PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Aku menunggumu


"Kau! Apa yang kau katakan?!"


"Aku mengatakan bahwa aku... hanya menginginkan kau menjadi istriku! Aku tidak menginginkan wanita lain! Satu-satunya wanita yang layak menjadi istriku, hanya kau seorang!"


"Yang Mulia, tolong jangan bicara hal-hal yang tidak masuk akal seperti itu lagi. Bagaimana jika yang kau katakan itu terdengar sampai ke luar? Terlebih, raja sudah memilihkan calon istri untukmu. Dan kau seharusnya belajar untuk mencintai dia."


"Dan apakah kau juga begitu?"


"Apa maksud Yang Mulia Pangeran Sirzechs?"


"Belajar mencintai calon suamimu."


"Aku tidak perlu untuk belajar mencintai siapapun."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak butuh cinta!"


"Hahaha... konyol! Kau terlalu naif!"


"Naif? Tidak juga. Aku menikah karena titah raja, bukan karena keinginanku sendiri."


"Lalu, kenapa kau menerimanya jika bertentangan dengan keinginanmu? Kau bisa menolaknya bukan?!"


"Apa hanya karena keegoisanku, nyawaku atau bahkan nyawa seluruh keluargaku akan menjadi taruhannya?!"


"Jadi, kau tetap memilih untuk menikahinya daripada menolaknya?!"


"Ya."


"Lalu bagaimana perasaanmu terhadap Feng?"


"Feng? Apa yang dia maksud adalah adik tirinya, putra mahkota yang telah dijodohkan denganku?" batin Lili.


"Aku tidak tahu."


"Apakah kau tahu, kalau Feng mencintaimu?"


Mendengar Pangeran Sirzechs menanyakan tentang bagaimana perasaannya terhadap Feng, adik tirinya. Seketika itu Lili teringat akan kejadian di bawah ribuan pohon maple merah. Dimana ia mendapatkan hinaan dari putra mahkota (Feng), calon suaminya.


"Aku tidak tahu."


"Lili, bagaimana bisa kau hidup dengan pria yang kau sendiri tidak mengenalnya?


"Aku hidup untuk diriku sendiri. Bukan untuk orang lain?!"


"Aku akan bertanya padamu sekali lagi. Dan tolong jawablah dengan jujur."


"Tentang apa?"


"Tentang bagaimana perasaanmu kepadaku?"


"Hanya teman."


"Apa kau yakin, hanya sebatas itu?!"


"Ya. Karena kau adalah teman pertama yang aku kenal dan aku milikki."


"Jadi, kau menganggapku sebagai teman? Tidak lebih?"


"..."


Melihat Lili terdiam, Pangeran Sirzechs menghela nafas.


"Lili, apa kau lupa? Kau masih memiliki aku. Aku akan membantumu semampuku." kata Pangeran Sirzechs dengan tegas sambil mengangkat dan menggenggam erat kedua tangan Lili.


"Kau hanyalah seorang pangeran. Maaf jika aku menyinggungmu." kata Lili dengan nada lirih, sambil menarik kedua tangannya kembali.


"Aku tahu kekhawatiranmu. Kau tenang saja. Aku akan menjadi raja suatu hari nanti. Dan, disaat aku sudah menjadi raja, apa kau mau menjadi permaisuriku satu-satunya?!"


"Yang Mulia, kau seperti pungguk yang merindukan bulan."


"Aku memang sedang rindu, tapi bukan bulan yang aku rindukan. Juga, aku bukan pungguk. Aku hanyalah pria biasa yang selalu mencintaimu. Menunggumu... menoleh kepadaku dan memelukku. Menerima kehadiranku di dalam hidupmu."


"Yang Mulia, kau mulai mengigau. Sebaiknya kau segera kembali ke istanamu." Kata Lili sambil berjalan menuju pintu jendela kamarnya.


Saat ia hendak membukakan pintu jendela kamarnya, tiba-tiba Pangeran Sirzechs memeluknya dari belakang. Dagunya disandarkan di bahu kanan Lili, sembari mengecup lembut leher Lili.


"Panggil aku Sirzechs!" bisik Pangeran Sirzechs.


"Yang Mulia, tolong jaga sikapmu. Lepaskan aku."


Mendengar Pangeran Sirzechs berkata seperti itu, Lili menjadi kesal. Ia pun membalikkan badannya ke belakang dan spontan Pangeran Sirzechs melepaskan pelukannya. Keduanya bertukar pandang satu sama lain.


"Aku akan membunuhmu!"


"Bukankah kau sudah membunuhku? Membunuhku dengan tepat disini!" kata Pangeran Sirzechs dengan tegas, sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah dadanya.


"Yang Mulia, katakan sejujurnya. Tidak perlu berbelit-belit. Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku?"


"Batalkan pernikahanmu dengan Feng!"


"Humph, lalu bagaimana denganmu?"


" Tentu saja aku akan membatalkan pernikahan ini. Dan aku, yang akan menikahimu."


"Yang Mulia, sejak kapan kau menjadi sangat tidak tahu malu?!"


"Sejak aku jatuh cinta kepadamu."


Deg


Jantung Lili berdegup kencang saat ia mendengar pernyataan cinta Pangeran Sirzechs kepadanya. Perlahan raut wajahnya memerah. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Seorang pria yang ia kenal beberapa bulan yang lalu, menyatakan isi hatinya. Selama ini, Lili menganggapnya hanya sebagai teman. Tapi siapa sangka, pria yang selalu mengunjunginya setiap malam. Pria yang selalu mengetuk jendela kamarnya, hanya untuk berbicara dengannya, memiliki perasaan romantis kepadanya. Perlahan Lili menarik nafasnya pelan-pelan dan menghembuskannya. Ia menatap pria yang sedang berdiri tepat di hadapannya, sambil melemparkan senyum manis kepadanya.


"Yang Mulia..."


"Ssttt, panggil aku Sirzechs. Disaat hanya ada kita berdua saja, aku ingin kau memanggil namaku." kata Pangeran Sirzechs sambil meletakkan jari telunjuk kanannya tepat di bibir Lili yang berwarna merah alami.


Lili pun mengangguk pelan.


Dirasa Lili sudah mengerti maksud yang ia sampaikan, Pangeran Sirzechs menarik kembali jari telunjuknya.


"Sirzechs, untuk terakhir kalinya... aku akan mengatakan hal ini kepadamu."


"Tentang apa? Katakan. Aku tidak sabar ingin mendengarnya."


"Tentang kau."


"Aku? Kenapa dengan diriku?"


"Kau adalah pria yang sangat tampan, baik hati. Dan aku sangat menyukaimu, walau sebenarnya... hanya sebatas teman." kata Lili sambil membelai lembut wajah Pangeran Sirzechs dengan tangan kanannya.


"Tidak masalah jika kau menyukaiku, hanya sebatas teman. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan berusaha, membuatmu jatuh cinta kepadaku." kata Pangeran Sirzechs sambil memegang erat tangan kanan Lili yang masih membelai wajahnya.


Melihat tangannya digenggam erat oleh Pangeran Sirzechs, Lili menariknya kembali. Ada sedikit perasaan kecewa terlintas di dalam hati pangeran Sirzechs, yang melihat Lili menarik tangannya kembali dari genggamannya.


"Maaf... maafkan aku Sirzechs. Aku tahu kau baik sekali padaku. Selalu ada untukku, disaat aku membutuhkan bantuan seseorang. Tapi, maaf. Aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini."


"Kenapa? Kenapa kau tidak mau membatalkannya? Itu berarti, kau... kau mulai jatuh cinta kepada Feng, bukan?!"


"Tidak. Aku tidak jatuh cinta kepadanya."


"Lalu apa?!"


""Aku tidak mau menyeretmu ke dalam permasalahanku. Aku hanya ingin, keluargaku dan orang-orang yang ada disekitarku, bisa hidup bahagia."


"Dengan cara mengorbankan kebahagiaanmu sendiri?"


"Sirzechs, aku mohon... tolong jangan paksa aku... untuk membatalkan pernikahan ini. Dan tolong, jangan temui aku lagi seperti ini."


"Kenapa?!"


"Karena, baik aku maupun kau... kita berdua sudah terikat pernikahan dengan orang lain. Terima kasih sudah mencintaiku, terima kasih atas semuanya yang kau lakukan untukku. Maaf, jika aku menyakitimu."


"Kau tidak perlu minta maaf. Akulah yang harus minta maaf kepadamu."


"..."


"Baiklah hari sudah larut malam, dan kau perlu istirahat. Aku pamit." kata Pangeran Sirzechs sambil membuka pintu jendela kamar.


Ia melangkahkan kakinya ke luar. Baru beberapa langkah, Pangeran Sirzechs berhenti. Ia menoleh ke arah Lili. Menatapnya untuk waktu yang cukup lama.


"Lili, ini adalah terakhir kalinya aku datang menemuimu malam ini. Setelah ini, aku tidak akan datang kembali lagi. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."


"Apa itu??"


"Aku akan selalu menunggumu. Menunggumu, sampai kau menyadari bahwa hanya aku yang benar-benar tulus kepadamu."


Pangeran Sirzechs pun berpamitan dan melompat terbang meninggalkan Lili yang masih berdiri di sana. Mendengar perkataan Pangeran Sirzechs itu, Lili menghela nafas. Untuk pertama kalinya ia bertemu seorang pria yang sangat mencintainya dan rela menunggunya. Sementara ia sendiri tidak memperdulikan hal itu. Bagi Lili, Pangeran Sirzechs adalah teman yang pertama kali ia temui. Teman yang selalu ada untuknya. Tapi, siapa sangka, bahwa pria yang ia anggap hanya sebagai teman. Ternyata menyimpan perasaan romantis untuknya.