PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Malam Pertama (2)


Putra mahkota Feng lalu membaringkan tubuh Lili dengan lembut di atas tempat tidur. Lalu ia melepaskan kain putih yang menutupi tubuhnya dan melemparkannya di atas lantai. Ia menarik tali yang mengikat kelambu tempat tidurnya. Perlahan kelambu itu turun dan menutupi tempat tidur. Dengan sangat jelas, Lili bisa melihat tubuh kekar putra mahkota Feng dengan delapan otot-otot diperutnya. Putra mahkota Feng menyentuh kedua pipi Lili secara bergantian.


"Berhenti. Jangan sentuh aku! teriak Lili."


"Sssttt... tenanglah. Jangan berteriak. Apa kau ingin mengundang seluruh penghuni istana ini?!"


Kemudian ia mencium lembut leher Lili.


"Berhenti! Aku bilang... ber... henti!"


Mulut Lili dibungkam oleh putra mahkota Feng dengan mulutnya. Ia ingin mendorong jauh tubuh putra mahkota Feng, namun ia terkena titik akupuntur. Putra mahkota Feng sangat menikmati bibir Lili. Kedua tangannya meraih tangan Lili dan menggenggamnya kuat. Lili merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam mulutnya. Ia mulai menarik kain putih yang menutupi tubuh Lili. Kini keduanya polos tanpa sehelai benang. Putra mahkota Feng sangat tergoda melihat keindahan tubuh mungil Lili yang putih mulus. Melihat dirinya ditatap tajam oleh putra mahkota Feng yang kini telah secara resmi menjadi suaminya, membuat Lili tak berani menatapnya. Wajahnya memerah seperti tomat segar. Berbeda dengan putra mahkota Feng. Ia melihat Lili seperti harimau yang mengincar mangsanya yang berada di depan matanya.


"Kenapa kau memalingkan wajahmu, sayang? Aku sangat ingin melihat wajahmu yang tersipu malu itu." goda putra mahkota Feng sambil memegang dagu Lili.


"Jangan sentuh aku!"


"Semakin kau melarang, semakin aku ingin menyentuh semuanya." ucap putra mahkota Feng sambil mencium area sekitar lehernya kemudian menyusuri dua gundukan gunung kembar yang seputih salju itu.


"Kau! Ahh... ahh... berhenti! Aku bilang... ahh!" ucap Lili dengan tubuh gemetaran.


Putra mahkota Feng mencium dua gunung kembar itu. Ia melakukan hal itu secara bergantian. Lili tak kuat menahan rasa geli di sekujur tubuhnya. Terdengar suara merdu dari mulut Lili, membuat putra mahkota Feng semakin bersemangat untuk menerobos masuk ke dalam lubang surgawi dengan menggunakan pedangnya. Lili mencoba memaksa melepaskan titik akupuntur di dalam tubuhnya dengan tenaga dalamnya. Sayangnya, titik akupuntur itu berhasil ia pecahkan dengan menggunakan tenaga dalamnya, namun ia merasakan tubuhnya tidak lagi bertenaga untuk melawannya. Melihat Lili berhasil memecahkan titik akupuntur yang ada di dalam tubuhnya, membuat putra mahkota Feng menyeringai.


"Hebat... sungguh hebat. Memang pantas kau menjadi istriku. Sayangnya, kau tidak memiliki tenaga untuk melawanku kan?"


"Kau...!" teriak Lili sambil berusaha memberontak. Menarik kedua tangannya yang ditahan oleh kedua tangan putra mahkota Feng.


"Sayang, jangan berontak lagi. Cukup diam dan nikmati saja malam ini. Kau tidak perlu takut. Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan." bisik putra mahkota Feng di telinga Lili.


Melihat Lili yang berusaha memberontak, putra mahkota Feng menahan kedua tangannya dengan sekuat tenaga. Keringat mulai bercucuran, membasahi wajah tampan putra mahkota Feng. Kedua nafas mereka terengah-engah. Tak lama kemudian, putra mahkota Feng berhasil menerobos pertahanan Lili. Terlihat ekspresi nikmat di wajah putra mahkota Feng.


"Ahhhhhhhhhh!!!!" teriak Lili kesakitan.


"Ahhh... sialan. Aku mau keluar!!"


"Maaf, aku terlalu bersemangat." bisik putra mahkota Feng


Lili tak menghiraukan kata-katanya. Karena ia tahu, bahwa putra mahkota Feng tidak akan melepaskannya kali ini. Dan benar dugaannya, putra mahkota Feng melakukan hal itu lagi, lagi dan lagi. Lili tak kuasa menahan rasa panas yang mengalir di dalam tubuhnya.


"Ahhhhh!" teriak Lili dan putra mahkota secara bersamaan.


Lili merasa sangat kelelahan dan ia merasa tubuhnya seperti dicabik-cabik. Melihat Lili yang kelelahan, putra mahkota Feng akhirnya memeluknya dan tidur disampingnya. Tubuhnya tertutupi oleh tubuh kekar putra mahkota Feng. Lili merasakan pengalaman yang luar biasa dimalam pertamanya dengan pria yang tidak ia cintai. Bulir-bulir air matanya mengalir di kedua pipinya. Putra mahkota Feng lalu mencium Lili. Keduanya saling memejamkan matanya sambil berpelukan. Lili yang perlahan memejamkan kedua matanya, tiba-tiba perlahan membuka kedua matanya. Ia merasakan ada sesuatu yang menekannya, lagi dan lagi.


"Dia..." gumam Lili dalam hati.


Lili melihat putra mahkota Feng tidaklah tidur. Ia terus melakukan hal itu lagi dan lagi kepadanya. Putra mahkota Feng benar-benar sangat menyukainya. Siapa sangka gadis yang ada didepannya ini, yang kini telah menjadi istrinya, dulunya enggan ia perhatikan. Malahan memberikan kenangan indah di malam pertamanya. Dan membuat ia sangat ketagihan. Putra mahkota Feng terus menidurinya semalaman, hingga Lili tak bisa tidur. Mereka berdua melakukannya dari semalaman sampai pagi hari. Semalam dia benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Suka tidak suka, ia harus melakukannya. Tidak peduli orang yang telah menjadi suaminya mencintainya atau tidak, dia harus tetap menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Ia teringat kejadian semalam yang membuatnya tidak pernah menyangka akan ada hari dimana dia harus berhubungan intim dengan seorang pria. Dan hari itu telah tiba. Hari dimana ia membiarkan seorang pria mengambil keperawanannya. Seorang pria yang secara resmi telah menjadi suaminya. Pria yang tak pernah memandangnya, menyapanya, terlebih melindunginya. Tak terasa air mata menetes keluar dan membasahi kedua pipinya. Ia berusaha untuk menolak, tapi takdir berkata lain. Perlahan-lahan ia memejamkan kedua matanya. Berharap semua yang telah terjadi semalaman hanyalah sebuah mimpi buruk, yang segera berakhir ketika matahari pagi mulai bersinar.


Pagi Hari


Lili perlahan membuka kedua matanya. Ia merasakan sinar cahaya matahari pagi yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela kamarnya. Tubuhnya diselimuti oleh selimut berbulu yang tebal dan berwarna merah. Ia berusaha bangun dari tidurnya, namun sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Dia menoleh ke arah samping dan dilihatnya kosong. Tidak ada putra mahkota Feng yang tidur disebelahnya. Lili merasakan rasa sakit dikepalanya. Ini karena semalaman ia begadang, tidak tidur. Karena harus melayani suaminya di malam pengantin. Ia turun dari tempat tidurnya sambil menyelimuti dirinya dengan selimut tebal berbulu berwarna merah. Ia berjalan menuju cermin yang berada di meja riasnya. Ia melihat tubuhnya penuh dengan bercak merah.


Tok... Tok... Tok... (suara pintu diketuk dari luar)


"Siapa?"


"Aku Hana, Yang Mulia."


"Ada apa?"


"Yang Mulia, putra mahkota memintaku untuk membantumu membersihkan diri."


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Jika aku membutuhkan bantuanmu, aku akan memanggilmu."


"Baik Yang Mulia."