
"Apa yang kau katakan?!"
Tiba-tiba Lili merasakan ada seseorang yang menarik bajunya. Ia pun menoleh ke belakang. Dilihatnya, Raja Feng menarik bajunya sambil menggelengkan kepalanya. Seolah memperingatkan untuk tidak menentang perintah kakak tirinya.
"Apa maksudmu?!"
"Uhuk, Lili... dia... bukan Sirzechs yang dulu."
"Apa yang kau katakan?!"
"Dia... uhuk... uhuk... dia..."
Sebelum selesai melanjutkan perkataannya, kedua pengawal yang berada di belakang Pangeran Sirzechs langsung datang menghampiri Raja Feng dan membawanya pergi. Lili hendak menghentikannya, namun dirinya tidak bisa bergerak. Ia melihat bahwa dirinya telah diikat oleh tali berwarna putih yang mengelilingi seluruh tubuhnya. Ia pun menoleh ke arah Pangeran Sirzechs dan berteriak.
"Sirzechs, apa yang kau lakukan kepadaku?! Cepat lepaskan!"
Pangeran Sirzechs tak mempedulikan perkataannya. Ia pun segera berjalan menuju Lili. Ia berhenti tepat di hadapan Lili sambil menatapnya. Keduanya bertukar pandang satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Tanpa banyak basa basi, Pangeran Sirzechs menyentuh bahu kiri Lili. Dalam sekejap mata, Lili yang merasakan bahu kirinya telah disentuh oleh Sirzechs, tiba-tiba ia merasa sedikit mengantuk. Tanpa ia sadari, bahwa dirinya telah terjatuh ke dalam pelukan Pangeran Sirzechs. Dengan gerakan cepat, Pangeran Sirzechs menangkapnya dan menggendongnya. Ia membawa Lili pergi dari tempat itu menuju istananya.
Di dalam istana Pangeran Sirzechs, Lili sedang tertidur pulas di atas kasur yang berwarna kuning keemasan, dengan korden berwarna kuning keemasan yang terbuka dan dikat di setiap sisinya. Senada dengan warna ruangan di dalam kamar itu. Angin berhembus sepoi-sepoi meniupkan korden tipis panjang berwarna kuning keemasan yang menutupi jendela kamar itu. Perlahan-lahan Lili mulai membuka kedua matanya. Ia melihat langit-langit kamar diatasnya. Dengan sedikit kekuatan yang ia milikki, Lili berusaha untuk bangun. Ia melihat suasana ruangan yang penuh dengan warna kuning keemasan. Pandangan kedua matanya menyusuri setiap sudut ruangan kamar itu. Tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang sangat hebat di kepalanya. Samar-samar ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Lili, kau sudah bangun?"
Lili pun menoleh ke arah sumber suara itu. Ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang mendekat. Ia melihat ke segala arah darimana asal sumber suara itu, namun tak menemukan sosoknya. Tiba-tiba ia merasakan suara hembusan nafas seseorang di telinga kanannya. Sontak saja, Lili langsung menoleh ke arah kanan. Dan dilihatnya, Pangeran Sirzechs sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum lembut kepadanya. Wajahnya jauh terlihat lebih berbeda dari sebelumnya. Terlihat lebih ceria dan jauh dari kesan menakutkan.
"Kenapa kau memasang ekspresi wajah seperti itu?!" tanya Pangeran Sirzechs dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
"Aku hanya kaget saja." jawab Lili sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja."
"Benarkah?!"
"Iya."
"Apa ada yang sakit?!"
"Tidak ada."
"Lalu, kenapa kau memalingkan wajahmu? Apa kau tidak mau melihat aku atau... kau malu bertatap muka denganku?!"
"Tidak. Itu hanya perasaanmu saja."
"Oh ya?! Kau pikir aku pria bodoh yang mudah kau tipu?! Kau terlalu naif?!"
"Apa katamu?!" ucap Lili sambil menoleh ke arah Pangeran Sirzechs.
Akhirnya keduanya bertatap muka satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Melihat Lili yang mulai berani menatap dirinya, senyum manis mulai mengambang di wajah Pangeran Sirzechs. Melihat Pangeran Sirzechs tersenyum, Lili hanya mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau senyam senyum seperti itu?? Memangnya ada yang lucu?!"
"Tidak ada."
"Lalu?!"
"Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu." jawab Pangeran Sirzechs sambil beranjak dari tempat duduknya.
Melihat Pangeran Sirzechs hendak pergi meninggalkannya, Lili berteriak memanggil namanya. Mendengar namanya dipanggil, Pangeran Sirzechs langsung menghentikan langkah kakinya.
"Sirzechs."
"Ada apa?!" tanya Pangeran Sirzechs sambil menoleh ke arah Lili yang sedang duduk di atas kasur.
"Dimana Feng?!"
Mendengar Lili bertanya tentang adik tirinya (Feng) kepadanya, darah mulai mengalir mendidih ke seluruh tubuhnya. Wajahnya yang semula ceria, kini berubah menjadi suram dan menakutkan. Lili sangat terkejut melihat perubahan ekspresi di wajah Pangeran Sirzechs yang sangat cepat. Ekspresi wajahnya yang semula sangat ceria, tiba-tiba berubah menjadi suram dan sangat menakutkan.
"Dia baik-baik saja."
"Boleh aku melihat keadaannya sekarang?"
"Untuk apa?!"
"Hanya untuk memastikan, apakah dia benar-benar baik-baik saja."
"Kau tidak percaya kepadaku?!"
"Bukan begitu."
"Lili, untuk apa kau masih mempedulikan dia?! Apa kau pikir, dia masih mempedulikan dirimu?!" geram Pangeran Sirzechs.
"Bukan begitu. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadanya."
"Tentang apa? Tentang apakah dia masih mencintaimu? Apakah kau masih menginginkannya kembali?!"
"Apa maksudmu? Kenapa kau berpikir seperti itu?!"
"Lalu apa?! Untuk apa kau menemuinya?!"
"Sudah kubilang. Aku hanya ingin memastikan sesuatu kepadanya. Tidak ada hal lain. Lagipula, itu hanya masa lalu."
"Lalu, bagaimana jika dia menginginkan kau kembali? Apa kau menerimanya?!"
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Pangeran Sirzechs kepadanya, Lili hanya terdiam tanpa kata. Melihat Lili terdiam tanpa kata, Pangeran Sirzechs membalikkan badannya dan pergi meninggalkannya
"Tunggu sampai kau sembuh dulu. Baru aku akan mengajakmu untuk pergi melihatnya." ucap Pangeran Sirzechs sambil pergi meninggalkan Lili yang masih duduk di atas kasur.
"Terima kasih."
Bang!!! (Suara pintu ditutup sangat keras.)
Lili tahu bahwa Pangeran Sirzechs sedang marah kepadanya. Ia pun menghela nafasnya dalam-dalam.
Di Penjara Bawah Tanah
Terdengar suara cambukan yang sangat keras mendarat di tubuh Raja Feng. Raja Feng yang dahulu terlihat sangat gagah dengan jubah mewahnya, kini terlihat sangat menyedihkan. Darah menetes mengalir dari mulutnya dan dahinya, akibat cambukan keras yang ia terima.
"Berhenti!"
Terdengar suara yang sangat familiar di telinganya dan diikuti derap langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya.
Kreettt!! (suara pintu penjara dibuka.)
Raja Feng perlahan-lahan mulai mengangkat wajahnya. Wajahnya dipenuhi dengan darah yang mengalir dari mulut dan dahinya. Pandangan matanya samar-samar melihat sosok yang berdiri tegak di depannya. Sosok itu terlihat sangat familiar baginya.
"Ka... uhuk... uhuk!"
"Apa kabar adikku? Bagaimana keadaanmu?!"
"Cuih, seperti yang kau lihat."
"Kau terlihat baik-baik saja."
"Katakan, apa maksud kedatanganmu kemari?!"
"Kali ini kau sungguh beruntung. Ada seseorang yang ingin menemuimu. Setidaknya nikmati udara kebebasanmu walaupun cuman sebentar."
"Apa yang kau maksud itu Lili?
"Ya. Apa ada orang lain selain dia?!"
"Kakak, ahh... maaf aku salah. Yang Mulia Raja."
Mendengar adik tirinya menyebut dirinya Raja, Pangeran Sirzechs menatap tajam ke arahnya. Ia melihat tatapan kakaknya penuh dengan kebencian terhadap dirinya.
"Katakan sejujurnya, apakah kau yang melepaskan segel yang telah menyegel kekuatan Lili?!"