PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 6 (Antara Dendam dan Cinta)


Merasa dirinya ditantang oleh gadis kecil, Tetua Menzy mulai naik pitam. Ia mengangkat tangannya ke udara dan muncullah sebuah tongkat emas panjang ditangan kanannya. Ia mulai menghempaskan tongkatnya ke udara dan muncullah sebuah gumpalan energi angin yang berbentuk seperti bola raksasa angin dari balik ujung tongkatnya. Dengan cepat ia menembakkan bola raksasa angin ke arah Lili. Dengan gerakan cepat, Lili menghindarinya. Terdengar suara ledakan yang keras. Melihat Lili bisa menghindari serangannya, Tetua Menzy semakin geram. Ia membuat ribuan bola raksasa angin dan menembakkannya ke arah Lili secara bersamaan. Ribuan bola raksasa angin itu semakin cepat menyerang Lili secara acak dan bersamaan. Gerakan menghindar Lili juga tak kalah cepat dengan bola raksasa angin itu. Ia melompat, berlari dan sesekali terbang di udara untuk menghindari serangan yang dilancarkan oleh Tetua Menzy. Semakin Lili menghindarinya, semakin banyak bola raksasa angin yang mengejar dan menyerangnya.


"Hahahaha... mau sampai kapan kau akan terus menghindar, gadis sialan?!!"


"Menghindar katamu? Tidak ada kata menghindar di kamusku. Melainkan hanya ada satu kata di kamusku "Matilah!!!" teriak Lili sambil mengangkat tangannya ke udara dan menghempaskannya ke arah Tetua Menzy.


Tetua Menzy kaget melihat ada segumpalan energi jahat yang keluar dari tangan Lili yang berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah tombak raksasa yang mulai terbang secara gesit dan hendak menusuk dirinya. Karena tak sempat menghindar, Tetua Menzy dengan cepat membuat sebuah pelindung besar untuk dirinya. Ia mulai mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mempertahankan pelindungnya agar tidak mudah tertembus oleh tombak kegelapan milik Lili. Keringat bercucuran mulai membasahi dahinya. Suara retakan mulai terdengar di berbagai sisi. Sbil menggertakkan giginya, ia terus bertahan dengan kekuatannya. Lili yang melihat kondisi itu, tertawa terbahak-bahak.


"Dasar bodoh! Sia-sia saja kau bersikeras mempertahankan pelindung yang hampir retak itu. Ah, aku salah. Bukan retak, tapi hancur berkeping-keping!" ejek Lili sambil mencengkram tangan kanannya ke udara, seperti ia sedang mencengkeram sesuatu yang tak terlihat dengan sangat keras.


Pelindung yang dibuat oleh Tetua Menzy akhirnya hancur berkeping-keping. Tetua Menzy berteriak kesakitan karena terkena serangan Lili dan terpental di atas tanah. Ia batuk berdarah dan memuntahkan gumpalan darah kotor di mulutnya. Lili mendarat tepat di hadapan Tetua Menzy yang sedang berbaring dan berusaha duduk di atas tanah dengan kondisinya yang buruk. Ia melihat ada dua kaki yang sedang berdiri di depannya. Dua kaki itu terlihat sangat mulus dengan gaun berwarna hitam yang menutupi sisi kedua kaki itu. Ia mulai mengamati dari ujung kaki hingga ujung rambut, siapa orang yang berdiri dihadapannya. Ia melihat gaun itu panjang, namun memperlihatkan paha depannya yang mulus. Gaun hitam itu sangat elegan. Gaun itu memiliki potongan di atas lutut yang memperlihatkan sebagian paha mulusnya, namun di kedua sisinya tertutupi hingga kebelakang. Diatasnya, ia memiliki potongan di bagian dada dan memperlihatkan leher dan sebagian dadanya yang putih dan bersih. Rambutnya hitam lurus dan dibiarkan terurai panjang, ditiup angin malam. Bibirnya merah merona dengan tatapan dari kedua matanya yang menyilaukan. Seperti ada sebuah kilatan merah menyala di dalam kedua bola matanya. Senyumnya yang dingin menambah kesan misterius, dingin dan kejam dalam dirinya. Ia melayang di udara dan disinari cahaya bulan purnama yang berada di belakang punggungnya. Angin sepoi-sepoi mulai meniupkan beberapa helai rambutnya di udara. Di sisi kanannya, ada makhluk elf yang berdiri tepat di sampingnya. Makhluk itu membisikkan sesuatu ke telinga Lili.


"Pergilah! Bawa rajamu ke tempat yang aman. Kau tidak perlu takut kepadanya. Aku akan melindungimu."


Elf itu hanya mengangguk dan mulai terbang mendarat, menuju rajanya yang masih tergeletak di atas tanah dan membawanya ke tempat yang lebih aman. Sesuai dengan dugaan Tetua Menzy, bahwa gadis kecil yang berdiri tepat di hadapannya bukanlah gadis sembarangan yang bisa ia remehkan seperti murid-murid yang lainnya. Dengan cermat ia mengamati gadis itu. Betapa terkejutnya ia melihat sosok gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah sosok Ratu terdahulu. Ratu yang terkenal dengan kekuatan hitamnya yang luar biasa dan tak ada yang menandinginya. Ia juga dikenal mempunyai sikap dingin, dan kejam, membuat semua orang takut kepadanya. Ratu yang telah lama menghilang selama dua ratus tahun lalu, setelah insiden peperangan yang berdarah saat itu, kini muncul dengan sosok yang sangat berbeda dari biasanya.


"Kenapa? Apa kau terkejut sekarang Tetua Menzy?!"


"Terkejut?! Heh, aku sudah menduga... kalau kau selama ini bersembunyi di dalam tubuh seorang gadis kecil. Dan kebetulan gadis itu memiliki nama yang sama denganmu. Apa yang aku katakan itu, semuanya benar bukan?!"


"Hahaha... konyol! Lucu! Selama ratusan tahun berlalu, aku selalu menghormatimu sebagai guruku. Tapi sayangnya, aku tidak bisa melupakan kejadian hari itu. Kejadian yang membuatku terlahir menjadi iblis, dibenci oleh semua orang, diasingkan, bahkan keluargaku pun dibinasakan tak bersisa. Sebenarnya, kalian itu makhluk apa? Sekeji itu tindakan kalian. Bahkan lebih hina daripada binatang!!!"


"Kau sendiri, apa kau tidak lebih hina daripada binatang?!!"


" Bajingan!!! Jangan memanggilku dengan sebutan gurumu!!! Kau tidak layak menjadi muridku!!!"


"Kau benar. Aku tidak layak untuk menjadi muridmu. Jika tidak, untuk apa kau bersusah payah menghancurkan meridianku? Mengirimkan beberapa orang untuk melecehkanku! Jika bukan karena dia... aku..."


Tiba-tiba Lili teringat memori kenangan di masa lalu. Dimana saat ia mengalami situasi yang sangat menyakitkan. Meridiannya dihancurkan oleh gurunya sendiri, dan hampir dilecehkan oleh orang-orang suruhan gurunya. Jika pada saat itu, orang itu tidak


datang tepat waktu untuk menyelamatkannya , Lili tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpa hidupnya. Entah kenapa ia merasa aneh dengan hatinya. Tiba-tiba ia merindukannya. Sungguh menggelitik hatinya.


"Jika bukan karena dia... aku tidak akan bisa berdiri di sini. Dan satu hal lagi, guruku tersayang. Dugaanmu itu semuanya salah. Aku tidak bersembunyi di dalam tubuh seorang gadis kecil. Melainkan, sedang mengamati gerak gerik kalian di balik layar!!!"


"Apa maksudmu?! Jangan bicara omong kosong!!!"


"Omong kosong, katamu?!!! Aku pikir kau sudah tua. Sudah waktunya untukmu berganti kursi dengan yang lebih muda. Kau seharusnya beristirahat dan menikmati hari tuamu!"


"Kurang ajar! Dasar Lancang! Beraninya kau?!!!"


Tetua Menzy langsung mengarahkan tongkatnya ke arah Lili. Lili langsung mundur melompat, menjauh darinya. Melihat itu Tetua Menzy tertawa. Ia sangat senang melihat hal itu. Dengan emosi yang brutal, ia berkali-kali menghempaskan tongkatnya ke udara dan menembakkan beberapa jurus bola raksasa angin ke arah Lili yang masih menghindar dari serangannya. Karena jengkel melihat tingkah laku mantan gurunya itu, Lili mulai mengeluarkan jurus terlarang yang dimilikinya. Ia melayang di udara dan mulai membuat gerakan mengunci dengan kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba dari atas langit, bulan yang menyinari Lili dari belakang mulai tertutup oleh awan hitam. Terdengarlah suara petir dan gemuruh dari atas langit. Lili pun perlahan membuka kedua matanya dan mulai menghempaskannya ke udara. Dari atas langit, turunlah hujan tombak es berwarna hitam pekat yang menghujani tubuh Tetua Menzy. Ia berteriak kesakitan, membuat raja Elf dan anak buahnya merinding ketakutan. Tiba-tiba sebuah tombak raksasa muncul dari tangan kanan Lili. Lili pun mengambilnya dan melemparkannya tepat ke arah jantung Tetua Menzy. Seketika itu Tetua Menzy berteriak kesakitan dan darahnya muncrat dari dalam mulutnya. Ia sudah tewas di tempat. Lili pun mendarat di atas tanah dan mulai memeriksa kondisi Tetua Menzy. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Lili, hentikan ini!"


Mendengar suara yang sangat familiar memanggil namanya itu, Lili pun menoleh ke arah suara sumber tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang tak asing berdiri tepat dibelakangnya dan sedang menatap dia.