PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Api Cemburu


Mendengar namanya dipanggil, Lili pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Pangeran Sirzechs berjalan mendekat ke arahnya. Melihat Lili yang semakin hari semakin cantik dan tumbuh menjadi wanita dewasa, membuat Pangeran Sirzechs tersenyum tersipu malu. Wajahnya memerah seperti tomat segar.


"Yang Mulia, kenapa kau ada di sini?"


"Hanya lewat saja. Siapa sangka kita akan berjumpa lagi."


"Sebuah kebetulan juga, bisa bertemu dengan Yang Mulia disini."


"Apa kita berjodoh?!"


"Hanya kebetulan sekali saja, mana bisa dikatakan berjodoh."


"Sekali? Aku pikir berkali-kali kita bertemu."


"Ehem, jadi nona sering bertemu dengan tuan muda ini?"


"Kenapa kau malah mempercayainya?"


"Aku hanya bertanya, nona."


"Ehem. Siapa dia?"


"Dia pelayan pribadiku. Aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku."


"Oh."


"Yang Mulia, aku permisi dulu." kata Lili sambil memberi hormat dan membalikkan badannya.


Dengan cepat, Pangeran Sirzechs meraih tangan kanan Lili.


"Kau mau pergi kemana?"


"Pulang ke rumah."


"Jika kau berkenan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa kau mau... jalan-jalan denganku?"


Mendengar hal itu, Hana menyembunyikan senyumnya. Ia tersenyum melihat tingkah lucu Pangeran Sirzechs. Dengan penuh perhatian, Hana meminta izin kepada Lili untuk pulang terlebih dahulu. Kini tinggallah keduanya di taman itu. Keheningan tercipta diantara keduanya.


"Ehem, pelayanmu sudah pergi. Sekarang tinggal kita berdua. Kau mau kemana?"


"Terserah Yang Mulia Pangeran saja."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan."


"Baiklah."


Keduanya berjalan beriringan melewati pohon-pohon maple merah yang berjejeran di pinggir jalan. Angin bertiup sepoi-sepoi. Daun-daun berguguran diiringi suara kemerasak daun-daun yang berserakan di atas tanah. Jalanan yang mereka lalui sangat sepi, tak ada orang yang lalu lalang. Setiap mereka melangkahkan kakinya, akan terdengar suara kemerasak daun-daun yang berserakan di jalanan. Dari kejauhan jalanan yang mereka lalui, menjadi berwarna merah seperti lautan merah yang diterpa fajar. Sangat indah dan menenangkan mata yang memandangnya.


"Lili."


"Ya."


"Maaf jika aku lancang. Apa boleh aku bertanya sesuatu?"


"Boleh. Katakan saja. Akan aku jawab semampuku."


"Soal pernikahan yang telah diatur oleh Raja sebelumnya, apa kau menerimanya?"


Mendengar pertanyaan itu, Lili terdiam tanpa kata. Melihat reaksi Lili yang terdiam, belum menjawab pertanyaannya, membuat Pangeran Sirzechs merasa bersalah.


"Maaf. Maafkan aku. Aku..."


"Tidak apa-apa. Lagipula, kenapa kau menanyakan hal ini kepadaku?"


"Aku... aku hanya penasaran dengan jawabanmu."


"Cuman itu?"


"Iya."


"Aku pikir kau cemburu."


"Hah?!"


"Apanya?"


"Tidak apa-apa."


"Aku belum memberikan jawaban kepada Yang Mulia Raja."


"Kenapa?"


"Aku sendiri tidak tahu."


"Kenapa tidak tahu. Kalau tidak suka tinggal menolaknya. Kalau suka ya tinggal bilang iya. Apa susahnya?"


"Jika semudah itu bisa berbicara dengan seorang Raja, alangkah senangnya diri ini."


"Apa maksudmu?"


"Apa maksudku? Bukankah sudah jelas. Jika hal itu mudah dilakukan dan mudah dibicarakan, akan kulakukan. Tapi nyatanya, tidak. Lehermu atau keluargamu yang akan menjadi taruhannya."


Mendengar Lili mengatakan hal itu, membuat Pangeran Sirzechs tak bisa berkata-kata. Karena apa yang dikatakan oleh Lili, memang benar adanya. Tiba-tiba seekor kupu-kupu perak terbang mengitari Lili dan mendarat tepat di jari kiri Lili.


"Apa itu?" tanya Pangeran Sirzechs sambil mengamati seekor kupu-kupu perak yang sangat imut di jari kiri Lili. Ia sama seperti kupu-kupu yang lainnya, namun warna tubuhnya perak dan transparan. Binatang yang sangat indah.



"Ini kupu-kupu pembawa pesan."


Mendengar pujian Pangeran Sirzechs, Lili membalasnya dengan senyum kecil. Pipinya merona karena malu. Tak lama kemudian, kupu-kupu perak itu menghilang menjadi butiran putih dan terbang terbawa angin. Tanpa sengaja, Pangeran Sirzechs menatap ke arah Lili. Ia melihat, wajah Lili murung setelah kupu-kupu perak itu menghilang.


"Ada apa?"


"Ayahku memintaku untuk segera pergi ke istana sekarang."


"Biar aku temani."


"Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu."


"Aku tidak merasa direpotkan. Lagipula, aku juga mau ke istana."


"Baiklah."


Pangeran Sirzechs bersiul nyaring dan dari langit terbanglah seekor elang raksasa. Elang itu mendarat di atas tanah tepat di hadapan Pangeran Sirzechs dan Lili.


"Ayo naik Lili."


"Aku?"


"Iya. Kau duluan."


"Oke."


Dengan ragu-ragu ia melangkahkan kakinya. Sebelum naik ke atas punggung elang raksasa itu, Lili mengamati seluruh tubuh elang raksasa itu. Sangat besar dari elang pada umumnya.


"Ada apa Lili."


"Tidak. Tidak apa-apa."


"Tenang saja. Dia tidak menyakiti siapapun. Kecuali..."


"Kecuali apa?"


"Kecuali kau menggodanya, hahaha..."


Mendengar perkataan Pangeran Sirzechs yang menggodanya, membuat wajah Lili menjadi merah merona. Ia semakin tak berani untuk naik ke atas punggung elang raksasa itu. Menyadari bahwa Lili malu karena ia menggodanya, Pangeran Sirzechs hanya tersenyum gemas melihat tingkahnya.


"Haha... maaf. Aku becanda kok."


"Aku tahu."


"Ayo naik. Kenapa masih melamun?!"


Lili pun naik ke atas punggung elang raksasa itu diikuti oleh Pangeran Sirzechs dari belakang dan duduk dibelakang Lili. Suasana ini membuat keduanya merasa canggung.


"Apa kau sudah selesai Lili?"


"Iya."


"Baik. Kita berangkat."


Elang raksasa itu mulai mengepakkan kedua sayapnya yang besar dan lebar dan mulai terbang menuju langit. Elang raksasa itu membawa keduanya terbang melintasi awan-awan putih dan tak lama kemudian, dari bawah terlihatlah sebuah istana yang sangat indah, megah dan mewah. Sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Elang raksasa itu perlahan terbang ke bawah dan mendarat di depan gerbang istana yang dijaga para pengawal. Pangeran Sirzechs yang duduk di belakang langsung turun. Ia mengulurkan tangannya kepada Lili, membantunya untuk turun. Lili menangkapnya dan dengan hati-hati turun dari elang raksasa itu.


"Terima kasih ya." Kata Lili kepada elang raksasa itu.


"Kau boleh istirahat." Sahut Pangeran Sirzechs.


Elang raksasa itu mengangguk dan terbang ke atas langit dan bayangannya menghilang dengan cepat.


"Elang raksasa milikmu cepat sekali."


"Tidak secepat diriku."


"Benarkah?"


"Ayo kita berdua masuk ke dalam."


"Baik."


Pangeran Sirzechs berjalan di depan diikuti oleh Lili dibelakangnya. Kedua pengawal yang bertugas menjaga pintu gerbang, memberi salam sambil membungkukkan sedikit badannya. Pangeran Sirzechs membalasnya dengan anggukan pelan. Kedua pengawal itu langsung membuka pintu gerbangnya. Pangeran Sirzechs melangkahkan kakinya ke depan. Baru beberapa, ia berhenti. Dilihatnya Lili masih berdiri dan tidak beranjak dari tempatnya.


"Lili, apa yang kau tunggu? Ayo masuk."


Lili mengangguk pelan dan berjalan menuju Pangeran Sirzechs. Terdengar suara pintu gerbang ditutup dengan keras oleh kedua pengawal itu. Keduanya berjalan menuju aula pertemuan. Sesampainya di aula pertemuan, Lili melihat kedua orang tuanya dan adiknya yang sedang duduk di meja yang sudah disediakan oleh Raja. Di meja sisi lain, dilihatnya ada Putra mahkota dan Putri Cariz. Raja melihat kedatangan Pangeran Sirzechs dan Lili.


"Bagus. Kalian berdua sudah datang. Ayo cepat ambil tempat duduk kalian berdua!"


"Terima kasih Yang Mulia." kata Lili dan Pangeran Sirzechs secara bersamaan.


"Hmm."


Keduanya berjalan berbeda arah dan mengambil tempat duduk yang sudah disediakan. Melihat Lili datang bersama kakaknya (Pangeran Sirzechs), membuat Putra mahkota merasa sedikit marah. Hal itu jelas tergambarkan di wajah Putra mahkota. Melihat keduanya sudah duduk ditempatnya, Raja pun berdehem.


"Ehem. Karena semua sudah hadir dan lengkap, maka aku akan segera membahas ini. Lili!"


"Hadir Yang Mulia."


"Waktu yang telah ku berikan kepadamu sudah berakhir. Aku ingin mengetahui jawabanmu sekarang. Lagipula, kedua orang tuamu sudah menyetujui. Jadi tidak ada alasan untuk menolaknya bukan?"


"Yang Mulia, benar. Karena kedua orang tuaku sudah menyetujuinya, maka aku... menerima pernikahan yang sudah diatur oleh Kaisar."


Mendengar jawaban Lili yang sudah menyetujui pernikahan yang telah diatur oleh Raja, membuat Pangeran Sirzechs terkejut. Ia sangat kesal dan sambil mengepalkan tangan kanannya di atas meja.


"Bagus. Gadis yang baik. Dan untuk kau Sirzechs, aku sudah mempersiapkan sebuah kejutan untukmu. Karena adikmu, Feng sudah menikah. Maka dengan ini aku nyatakan bahwa Pangeran Sirzechs akan menikah dengan Putri Cariz."