
"Iya. Aku..."
"Ada apa ini?"
Kedatangan raja dengan pengawal pribadinya, secara tiba-tiba mengagetkan mereka. Lili berusaha untuk berdiri, namun tubuhnya terasa lemah sehingga ia dibantu oleh permaisuri. Keduanya memberi hormat kepada raja secara bersamaan.
"Salam Yang Mulia."
"Ehm. Bangunlah!"
"Terima kasih Yang Mulia."
"Apa yang terjadi?" tanya raja sambil mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang berdiri di sebelah Lili.
"Tidak ada apa-apa."
"Benarkah? Lalu, kenapa gadis ini tergelak pingsan disini?"
"Itu karena dia sedang mengobatiku."
"Mengobatimu? Benarkah itu?"
"Tentu saja."
"Konyol! Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Dia masih seorang gadis bau kencur. Mana mungkin dia bisa mengobatimu? Bahkan dokter kerajaan terhebat di negeri ini saja tidak bisa mengobati penyakitmu! Kau pasti becanda!"
"Kapan aku becanda, Yang Mulia. Badanku terasa sedikit membaik setelah diobati olehnya."
"Maaf Yang Mulia jika aku lancang. Aku sedang tidak enak badan saat perjalanan menuju kemari. Jadi tubuhku lemah dan aku mengalami pingsan saat mengobati Yang Mulia permaisuri."
" Jadi begitu. Lili, apa kau tidak berbohong kepadaku?!"
"Aku tidak berani Yang Mulia."
"Aku harap begitu. Jadi, kau sudah tahu penyakit apa yang diderita oleh permaisuri?"
"Iya."
"Baguslah. Kedepannya, aku ingin kau mengobati permaisuri. Dan penyakit permaisuri ini, cukup kau rahasiakan dari orang lain. Apa kau mengerti?!"
"Ya, Yang Mulia. Aku mengerti.
"Bagus. Baiklah, mari kita pergi ke perjamuan."
"Perjamuan?"
"Ah, maksud raja... karena kita kedatangan tamu, jadi kita harus menyambutnya dengan baik sebagai tuan rumah."
"Ah... maaf Yang Mulia permaisuri. Aku hanyalah orang biasa. Jadi..."
"Mau orang biasa atau bukan, kau tetaplah tamu kami. Ayo ikuti aku!"
"Baik Yang Mulia."
Keempat orang itu pergi meninggalkan paviliun merah itu menuju ruang perjamuan. Selang beberapa saat, mereka tiba di tempat yang sangat luas dengan beberapa meja makan, kursi, serta aneka macam hidangan tersaji di atas meja. Lili sempat berpikir, bahwa perjamuan keluarga kerajaan identik didalam ruangan yang luas, megah, mewah dan sangat glamor. Namun, yang ia lihat bukanlah seperti itu. Perjamuan ini berada di luar ruangan dengan pemandangan hijau di sekitarnya. Tampak di sudut meja makan terlihat sosok pria muda berparas tampan. Badannya tinggi semampai dengan kulit yang putih, rambut hitam panjang dikucir kuda dibelakang. Ia mengenakan pakaian berwarna merah senada dengan warna pakaian yang dikenakan raja. Dia adalah putra mahkota, pangeran Feng. Namun, pakaian yang ia kenakan terlihat elegan. Tidak seperti raja yang terlihat sangat mewah dan elegan, dengan jubah warna merah dihiasi warna emas di bagian sisinya. Bahkan gaun yang dikenakan permaisuri juga senada dengan pakaian raja. Benar-benar pasangan yang sangat serasi. Tiba-tiba muncul sosok roh pria dalam benaknya, yang ia temui di hutan kematian. Lili merasa iba dengannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Lili ingin bertanya kepadanya, bagaimana perasaannya terhadap permaisuri setalah sekian lama tak bertemu? Sayang, Lili tidak mempunyai keberanian setinggi itu. Baginya mungkin itu adalah rahasia setiap orang yang tak perlu ia ketahui. Namun roh pria itu sudah menghilang. Di satu sisi, Lili merasa tak perlu bertanya tentang bagaimana perasaannya? Di sisi lain, Lili merasa iba terhadapnya. Jadi ia tak memiliki keberanian untuk bertanya kepada roh pria itu. Ia lebih memilih untuk diam. Jika roh itu bercerita tentang perasaannya, ia akan lebih memilih untuk menjadi pendengar setia daripada seorang komentator. Karena itu adalah cara terbaik untuk peduli kepada seseorang. Mungkin dia sudah tenang disana. Dan itu adalah hal yang baik untuk dirinya maupun roh pria itu sendiri.
Raja mulai mengambil tempat duduknya. Ia terlebih dahulu duduk di kursinya dan mempersilahkan semua orang untuk duduk di kursinya termasuk Lili. Lili hanya mengangguk ragu, namun ia tak kunjung mengambil tempat duduknya.
"Kenapa kau diam? Duduklah!" perintah raja kepada Lili yang masih berdiri seperti patung sambil menunjuk kursi yang bersebelahan dengan putra mahkota Feng.
"Maaf Yang Mulia raja, permaisuri. Bukan aku ingin menolaknya, akan tetapi... aku merasa... sebagai rakyat biasa tidak pantas duduk bersama dengan keluarga istana."
"Hahaha... lupakan hal itu. Bukankah aku bilang kau adalah tamuku? Jadi sudah sepantasnya sebagai tuan rumah, aku menjamu tamuku dengan perlakuan yang spesial. Ayo duduk!" perintah raja sambil menyuruhnya duduk di kursi sebelah putra mahkota.
Lili pun mengangguk pelan dan mulai berjalan menuju kursi yang berada di sebelah putra mahkota Feng. Saat menarik kursi itu dan hendak mendudukinya, tiba-tiba sosok seorang pria muncul dan langsung duduk menempati kursi yang ditarik oleh Lili. Lili pun kaget melihat kursinya didudukki oleh seorang pria. Pria itu langsung menoleh ke arah Lili sambil tersenyum.
"Hai, kita berjumpa lagi. Terima kasih ya."
Lili pun terdiam. Ia mengenali siapa pemilik wajah itu.
"Ehem, Sirzechs!"
Mendengar namanya dipanggil oleh permaisuri, ibu kandungnya sendiri, Pangeran Sirzechs langsung beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan Lili untuk duduk di kursinya. Melihat tingkah pangeran Sirzechs, Lili masih ragu untuk menerimanya.
"Apa yang kau tunggu, duduklah!" teriak permaisuri.
Karena permaisuri yang memintanya untuk duduk kembali di kursinya, Lili pun mengangguk dan duduk di kursi yang seharusnya ia dudukki sedari awal. Lili pun duduk, diikuti pangeran Sirzechs yang juga duduk bersebelahan dengannya. Formasi duduk melingkar dimana raja bersebelahan dengan permaisuri, istrinya dan diikuti oleh putra mahkota Feng, Lili dan yang terakhir pangeran Sirzechs. Hanya dengan tepuk tangan dari seorang raja, dua pelayan datang dengan membawa dua botol anggur merah. Pelayan yang satu bertugas membawa dua botol anggur merah di atas nampannya, dan pelayan satunya, bertugas menuangkan sebotol anggur ke dalam gelas raja, permaisuri dan tiga orang lainnya. Tiba giliran gelas Lili yang akan dituangkan sebotol anggur merah, Lili memberi isyarat kepada pelayan itu untuk tidak menuangkan anggur kedalam gelasnya. Pelayan itu pun berhenti menuang sambil melirik ke arah raja. Raja yang melihat kejadian itu, langsung angkat bicara.
"Lili, apa kau tidak menyukai anggur kerajaan ini?"
"Maaf Yang Mulia, aku tidak terbiasa minum anggur."
"Jadi begitu. Aku pikir, kau menolaknya."
"Maaf Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Aku yang salah. Seharusnya, aku bertanya, apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka."
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Maaf jika perbuatanku menyinggung Yang Mulia."
"Hahaha, tidak perlu kau minta maaf. Pelayan, beri dia minuman yang lain."
"Tidak perlu repot Yang Mulia. Aku akan minum segelas air putih ini saja."
"Mana boleh seperti itu!" bentak raja sambil memukul meja makan.
Semua yang melihat hal itu, langsung terdiam. Lili merasa, ada yang salah dengan ucapannya. Suasana menjadi hening dan canggung. Tiba-tiba Lili mendengar suara lembut dari pria yang duduk di sebelahnya.
"Maaf Ayahanda, bukannya aku bersikap lancang. Kita disini untuk menjamu tamu kita dengan hangat. Jadi, jika jamuan yang kita sajikan, tidak sesuai dengan selera tamu kita, maka kita harus menghargainya."
"Huff, baiklah. Apa yang kau katakan benar. Maaf membuatmu kaget. Apa jamuan ini tidak cocok dengan seleramu, Lili?"
"Tidak. Hidangan yang raja sajikan sangat nikmat dan menggugah selera. Bukan tidak cocok denganku."
"Lalu, kenapa kau hanya menginginkan segelas air putih saja sebagai minumanmu?"
"Maaf jika keinginanku menyinggung Yang Mulia. Tapi, aku tidak terbiasa minum minuman beralkohol Yang Mulia."
"Tidak terbiasa karena kau tidak membiasakannya. Jika kau sudah membiasakannya, kau akan jadi terbiasa." sahut putra mahkota Feng.
"Terbiasa lama-lama menjadi kebiasaan. Itu juga hal yang buruk." tambah pangeran Sirzechs.
Kedua pria itu saling menatap satu sama lain dengan wajah penuh amarah. Lili yang berada di tengah-tengah mereka, merasakan ada semacam atmosfer dingin yang menusuk di antara mereka. Lili pun menghela nafas dan mulai angkat bicara.
"Yang kalian katakan memang benar."
"Tentu." jawab keduanya secara bersamaan.
"Sudah... sudah. Ayo kita nikmati hidangan ini. Lili, aku harap hidangan ini cocok denganmu seperti yang kau katakan barusan."
"Iya, terima kasih Yang Mulia."
Kelimanya langsung menikmati hidangan yang tersaji di meja. Melihat raja, permaisuri dan kedua pangeran mengambil berbagai macam hidangan yang mereka pilih, Lili jadi teringat oleh keluarganya yang sekarang berada di rumah. Melihat piring Lili kosong, raja pun menegurnya.
"Sekarang apa lagi Lili? Jangan beralasan lagi."
"Tidak Yang Mulia. Maaf, aku sedang melamun. Maaf Yang Mulia."
"Tidak apa-apa."
Lili pun mengambil dan menusuk steak ayam yang berada di depannya dengan menggunakan garpunya. Namun, siapa sangka jika, Pangeran Sirzechs juga menginginkannya. Kedua sepasang mata itu bertemu dalam satu pandangan. Lili pun melirik steak ayam itu dan menarik garpunya. Namun siapa sangka jika steak ayam yang diinginkan pangeran Sirzechs diberikan kepadanya. Lili pun menoleh ke arah pangeran Sirzechs.
"Makanlah. Kau perlu banyak makan, karena kau masih dalam tahap pertumbuhan." ejek pangeran Sirzechs sambil meletakkan steak ayam itu ke atas piringnya.
Mendengar lelucon pangeran Sirzechs, seluruh orang yang berada disana tersenyum tak terkecuali raja. Lili pun mulai memerah dibuatnya.
"Permaisuri, tidak aku sangka jika anak lelaki kita bisa membuat lelucon."
"Kau benar sayang."
"Humph, biasa saja. Apa yang perlu dibanggakan dari lelucon itu!"
"Dan apa yang perlu dibanggakan mendapatkan gelar dari belas kasihan orang lain!"
"Kau!"
Brakkk!!!!
Suara raja memukul meja sangat keras, membuat seluruh orang yang menyaksikannya langsung tertunduk dan terdiam sesaat. Ini kali keduanya raja memukul meja. Lili pun menaruh alat makan yang ia pegang di atas piringnya. Raja menatap tajam ke arah putra mahkota Feng dan pangeran Sirzechs. Lili yang meliriknya sekilas bisa tahu bahwa raja sangat marah dan kesal dengan ulah mereka berdua.
"Maaf membuatmu merasa tidak nyaman dengan kejadian ini Lili."
"Tidak apa-apa Yang Mulia raja."
"Aku rasa aku harus memulainya sekarang. Lagipula kita semua sudah menyantap hidangan ini bukan? Jadi aku akan langsung ke topik pembicaraan ini."
Raja melambaikan tangannya seolah memberi isyarat kepada semua pelayan yang masih berada disini untuk pergi. Semua pelayan pun memberi hormat kepada raja dan undur diri. Sekarang yang berada di tempat ini hanya tinggal lima orang saja, termasuk raja.
"Lili, apa kau tahu kenapa aku mengundangmu kemari?"
Lili menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin bertanya, kenapa kau bisa masuk dan keluar dengan selamat dari hutan kematian itu?"
"Hanya sebuah keberuntungan saja Yang Mulia."
"Keberuntungan? Lili... oh Lili. Kau pikir aku ini siapa yang mudah kau bohongi. Kau tahu bukan siapa aku?!"
"Aku tahu. Kau adalah raja. Dan aku rakyat biasa. Aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan."
"Kau yakin kau sudah mengatakan yang sebenarnya."
"Iya."
"Apa kau tidak takut keluargamu akan ikut terseret jika kau ketahuan membohongi raja?!"
"Apa raja sedang mengancamku sekarang?!"
"Buuaahahahahaha.... aku mengancammu! Apa aku terlihat sesadis itu."
"Sedikit."
"Kau sangat jujur sekali. Aku semakin menyukaimu."
Mendengar raja berkata "Aku semakin menyukaimu" membuat Lili semakin bergidik. Tidak hanya Lili, bahkan permaisuri, putra mahkota dan pangeran Sirzechs juga kaget mendengarnya.
"Sayang..."
Belum selesai melanjutkan perkataannya, permaisuri ditodong oleh raja dengan isyarat tangannya. Permaisuri pun langsung terdiam.
"Lili, berapa usiamu sekarang?"
"Tujuh belas tahun, Yang Mulia."
"Oh, tujuh belas tahun. Sudah waktunya kau untuk menikah."
"Eh?"
"Ayahanda!" teriak putra mahkota Feng dan pangeran Sirzechs secara bersamaan.
"Cukup! Lili, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tak masalah jika kau tak ingin mengatakan kepadaku, bagaimana caranya kau bisa masuk dan keluar dengan selamat dari hutan kematian itu. Aku tidak akan memaksamu."
"Singkat cerita, apa yang Yang Mulia inginkan dariku?"
"Sederhana. Di usiamu yang sudah matang ini, aku akan menikahkanmu dengan salah satu anakku, bagaimana? Apa kau bersedia?"
Mendengar hal ini, baik pangeran Sirzechs dan putra mahkota Feng kaget bukan main. Sebagai seorang raja, ia secara blak-blakan mengungkapkan keinginannya untuk menikahkan salah satu anaknya kepada seorang gadis yang masih belia.
"Ini... maaf Yang Mulia. Ini terlalu cepat bagiku."
"Terlalu cepat?"
"Sayang, berilah waktu kepada Lili untuk memikirkan hal ini. Lagipula, ini sangatlah mendadak baginya. Kau pernah muda juga bukan?"
"Baiklah. Sesuai dengan keinginanmu. Kau dengar itu Lili, aku memberimu waktu untuk memikirkan hal ini. Ingat, sudah waktunya untukmu menikah, mempunyai pasangan."
"Terima kasih Yang Mulia atas perhatiannya."
"Aku harap, aku menerima jawaban yang memuaskan. darimu"
"Kalau begitu, aku pamit undur diri Yang Mulia. Terima kasih atas jamuannya. Maaf jika aku melakukan tindakan yang kurang berkenan, yang menyinggung perasaanmu."
"Ya. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke depan."
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Aku pamit undur diri dulu, Yang Mulia raja, permaisuri."
Raja dan permaisuri pun mengangguk secara bersamaan. Lili pun memberi hormat, kemudian melangkah pergi. Melihat Lili sudah pergi, pangeran Sirzechs mulai bertanya kepada ayahnya.
"Ayahanda, apa yang baru saja kau lakukan? Tidakkah kau memikirkan bagaimana perasaannya?"
"Sirzechs, sejak kapan kau mulai menjadi sentimentil? jangan bilang padaku... kalau kau jatuh cinta kepadanya?"