PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Benci Dan Cinta 1)


"Beraninya kau!!!"


"Diam!!!"


"Yang Mulia, semoga kau beruntung." kata Lili sambil membalikkan badan dan berjalan meninggalkan mereka.


"Berhenti!"


"Ada apa?"


"Siapa namamu?"


"Iblis cantik."


"Apa?"


"Yang Mulia, itu namaku. Nama pemberian dari kekasih hidupmu. Bagus bukan?"


Putra mahkota itu melirik tajam ke arah Putri Cariz. Melihat pemandangan itu, Lili berbalik dan meninggalkan mereka. Saat hendak keluar kelas, Lili dihadang oleh seorang guru besar yang akan mengajar di kelasnya.


"Kenapa kau keluar? Sudah waktunya belajar."


"Guru, coba kau lihat. Aku tidak punya bangku untuk belajar. Meja dan kursiku rusak dilelehkan oleh Putri Cariz."


"Putri Cariz?! Tidak mungkin! Dia seorang putri. Kau jangan memfitnahnya!"


Guru besar itu menoleh ke arah Putri Cariz. Betapa terkejutnya guru besar itu melihat seseorang yang berdiri di sebelah Putri Cariz. Tanpa pikir panjang, guru besar itu menampar Lili dengan keras. Kejadian itu membuat seisi kelas kaget bukan kepalang. Lili menyentuh pipinya yang merah akibat tamparan keras Guru besar itu. Guru besar itu bernama Tetua Menzy. Tetua Menzy terkenal sangat sadis diantara para guru. Ia paling tidak suka melihat murid bertindak kurang ajar. Terlebih kepada keluarga kerajaan.


"Guru, kenapa kau menamparku?"


"Kau masih berani bertanya?! Jika bukan karena kau kurang ajar padanya, aku tidak akan menamparmu! Seharusnya kau bersyukur aku masih menamparmu! Kalau tidak!!!"


"Kalau tidak apa guru?!"


"Aku akan menghancurkan ilmu sihir yang telah kau pelajari selama ini!"


Mendengar hal itu, semua murid yang berada di dalam kelas langsung diam ketakutan. Yang mereka tahu bahwa, mereka tidak seharusnya menyinggung keluarga kerajaan termasuk Tetua Menzy ini. Hanya dengan jentikkan jarinya, hancurlah ilmu sihir yang telah susah payah dipelajari oleh seseorang. Mendengar Tetua Menzy mengancamnya, Lili mengepalkan tangannya. Dalam hatinya ia sangat marah, jijik dengan sikap Tetua Menzy. Hanya karena dirinya berasal dari rakyat jelata, sedangkan Putri Cariz dan Putra mahkota dari keluarga bangsawan, dengan seenaknya, dia memperlakukan dirinya seperti sampah masyarakat. Hukum rimba selalu berlaku dimana saja. Dimana yang kuat memangsa yang lemah. Dan yang lemah hanya akan semakin lemah. Lili pun berbalik dan meninggalkan mereka semua. Namun, langkah kakinya terhenti karena Tetua Menzy berteriak memanggil namanya.


"Kau sangat kurang ajar. Pergi dan minta maaf kepada Putri dan Putra mahkota!"


"Minta maaf? Untuk apa?! Aku tidak melakukan kesalahan apapun!"


"Untuk apa?! Tentu saja karena sikapmu yang sangat kurang ajar kepada mereka!"


"Kurang ajar bagaimana?! Jelas-jelas semua orang disini tahu bahwa dialah yang menghancurkan bangkuku!"


"Kau!!"


"Cukup, Tetua Menzy!"


"Yang Mulia, maafkan hamba atas ketidaksopanan salah satu murid hamba. Hamba akan menghukum dia dengan seberat-beratnya."


"Tidak perlu."


"Yang Mulia jangan khawatir. Jika murid kurang ajar ini tidak diberi hukuman sebagai contoh yang lain, kedepannya akan banyak murid-murid kurang ajar seperti dia!"


"Kau ingin menghukumnya dengan cara apa? Bolehkah aku mengetahuinya?"


"Tentu Yang Mulia."


"Hei gadis kurang ajar! Kau dengar itu! Aku akan menghukummu sesuai perbuatanmu!"


"Apa kau bilang?! Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan itu! Kau tidak pantas memanggilku seperti itu!"


"Tidak pantas katamu?! Jelas-jelas kau buta terhadap masalah ini. Semua saksi mata ada disini!"


"Benarkah?! Baiklah, aku akan tanya kepada kalian semua. Adakah dari kalian yang melihat kalau Putri Cariz menghancurkan bangku milik Lili? Jawab!!!"


Melihat dan mendengar Tetua Menzy bertanya kepada mereka, tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab. Menjawab itu artinya kau mati. Jadi semua murid yang menyaksikan kejadian itu, memilih diam seribu bahasa demi keselamatan mereka sendiri. Tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab pertanyaan yang dilontarkan Tetua Menzy kepada mereka semua. Melihat hal itu, Putri Cariz semakin bangga. Ia tersenyum lebar, puas menyaksikan adegan dimana Lili dipermalukan di depan semua orang. Dalam hati, Lili sudah menduganya bahwa tak ada satupun orang yang mau menjawabnya dengan jujur. Mereka lebih mementingkan dirinya sendiri. Sekarang satu-satunya yang bisa dia andalkan hanyalah dirinya sendiri.


"Kau lihat?! Siapa yang berbohong sekarang?!"


"Tetua Menzy, aku yakin mereka tidak mau menjawab karena mereka takut akan dibunuh setelah mereka menjawabnya dengan jujur."


"Masih berani membantah kau?! Mulai sekarang, kau tidak diizinkan belajar di sekolah ini. Kau akan aku beri hukuman untuk merenungkan diri di hutan kematian!"


"Hutan Kematian?"


Semua murid yang berada di dalam kelas kaget mendengar Tetua Menzy menghukum Lili di hutan kematian. Hutan yang terkenal memakan orang. Bagaimana tidak? Ketika seseorang masuk ke dalamnya, ia tidak akan pernah kembali hidup. Jika beruntung, ia akan kembali dalam keadaan selamat. Namun, sangat mustahil. Hutan Kematian itu tidak ada yang tahu seperti apa tempatnya. Indah seperti surga atau menyeramkan seperti neraka? Bahkan Tetua Menzy sekalipun pernah mencoba memasukki hutan itu, namun ditolak dan terlempar sangat keras. Dan menyebabkan dia harus dirawat selama 3 bulan mengajar. Ini adalah sebuah kesempatan emas sekali dalam hidupnya. Mendorong Lili masuk ke dalam Hutan Kematian, untuk mencari tahu apa yang terdapat di dalam hutan tersebut. Rasa penasaran dan keserakahannya akan misteri yang menyelimuti hutan kematian itu sudah ada di depan mata. Dengan rasa bangga, ia mengamati seluruh murid yang ada di dalam kelas dan pandangannya jatuh ke arah Lili. Dengan kesombongannya, Tetua Menzy bertanya kepada Lili yang masih terdiam, tertunduk.


"Bagaimana? Menyesal sekarang? Sudah terlambat!'


"Menyesal? Tidak! Sebelum kau menghukumku, Tetua aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


"Katakan."


"Jika aku berhasil keluar dari Hutan Kematian dengan selamat, kau harus berjanji padaku."


"Untuk apa aku harus berjanji kepadamu?!"


"Eheemmm."


"Eh, Yang Mulia. Baik, hamba akan berjani kepadanya... Hehehe....!"


"Baiklah, aku janji. Cepat katakan!"


"Kau harus berjanji untuk menyerahkan otoriter hukuman murid di sekolah ini kepadaku."


"Tidakkkkkk!!"


"Kenapa tidak? Apa kau ingin melanggar kata-katamu sendiri barusan?!"


"Tidak! Kau tidak boleh seenaknya!!!"


"Seenaknya? Bukankah kau sudah berjanji kepadaku! Lagipula jika dibandingkan dengan kau, aku jauh lebih baik."


"Lancang!!!"


"Hentikan Tetua Menzy!"


"Tapi, Yang Mulia ini..."


"Tidakkah kau malu jika orang mendengar kalau kau seorang guru besar, tetua terkenal di negeri ini adalah tukang ingkar janji. Apa kau masih ingin reputasimu?!"


"Ini..."


Tetua Menzy melirik ke arah Putri Cariz dan Putra mahkota. Melihat Putri Cariz memberi isyarat untuk menerima tantangan Lili, dengan berat hati, Tetua Menzy mengiyakannya.


"Baiklah. Aku akan menyerahkan otoriter hukuman di sekolah ini kepadamu. Dengan syarat, kau harus keluar hidup-hidup dari hutan kematian itu. Bagaimana?"