
Tiga Hari Kemudian
"Bagaimana keadaannya? Apa sudah ada perkembangan?"
Suara seorang pria dari balik pintu berjalan mendekat. Melihat Lili yang masih dalam keadaan koma belum sadarkan diri.
"Belum Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia jangan khawatir. Hamba sudah mengobati luka luar ditubuhnya. Hamba juga sudah meracik obat untuknya. Takutnya, ada luka dalam di dalam tubuhnya."
"Setidaknya dia bisa bangun, itu sudah cukup bagiku."
"Yang Mulia, maaf jika hamba lancang. Sebenarnya, siapa gadis muda ini?"
"Dia... teman terbaikku. Sekaligus orang yang spesial dalam hidupku."
"Yang Mulia, apakah anda..."
"Cukup. Aku tahu apa yang ingin kau katakan?!"
"Maafkan hamba Yang Mulia."
"Kau tidak perlu meminta maaf. Lagipula, ini bukan salahmu."
"Yang Mulia, apakah anda merindukan dia?"
"Rindu? Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya merindukan seseorang?"
"Yang Mulia."
"Shion, apa kau tau... sejak awal aku bertemu dengannya, aku sangat menginginkannya. Aku tidak ingin orang lain memilikinya. Aku tidak rela, orang lain menyakitinya. Kau tahu kenapa? Karena dia satu-satunya mentari dalam hidupku. Apakah aku jatuh cinta padanya?
"Ini, Yang Mulia maafkan hamba. Hamba tidak bisa menjawabnya."
"Itu karena kau jomblo abadi."
"Eh??!!"
"Yang aku tahu, bahwa pertemuan pertamaku dengannya telah merubah hidupku."
Pria itu berkata sambil memandang tubuh mungil yang tak berdaya tertutupi selimut tebal berbulu berwarna putih, sedang tertidur diatas kasur miliknya. Ia menghampiri dan duduk di sebelah kasurnya sambil meraih dan menggenggam tangan kiri gadis itu. Tangan dingin mungilnya seolah menusuk hati pria ini. Ia merasa bersalah seolah dia melakukan kesalahan yang sama di masa lalu. Ia mengecup lembut tangan mungil itu sambil memandang wajah damainya yang sedang tertidur. Melihat Tuannya bertingkah sangat menyedihkan seolah ditinggal pergi kekasihnya yang telah meninggal dunia, Shion hanya menghela nafas. Sebagai dokter kerajaan yang berpengalaman dan terpercaya di keluarga kerajaan, merasa dirinya sangatlah miskin pengetahuan. Ia yang terkenal cerdas di usia muda dan tau segala macam penyakit dan pengobatan, merasa bahwa ada satu hal yang tak bisa ia lakukan sebagai dokter dan dia merasa sangat gagal dalam hal itu. Ia tidak bisa menyembuhkan orang yang terkena Penyakit Jatuh Cinta. Ya, penyakit ini mempunyai gejala-gejala yang berbeda dan susah di diagnosis dan bahkan tak ada obatnya. Bahkan bahaya pun bermacam-macam. Banyak orang yang mengeluh kepadanya tentang penyakit yang mereka di deritanya. Salah satunya penyakit jatuh cinta dan sakit hati. Kedua penyakit ini amat sangat membuat dia merasa pusing bahkan tak tidur semalaman. Bagaimana tidak? Lebih baik ia mengobatti orang yang sakit akibat pertempuran, daripada memberi saran pada orang yang jatuh cinta dan sakit hati. Karena keduanya tak punya obat dan sulit di sembuhkan. Jalan satu-satunya, jadilah pendengar setia pada mereka yang sedang jatuh cinta atau sakit hati. Karena yang bisa menyembuhkannya, hanyalah keinginan dari hati mereka sendiri. Bisakah mereka melepaskannya dengan ikhlas atau mengikatnya dan semakin terobsesi dengan sesuatu yang sudah ditakdirkan tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Yang Mulia, apakah kau ingin merawat gadis ini sampai dia sembuh?!"
"Ya."
"Bagaimana jika dia tidak mengenalimu?"
"Mengapa kau berkata begitu?!"
"Yang Mulia, dari informasi yang hamba terima, gadis ini tidak jelas asal-usulnya. Sangat tidak mungkin jika dia adalah Ratu yang kita cari?"
"Mengapa tidak mungkin?"
"Karena Ratu yang kita kenal adalah seorang wanita yang tangguh. Dia sangat ahli dalam menggunakan sihir hitam. Dan semua orang tahu akan hal itu."
"Benarkah?"
"Bahkan, kehidupannya sangat menyedihkan. Dihina, Dipandang rendah, segala hal buruk tentangnya tidak akan pernah habis diceritakan dalam seribu satu malam."
"Yang Mulia, dari mana anda mengetahui semua tentangnya???"
Pria itu meletakkan kembali tangan mungil gadis itu dalam keadaan semula dan beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Shion yang memasang wajah penuh tanya dan menatapnya. Shion merasa bersalah tentang pertanyaannya yang dinilai kurang sopan. Ia tak berani membalas tatapan tajam Tuannya. Ia hanya menundukkan kepalanya ke bawah. Melihat Shion tak berani menatapnya, Pria itu berjalan ke arah jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka lebar. Pria itu menatap ke luar jendela. Ia melihat bulan purnama malam ini sangat besar dari biasanya. Tiupan angin malam membuat gorden kamarnya menari-nari indah. Bahkan belahan potongan samping rambut hitam pendeknya yang menutupi sebagian wajahnya, ikut menari-nari juga. Sambil memandang langit yang cerah, pria itu berkata "Dua ratus tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Pertemuan pertamaku dengannya membuatku ingin mengenalnya lebih dalam..."
...Dua Ratus Tahun Yang Lalu...
...Zwart Land...
...Kota E...
"Kakak... kakak... kenapa kau melamun?"
"Tidak."
"Kenapa kakak diam saja?"
"Lalu? Kau ingin aku melakukan apa?"
"Tidak ada."
"Dasar!"
Di tengah perjalanan pulang, mereka melihat seorang pengemis duduk di pinggir jalanan. Pengemis itu tampak mencurigakan. Pakaian yang dikenakannya tidak seperti pakaian pengemis yang terlihat compang camping. Pakaian yang dikenakannya hanyalah sebuah jubah hitam yang kusut. Namun, bagi mata orang awam, itu hanyalah jubah biasa yang kusut dan sudah layak untuk dibuang. Tapi bagi mata seorang master sihir ilmu hitam, jubah itu bukan jubah sembarangan. Jubah itu mengandung aura kebencian yang luar biasa. Sayangnya di negeri ini, tidak diperbolehkan untuk mempelajari sihir ilmu hitam dengan alasan apapun. Jika ada yang ketahuan mempelajarinya, hukuman beratnya adalah mati. Jika beruntung, hanya akan diasingkan di tempat lain. Tapi tentu saja, hukuman yang paling berat adalah dikucilkan dalam kehidupan sosial. Itu bisa membuat pelaku mengalami tekanan mental yang bisa mengakibatkan kematian. Melihat ada seorang pengemis di tengah jalan, sang adik pun berteriak kepada kakaknya sambil menunjuk ke arah pengemis itu "Kakak, lihat ada pengemis di sana!"
Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang digandengnya bernama Lexi. Adik kandung Lili.
"Memangnya kenapa?"
"Kakak tidak kasihan? Sebaiknya kita beri saja dia makan."
"Memangnya kau punya uang?"
"Tidak. Aku hanya punya satu permen." sambil menunjukkan permen lollipop yang dibawanya.
"Cuman ini?! Lupakan. Ini kau beri padanya." Kata Lili sambil memberikan uang kertas kepada adiknya.
"Untuk apa uang itu kakak?" sambil menerima uang pemberian kakaknya
"Bukannya kau ingin menolong pengemis itu agar dia tidak kelaparan."
"Oh... iya... iya. Ayo kakak kita kesana. Berikan uangnya, lalu kita segera pulang."
"Oke."
Tangan kecil mungil itu memberikan uang kepada pengemis itu. Melihat ada seorang anak kecil memberinya uang kertas, pengemis itu hanya melihatnya tanpa mengambilnya.