PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Love Vs Betrayal (2)


Setelah menyegel Hana di dalam gua es, Lili segera pergi meninggalkan tempat itu. Sampai di depan pintu mulut gua, Lili segera menyegel pintu masuk ke dalam gua tersebut. Setelah menyegel, Lili batuk berdarah. Ia mengeluarkan segumpal darah kotor dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah. Ia berusaha untuk berjalan keluar dari hutan kematian dengan tertatih-tatih. Setelah beberapa saat kemudian, Lili akhirnya keluar dari hutan kematian. Betapa tidak beruntungnya Lili. Tepat di saat ia telah keluar dari dalam hutan kematian, ia telah disambut oleh beberapa pasukan istana dan suaminya, putra mahkota Feng. Di sisi samping kiri suaminya, berdirilah seorang gadis yang sangat cantik. Gaunnya sangatlah terbuka hingga menampakkan kemolekan tubuhnya. Lili melirik ke arah gadis yang berdiri di sebelah kiri Feng, suaminya.


"Putri Cariz, apakah dia..." batin Lili tanpa melanjutkan perkataannya.


"Wahhh... hari ini hari apa ya? Apa ada perayaan festival?!" ejek Lili dengan wajah menyeringai.


Tanpa menjawab pertanyaannya, putra mahkota Feng mengangkat tangan kanannya ke atas, seolah memberi isyarat kepada pasukannya untuk menyerang istrinya. Seolah mengerti isyarat yang telah ia perintahkan, seluruh pasukan istana mulai menyerang Lili dari segala arah. Lili yang melihat dirinya telah diserbu oleh ribuan pasukan istana, hanya yg tersenyum dingin. Hanya dengan hentakkan kaki kanannya di atas tanah, seluruh pasukan istana langsung terpental menjauh darinya, dan tersungkur di atas tanah. Putri Cariz kaget melihat kekuatan Lili yang sangat dahsyat. Ia pun melirik ke arah putra mahkota Feng yang berada di sebelahnya. Ia melihat putra mahkota Feng tidak bergeming. Putri Cariz lalu mengalihkan pandangannya ke arah ribuan pasukan istana yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Kenapa kita berdua tidak berduel saja, Yang Mulia?!" tanya Lili dengan nada sinis.


"Humph, aku takut kau tidak bisa menahan seranganku?!"


"Benarkah?!"


"Ya. Lihat saja dirimu. Tubuhmu penuh luka. Aku tidak ingin menggertak yang lemah."


"Dasar bodoh! Jika bukan karena kau, aku tidak akan mengalami keguguran!" umpat Lili dalam hati.


"Tsk, aku tidak butuh belas kasihanmu!"


"Benarkah?!"


"Yang Mulia, jika kau tidak ingin berduel dengannya, biar aku saja yang menggantikanmu. Bagaimana?!" sela Putri Cariz.


Mendengar hal itu, putra mahkota Feng sangat terkejut. Ia tak tahu harus berkata apa kepada putri Cariz. Di satu sisi, ia sangat marah kepada Lili karena telah membunuh ayahandanya. Di sisi lain, ia masih mencintainya dan berharap Lili mau kembali berada disisinya. Namun, melihat sosok tatapan kebencian Lili kepadanya, rasanya tak mungkin bagi Lili untuk kembali lagi kepadanya.


"Aku setuju. Jika Yang Mulia tidak ingin berduel denganku, kau saja yang menggantikannya. Aku sangat ingin melampiaskan amarahku sekarang!" sindir Lili.


Betapa terkejutnya putra mahkota Feng mendengar istrinya mengatakan hal itu secara terang-terangan kepadanya.


"Baik. Aku tidak akan sungkan!" jawab Putri Cariz sambil terbang ke arah Lili dan menyerangnya dengan tongkat sihir miliknya yang sedari tadi ia keluarkan.


Klang!


Bunyi suara tongkat sihir yang memukul pelindung transparansi yang melindungi Lili.


Bzzzttt! Bzzzttt! Bzzzttt!


"Sialan! Sejak kapan ia menggunakan pelindung!" gumam putri Cariz.


"Tsk, butuh seratus tahun untukmu mengalahkan aku!" bentak Lili


Dan seketika putri Cariz terpental dan tubuhnya menabrak pohon dan merosot jatuh di atas tanah. Ia pun muntah darah. Melihat putri Cariz jatuh tersungkur di atas tanah, putra mahkota Feng berteriak dan terbang menuju ke arah putri Cariz.


"Cariz!" teriak putra mahkota Feng sambil terbang menuju ke arah putri Cariz yang tergeletak di atas tanah.


"Cariz?!" gumam Lili.


Ia kaget mendengar suaminya menyebut nama Cariz di depannya. Selama ini, Lili mendengar suaminya, putra mahkota Feng memanggil putri Cariz dengan panggilan formal. Namun sekarang, ia mendengarnya sendiri, bahwa suaminya memanggil putri Cariz dengan panggilan akrab, bukan formal. Lili melihat dengan kedua matanya sendiri, bahwa suaminya, putra mahkota Feng menghampiri wanita lain dan menolongnya. Tidak hanya itu, ia melihat pemandangan dimana suaminya memeluk wanita lain ke dalam pelukannya. Ia mengepalkan kedua tangannya. Tanpa ia sadari,bahwa ia telah melukai kedua tangannya dengan aliran sihir hitam yang mengalirkan di kedua tangannya. Hingga kedua tangannya berlumuran darah. Hatinya sangat sakit melihat pemandangan di depan matanya. Ia melihat suaminya lebih memilih untuk menolong wanita lain daripada dirinya. Karena tak kuasa melihat pemandangan mesra di hadapannya, Lili segera berbalik dan pergi meninggalkan mereka.


"Berhenti disana!" teriak putra mahkota Feng.


"Apa maksudmu?!"


"Maksudku... hubungan kita sudah berakhir!"


"Apa?! Apa maksudmu dengan hubungan kita sudah berakhir?!"


"Dendam diantara kita telah berakhir. Ayahandamu telah membinasakan seluruh keluargaku. Dan aku, telah membunuh ayahandamu! Jika kau masih belum puas dan ingin membalas dendam kepadaku, aku akan menunggumu!"


"Balas dendam?! Lili, mari kita lupakan kejadian yang pernah terjadi di antara kita. Mari kita buka lembaran baru lagi, bersama-sama."


"Lembaran baru? Tentu saja. Aku membuka lembaran baru dalam hidupku tanpa kau. Dan kau membuka lembaran baru dalam hidupmu tanpaku. Kita berdua akan berjalan di jalan masing-masing. Selamat tinggal. Aku harap, kau bahagia dengan wanita yang kau cintai." ucap Lili tanpa menoleh ke arahnya dan terus berjalan menjauh dari mereka.


"Berhenti! Aku bilang berhenti! Lili! Lili!!!" teriak Putra mahkota Feng yang mencoba menghentikan Lili yang berjalan menuju hutan kematian.


Namun, seolah tak menghiraukan teriakan putra mahkota Feng yang memanggil namanya, Lili terus berjalan maju ke depan. Rasa sakit yang ia rasakan di dalam hatinya dan sekujur tubuhnya, tidak ia rasakan. Ia terus berjalan maju memasukki hutan kematian yang telah ia segel. Ia membuka segel hutan kematian itu, membiarkan orang lain masuk ke dalamnya. Namun, bagian dalam dari hutan kematian itu, telah ia segel dan tak bisa dimasukki oleh orang lain.


Lili pun berjalan dengan langkah kaki yang terseret. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, karena ia mendengar langkah kaki seseorang di udara. Ia pun mengamati seluruh sekitar hutan, namun tidak ada siapapun disana. Saat ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia merasa kehadiran seseorang yang berada tepat di belakangnya.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan?!" tanya Lili tanpa menoleh ke belakang.


"Kau yang membuka segel hutan kematian ini?!"


"Ya."


"Kenapa kau melakukan itu?!"


"Bukan urusanmu!"


"Kau mau pergi kemana?!"


Mendengar pertanyaan itu, Lili pun menoleh ke belakang. Ia melihat Pangeran Sirzechs yang sedang berdiri menatapnya. Melihat Lili menoleh ke belakang, Pangeran Sirzechs kaget bukan main. Ia melihat Lili dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia melihat gaun Lili penuh dengan noda darah. Melihat pangeran Sirzechs menatap dirinya, Lili dengan dingin menjawab pertanyaannya.


"Bukan urusanmu!" jawab Lili sambil membalikkan badannya.


"Tunggu!"


"Ada apa lagi?!"


"Apa kau baik-baik saja?!"


"Ya."


Lili pun pergi meninggalkan Pangeran Sirzechs yang masih berdiri menatapnya dari belakang. Baru beberapa langkah, Lili pun berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Maaf, sudah merepotkanmu. Terima kasih."


Setelah mengatakan hal itu, Lili pun pergi meninggalkan Pangeran Sirzechs disana. Bayangan punggungnya perlahan menghilang di depan mata pangeran Sirzechs. Melihat bayangan Lili perlahan menghilang dari hadapannya, ekspresi sedih mulai terlihat di wajahnya.


"Lili, kenapa kau masih keras kepala?! Tapi, aku tidak akan menyerah dengan mudah." gumam pangeran Sirzechs