PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Hutan Kematian 4


"Suara apa itu?" tanya Krisan


"Entahlah. Ayo kita lihat!"


Mereka berdua berlari menuju arah asal suara. Dan arah yang mereka tuju adalah arah yang ditunjukkan oleh murid perempuan yang menghilang tadi adalah Danau Abadi. Keduanya pun berhenti berlari dan betapa kagetnya mereka dengan apa yang dilihat. Seekor monster raksasa dengan tinggi lebih dari sepuluh kaki sedang memunggungi mereka. Terdengar suara mengunyah yang sangat keras dari arah monster itu. Krisan dan Lili pun berjalan mengendap-endap, bersembunyi di antara semak belukar sambil mengawasi monster raksasa yang asyik mengunyah makanannya. Air liurnya menetes dari sela-sela gigi taringnya. Cakarnya mengoyak makanannya dengan brutal. Dilihat dari dekat, monster itu mirip seperti manusia serigala. Tiba-tiba tanpa sengaja Krisan menginjak ranting pohon dan menimbulkan suara retakan yang membuat raksasa itu menjadi waspada dan menoleh ke belakang. Jantung Lili dan Krisan seolah berhenti seketika saat monster raksasa itu mulai menjadi waspada dan mengawasi area sekitarnya. Dilihatnya tidak ada siapapun di belakangnya. Ia lalu melanjutkan makannya dengan suara mengunyah yang keras. Dirasa raksasa itu sudah menurunkan kewaspadaannya, Lili dan Krisan akhirnya bisa bernafas lega. Baru beberapa detik mereka bisa bernafas lega, baik Krisan maupun Lili merasakan hembusan angin dari atas kepala mereka diikuti suara dengusan mengerikan. Perlahan-lahan mereka mendongak ke atas dan dilihatnya wajah monster serigala raksasa dengan taring-taringnya yang tajam mengkilat yang siap mengoyak mangsanya. Sorot matanya yang tajam dan bengis mulai menelanjangi keduanya.


Tanpa basa-basi, keduanya segera melompat menjauh dari hadapan monster raksasa itu. Dengan penuh amarah, monster raksasa itu meraung sangat keras sambil memperlihatkan kuku cakarnya yang tajam. Sorot matanya berwarna merah dengan air liur yang menetes disertai suara erangan yang keras. Monster raksasa itu berjalan mendekati keduanya. Ia menginjak dan menghancurkan segala apa yang ada di hadapannya.


"Krisan, monster apa itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Gawat, dia mendekati kita!!!"


"Rantai api!" teriak Krisan sambil mengangkat kedua tangannya.


Rantai api keluar dari kedua telapak tangannya dan melilit tubuh monster itu. Ia membuat sedikit gerakan mengunci tangannya dan merapalkan mantra. Rantai api itu melilit tubuh monster itu sangat kencang. Rantai api itu meledakkan kobaran api di sekitar tubuh monster itu. Monster itu berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan rantai yang mengikat tubuhnya. Ia meraung sangat keras sehingga memekikkan telinga siapa saja yang mendengarkan.


"Wahhhh... Krisan hebat! Ayo Krisan, semangat. Bantai monster itu!"


Lili sangat antusias memberikan semangat pada Krisan. Lilitan rantai api itu semakin mengencang kuat. Monster itu semakin marah sambil mengibaskan rantai agar rantainya lepas dari tubuhnya. Keringat bercucuran di seluruh wajah Krisan. Ia menggertakkan giginya. Kedua tangannya gemetar. Ia merasa kewalahan menghadapi monster raksasa yang kekuatannya sangat luar biasa. Monster raksasa itu semakin bergerak liar sambil meraung dengan keras. Di sekitar tubuhnya mengeluarkan pusaran angin hitam. Bunyi ledakan keluar dari pusaran angin hitam. Karena tak kuat menahan serangannya, Krisan pun dipukul mundur ke belakang. Hingga akhirnya ia terpental jauh ke belakang. Melihat Krisan terpental jauh ke belakang dan terbatuk darah, Lili pun panik. Ia berlari ke arah Krisan. Namun , semuanya sia-sia. Lili merasa ada sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya. Ia merasa ada tekanan yang sangat kuat di belakang punggungnya. Ia pun menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok monster raksasa itu sedang melotot kepadanya dan meraung dengan keras sambil meraih Lili dengan tangannya. Dengan gerakan cepat Lili menghindar dari terkaman monster raksasa itu. Melihat mangsanya kabur dari terkamannya, monster itu meraung penuh dengan amarah. Ia meluncurkan gumpalan cairan lendir berwarna hijau ke arah Lili. Beruntungnya Lili bergerak sangat cepat sehingga dia bisa menghindari serangan cairan lendir hijau yang menjijikkan itu. Tidak hanya menjijikkan, gumpalan cairan lendir yang berwarna hijau itu mengeluarkan bau anyir. Tidak hanya itu, cairan lendir itu juga mampu melelehkan benda-benda yang ada di sekitarnya.


"Tsk, menjijikan!"


Monster raksasa itu semakin marah melihat mangsanya yang mampu menghindari serangannya. Lili terus melompat ke sana kemari menghindar dari serangan yang diluncurkan raksasa itu. Ia berlari dan melompat hingga menuju tempat dimana Krisan jatuh terpental. Melihat mangsanya sudah menghilang, monster raksasa itu meraung sangat keras dengan mengeluarkan semburan api dari dalam mulutnya ke atas langit. Ia sangat marah besar. Setelah dirasa cukup jauh, Lili mengamati daerah sekitar. Dan akhirnya dia menemukan Krisan. Lili melihat kondisi Krisan yang tak sadarkah diri akibat terpental keras dan jatuh di atas tanah.


"Krisan, bangun Krisan! Krisan!!!" teriak Lili sambil menepuk lembut kedua pipi Krisan.


Dengan tenaga yang tersisa, Krisan perlahan-lahan membuka kedua matanya. Samar-samar ia melihat wajah Lili.


"Lili, kaukah itu? Syukurlah kau baik-baik saja."


"Lalu bagaimana dengan tokenmu?!"


"Aku bisa mencarinya nanti."


Suara dan getaran hebat akibat langkah kaki monster raksasa itu membuat Lili menjadi semakin waspada. Ia merasakan bahwa monster raksasa itu semakin mendekat ke arahnya. Dan benar saja monster itu sudah ada di depan mata. Kedua sorot mata monster itu ada dipenuhi amarah. Tatapannya yang bengis, sudah siap menerkam mangsanya.


"Astaga monster jelek ini sudah menemukan aku. Krisan ayo naik ke punggungku."


Belum sempat Krisan naik ke atas punggungnya, monster raksasa itu kembali menyemprotkan cairan lendir berwarna hijau itu ke arah mereka berdua.


"Lili, awas!!!" teriak Krisan


Lili pun menoleh dan melihat monster raksasa itu menyemprotkan cairan lendir berwarna hijau itu kembali ke arah mereka berdua. Lili yang tak sempat menghindar akhirnya membuat penghalang untuk mereka berdua. Namun, hal itu sia-sia. Penghalang yang dia buat, perlahan mulai keropos dari dalam.


"Tsk, sialan! Penghalang ini tak bisa bertahan lama. Apa yang harus kita lakukan?!"


"Yang bisa kita lakukan cuman satu. Kita harus melawannya!"


"Biar aku saja yang melawannya. Kau pulihkan dirimu dulu."


"Maafkan aku Lili. Gara-gara aku, kau tidak bisa menyelesaikan misimu. Aku hanya akan menjadi bebanmu!"


"Tidak perlu kau pikirkan hal itu. Lagipula akan ada banyak misi yang harus aku selesaikan. Tidak hanya misi ini saja. Kau sekarang istirahat dulu. Aku yang akan mengurus monster sialan itu."


"Terima kasih."


Lili pun berdiri dan mulai melakukan gerakan sederhana. Ia membuat beberapa gerakan dan mulai mengunci kedua tangannya. Sayangnya gerakan itu terbaca oleh monster raksasa itu. Segera monster itu meledakkan penghalang itu dengan semburan gumpalan api dari dalam mulutnya.