
"Ctak!" terdengar suara jentikkan jari seseorang di udara, membuat Lili tersadar dari tidur panjangnya.
"Ah!" teriak Lili sambil membuka kedua matanya. Ia melihat langit-langit kamar yang minimalis. Ia berusaha bangun dengan menopang kedua tangannya, namun kedua kakinya terasa sakit seperti menahan beban. Ia pun berusaha duduk dan bersandar di dipan kasur yang sangat indah dan elegan. Ia melihat, ada seseorang yang tertidur di atas kedua kakinya yang tertutupi selimut tebal. Ia melihat paras tampan seorang pria dengan bulu mata yang lentik, alis mata yang tebal, rambut hitam pendek, dengan baju berwarna biru muda sedang tertidur pulas di atas kedua kakinya. Lili mengangkat tangannya hendak membangunkannya, akan tetapi ia merasa tak enak untuk membangunkannya. Namun, rasa nyeri dikakinya, memaksa dia untuk membangunkan pria yang telah menolongnya itu.
"Tuan... tuan... tuan!" teriak Lili sambil menggoyangkan bahu pria itu.
"Ehm..." perlahan Sirzechs membuka kedua matanya. Ia melihat gadis yang dikenalinya sudah sadar.
Spontan ia langsung bangun dan memegang kedua lengan Lili dengan kedua tangannya, untuk memastikan apa yang dia lihat itu adalah nyata bukan halusinasi. Lili yang merasa kesakitan karena lengannya di remas oleh Sirzechs, ia pun menjerit kesakitan.
"Ouchhh, sakit!"
"Ah, maaf." kata Sirzechs sambil melepaskan genggamannya.
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu, kau tunggu di sini dulu. Aku mau menyiapkan makanan dulu. Kau pasti sudah lapar." kata Sirzechs sambil beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Ia menoleh ke belakang dan dilihatnya, seseorang menarik bajunya dari belakang.
"Tunggu, siapa kau?"
"Namaku Sirzechs."
"Terima kasih." ucap Lili sambil menarik tangannya kembali.
"Tunggu di sini sebentar. Aku segera kembali."
Lili pun mengangguk pelan. Sirzechs berbalik dan mulai berjalan menuju ke arah pintu meninggalkan Lili yang sendirian. Suara pintu ditutup. Melihat hal itu, Lili tersenyum. Senyum yang terlukiskan di wajahnya, sebuah senyuman yang sangat menakutkan. Terlihat dingin dan licik. Tak berapa lama kemudian, Sirzechs kembali dengan sebuah mangkuk yang berisi bubur di tangannya. Betapa kagetnya ia saat membuka pintu kamarnya. Dilihatnya kamar itu kosong tak ada seorangpun di dalamnya. Kasurnya tertata sangat rapi. Tapi, dimana gadis yang telah ia selamatkan? Kemana perginya?
Angin berhembus meniupkan gorden jendela kamarnya yang terbuka. Sirzechs berjalan dan meletakkan mangkuk yang berisi bubur itu di samping meja yang berada bersebelahan dengan kasurnya. Ia berjalan menuju jendela kamarnya dan dilihat tak ada jejak seseorang melarikan diri. Lalu, kemana ia pergi? Mungkinkah ia diculik? Pikiran dan perasaannya campur aduk menjadi satu. Ia langsung memanggil pengawal rahasianya.
"Shion, Sasorri!"
"Disini Yang Mulia." jawab keduanya secara bersamaan.
Kedatangan mereka seperti sebuah kilatan bayangan hitam. Begitu cepat dan gesit. Mereka menunggu perintah dari tuannya.
"Kalian berdua, cepat cari gadis itu! Segera temukan dia secepatnya!"
"Baik Yang Mulia!"
Kedua pengawal rahasia itu pergi secepat kilat seperti sekilas bayangan hitam.
"Tak peduli kau pergi ke ujung dunia sekalipun, aku akan mencarimu, mengejarmu, semampuku. Hahaha, ayahanda... kau pasti menertawaiku disana bukan. Jadi ini yang dinamakan dengan jatuh cinta pada pandangan pertama? Konyol! Aku benar-benar sudah seperti orang gila."
Di Hutan Kematian
Di sisi lain hutan kematian yang sepi dan gelap, Lili sedang berjalan sendirian. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti dengan kehadiran sosok yang misterius berjubah hitam, berdiri tepat di hadapannya. Sosok misterius itu berjalan mendekatinya. Saat sosok misterius itu berjalan menuju ke arahnya, Lili tak bergerak sedikit pun. Hanya tatapan kosong yang terlukis di wajahnya. Senyum dingin mengambang di wajah sosok misterius di balik jubah hitam itu.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?"
"Belum."
"Kita sudah menyusuri semua tempat, tapi tak kunjung kita menemukan gadis itu. Apa yang harus kita lakukan, Sasorri?!"
"Entahlah. Mungkin hanya perlu menunggu kepala kita digantung saja."
"Dasar bodoh! Memangnya kau mau mati konyol hanya gara-gara tidak seorang gadis!"
"Kau pikir aku mau?!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?!"
"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kita ke hutan kematian."
"Kau ini bodoh ya?! Untuk apa kita kesana?!"
"Kau ini... jelas-jelas kau cari mati ke sana! Bahkan gadis itu saja hampir merenggang nyawa. Kau malah menyodorkan nyawamu. Seolah kau punya nyawa sembilan kucing!"
"Apa kau punya ide, kita harus mencarinya dimana?"
"Tidak."
"Sia-sia aku bicara denganmu!"
"Tunggu. Bagaimana kalau kita pergi ke kota. Siapa tahu ia berada di sana? Bukankah, dia adalah kesayangan raja sekarang."
"Mari kita coba."
Keduanya langsung berangkat terbang menuju kota dengan kecepatan maksimal. Hanya butuh sepuluh menit saja, mereka sudah sampai di kota. Keduanya melakukan penyamaran hanya untuk mencari keberadaan gadis itu.
Zwart School
Prangggg!!!!
"Sudah aku katakan, kenapa murid baru juga harus mengikuti ujian semacam ini?!"
"Mohon ampun Yang Mulia. Ini sudah menjadi peraturan di sekolah ini?!"
"Peraturan katamu?! Lalu, apa yang harus kau lakukan sekarang? Bahkan kalian semua tidak becus menemukan satu murid yang hilang! Bagaimana jika ribuan murid kalian mengalami hal yang sama?!"
Semua murid yang berkumpul di aula Zwart School, langsung terdiam mendengar amukan raja. Semua murid menjadi ketakutan. Berbeda dengan yang lainnya, Krisan sangatlah tenang. Ia merogoh saku jubahnya dan melihat token yang ia kumpulkan selama misi tanpa kehadiran Lili sahabatnya.
"Lili, kau sebenarnya ada dimana?" batin Krisan.
"Yang Mulia, mohon tenanglah. Kami akan berusaha mencarinya sampai ketemu. Sekalipun ia berada di ujung dunia, kami akan mencarinya. Yang Mulia, jangan khawatir tentang itu?!!"
"Jangan khawatir katamu?! Jika terjadi sesuatu pada dia, apa kalian mau bertanggung jawab?!"
Mendengar raja mengatakan hal itu, semuanya langsung terdiam. Suasana kembali menjadi hening. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang. Suara langkah kaki ini memecahkan keheningan atmosfer di dingin. Semua yang berada di sana, langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut, tak terkecuali raja. Betapa terkejutnya raja melihat gadis yang ia cari, ternyata sudah ada di depan mata. Ia melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut, dia sangat sehat tak terluka sedikitpun. Raja langsung berjalan mendekatinya dan bertanya.
"Lili, kemana saja kau selama ini?! Semua orang pergi mencarimu!" tanya Raja dengan wajah panik.
"Aku lupa jalan kembali pulang raja. Maafkan aku."
"Jangan becanda!"
"Yang Mulia, aku serius. Untuk apa aku becanda. Yang terpenting sekarang, aku sudah kembali dengan selamat, bukan."
"Baiklah. Karena kau sudah kembali, aku akan membawamu istrahat di istanaku.
"Maaf Yang Mulia, ini dilarang!"
"Kenapa?!"
"Karena ini sudah menjadi aturan sekolah."
"Grr... Kalian..!
"Terima kasih Yang Mulia, atas kebaikanmu. Aku baik-baik saja. Aku akan tinggal di asrama, kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah kalau begitu. Tolong jangan terlalu memaksakan diri."
"Iya."
Raja pun pergi meninggalkan aula tersebut diikuti yang lain dari belakang. Melihat raja sudah pergi, Krisan berlari menuju Lili. Ia memegang tangan sahabatnya itu yang terasa dingin.
"Lili, apa kau baik-baik saja? Aku senang kau sudah kembali dengan selamat."
"Maaf, siapa kau?!"