
"Baiklah. Kau tunggu dulu disini. Aku akan pergi ke dapur untuk memasak." ucap Lili sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu." ucap Feng sambil menarik Lili ke dalam pelukannya.
"Yang Mulia, apa yang kau lakukan?"
"Sstt... bukankah aku sudah mengatakan padamu. Panggil namaku."
"Ehm... Feng, tolong lepaskan aku."
"Untuk apa melepaskanmu?"
"Bukannya tadi kau mengatakan kalau kau lapar?!"
"Iya. Aku memang mengatakannya kalau aku lapar. Tapi aku ingin memakanmu."
"Ini masih belum malam."
"Sayang, kenapa harus menunggu sampai malam? Aku sudah tidak tahan."
"A... aku malu. Aku malu bila didengar orang."
Mendengar jawaban jujur yang keluar dari mulut Lili, membuat Feng tak kuat menahan tawanya.
"Hahaha. Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu. Menunggu sampai waktu malam telah tiba." ucap Feng sambil mendekatkan wajahnya ke Lili dan mencium bibirnya.
Feng sangat menikmati ciumannya sambil memeluk Lili yang berada di atasnya. Tiba-tiba Lili mendorong tubuhnya menjauh darinya.
"Sudah cukup. Aku mau turun dulu, memasak untuk makan malam." ucap Lili sambil beranjak dari kasurnya.
Ia segera pergi meninggalkan Feng yang masih duduk di atas kasurnya. Tiba-tiba senyum menyeringai mengambang di wajah Feng. Langkah Lili tiba-tiba terhenti. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Ia segera menoleh ke arah kasurnya. Dan dilihatnya tidak ada Feng disana.
"Aneh. Kemana perginya Feng?" batin Lili.
Saat Lili menoleh, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh kehadiran Feng yang muncul dihadapannya. Dengan cepat, Feng memeluk pinggang ramping Lili dan mengangkat dagunya ke atas, lalu menciumnya. Perlahan-lahan, ia melepaskan ciumannya.
"Hah... hah... cukup!" teriak Lili sambil mendorong tubuh Feng menjauh darinya.
"Hahaha... baiklah."
Saat hendak melewati Feng, tiba-tiba Lili mendengar suara bisikan yang keluar dari mulut Feng.
"Sayang, jangan lupa malam ini." bisik Feng.
"Aku tahu." ucap Lili dengan nada kesal.
Melihat Lili pergi meninggalkan dirinya, Feng tersenyum lembut.
"Aku tidak sabar untuk menghabiskan malam-malamku dengannya." gumam Feng.
Feng berjalan mengamati seisi kamar istrinya itu. Kamar yang lama tak terpakai tapi terlihat bersih dan rapi. Kamar ini meskipun tak seluas kamarnya dan tidak pernah dipakai, tapi masih terlihat terawat. Tak ada debu disekitar sana. Bahkan lemari buku yang dipenuhi oleh koleksi buku-buku milik istrinya itu, berjejeran rapi dan tak ada debu disekitarnya. Ia mengamati buku-buku disana. Tiba-tiba kedua matanya tertuju pada satu buku yang cukup menarik hatinya. Buku itu bertuliskan "Albumku" di sisi badan buku. Buku itu berwarna biru muda. Feng mengambil itu dan membukanya. Betapa kagetnya ia melihat isi dari buku album itu. Kedua tangannya gemetaran saat memegang buku itu. Ternyata buku itu berisi foto-foto Lili dan Sirzechs, kakak tirinya. Keduanya terlihat sangat mesra seperti pasangan kekasih. Saat ia membalikkan halaman berikutnya, ia melihat ada sebuah potret gambar yang membuatnya semakin marah. Amarah terukir jelas dikedua matanya. Potret gambar itu menggambarkan suasana dimana Lili membukakan pintu jendela, membiarkan Sirzechs masuk ke dalam kamarnya.
"Ternyata seperti itu hubungan istriku dengan kakak tiriku."
Feng segera menutup buku album itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia berjalan menuju sofa dan menuangkan secangkir teko teh kedalam cangkir yang masih kosong. Kepulan asap terlihat di atas cangkir tehnya. Ia meniup tehnya sembari meminumnya pelan-pelan. Ia tak menyangka, jika istrinya mempunyai hubungan khusus dengan kakak tirinya. Feng memukul meja itu dan membaringkan tubuhnya di atas sofa itu. Ia perlahan-lahan memejamkan kedua matanya.
"Lili, tak peduli kau pernah mempunyai hubungan khusus dengan kakak tiriku atau tidak. Selamanya , kau akan menjadi milikku." batin Feng .
Malam Hari
Di dalam kamar Lili, terdengar suara rintihan.
"Ber... berhenti. Aah... aah..."
"Kenapa? Apa kau menyesal telah menikah denganku?"
Lili tak menjawab pertanyaannya. Feng meliriknya dan bangun dari kasurnya. Ia duduk sambil melihat ke arah Lili yang sedang memunggunginya.
"Aku peringatkan kepadamu. Tidak peduli kau pernah mempunyai hubungan dengan kakakku atau tidak. Kau sekarang adalah istriku. Kau milikku selamanya."
Setelah selesai mengatakan hal itu, Feng beranjak dari tempat duduknya. Terdengar suara pintu ditutup. Lili yang mendengar suara pintu ditutup dari dalam, langsung bangun dan melihat sekelilingnya. Ia melihat tidak ada Feng didalam kamarnya.
"Sepertinya dia sudah pergi. Kenapa aku merasa, dia sepertinya marah besar kepadaku. Tapi, apa salahku?" gumam Lili sambil menutup sebagian tubuhnya dengan selimut tebal berbulu yang berwarna merah.
...****************...
Keesokan harinya, Lili dan Feng bersiap untuk kembali ke istana. Keduanya pun berpamitan sebelum kembali ke istana.
"Ayah, ibu... aku pergi dulu. Kalian berdua jaga kesehatan."
"Iya anakku. Kau juga ya." ucap sang ibu sambil memeluk anaknya.
"Kakak, sering-seringlah pulang kemari. Aku sangat merindukanmu, begitu juga ayah dan ibu. Juga semua orang rumah."
Mendengar adiknya mengatakan hal itu, hati Lili menjadi sedih. Ia sebenarnya ingin sering-sering pulang ke rumah. Tapi, sekarang ia sudah mempunyai suami. Segala sesuatunya harus meminta izin dan mendapatkan persetujuan darinya.
"Kakak, kenapa kau diam saja?"
"Iya. Aku akan sering-sering datang kemari. Jika kakak iparmu mengizinkannya." jawab Lili sambil melirik ke arah suaminya.
Feng yang mendengarnya, hanya diam tanpa kata. Setelah selesai berpamitan, keduanya naik ke dalam kereta istana. Kereta istana mulai berjalan meninggalkan rumah Lili. Lili hanya bisa meliriknya dari balik jendela kereta. Selama perjalanan, keduanya tak saling berbicara. Bahkan sampai didalam istana pun, keduanya tak saling berbicara. Lili dan Feng turun dari dalam kereta dan berjalan menemui raja.
"Salam Ayahanda."
"Salam Yang Mulia."
"Berdirilah. Bagaimana kabar kedua orang tuamu Lili?" tanya raja yang didampingi oleh permaisuri dududk disebelahnya.
"Menjawab Yang Mulia. Kabar kedua orang tuaku, baik-baik saja."
"Syukurlah. Karena kau sekarang sudah menjalani menantuku. Ketika tidak ada orang lain selain keluarga istana, kau panggil aku ayahanda, dan panggil permaisuri sebagai ibunda. Apa kau mengerti?"
"Mengerti ayahanda."
"Bagus. Pergilah beristirahat. Kalian pasti sudah lelah selama perjalanan."
"Terima kasih ayahhanda, ibunda." jawab Feng dan Lili secara bersamaan.
Keduanya pun berpamitan dan tak lupa memberi hormat. Kemudian keduanya pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan berdua menuju kamar mereka. Setibanya di dalam kamar, Feng menutup dan mengunci pintu kamarnya. Lili yang melihat Feng mengunci pintu kamarnya, hanya bisa menghela nafas. Ia seolah sudah tahu akan tugasnya sebagai istri. Saat Lili membuka jubah mantel berbulu miliknya, tiba-tiba Feng berjalan mendekat ke arahnya.
"Bantu aku menggosok punggungku sekarang." perintah Feng yang hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah perutnya.
Feng segera berjalan menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke arah Lili.
"Jangan lupa untuk mengenakan pakaian mandimu." ucap Feng.
Setelah mengatakan hal itu, Feng melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Lili yang mendengar perintahnya, segera berganti pakaian mandi sesuai perintahnya suaminya. Setelah memakai pakaian mandinya yang hanya berupa handuk panjang yang menutupi bagian dada sampai atas paha. Ditambah dengan jubah kain tipis yang terawang untuk menutupi handuk yang ia kenakan. Tak lupa juga Lili mengerai rambutnya yang hitam lurus, dengan potongan poni yang menutupi dahinya. Ia melihat kedalam cermin bayangan dirinya. Ada banyak bekas tanda merah di seluruh tubuhnya. Tiba-tiba ia mendengar Feng memanggil namanya.
"Lili, apa kau masih lama?! Cepatlah!"
"Iya. Aku segera kesana."
Lili segera berjalan menuju ke kamar mandi. Dalam hatinya, ia yakin kalau Feng tidak hanya memintanya membantu menggosok punggungnya. Ia masih merasa ada kemarahan dibalik sikapnya yang dingin dan diam, setelah ia melayaninya semalam. Apapun itu, Lili akan siap menghadapi kemarahan suaminya yang tidak jelas sebabnya.