PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Roh Misterius dan Kekuatan Misterius)


Mereka berputar, membentuk gumpalan lingkaran besar berwarna hitam pekat. Semakin cepat dan membesar. Pemandangan menarik itu berhasil memikat hati Lili. Ia pun beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri gumpalan aura jahat yang masih berputar. Dengan ragu-ragu, ia menyentuh gumpalan aura itu. Begitu ia menyentuhnya, gumpalan aura jahat itu langsung menyebar ke semua arah dan menghilang. Lili pun kaget bukan kepalang. Ia berpikir bahwa, gumpalan itu akan menyerang dan menyakitinya seperti sebelumnya. Ternyata semua itu tidak seperti yang ia bayangkan. Dari kejauhan, ia melihat sebuah gumpalan asap hitam tebal terbang menuju ke arahnya. Gumpalan asap hitam tebal itu berhenti tepat di depan hadapan Lili. Anehnya, gumpalan asap hitam tebal itu berbentuk menyerupai tubuh seorang pria berbadan tinggi besar dengan pakaian lengkap yang melekat di tubuhnya. Lili pun mengamati dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sangat mirip dengan seorang pria. Jika dia bukanlah gumpalan asap, mungkin dia adalah sosok pria yang sangat tampan dengan postur tubuh tinggi tegap.


"Sudah bertahun-tahun lamanya, aku mencium aroma manusia. Kupikir aku tidak pernah menciumnya lagi."


Mendengar gumpalan asap hitam tebal itu bisa berbicara layaknya seperti manusia, Lili pun menjadi heran dibuatnya. Apa ini mimpi apa kenyataan? Lili pun mencubit tangannya dan ia bisa merasakan bahwa rasa sakit itu sungguh nyata. Dan ini memang nyata bukan mimpi.


"Siapa kau sebenarnya? Apa kau hantu gentayangan?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Roh yang terjebak di sini."


"Apa bedanya dengan hantu gentayangan?! Bukannya, sama saja bukan."


"Tidak."


"Terserah lah. Kau bilang, kau adalah roh yang terjebak di sini. Tubuhmu pasti di sini kan?"


"Ya."


"Maaf, boleh bertanya?"


"Ya."


"Apa kau yang membunuh dan memakan para penyihir yang masuk di hutan ini?"


"Kenapa kau bertanya itu?"


"Kan aku hanya bertanya. Kau tinggal menjawabnya atau tidak. Kalau kau tidak mau menjawab, tidak masalah."


"Jika iya, apa yang akan kau lakukan?"


"Wahhh... seleramu buruk sekali?!"


"Apa?!"


"Kau bilang kalau kau adalah roh yang terjebak di sini. Kalau kau memakan manusia yang terjebak di sini, bukankah selera makanmu buruk sekali? Untuk apa kau berdiam disini? Menunggu mangsamu datang dengan sendirinya? Lucu. Bagaimana jika tidak ada mangsa yang datang? Bagaimana jika mangsanya punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan? Oh, bisa saja itu orang tua yang renta. Tidakkah itu buruk sekali."


"Kau benar. Selera makanku buruk sekali. Tapi, begitu aku melihatmu, aku menjadi selera."


"Kau ingin memakanku? Jangan membuatku tertawa. Kau ini cuman kumpulan aura kotor yang seharusnya di bersihkan agar tidak menyesatkan banyak orang."


"Kau sendiri tidak sadar, kalau tubuhmu penuh dengan aura jahat?"


"Sudahlah tak perlu mengelak. Kau juga tahu kan apa yang aku lakukan di sini?"


"Humph!"


"Tunjukkan wujud aslimu? Aku ingin tahu seperti apa wujud aslimu?"


"Wujudku? Aku takut kau akan tertarik melihatnya?"


"Apa semua pria di negeri ini terlalu percaya diri?"


"Sudah jangan bertele-tele. Buka dulu topengmu."


Roh itu menyeringai mendengar perkataan Lili. Meski berbentuk seperti gumpalan asap yang menyerupai tubuh manusia, jika dilihat dari postur tubuhnya, dia masuk dalam daftar kategori pria paling sempurna di negeri ini. Gumpalan asap hitam tebal itu, tiba-tiba menyebar ke segala arah, membuyarkan bentuk tubuh manusianya. Dan terlihat seberkas cahaya yang keluar dari balik asap hitam. Cahayanya yang silau membuat Lili harus memejamkan matanya sedikit. Dari balik cahaya itu, terlihat sangat jelas sosok pria berbadan tinggi tegap besar dengan pakaian lengkap nan mewah namun terkesan elegan, di balik jubah berwarna merah menyala. Alis matanya yang hitam tebal. Hidungnya yang mancung. Kulitnya seputih salju dan sehalus batu giok. Bibirnya berwarna merah alami. Tatapan matanya yang tajam namun tersimpan kehangatan di balik tatapannya. Suaranya yang halus merdu, benar-benar menenangkan telinga siapa saja yang mendengarkan. Sungguh definisi pria yang sangat sempurna. Bahkan Lili pun terpesona dibuatnya. Namun sayangnya, semua itu harus hancur dalam pikiran Lili karena ia teringat akan perkataan gumpalan asap hitam tebal itu bahwa "Dia adalah roh yang terjebak di sini!"


"Ada apa? Apa kau terpesona padaku?"


"Ehem... ehem... kau PD amat jadi orang. Apa kau lupa, kalau kau ini roh misterius yang terjebak di sini?"


"Aku tidak lupa. Aku tahu. Tapi kenapa wajahmu memerah?"


"Aku hanya kelelahan saja."


"Kau tidak takut aku akan memakanku?!"


"Kalau mau makan, ya makan saja. Kenapa malah bertanya?! Ouhhh... biar ku tebak. Kau tidak rela memakanku bukan?!"


"Bukan tidak rela memakanmu. Hanya saja, kau terlalu muda bagiku?!"


"Hah?!"


"Lagipula, aku sudah punya istri diluar sana."


"Humph, tentu saja aku merindukannya. Terlebih kepada anakku, buah cinta kami."


"Anak? Tunggu, kau punya anak?!"


"Ya. Mungkin sekarang, dia seumuran denganmu."


"Oh... jadi kau tidak akan memakanku apalagi membunuhku, bukan?! Itu karena kau teringat pada anakmu, kan?!"


"Hahahaha... konyol!"


"Hah?!"


"Aku bukanlah orang jahat seperti yang kau pikirkan."


"Kalau bukan jahat lalu apa? Setengah jahat setengah baik?!"


"Seumur hidupku, baru sekali ini aku bertemu dengan gadis bermulut pedas sepertimu!"


"Aku juga. Baru sekali ini dalam hidupku, aku melihat roh yang bisa berbicara dan memaki orang!"


"Aku tidak pernah memaki orang."


"Mungkin kau tidak pernah merasa seperti itu. Tapi orang lain berbeda. Terkadang saat kita berbicara, kita memikirkan perasaan orang lain. Tapi orang lain belum tentu berpikir yang sama dengan kita."


"Karena itu, kau terjebak di sini?"


"Ehm... ya... semacam itu lah. Hahaha!"


"Karena kau terjebak di sini, kau tidak takut mati?!"


"Mati ya mati. Orang hidup pasti akan mati. Kau sendiri, apa akan menjadi penunggu tempat ini?!"


"Menurutmu, aku menginginkan ini? Terjebak disini selama 20 tahun, tak ada satupun yang mau membantu."


"Jadi, saat penyihir yang masuk dan tidak pernah kembali, apa itu berhubungan denganmu?! Ahh... tak perlu dijawab. Kau tidak mau menjawabnya."


"Mereka... memang pantas mati!"


Mendengar perkataannya, Lili pun kaget. Ia tak menyangka, bahwa beberapa penyihir yang pernah masuk ke dalam hutan ini dan tak pernah kembali ternyata memang sudah mati. Rasa penasarannya semakin memuncak. Ia ingin bertanya sekali lagi. Tapi melihat tatapan tajam dari roh pria itu membuatnya merinding. Tatapan itu jelas menggambarkan tatapan yang kejam, seperti menahan amarah yang telah lama dipendam.


"Apa kau merasa takut sekarang?!"


"Tidak. Untuk apa aku takut. Apa yang perlu aku takutkan."


"Tapi sebenarnya, kau ingin marah bukan?! Marah kepada mereka yang menjebakmu! Mereka yang menghancurkan meridianmu!"


"Apa?! Dia tahu semuanya? Bahkan dia juga bisa membaca isi hatiku? Sebenarnya siapa dia?!"


"Kau pasti bertanya, kenapa aku tahu segalanya tentang kau termasuk isi hatimu?!"


"Kenapa?!"


"Itu karena kau dan aku berada di kapal yang sama."


"Apa maksudmu?!"


"Apa kau tidak tahu kemampuanmu sendiri?Kau mampu menghancurkan aura jahat dan mengendalikannya. Tidakkah kau tahu itu?"


Mendengar hal itu, Lili mengingat kejadian yang terjadi padanya sebelumnya. Kejadian dimana ia mendengar percakapan kedua orang tuanya. Kejadian saat ia berada di pasar dengan adiknya, dan kejadian yang terjadi di hutan kematian ini. Jika dipikir-pikir memang ada yang salah pada dirinya. Apakah ini kekuatan misterius yang tersembunyi pada dirinya?


"Jadi kau..."


"Ya. Aku dulu mempelajari sihir hitam ini secara sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun. Namun, siapa sangka ada yang mengetahuinya dan membocorkan hal ini kepada Raja terdahulu. Sehingga, gelarku sebagai putra mahkota dicabut dan diberikan kepada adikku yang sekarang menjadi Raja."


"Apa?! Raja yang sekarang adalah adikmu? Jadi, Ratu yang sekarang adalah mantan istrimu... opa, maaf... aku salah bicara. Lalu bagaimana dengan istrimu?"


"Jadi begitu ya? Dia sudah menikahi istriku sepeninggalan aku?!"


Ctarrrr


Bunyi petir dan kilat menyambar diatas langit, seolah ikut marah mendengar kenyataan ini. Lili yang mendengar perkataannya, menjadi bingung dan sedih. Ditambah, ia melihat ekspresi wajah sedih pria itu. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan terhadap pria itu.


"Aku..."


"Boleh aku meminta tolong?"