PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Sebuah Pilihan


Tiba-tiba bayi perempuan yang digendong oleh pengawal pribadinya itu menangis sangat keras. Hal itu membuat Raja Arches langsung teringat kepada sosok kecil imut nan lucu itu. Ia segera melepaskan pelukannya dan menyandarkan tubuh Alviercha di batang pohon. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pengawal pribadinya yang berusaha menenangkan tangisan bayi itu.


"Kenapa bayinya menangis?!"


"Aku tidak tahu Yang Mulia."


"Kenapa tidak tahu?!"


"Karena aku bukan ibunya Yang Mulia."


Mendengar jawaban pengawal itu, Raja Arches menghela nafas. Memang apa yang dikatakan oleh pengawal pribadinya itu memang ada benarnya. Tapi bagaimana caranya ia menenangkan bayi itu yang sedari tadi menangis, setelah kematian ibunya?


"Yang Mulia, hamba punya ide."


"Katakan!"


"Bagaimana kalau kita titipkan saja bayi ini ke Panti Asuhan. Dengan begitu, Yang Mulia bisa hidup tenang tanpa mengasuh bayi ini."


Raja Arches pun segera berpikir dengan apa yang dikatakan oleh pengawalnya. Tidak mungkin baginya yang baru saja naik tahta menjadi Raja, mengasuh bayi perempuan yang mungil ini. Ini akan menjadi boomerang baginya. Musuh-musuhnya akan menjadikan bayi ini sebagai titik kelemahan dirinya.


"Baiklah. Aku setuju denganmu. Ayo kita pergi dari sini!" ucap Raja Arches sambil berbalik menggendong Alviercha yang sudah meninggal dunia.


Panti Asuhan


Raja Arches menyerahkan bayi perempuan itu kepada ibu pemilik panti asuhan itu, yang didampingi oleh salah satu karyawannya.


"Tolong jaga bayi ini untukku. Dia adalah anak dari sahabat terbaikku."


"Tentu saja Yang Mulia. Yang Mulia, tidak perlu mengkhawatirkannya. Kami akan menjaganya seperti anak kami sendiri."


"Setiap bulan, aku akan mengirimkan seseorang untuk datang kemari membawakan segala perlengkapan dia."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Baik Yang Mulia. Hati-hati di jalan."


Untuk terakhir kalinya, Raja Arches memandang bayi perempuan itu yang tersenyum kepadanya.


"Paman pergi dulu ya. Jangan nakal. Jadilah anak perempuan yang baik." bisik Raja Arches kepada bayi perempuan itu sambil mencium dahinya. Bayi perempuan itu tersenyum sambil memainkan kedua tangannya seolah ia tidak ingin melihat Raja Arches pergi meninggalkannya.


Melihat hal itu, Raja Arches meminta izin untuk menggendongnya sebentar untuk terakhir kalinya. Pemilik panti asuhan itu segera memberikan bayi perempuan itu kepada Raja Arches. Betapa bahagianya Raja Arches melihat senyum polos di wajah bayi cantik mungil itu. Tak henti-hentinya ia mencium kedua pipinya dan dahinya.


"Sebenarnya, paman tidak ingin meninggalkanmu. Tapi, akan sangat berbahaya jika kau tinggal dengan paman. Paman berharap, kau akan mengerti suatu hari nanti. Bahwa paman melakukan hal ini untukmu." gumam Raja Arches. Bayi perempuan itu kembali tersenyum kepadanya, seolah mengerti apa yang dikatakannya.


Raja Arches pun memberikan bayi itu kembali kepada ibu pemilik panti asuhan tersebut. Segera ia berpamitan pergi diikuti oleh kedua pengawal pribadinya. Ketiga pria itu meninggalkan panti asuhan tersebut. Terlihat wajah Raja Arches yang sedikit muram. Namun perlahan ia mulai tersenyum. Ia percaya bahwa keputusan yang ia pilih adalah benar.


...****************...


Lima Belas Tahun Kemudian


Raja Arches berdiri di sebuah jembatan berwarna merah yang terletak di tengah-tengah kolam ikan miliknya yang sangat besar. Tiba-tiba ada siluet bayangan hitam muncul di belakangnya. Ternyata bayangan hitam itu adalah salah satu pengawal bayangannya. Pengawal itu memberi hormat kepadanya dan berjalan membisikkan sesuatu ke telinga kanan Raja Arches. Kedua mata Raja Arches melotot setelah mendengar sesuatu yang telah dibisikkan oleh pengawalnya. Ia pun segera meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh menghilangnya pengawal bayangan itu.


Raja Arches dan kedua pengawal pribadinya segera bergegas menuju ke Istana Permaisuri, setelah mendapatkan informasi dari salah satu pengawal bayangannya. Tiba di depan pintu kamar permaisurinya, Raja Arches segera mendobrak pintu kamar itu.


Brakkkk!!! (pintu kamar ditendangnya dengan sangat keras hingga terbuka.)


Betapa kagetnya Raja Arches melihat pemandangan di depan kedua matanya, tak terkecuali dengan permaisuri dengan salah satu pria yang berada di atas kasurnya. Keduanya terlihat telanjang bulat di atas kasur, hanya sebuah selimut tebal yang berwarna putih yang menutupi seluruh tubuh kedua orang itu. Kedua pengawal pribadinya yang berdiri di belakang Raja Arches, juga tampak sangat terkejut melihat pemandangan ini. Permaisuri dan adik laki-laki dari Raja mereka, sedang tidur bersama di dalam Istana milik Raja mereka. Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain. Dan tak lama kemudian, pandangan kedua mata pengawal itu beralih ke arah Raja Arches yang berdiri di depannya. Keduanya melihat ekspresi membunuh yang sangat kuat di wajahnya. Merasa dirinya di tatap oleh kedua pengawalnya, Raja Arches mulai buka suara.


"Kalian berdua, berjagalah diluar! Jangan sampai hal ini keluar dari mulut kalian! Jika tidak, kalian berdua akan menerima konsekuensinya! Apakah kalian berdua mengerti?!" ancam Raja Arches


"Ya Yang Mulia."


"Keluarlah!"


Kedua pengawal itu segera pergi sambil menutup kembali pintu kamar tersebut dan mulai berjaga di luar. Setelah melihat kedua pengawal pribadinya pergi, Raja Arches segera berjalan menghampiri mereka berdua. Ia mulai menarik pedangnya yang berada di pinggangnya dan mulai mengacungkan pedangnya tepat di leher adik laki-lakinya. Melihat hal itu, Permaisuri segera menghentikannya.


"Yang Mulia, tolong hentikan! Apa kau ingin membunuh orang di Istanaku?!" teriak permaisuri.


"Istanamu?! Istana permaisuri ini, masih berada di bawah kekuasaanku! Apa hakim mengatakan hal itu kepadaku?!"


Mendengar hal itu, permaisuri terdiam.


"Adik, tidak aku sangka kau mempunyai selera yang sangat buruk! Ternyata kau menyukai barang bekas milikku!" ejek Raja Arches.


Mendengar kakaknya sedang mengejek dan merendahkan dirinya, ia pun membalasnya


"Jaga bicaramu! Kau pikir aku mau melakukan ini?!"


"Kalau kau tidak mau, kenapa kau melakukannya?! Tsk, mulutmu tidak sesuai dengan hatimu!"


"Yang Mulia, kau jangan menyalahkannya. Semua ini salahku! Jika kau tidak memperhatikan gadis tengik itu, aku tidak akan mengkhianatimu!" terang Permaisuri.


"Gadis tengik katamu?! Sudah berapa kali kukatakan, bahwa ia adalah anak dari sahabatku!"


"Oh ya?! Kau bilang bahwa di adalah anak dari sahabatmu?! Kau pikir aku buta?! Kau membesarkannya di panti asuhan dan kau berencana ingin menikahinya setelah ia beranjak dewasa kan?!"


"Ya itu salah! Kau mengabaikan aku dan kedua putra kandungmu sendiri!"


"Tsk, ibu dan istri macam apa kau ini?! Kau mencari-cari kesalahanku untuk menutupi perselingkuhanmu dengan adikku?! Kau pikir putra sulungmu tidak mengetahui kelakuan bejat ibunya sendiri?!"


"Apa maksudmu?!"


"Dia sendiri yang mengatakan kepadaku, bahwa ia melihat kau bermesraan dengan adikku. Awalnya aku tidak mempercayainya, hingga akhirnya aku menyuruh seseorang untuk mengawasimu. Dan sekarang, aku percaya dengan apa yang dikatakan oleh putraku."


"Tidak! Tidak mungkin! Kau membohongiku kan?!"


"Sejak kapan aku membohongimu?! Kau tahu kan bagaimana sifatku?!" hardik Raja Arches sambil melotot tajam ke arah istrinya yang saat ini tengah ketakutan.


"Kau... apa yang kau inginkan?! Jangan!" teriak Permaisuri.


Raja Arches mengalihkan pandangannya ke arah adiknya. Tanpa banyak basa-basi, ia segera menebas leher adiknya. Darah muncrat keluar dari leher adiknya dan mengotori selimut berwarna putih tersebut. Permaisuri sangat ketakutan melihat adegan pembunuhan tepat di hadapannya. Ia melihat ekspresi wajah suaminya yang penuh dengan amarah. Melihat hal itu, permaisuri segera berlutut dan memeluk kaki suaminya. Berharap sang suami memaafkannya.


"Sayang... sayang, aku mohon maafkan aku. Tolong jangan bunuh aku. Kasihan kedua anak kita!"


"Humph, disaat seperti ini kau baru mengingat kedua anakmu. Lantas, saat kau sedang bersenang-senang dengan pria lain di atas kasurnya, apa kau mengingatku dan kedua anak-anakmu?!"


"Itu... itu aku khilaf sayang. Kumohon sayang maafkan aku."


Lili yang melihat adegan itu, merasa kasihan kepada wanita itu. Namun, saat ia melihat Raja Arches mengacungkan pedangnya ke arah leher istrinya, tiba-tiba adegan itu menghilang. Lili pun menoleh ke arah Raja Arches yang masih berdiri di sampingnya dengan ekspresi benci, marah di wajahnya. Merasa dirinya ditatap oleh Lili, Raja Arches pun mengalihkan pandangannya dan menatap kembali ke arah Lili.


"Ada apa? Apa kau takut sekarang?!"


"Tidak. Yang Mulia, apa kau yang membunuh istrimu?!"


"Seperti yang kau lihat. Akulah pembunuh mereka berdua!"


"Lalu, tentang sihir kutukan itu... apa itu juga ulahmu?!"


"Ya."


"Kenapa kau melakukan hal itu, Yang Mulia?!"


"Anak kecil sepertimu, tidak perlu tahu urusan orang dewasa!"


"Yang Mulia, tubuhku memang kecil. Tapi aku, seumuran dengan kedua cucumu."


Mendengar hal itu, Raja Arches mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku ingin bertanya kepadamu. Apa kau ingin menyelamatkan dia (cucunya) atau tidak?!" tanya Raja Arches sambil menunjuk ke arah Pangeran Sirzechs yang masih berbaring di atas tanah, tak sadarkan diri.


"Tentu saja aku ingin menyelamatkannya."


"Kenapa?!"


"Karena dia adalah sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku lagi."


"Kau pikir, kau bisa membohongi orang tua sepertiku?!"


Deg! (Jantung Lili berdegup kencang mendengar pernyataan Raja Arches, kakek dari pangeran Sirzechs.)


"Jika kau ingin menyelamatkan dia, ada harga yang harus kau bayar untuk melepaskan dia dari kutukanku."


"Apa itu?!"


"Kau harus rela kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu, yaitu kehilangan kekuatan sihirmu!"


Bagai disambar petir di siang bolong. Lili tidak percaya akan hal ini. Impian terbesarnya adalah ingin menjadi Ratu sihir pertama di negerinya. Itu adalah impian sekaligus cita-citanya semenjak ia kecil. Lili dihadapkan oleh kedua pilihan yang sangat sulit. Di sisi lain ia ingin menyelamatkan hidup sahabatnya. Di sisi lain, ia juga ingin menjadi Ratu sihir pertama di negerinya. Melihat Lili yang sedang bimbang, Raja Arches hanya tersenyum menyeringai melihatnya.


"Yang Mulia, apa tidak ada cara yang lain untuk menyelamatkan dia?!"


"Tidak ada."


"Kau yang membuat sihir kutukan itu, seharusnya kau sendiri yang bisa mematahkannya, bukan?!"


"Memang aku yang membuatnya. Tapi, siapa yang menggunakan sihir itu?! Dia atau aku?! Seharusnya kau tahu, bahwa orang yang menggunakan sihir kutukan ini tahu konsekuensi apa yang harus dia terima setelah menggunakan sihir kutukan ini."


Mendengar hal itu, Lili pun terdiam. Dia memang tahu tanpa sengaja saat mendengar percakapan mantan suaminya dengan ayah mertuanya dulu. Lili merasa sangat putus asa. Ia merasa tidak ada jalan keluar yang lain.


"Bagaimana keputusanmu, Lili?!" tanya Raja Arches.


Lili pun menghela nafasnya dengan sangat berat sambil mengalihkan pandangannya ke arah Pangeran Sirzechs. Ia melihat Pangeran Sirzechs masih belum juga sadar.


"Aku. Yang Mulia... aku akan menyelamatkannya. Aku rela jika harus kehilangan kekuatan sihirku." ucap Lili dengan bibir yang sedikit bergetar.


Raja Arches tersenyum mendengar keputusan yang telah diambil oleh Lili. Pilihannya untuk memutuskan menyelamatkan sahabatnya (Pangeran Sirzechs) yang sekaligus cucunya, membuat Raja Arches sedikit terharu dan bangga. Sangat jarang ditemui seorang wanita yang rela berkorban demi pria yang ia cintai meskipun harus kehilangan masa depannya sendiri.


"Mari kita mulai sekarang upacaranya!" perintah Raja Arches


"Ya!" jawab Lili dengan tegas masih sambil menatap ke arah Pangeran Sirzechs yang masih tertidur tak sadarkan diri.