PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Musuh Lama (9)


"Oh...jadi dia tetanggamu. Semoga kau betah di sini."


"Terima kasih guru." sahut Lili


"Ehem...baiklah, langsung kita mulai saja pelajaran hari ini." kata Ares sambil merapalkan mantra dan membuka telapak tangan kanannya.


Dari telapak tangannya, keluarlah kobaran api kecil lalu perlahan membesar membentuk sebuah naga api besar yang melingkar di tubuh sang guru. Semua murid yang menyaksikannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya diikuti perasaan kagum yg luar biasa. Suara riuh dari tepuk tangan murid-murid menambah keramaian dan decak kagum yang benar-benar tak dapat diungkapkan melalui kata-kata. Hanya dengan selentikan jarinya, naga api besar itu menghilang seperti angin. Teriakan kekaguman dan tepuk tangan dari semua murid menambah poin plus sang guru.


"Guru, kau sangat luar biasa." puji Sean


"Benar guru. Aku ingin menjadi sepertimu." tambah Gres


"Haishh... tampang-tampang penjilat mulai tebar pesona." batin Lili sambil menyeringai


"Terima kasih. Aku ingin kalian semua mencobanya. Aku ingin tau kemampuan sihir api kalian. Lakukan sekarang. Kerahkan semua kekuatan dan kemampuan kalian. Lakukan yang terbaik."


"Baik guru." teriak semua murid didalam kelas secara bersamaan.


Semua murid mulai bersiap mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan mereka. Sebisa mungkin mereka mencoba melakukan yang terbaik seperti yang dicontohkan oleh guru mereka. Satu persatu semua murid mulai menggunakan sihir api. Ada yang nyala apinya kecil, ada yang besar, ada yang berbentuk sperti bola api. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa membentuk api itu menjadi sebuah benda yang hidup.


"Lili, kenapa kau tidak mencobanya?" tanya Krisan dengan bola api yang berkobar di tangan kanannya.


"A...aku..."


"Heh, ternyata ada sampah disini ya?" ejek Gres diikuti tawa menggelegar seisi kelas.


Mendengar Gres mengejek Lili, Krisan hendak melempar bola api ke arah Gres namun dihentikan oleh Lili.


"Biarkan saja. Lagipula ada guru disini." kata Lili sambil memegang tangan kiri Krisan


Mendengar ada kegaduhan di bangku belakang, guru Rey datang menghampiri mereka. Beliau melihat Lili yang tersenyum dengan santainya saat ia tidak melakukan sihir yang diperintahkannya.


"Ada apa ini?" tanya guru Rey


"Guru, coba kau lihat! Anak itu tidak mematuhi perintahmu." teriak Gres sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Lili.


"Atau jangan-jangan dia tidak bisa menggunakan sihir?!" ejek Sean dengan senyum dingin diwajahnya.


Mendengar Sean mengolok-olok dirinya, Lili hanya membalasnya dengan senyuman.


"Jadi kau ingin memberitahuku, kalau aku tidak bisa menggunakan sihir, bukan berarti aku yang salah juga kan? Bisa jadi orang yang membimbingku juga salah kan?!" sindir Lili


Mendengar sindiran pedas Lili, semua murid saling berbisik satu sama lain. Mereka menganggap bahwa Sean telah memandang remeh guru Rey.


"Berani sekali ya Sean berbicara begitu?" bisik salah satu murid laki-laki.


"Iya. Aku tidak pernah menduga, Sean ternyata orang yang seperti itu."


"Guru Rey pasti marah. Belum pernah ada murid berani yang berani merendahkannya."


"Habislah kau Sean!"


Mendengar banyak orang yang berbisik mengatakan bahwa dirinya telah memandang remeh guru Rey, Sean merasa dirinya terpojok. Ia menoleh ke arah guru Rey. Ia melihat guru Rey menatapnya dengan wajah gelap. Seolah tidak tau apa yang harus ia lakukan, ia berbalik menatap Lili dengan wajah penuh amarah yang terpendam.


"Memfitnahmu? Apa kau punya bukti? Kalau kau tidak punya bukti, itu sama saja dengan kau memfitnahku. Mana ada maling teriak maling?!" ejek Lili sambil menyeringai


Mendengar perkataan Lili, semua murid tertawa keras. Melihat semua murid di dalam kelas menertawainya, Sean semakin geram. Ia mengepalkan tangan kanannya dan mulai meneriakki Lili sambil menunjuk telunjuknya ke arah Lili.


"Kau?!" kata Sean


"Cukup!" Sela Guru Rey


Mendengar guru Rey mengeluarkan sepatah kata, semua murid langsung terdiam. Kelas menjadi hening kembali. Guru Rey mengalihkan pandangannya ke arah Lili.


"Apa kau benra-benar tidak bisa menggunakan sihir?!" tanya guru Rey kepada Lili


"Tidak tahu." jawab Lili dengan santai


"Kenapa tidak tahu? Apa kau tidak pernah berlatih sihir sedikit pun?"


"Tidak."


"Anak ini jujur sekali. Tapi aneh, kenapa aku tidak bisa merasakan sihir sedikit pun dari dalam dirinya?" batin guru Rey.


"Huff, sepertinya aku harus mengajarimu mulai dari awal."


"Maaf telah merepotkanmu guru."


"Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi kewajibanku. Mengajari murid-muridku supaya kelak mereka semua bisa sukses di masa depan. Suatu kebanggaan terbesarku bisa mencetak generasi yang berbakat." terang guru Rey.


"Guru Rey sudah melakukan tugas dan kewajiban sebagai guru dengan sepenuh hati. Aku yakin, guru bisa mencetak murid yang berbakat disini."


"Terima kasih. Lidahmu manis juga ya?" goda guru Rey sambil tersenyum.


"Hehehe."


"Baiklah, sekarang kau coba ikuti gerakanku."


"Baik."


Guru Rey mulai melakukan gerakan. Tangan kanannya mulai bergerak ke atas dan berputar seolah membuat lingkaran diudara. Perlahan muncullah sebuah gumpalan bola api yg semula kecil perlahan mulai membesar. Bola api itu kini berada di atas telapak tangan guru Rey. Semua murid yang melihat guru Rey dengan sukarela mengajarkan Lili di depan mata mereka, semuanya serentak bertepuk tangan. Ribuan pujian keluar atas nama guru Rey. Guru Rey hanya menanggapinya dengan tersenyum. Pandangan matanya beralih kepada Lili.


"Bagaimana? Apa kau ingin mencobanya?" tanya guru Rey kepada Lili.


"Guru, bukannya aku tidak mau melakukannya. Bagaimana kalau aku gagal? Aku pasti merusak reputasimu?"


"Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Lebih baik kau mencobanya. Jadi aku bisa tau dimana letak kesalahanmu. Apa yang kurang darimu."


"Baiklah, karena guru Rey sendiri yang mengatakan itu. Maka aku tidak akan ragu lagi untuk melakukannya."


Lili pun mulai melakukan gerakan yang sama persis dengan yang diajarkan oleh guru Rey. Melihat Lili menirukan gerakannya tanpa kesalahan kecil, guru Rey hanya tersenyum. Dalam hatinya ia berkata "Anak ini benar-benar diluar dugaan. Ia mampu menirukan gerakan yang aku ajarkan tanpa ada kesalahan." batin guru Rey.


Perlahan-lahan muncullah bola api yang semula kecil dari tangan Lili, kini perlahan mulai membesar dan keluarlah sesosok burung api raksasa dari tangannya dan keluar menembus kaca jendela kelas. Semua murid kaget tak mampu berkata-kata melihat pemandangan ini. Bahkan guru Rey sendiri tidak percaya ada murid yang mampu mempraktekkan gerakannya dalam sekali lihat. Melihat ada burung api raksasa terbang di sekitar sekolah, semua murid dari kelas lain berkerumun di jendela menyaksikan kejadian ini.


"Burung api milik siapa itu?"