang mendengar kata-katanya hanya bisa menggertakkan giginya. Melihat tidak ada respon, putra mahkota Feng mengangkat tangan kanannya dan keluarlah tongkat berwarna hitam yang setinggi dirinya. Putra mahkota Feng mengayunkan tongkat yang dipegangnya ke arah Lili yang bersembunyi di dalam gundukan tanah berduri itu.
Boom...
Dalam sekejap gundukan tanah berduri itu lenyap. Kedua mata putra mahkota Feng terbelalak. Ia tak percaya bahwa Lili tidak ada di dalam gundukan tanah berduri itu.
"Sial! Kemana dia pergi!" umpat putra mahkota Feng.
...****************...
Gua Es Ratu Iblis
Dengan sangat hati-hati, Hana menyandarkan tubuh Lili ke dinding gua.
"Ratu, kau tidak apa-apa?!"
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku tepat waktu. Jika tidak, aku akan dibawa ke Istana."
Sebelum putra mahkota Feng melancarkan serangannya, Lili terlebih dahulu mengirimkan pesan telepati kepada Blackie untuk disampaikan kepada Hana. Setelah Blackie menyampaikan pesan ratu kepadanya, dengan cepat Hana melakukan sihir teleportasi untuk datang menyelamatkan Lili, ratu mereka. Hana sangat ahli dalam melakukan sihir teleportasi. Jadi karena itu, ia berhasil membawa ratunya dengan aman dan selamat.
"Ratu, kenapa kau tidak ingin kembali ke istana? Dendammu sudah terbalaskan, lalu apa yang akan kau lakukan?!"
"Mencari dalang utama di balik layar."
"Bukannya dalang utamanya adalah... raja, ayah mertuamu... ratu?! tanya Hana dengan wajah penasaran.
"Bukan dia. Ada orang lain lagi selain ayah mertuaku yang menjadi dalang utamanya." tegas Lili.
"Siapa orang itu ratu?!"
"Aku tidak tahu. Yang jelas, mereka semua menginginkan aku untuk mati."
"Ratu "
"Tidak apa-apa. Bantu aku memeriksa seluruh kondisi tubuhku."
"Ratu, aku minta maaf sebelumnya jika aku melakukan hal yang lancang kepadamu."
"Katakan."
"Saat ratu jatuh pingsan, aku memeriksa denyut nadimu dan seluruh tubuhmu."
"Lalu, apa hasilnya?!"
"Kau... kau mengalami keguguran, ratu. Maafkan aku."
"Keguguran?!"
"Iya ratu. Aku... aku minta maaf ratu." ucap Hana sambil melirik ke arah Lili yang ekspresi wajahnya berubah menjadi muram.
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Hana, terima kasih sudah memeriksaku."
"Ratu, apa sungguh kau baik-baik saja?"
"Iya. Aku baik-baik saja. Mungkin Tuhan punya rencana lain."
"Hana, terima kasih sudah setia mendampingiku, menjagaku."hc
"Aku juga berterima kasih kepada ratu. Jika bukan karena ratu, aku tidak akan seperti ini."
"Baguslah kalau begitu. Apa kau mau menuruti semua keinginanku?!"
"Tentu saja ratu. Keinginanmu adalah kebahagiaan terbesarku."
"Humph...kalau begitu, aku ingin kau tidur untuk sementara waktu. Tunggu sampai kekuatanku kembali, aku akan datang untuk membebaskanmu." ucap Lili sambil menyentuh dahi Hana dengan jari telunjuknya.
Sebuah aliran cahaya silau, keluar dari jari telunjuknya. Dan perlahan-lahan, Hana mulai memejamkan kedua matanya dan mulai tertidur. Tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi beku tertutupi oleh es. Tubuh Hana yang sudah tertutupi oleh seluruh es, tiba-tiba melayang di udara dan mendarat di atas gundukan es yang tebal. Tubuhnya terbujur kaku dengan wajah yang ceria penuh senyuman. Lili pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arahnya. Lili tersenyum melihat Hana sedang tertidur dengan wajah ceria dan senyum manisnya. Lili telah menyegel Hana untuk tidur sementara waktu, sampai ia kembali.
"Andai saja, aku bisa tersenyum seperti ini di dalam hidupku?!" gumam Lili sambil menyentuh balok es yang menyelimuti tubuh Hana. Ekspresi di wajahnya jelas menampakkan rasa sedih yang sangat mendalam. Ia terpaksa melakukan hal ini, demi keselamatan Hana. Ia tidak ingin melihat orang lain menanggung rasa sakitnya demi dia.Karena ia ingin hidup bersama dengan orang-orang yang mencintainya, tulus apa adanya.