
Di istana ratu iblis, Hana melihat sebuah bola lampu kristal yang melayang di udara. Sementara Lili duduk di kursi mewahnya. Di dalam sana terlihat sebuah ilusi yang terjadi pada Raja. Bahkan saat Raja bertarung dengan Lili di alam mimpi.
"Ratu?!"
"Biarkan saja. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat."
Tiba-tiba sebuah elang raksasa masuk melalui jendela besar yang terbuka lebar. Ia mendarat di atas lantai dengan tubuhnya yang berubah menjadi manusia. Ia berjalan dan memberi hormat kepada Lili. Hana yang melihat elang raksasa itu berubah menjadi manusia, bukan hal yang pertama kali ia lihat. Sebelumnya ia pernah melihat elang itu mengantarkan makanan ke dalam istana. Dan binatang yang dimaksud oleh Lili, yang bisa berubah wujud menjadi manusia adalah dia. Dia adalah binatang yang mencapai kultivasi 100.000 tahun agar bisa menjadi manusia.
"Salam Yang Mulia Ratu."
"Apa kau punya informasi?!"
"Ya Yang Mulia. Hamba mendengar bahwa Yang Mulia Raja akan menikahkan putra mahkota Feng dengan putri Cariz setelah penobatan putra mahkota Feng menjadi raja selanjutnya." terang Blackie.
Mendengar informasi yang disampaikan oleh Blackie kepadanya, Lili mengepalkan tangan kanannya. Melihat Lili mengepalkan tangan kanannya, Hana dan Blackie saling bertukar pandang satu sama lain.
"Lalu, informasi apa lagi yang kau dapatkan?!" tanya Lili.
"Raja mengeluarkan perintah untuk mencari dan membunuh Yang Mulia Ratu."
Mendengar hal itu, Hana terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah Lili. Ia melihat Lili tampak tenang mendengar hal ini.
"Oh, jadi si tua itu mulai bergerak."
"Benar Yang Mulia."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, ratu?!"
"Apa yang harus dilakukan?! Tentu saja mengamati gerak-gerik mereka."
"Tapi Yang Mulia, mereka jelas-jelas ingin membunuhmu!" terang Hana.
"Lalu? Apa menurutmu aku akan diam saja, saat mereka mengacungkan pedangnya tepat di leherku?!"
"Itu..."
"Hana, aku tahu apa yang kau khawatirkan. Untuk mengalahkan musuhmu, setidaknya kau harus mengenali musuhmu terlebih dahulu. Apa kau mengerti?!"
"Mengerti ratu."
"Baguslah. Kalian berdua pergilah beristirahat."
"Baik Yang Mulia." ucap Hana dan Blackie secara bersamaan.
Baru beberapa langkah, Blackie menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah Lili. Melihat Blackie yang berjalan di depannya, berhenti dan menoleh ke arah Lili, Hana pun ikut berhenti dan menatap Blackie.
"Ada apa lagi Blackie?!" tanya Lili tanpa menoleh ke belakang.
"Yang Mulia, hamba menerima informasi dari Raja Elf. Bahwa pasukan istana sedang mengepung hutan kita."
"Apa?!" teriak Hana.
Mendengar hal itu, Lili beranjak dari tempat duduknya. Ia pun berbalik dan berjalan menuju ke arah mereka berdua. Lili menghentikan langkahnya dan menatap Blackie.
"Kau bilang Raja Elf?!" tanya Lili kepada Blackie.
"Iya Yang Mulia. Raja Elf mengirimkan pesan lewat telepati kepada hamba. Ia mengatakan bahwa seluruh pasukan istana sedang mengepung hutan ini."
"Jadi begitu. Sampaikan rasa terima kasihku kepadanya."
"Baik Yang Mulia."
"Ratu, siapa Raja Elf itu?!"
"Dia adalah raksasa tua." jawab Lili sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh?"
"Hahaha... becanda. Yang jelas dia adalah temanku. Hana, maaf aku akan merepotkanmu sekali lagi."
"Tidak apa-apa Yang Mulia Ratu, katakan saja."
"Bantu aku jaga tempat ini."
"Yang Mulia ratu, kau mau pergi kemana?!" tanya Hana.
"Tentu saja mengakhiri semua ini."
"Apa?! Tunggu ratu, itu sangat berbahaya!" teriak Hana menghentikan Lili yang berjalan melewatinya.
"Sstt, diam dan amati saja."
"Tapi, kekuatanmu?!"
"Hana, jangan hanya karena keterbatasanmu, kau mulai ragu-ragu untuk melangkah."
"Maaf, aku hanya..."
"Aku mengerti. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Sampai jumpa." ucap Lili sambil berjalan maju dan tiba-tiba menghilang dari hadapannya.
Melihat Lili menghilang, Hana dan Blackie saling bertukar pandang satu sama lain.
"Kau?!" tanya Hana sambil menunjuk ke arah Blackie.
"Ada apa?!"
"Kau, kenapa masih disini?!"
"Tentu saja menjaga tempat ini."
"Tapi, aku tidak mendengar Ratu memberi perintah kepadamu untuk menjaga tempat ini?!"
"Tanpa ia memberi perintah sekalipun, aku akan menjaga tempat ini. Karena di tempat inilah, aku dan teman-teman merasa aman."
"Ya."
...****************...
Di luar hutan kematian, sejumlah pasukan dari istana mengepung seluruh hutan kematian ini. Mereka sedang bersiap untuk melakukan penyergapan. Semua mata memandang dari segala arah, seolah tak ingin melepaskan satu mangsa sekalipun. Sementara di dalam istana kerajaan, Raja terlihat sangat panik. Bahkan ia mudah marah hanya karena hal sepele. Bolak balik ia mondar mandir di dalam kamarnya. Semua pengawal istana dikerahkan untuk menjaga ketat istana. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!"
Krekkk! (suara pintu dibuka.)
Terdengar suara sepatu wanita yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia pun menoleh ke arah pintu. Betapa kagetnya ia saat melihat seseorang yang masuk ke dalam kamarnya adalah Lili, mantan menantunya. Ia pun berbalik dan berjalan mundur beberapa langkah sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Lili.
"Kau! Beraninya kau datang kemari dan masuk ke kamar raja! Pengawal!" teriak Raja dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.
"Pengawalmu semuanya sedang mimpi indah Yang Mulia." jawab Lili sambil menyeringai.
"Apa maksudmu?! Kau membunuhnya?!"
"Bagaimana jika aku menjawabnya ya! Apa kau akan menggantung kepalaku?!" ejek Lili.
Mendengar perkataan Lili, Raja segera berlari ke arah jendela kamarnya. Dilihatnya ribuan mayat para pengawalnya mati tergeletak berlumuran darah. Masing-masing dari mereka mati dengan cara yang berbeda dan mengenaskan.
"Kau! Metode apa yang kau gunakan untuk membunuh mereka semua?!"
"Tidak ada."
"Bohong! Kau pasti menggunakan metode sesat untuk membunuh mereka semua!"
"Kau salah Yang Mulia. Aku hanya mempelajarinya metode yang telah kau ajarkan kepadaku."
"Dasar brengsek! Berani kau menyangkalnya!"
"Menyangkalnya?! Hahahaha! Yang Mulia, aku tidak pernah menyangkal sesuatu! Hanya..."
"Hanya apa?!"
"Hanya, ada sesuatu yang sedikit menggangguku!"
"Apa itu?!"
"Apa benar, dalang dibalik kematian kedua orang tuaku dan adikku adalah kau?!" tanya Lili dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Heh, kenapa kau bertanya seperti itu?!"
"Yang Mulia, mengingat hubungan baik kita dulu sebagai mertua dan menantu, aku harap kau menjawabnya dengan jujur."
"Bagaimana jika aku menjawab ya?! Apa kau ingin membunuhku?!"
"Apa alasannya kau melakukan ini semua?!"
"Alasannya?! Tentu saja, karena kau adalah pembawa bencana bagi keluarga kerajaan dan negara ini?!"
"Apa maksudmu?!"
"Menurutmu ramalan, kau adalah pembawa bencana bagi keluarga kerajaan juga bagi negara ini! Aku sebagai raja, tentu saja tidak akan tinggal diam saja, melihat keluargaku dan negaraku hancur hanya karena kau!" bentak Raja.
"Hanya sebuah ramalan dan kau mempercayainya?!"
"Ya! Apa ada yang salah dengan itu?!"
"Tentu saja. Kau boleh mempercayai ramalan itu atau tidak. Tapi, kau tidak sadar jika kau mewujudkan ramalan itu sendiri. Jika kau tidak mewujudkan hal itu, mana mungkin akan terjadi. Ada takdir yang bisa kita ubah dan ada takdir yang tidak bisa kita ubah. Harusnya kau tahu akan hal itu, Yang Mulia."
"Tsk, kau sedang mengguruiku?!"
"Tidak. Aku hanya akan memberimu pelajaran. Lebih tepatnya, balas dendam!" ucap Lili sambil mengangkat tangan kanannya ke udara dan mengalirlah aura hitam yang menyelimutinya. Dan dari telapak tangan keluarlah sebuah pedang berwarna hitam dan melesat cepat tepat di jantung Raja. Raja yang tak bersiap langsung berlutut di atas tanah sambil memegang pedang yang menancap tepat di jantungnya.
Jlebbbb!!
"Uhuk!"
Melihat raja memuntahkan segumpal darah dari mulutnya, Lili berjalan mendekatinya. Ia berjongkok dan memegang dagu raja.
"Bagaimana rasanya Yang Mulia?! Sakit?!" ejek Lili.
Lili melirik ke bawah, ia melihat raja mengeluarkan sihir dari tangan kanannya dan mengarahkan ke arah Lili. Lili yang mengetahui tingkahnya sedari tadi, langsung melompat menjauh darinya. Dari telapak tangan raja keluarlah hujan petir yang mengarah pada dirinya. Dengan cepat Lili mengangkat tangan kanannya, seolah ia sedang menghisap ribuan hujan petir yang mengarah kepadanya.
Boom! Boom! Boom!
Suara ledakan dari hujan petir itu menghancurkan istana raja dan mendesak raja untuk keluar dari kamarnya. Ia melompat keluar ke halaman dan melihat Lili yang terkena serangan hujan petir darinya. Darah mulai mengalir di dadanya. Ia berusaha untuk menarik pedang yang menancap di dadanya, sembari Lili disibukkan dengan hujan petir miliknya.
"Yang Mulia, aku ingin melihat berapa lama kau akan bertahan dengan ini?!" ejek Lili sambil terus menghisap hujan petir miliknya.
"Gadis ini, sejak kapan ia berubah menjadi monster mengerikan?!" gumam raja.
Lili berhasil menghisap hujan petir miliknya tanpa tersisa. Tanpa banyak basa-basi, Lili menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan. Pedang yang menancap di jantung raja, seketika bergerak keluar dan terbang menuju Lili.
Crattttt!!!
Semburan darah keluar dari dada Raja. Ia pun langsung tergelatak lemas tak berdaya di atas tanah dengan berlumuran darah. Nafasnya terhenti. Lili berjalan mendekatinya, dan berjongkok di depannya. Saat hendak memeriksa apakah raja masih hidup atau mati, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang.
"Lili!"
Suara yang sangat familiar di telinganya, membuat Lili berdiri dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Feng dengan ekspresi wajah yang penuh amarah berdiri di depannya dengan jarak dua meter darinya.
"Kau?!"
"Sudah lama kita tidak bertemu, mantan suamiku tercinta." sapa Lili dengan nada mengejek.