
"Aku rasa kau salah paham." kata Pangeran Sirzechs sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.
"Benarkah?"
"Kau bisa tanyakan sendiri kepadanya." terang Pangeran Sirzechs sambil melirik ke arah Lili.
Mendengar pernyataan pangeran Sirzechs, Lili melirik ke arah putra mahkota lalu melirik kembali ke arah pangeran Sirzechs.
"Yang dikatakan pangeran Sirzechs itu benar Yang Mulia. Kami berdua hanya berteman."
"Memangnya siapa yang peduli soal itu?!"
Ketiganya terdiam sesaat. Sampai akhirnya, pangeran Sirzechs mulai memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.
"Lili, bagaimana sekolahmu?'
"Aku..."
"Dia sudah menyelesaikan pendidikannya kak."
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?"
"Itu karena kau tidak pernah bertanya kepadanya, kak. Lagipula... sebentar lagi dia akan menikah. Terlebih kau tahu sendiri kan, siapa yang ketahuan mempelajari ilmu sihir hitam, akan dikeluarkan oleh sekolah kita.
Mendengar hal itu, pangeran Sirzechs terkejut. Ternyata yang membuat Lili berhenti sekolah, karena ia di duga telah mempelajari ilmu sihir hitam yang dilarang di negeri ini. Pangeran Sirzechs melirik ke arahnya, namun Lili dengan cepat menghindari tatapannya.
Tok... tok... tok (pintu diketuk dari luar)
"Masuklah." teriak pangeran Sirzechs.
Suara deritan pintu dibuka, Shion masuk ke dalam sambil membawa kotak obat di tangannya. Melihat ada putra mahkota dan Lili disana, ia memberi salam kepada mereka berdua, lalu kepada pangeran Sirzechs.
"Salam Yang Mulia putra mahkota, pangeran Sirzechs dan nona Lili."
Ketiganya membalasanya dengan anggukan kepala.
"Yang Mulia, sudah waktunya pengobatan."
Pangeran Sirzechs mengangguk pelan. Shion berjalan menuju kasur dan mengambil duduk di sebelah pangeran Sirzechs. Ia mulai memeriksa denyut nadi Pangeran Sirzechs.
"Jadi rumor itu benar. Kau tidak mau memanggil dokter kerajaan dan memilih pelayan pribadimu untuk mengobati lukamu, kak?!"
"Luka? Apa dia sedang terluka?!" batin Lili.
"Shion tidak hanya sebagai pelayan pribadiku. Tapi dia juga mahir dalam ilmu pengobatan. Tidak ada salahnya bukan, jika aku meminta tolong kepadanya?!"
"Aku sangat iri padamu kak."
"Iri? Kenapa?"
"Kau dikelilingi orang-orang yang sangat berbakat."
"Kau juga dikelilingi oleh orang-orang yang berbakat juga."
"Humph."
"Yang Mulia, waktunya untuk membersihkan lukamu."
"Aku minta maaf pada kalian berdua. Aku tidak bermaksud untuk mengusir kalian berdua."
"Tidak apa-apa kak. Aku juga minta maaf, tidak memberitahumu tentang kedatanganku kemari."
"Tidak apa-apa."
"Baiklah, kami berdua pamit."
"Terima kasih sudah datang menjengukku. Hati-hati dijalan."
"Terima kasih kak."
Setelah berpamitan, putra mahkota pergi meninggalkan kakaknya bersama Lili dan Shion, pengawal pribadinya. Melihat Lili tidak mengikuti adik tirinya, Pangeran Sirzechs langsung menyapanya.
"Kau tidak mengikutinya Lili?"
"Kenapa... kenapa kau tidak memberitahuku, kalau kau sedang terluka?!"
Mendengar Lili mengkhawatirkan keadaannya, membuat Pangeran Sirzechs kaget. Namun, ia juga merasa senang. Wanita yang ia cintai, ternyata masih peduli dengannya. Meskipun ia tahu, wanita yang sedang berdiri di depannya tidak bisa ia milikki. Setidaknya melihat ia tersenyum kepadanya, sudah cukup bagi Pangeran Sirzechs.
"Tapi..."
"Lili!"
Terdengar dari luar suara putra mahkota sedang memanggil namanya. Mendengar adiknya sedang memanggil calon istrinya, dalam hati pangeran Sirzechs, ia merasa sangat kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya. Memaksa tersenyum di depan Lili, berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Calon suamimu memanggilmu tuh. Sepertinya dia cemburu, melihat calon istrinya dekat dengan pria lain."
"Aku dan dia... "
"Kenapa?"
"Tidak ada. Aku pamit. Jika kau butuh bantuanku, katakan saja. Aku akan membantumu."
"Bagaimana caranya agar aku bisa menghubungimu?"
Lili mengeluarkan kupu-kupu perak dari balik tangan kanannya. Kupu-kupu perak itu terbang dan mengitari pangeran Sirzechs, dan kemudian mendarat tepat di bahu pangeran Sirzechs.
"Ini?"
"Untukmu. Aku memberikannya kepadamu, agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain. Jadi, jika kau butuh bantuanku, sampaikan pesanmu itu kepada kupu-kupu perak itu. Ia akan terbang dan menyampaikannya kepadaku."
"Apa kau juga memberikan ini kepada calon suamimu?"
"Belum."
"Kau juga harus memberikan dia satu yang seperti ini. Jika tidak, dia akan cemburu kepadaku."
"Iya. Aku akan mengingatnya. Aku pamit dulu. Jaga dirimu."
"Kau juga."
Lili pun meninggalkan kedua pria itu setelah berpamitan. Shion berjalan dan menutup pintu kamar pangeran Sirzechs. Ia kemudian berjalan dan mulai membantu tuannya melepas pakaiannya.
"Yang Mulia, apa kau belum jujur mengenai perasaanmu kepadanya?" tanya Shion sembari menyiapkan perban kain dan obat di atas meja.
"Sekali lagi aku mendengar kau mengatakan hal itu, lehermu akan aku potong!"
"Eh? Jangan Yang Mulia. Maaf... maaf, aku tahu aku salah. Aku tidak akan membahas ini lagi. Tolong ampuni aku Yang Mulia." kata Shion dengan wajah memelas.
"Humph!"
"Aku mencium aroma lemon di sini. Sepertinya aku harus berhati-hati dalam berbicara. Jika tidak, nyawaku yang jadi taruhannya." pikir Shion dalam hati.
Dengan hati-hati, Shion membersihkan luka bekas cambuk di punggung pangeran Sirzechs. Sesekali terdengar suara meringis kesakitan dari pangeran Sirzechs yang sangat lirih. Ia tidak ingin diketahui oleh orang lain tentang luka yang ia dapatti. Dengan lembut, Shion mengoleskan obat di punggung pangeran Sirzechs dan membalut luka bekas cambuk api dengan perban kain. Setelah selesai, Shion membantu pangeran Sirzechs berpakaian.
"Yang Mulia, sudah selesai."
"Terima kasih. Shion, aku ingin minta bantuanmu."
"Bantuan apa Yang Mulia?"
"Tolong bawa aku keluar untuk jalan-jalan di sekitar istanaku ini, sebelum aku melakukan kultivasi tertutup."
"Baik Yang Mulia."
...****************...
Sepanjang perjalanan mengelilingi istana pangeran Sirzechs, baik Lili dan putra mahkota Feng tak saling bicara. Sesekali Lili melirik ke arah putra mahkota Feng yang berjalan terlebih dahulu di depannya.
"Sangat menyebalkan berjalan bersama dengan orang ini. Tapi, apa yang bisa kau lakukan. Aku sendiri bahkan tidak bisa memilih calon suamiku." batin Lili dengan wajah sedih.
Tiba-tiba ia mendengar suara manja dari seorang gadis yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ia berteriak memanggil putra mahkota Feng, yang berjalan di depannya. Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, putra mahkota Feng langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat Putri Cariz berteriak memanggil namanya sambil berlari ke arahnya. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan putra mahkota Feng. Betapa terkejutnya Lili dan putra mahkota Feng melihat kejadian ini. Terlebih putra mahkota Feng yang tiba-tiba dipeluk oleh seorang gadis di depan calon istrinya.
"Yang Mulia, bagaimana kabarmu? Aku sangat kangen padamu?!"
Mendengar Putri Cariz dengan manja memanggil nama calon suaminya (putra mahkota Feng) dan berbicara mesra dengannya, Lili pun berdehem. Hingga pada akhirnya, Lili pun berpamitan kepada putra mahkota Feng.
"Yang Mulia, maaf jika mengganggu kesenanganmu. Aku mohon undur diri."
"Kalau mau pergi ya pergi saja, tak perlu berpamitan! Mengganggu kesenangan orang lain saja!" keluh Putri Cariz yang masih memeluk putra mahkota Feng dengan mesra.
"Lili, mau pergi kemana kau?!"
"Kemana saja. Asal aku tidak melihat calon suamiku bermesraan dengan gadis yang lain, di depan mataku sendiri." tegas Lili