PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Love Vs Betrayal (3)


Entah berapa lama Lili berjalan menyusuri hutan kematian. Darah mengalir di sela-sela kedua kakinya. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, terutama area perut dan k*maluannya, ia duduk menyandarkan dirinya di batang pohon besar.


"Ya Tuhan... kenapa aku mengalami pendarahan lagi. Beberapa saat yang lalu, Hana sudah mengobatiku. Kenapa ini masih keluar dan seolah tidak berhenti?!" gumam Lili dengan ekspresi gelisah di wajahnya.


Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki seseorang yang terbang menuju ke arahnya. Ia pun menoleh ke belakang dan dilihatnya putra mahkota Feng mengacungkan pedang ke arahnya. Spontan Lili langsung mengambil busur panah es miliknya yang tersembunyi di ruang penyimpanan miliknya. Dengan cepat ia menahan serangan pedang putra mahkota Feng (suaminya) yang mengarah kepadanya. Kedua senjata sihir itu bertabrakan dan mengakibatkan ledakan angin di sekitarnya. Keduanya saling menahan serangan satu sama lain. Tangan kanan Lili mulai gemetaran menahan serangan yang dilancarkan oleh suaminya. Pandangan kedua matanya mulai terasa kabur.


"Aku harus segera mengakhiri ini dan kabur secepat mungkin!" batin Lili.


Dengan tenaga dan kekuatan yang masih tersisa, Lili pun mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya pada busur panah es yang ia pegang. Aliran sihir yang dahsyat mengalir di sekeliling busur panah es miliknya, dan membuat putra mahkota Feng terpental menjauh darinya. Melihat putra mahkota Feng (suaminya) terpental jauh akibat serangannya, Lili pun muntah darah. Busur panah es miliknya ternoda oleh darah yang keluar dari mulutnya. Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah putra mahkota Feng. Pandangan kedua matanya mulai kabur. Samar-samar ia tidak bisa melihat, putra mahkota Feng sedang berjalan menuju ke arahnya. Dan saat putra mahkota Feng mengacungkan pedang ke arahnya, Lili hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong di kedua matanya.


"Apakah aku akan berakhir di tangan mantan suamiku sendiri?!" batin Lili.


Tak terasa bulir-bulir air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Melihat istrinya sedang menangis, Putra mahkota Feng sama sekali tak tergerak hatinya.


"Untuk apa kau menangis?! Semuanya sudah terlambat sekarang!"


"Aku tidak menangis. Aku malah bahagia, kau tahu kenapa? Karena sebentar lagi, aku akan berkumpul dengan keluargaku yang telah dibantai oleh ayahmu!"


Mendengar hal itu, putra mahkota Feng terkejut. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia tahu bahwa semua masalah ini, berawal dari ayahnya. Jika ayahnya tidak mempercayai ramalan itu, hubungan antara dia dan Lili tidak akan kandas seperti ini.


"Aku tahu semua ini adalah ulah dari almarhum ayahandaku! Tapi, pelaku pembunuhan seorang raja juga harus diberi hukuman. Jika tidak, rakyatku akan menilai bahwa aku adalah raja yang tidak bisa bersikap adil!"


"Raja ya?!" batin Lili dengan senyum menyeringai di wajahnya.


Tanpa banyaknya basa-basi, Putra mahkota Feng langsung mengangkat pedangnya ke udara dan mulai menebas leher Lili, namun pedangnya ditahan oleh pedang yang lain. Lili yang mengetahui bahwa yang berdiri di depannya adalah pangeran Sirzechs, yang telah menolongnya dari tebasan pedang yang diarahkan oleh suaminya, hanya bisa terdiam terpaku. Bibirnya bergetar seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Pangeran Sirzechs, sahabatnya telah menyelamatkan nyawanya. Pangeran Sirzechs menoleh ke arah Lili. Dan dilihatnya, kondisi Lili yang sangat menyedihkan, dengan sekujur tubuh penuh luka dan wajah pucat pasi. Tidak hanya itu, ia melihat ada darah segar mengalir dari kedua kakiknya. Melihat wanita yang ia cintai dalam kondisi yang sangat menyedihkan dan segera butuh pertolongan, membuat pangeran Sirzechs semakin marah. Keduanya pun saling beradu pedang. Pangeran Sirzechs sengaja mendorong adiknya, putra mahkota Feng menjauh dari Lili.


"Aaaakkkkhhhhh!!!" teriak Lili kesakitan.


Mendengar suara teriakan Lili, baik putra mahkota Feng dan pangeran Sirzechs langsung menghentikan duel mereka. Keduanya menoleh ke arah Lili yang berteriak kesakitan sambil memegang perutnya. Pangeran Sirzechs segera berlari ke arahnya. Melihat kakak tirinya yang berlari menuju ke arah istrinya yang sedang teriak kesakitan, ada secuil rasa cemburu di hatinya.


"Cih!" umpat Putra mahkota Feng dengan wajah muram.


"Lili, apa yang terjadi padamu?!" tanya pangeran Sirzechs sambil memegang tangan kiri Lili yang menyentuh tanah.


Lili yang melihat tangannya disentuh oleh pangeran Sirzechs, yang sekarang menjadi kakak iparnya, Lili pun menepisnya.


"Bukan urusanmu! Menjauhlah dariku!"


"Lili..."


"Aku bilang, menjauh dariku!" bentak Lili sambil mengerahkan seluruh kekuatannya yang masih tersisa.


Ekspresi wajahnya berubah menjadi pucat pasi akibat kekurangan darah karena pendarahan yang keluar secara tiba-tiba.


"Aku harus segera melarikan diri dari tempat ini! Tuhan, jika ini memang takdirku untuk mati di tempat ini, aku ikhlas. Tapi, jika aku jatuh pada salah satu dari keduanya, aku... lebih baik memilih untuk bunuh diri..." batin Lili.


"Dia sudah pergi!"


"Aku tahu!"


"Lalu, kenapa kau masih berdiri di sana?!"


"Feng, tidakkah kau merasa khawatir padanya?!"


"Apa maksudmu?!"


Pangeran Sirzechs segera membalikkan badannya dan menatap putra mahkota Feng, adiknya. Melihat kakak tirinya menatapnya dengan tatapan tajam, putra mahkota Feng hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.


"Tidakkah kau lihat raut wajahnya yang pucat pasi?!"


"Apa?!"


"Humph! Jangan bilang kau tidak mengetahui hal kecil semacam ini?!"


"Dia adalah ratu iblis! Bukan hal yang aneh jika ekspresi wajahnya seperti itu! Dia terlalu lama bergelut dalam ilmu hitam!"


"Dia melakukan hal itu karena terpaksa!"


"Kakak, sepertinya... kau sangat mengenalnya dibandingkan dengan diriku yang menjadi suaminya?!"


"Itu karena kau terlalu acuh tak acuh kepadanya. Tidakkah kau tahu, bahwa dia sedang mengandung anak kandungmu?! Darah dagingmu sendiri?! Aku tebak, kau belum mengetahui hal ini?!" tanya pangeran Sirzechs dengan ekspresi dingin di wajahnya.


Nada bicaranya terdengar sangat kasar kepada adik tirinya. Langit yang tiba-tiba cerah seketika berubah menjadi mendung. Dan gemuruh kilatan petir mulai menghiasi langit-langit yang mendung, pertanda akan turun hujan. Mendengar kakak tirinya, Pangeran Sirzechs mengatakan hal itu kepadanya, wajah angkuh putra mahkota Feng seketika langsung berubah menjadi muram. Melihat tak ada ekspresi keangkuhan di wajah adik tirinya, pangeran Sirzechs berbalik dan meninggalkan adiknya. Baru beberapa langkah, putra mahkota Feng memanggil dirinya. Seketika itu, langkah kaki pangeran Sirzechs terhenti.


"Berhenti disana!" teriak putra mahkota Feng.


"Ada apa?!" tanya pangeran Sirzechs tanpa menoleh ke belakang.


"Kakak, kau tahu dari mana tentang hal ini?!"


"Tidakkah kau melihat luka di sekujur tubuhnya?! Seharusnya kau lebih tahu hal ini daripada aku, yang bukan suaminya!" tegas Pangeran Sirzechs.


Pangeran Sirzechs segera pergi meninggalkan putra mahkota Feng yang masih berdiri mematung di tempat itu. Perlahan-lahan hujan mulai turun dan semakin deras. Menyapu darah segar yang masih membekas di atas tanah dan rerumputan. Diam-diam putra mahkota Feng mengingat sikapnya yang hendak membunuh Lili, istrinya. Kedua matanya terbelalak, mengingat bahwa wajah Lili saat itu pucat pasi dan ditambah ada darah segar yang mengalir dari kedua kakinya. Putra mahkota Feng menutup kedua matanya dengan tangan kanannya sambil tertawa.


"Hahaha... Lili oh Lili! Tak kusangka kau... bahkan kakakku pun tergoda olehmu! Tidak! Tapi aku! Aku... aaarrrgggghhhhhhh!!!!" teriak putra mahkota Feng dengan wajah putus asa.


Teriakannya membuat langit menjadi ikut murka dengan mengeluarkan suara gemuruh dahsyat di langit.