PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Bertemu untuk Berpisah)


Mendengar hal itu, semua orang yang berada di sana mulai saling berbisik satu sama lain. Melihat pemandangan ini, Tetua Menzy menjadi semakin geram.


"Apa maksudmu?!"


"Maksudku?!"


"Pandai sekali kau bersilat lidah!"


"Konyol! Selama ini aku menghormatimu sebagai guru juga tetua disini. Tapi, apa pantas seseorang yang sangat dihormati dengan liciknya bermain dibelakang, menghancurkan impian muridnya sendiri!"


"Beraninya kau menuduhku seperti itu!"


"Cukup!"


Mendengar Raja berteriak, keduanya langsung terdiam sesaat. Raja sangat kesal dengan Lili. Tapi, demi menjaga martabatnya di depan semua orang, Raja pun mulai bertanya kepada Lili.


"Lili, kau mengatakan hal itu... apa kau mempunyai bukti?!"


Lili sudah menduganya hal ini akan terjadi padanya. Raja memintanya untuk menunjukkan sebuah bukti kepadanya. Jelas, Lili tidak bisa menunjukkan bukti tersebut. Jika dipikir-pikir kembali ,salah satu bukti hanyalah pria itu. Pria itu jelas adalah bukti saksi kunci semua ini. Namun, apakah dia mau membantunya? Lili bergulat dengan pikirannya saat ini.


"Kenapa kau diam, Lili? Aku tanya sekali lagi! Apa kau mempunyai bukti?"


"Mohon ampun Yang Mulia, aku memang tidak punya bukti. Karena saat kejadian itu, aku sedang dalam perjalanan pulang dan tiba-tiba diserang oleh segerombolan orang tak dikenal menggunakan cadar hitam."


"Humph, kau hanya berdalih saja!"


"Cukup Tetua Menzy! Aku tidak menyuruhmu untuk angkat suara!"


"Maafkan hamba Yang Mulia."


"Yang Mulia, aku rasa... kita harus menyelidiki masalah ini."


"Apa yang kau katakan benar istriku. Baiklah. Untuk masalah ini, aku akan memerintahkan hakim pengadilan kerajaan untuk menyelidikinya. Dan sesuai dengan janjiku, Tetua Menzy... kau tidak lagi memegang otoriter hukuman di sekolah lagi. Dan untuk kau, Lili."


Mendengar Raja memanggil namanya, perlahan Lili memberanikan dirinya mengangkat wajahnya dan menatap Raja yang duduk di depannya didampingi oleh permaisuri.


"Besok, kau temui aku di istana. Bawa token ini dan tunjukkan kepada penjaga gerbang istana." kata Raja sambil melemparkan token itu ke arah Lili. Dengan sigap, Lili menangkapnya.


Setelah ia menerima token itu, Lili pun memberi hormat kepada Raja dan permaisuri. Melihat hal itu Raja dan permaisuri beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Melihat Raja dan permaisuri pergi, semua orang yang berada di sini, serentak memberi hormat kepada keduanya. Keduanya berjalan menuju ke kereta kuda milik istana yang terparkir tepat di depan mereka. Ketika permaisuri hendak naik ke atas kereta, ia melihat ke belakang. Pandangannya tertuju kepada Lili yang juga menatap dirinya. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Matanya terbelak lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat Lili yang juga menatapnya, berubah menjadi sosok pria yang dia kenal sebelumnya. Ia pun mengedipkan matanya sambil menggelengkan kepalanya, berharap itu hanya halusinasinya saja. Perlahan ia membuka kedua matanya dan dilihatnya sosok dibelakangnya itu masih seorang gadis kecil yang tersenyum manis kepadanya.


"Ternyata itu hanya halusinasiku saja." batin permaisuri."


Melihat permaisurinya bersikap aneh, raja pun menegurnya.


"Ada apa?!"


"Tidak ada."


Permaisuri pun masuk ke dalam kereta kuda itu diikuti oleh raja dibelakangnya. Kereta kuda istana pun mulai bergerak maju meninggalkan tempat itu. Diikuti oleh kereta kuda kedua yang didalamnya ada putra mahkota dan putri Cariz. Melihat kereta kuda istana itu berlalu, Lili pun tersenyum dingin. Sorot matanya yang lembut tiba-tiba berubah menjadi tajam dan penuh dengan amarah. Seperti tatapan seorang pemburu yang mengawasi mangsanya dari kejauhan.


Di dalam Kereta kuda


Permaisuri masih termenung mengingat kejadian itu. Ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kejadian ini membuat hatinya menjadi gusar. Terlebih raja meminta Lili untuk datang ke istana besok pagi. Hal ini semakin membuatnya tidak tenang. Melihat istrinya gelisah, raja pun memegang tangan istrinya. Melihat Raja memegang tangannya, permaisuri pun menarik tangannya kembali. Melihat sikap aneh istrinya ini, raja pun menghela nafas dan bertanya.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Benarkah? Lalu kenapa kau sedari tadi terlihat gelisah?"


"Tidak."


"Humph, kau pikir aku ini bodoh?!"


"Apa maksudmu?"


"Pasti karena gadis kecil itu bukan, makanya kau bersikap dingin seperti ini padaku?!"


"Gadis kecil? Maksudmu Lili?"


"Mungkin selama tiga hari berada di hutan kematian itu, dia mengobati lukanya dan mencoba memulihkan meridiannya yang rusak."


"Omong kosong! Tak ada satupun dokter di dunia ini yang mampu mengembalikan meridian yang sudah hancur! Kecuali jika..."


"Kecuali apa?"


"Kecuali jika dia menggunakan kekuatan sihir hitam untuk bisa keluar masuk dari hutan kematian itu dengan selamat."


"Yang Mulia, tolong jaga cara bicaramu."


"Kenapa? Sepertinya kau tersinggung dengan perkataanku ini? Tidak, aku rasa bukan hanya itu yang membuatmu tersinggung kepadaku."


"Apa maksudmu?"


"Apa kau masih memikirkan mantan suamimu itu?!"


"..."


Mendengar raja menyinggung hal itu, permaisuri pun hanya terdiam. Ia tak berani menyangkal hal ini. Memang benar, ia masih belum bisa melupakan mantan suaminya yang telah pergi meninggalkan dirinya dan anak semata wayangnya, buah cinta dirinya dengan mantan suaminya yang tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apakah dia masih hidup atau sudah meninggal? Atau apa dia menikah lagi dengan wanita yang ia temui di sana? Sungguh sangat berat jika mengingat hal itu. Jika bukan karena desakan dari sang ayah, ia tidak akan menikahi adik dari mantan suaminya. Ia lebih memilih untuk sendiri membesarkan anaknya, sembari menunggu kepulangan suaminya. Bahkan ia rela menjadi janda muda dengan anaknya yang masih berumur satu tahun. Namun, takdir berkata lain. Dengan terpaksa ia menerima lamaran raja yang dulunya menjadi adik iparnya. Kini ia harus menelan pil pahit dalam hidupnya. Menikah dengan adik iparnya sendiri. Dan itu bukan hal yang baik baginya. Ia sadar, bahwa sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan berakhir bahagia.


"Humph, ternyata memang benar. Kau masih memikirkan dia! Apa bagusnya dia dibandingkan denganku?!"


"Apa yang kau katakan? Bukankah dia adalah kakakmu sendiri?! Mengapa kau setegea itu kepadanya?!"


"Kakak? Aku tidak ingat pernah memiliki kakak seperti dia?!"


"Plak!!!"


Dengan penuh amarah, permaisuri menampar raja dengan sangat keras. Ia menamparnya dengan ekspresi kemarahan yang memuncak. Entah kenapa, hatinya meledak seolah tidak terima mantan suaminya dihina oleh adiknya sendiri, yang tak lain kini menjadi suaminya. Ada penyesalan dalam hatinya yang takkan bisa kembali lagi. Jika tahu bahwa pernikahan ini hanya menyiksa dirinya, lebih baik ia tidak menikah lagi. Raja pun mengusap pipinya yang memerah dan ada bekas kelima jari tangan permaisuri di sana. Dengan senyumnya yang merendahkan, raja pun mengejeknya.


"Huh, tanda cintamu ini luar biasa!" kata Raja sambil menatap tajam ke arah permaisuri.


Melihat sorot mata raja yang penuh dengan amarah, permaisuri pun berbalik mengalihkan pandangannya. Ia tahu persis seperti apa kemarahan pria yang duduk di sampingnya sekarang.


"Kau beruntung saat ini. Aku dalam suasana yang baik! Tapi tidak ada lain kali lagi!"


Perkataannya seolah sedang mengancamnya. Seolah sudah menduganya sedari awal, permaisuri memilih untuk diam sepanjang perjalanan hingga sampai ke istana. Begitu juga dengan raja yang memilih untuk diam. Keduanya tak saling berbicara di sepanjang perjalanan. Di sisi lain, semua orang yang berada di area pinggir hutan kematian, berangsur-angsur pergi satu persatu meninggalkan Lili dan keluarganya. Tak mau ketinggalan, Lili dan keluarganya pergi meninggalkan tempat itu. Lili berjalan paling belakang di antara mereka. Baru beberapa langkah, Lili menoleh ke belakang. Ia melihat ke arah hutan kematian. Hutan yang ditakutti oleh semua orang di negeri ini, ternyata hanyalah isapan jempol. Hutan Kematian itu tidak seseram yang di bicarakan. Hutan kematian itu adalah hutan terindah yang pernah ia lihat waktu kecil. Sewaktu kecil, Lili sering bermimpi bahwa dirinya berada di sebuah hutan yang gelap gulita. Dan ternyata hutan itu adalah hutan kematian yang telah ia masukki saat ini. Hutan ini ternyata memiliki pemilik. Dan pemilik itu tidak lain dan tidak bukan adalah roh pria yang berada di dalam tubuhnya. Terdengar suara pria dari belakang sedang menyapanya. Sapaannya itu membuyarkan lamunannya.


"Lili."


"Oh, ternyata itu kau."


"Kenapa kau memandangi hutan itu? Apa kau akan tinggal di sana?"


"Kau itu bodoh ya. Siapa yang ingin tinggal di sana!"


"Ternyata kau gadis preman ya?!"


"Hah?!"


"Bahkan kau berani berkata kasar kepada pangeran ini!"


"Ah, maaf pangeran. Ampun. Ampuni aku pangeran. Jangan penggal kepalaku!"


Mendengar hal itu, roh itu tertawa terbahak-bahak. Ia merasa tingkah laku Lili sangatlah lucu. Melihat roh itu tertawa terbahak-bahak, Lili pun tersenyum.


"Kenapa kau senyam-senyum?!"


"Yang Mulia, maaf jika aku lancang. Kau pasti sudah mendengarnya. Apa kau sudah siap untuk pergi ke istana?!"


"Tentu saja aku siap. Lagipula sudah waktunya bertemu untuk berpisah. Mohon bantuannya."


"Emm." sahut Lili sambil menganggukkan kepalanya.


Angin berhembus kencang menerbangkan beberapa dedaunan kering yang berjatuhan di sekitar mereka berdua dan terbang menuju ke atas langit. Penyesalan di masa lalu tidak akan terulang kembali. Hari esok adalah langkah untuk pergi meninggalkan masa lalu dan mulai merangkul masa depan.