
"Apa itu?!"
Melihat adik tirinya bertanya serius kepadanya, Pangeran Sirzechs hanya menghela nafas. Ia ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Aku rasa, kau sudah mengetahui jawabannya bukan?"
"Tidak."
"Baguslah."
"Aku rasa cukup sampai disini pembicaraan kita kak. Aku pamit dulu." kata putra mahkota Feng sambil beranjak dari tempat duduknya.
Baru beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik menatap ke arah pangeran Sirzechs.
"Oh ya kakak, jangan lupa untuk menghadiri pesta pernikahanku yang akan diadakan satu bulan lagi. Aku sangat menantikan kehadiranmu."
Setelah mengatakan hal itu, putra mahkota Feng pergi meninggalkan Pangeran Sirzechs.
"Shion."
"Ya Yang Mulia." jawab Shion yang berdiri di belakang, tak jauh dari tempat ia duduk.
"Pergi dan beritahu Sasorri untuk mencari keberadaan nona Lili. Beritahu aku jika dia sudah berhasil menemukannya."
"Baik Yang Mulia."
Kemudian Shion pamit kepada pangeran Sirzechs. Kini tinggallah pangeran Sirzechs sendirian di tempat itu.
"Lili."
Disisi lain, putra mahkota Feng tidak langsung kembali ke istananya. Ia pergi ke rumah Lili. Ia mengetuk pintu rumah itu sebanyak tiga kali belum ada yang membukakan pintunya.
Tok... tok... tok...
Kreeakk (suara pintu dibuka dari dalam)
Keluarlah Hana yang sedang membukakan pintunya sambil menggendong Lexi di pinggangnya. Putra mahkota Feng melihat Hana, pelayan pribadi Lili yang sedang menggendong adik dari calon istrinya yang sedang tertidur. Melihat yang mengetuk pintu adalah Yang Mulia, Hana memberi hormat kepadanya sambil menggendong Lexi di pinggangnya.
"Yang Mulia."
"Berdirilah. Tak perlu bersikap formal seperti ini, saat kau sedang menggendong seorang anak."
"Maaf Yang Mulia."
"Kedatanganku kemari, ingin bertanya padamu. Dimana Lili sekarang? Apa dia sudah pulang?"
"Nona Lili? Dia belum pulang Yang Mulia."
"Apa katamu?"
"Iya Yang Mulia. Nona Lili belum pulang sampai sekarang. Bukankah, sebelumnya... Yang Mulia pergi bersama nona Lili?"
"Ya. Tapi, dia berpamitan untuk pulang lebih awal."
"Apa nona Lili sedang bertengkar dengan Yang Mulia?" pikir Hana dalam hati.
"Apa Yang Mulia, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadanya?"
"Ada. Katakan kepadanya untuk pulang tepat waktu dan jangan keluar tanpa perintah dariku. Aku akan kembali lagi kemari."
"Baik Yang Mulia." jawab Hana sambil membungkukkan badan sedikit ke arah Yang Mulia sebagai rasa hormat kepadanya.
Putra mahkota Feng berjalan melangkah keluar dari rumah Lili. Melihat putra mahkota Feng masuk di dalam kereta dan pergi bersama para pengawalnya, Hana langsung masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Selanjutnya, ia pergi menemui tuannya yang berada di dalam kamar.
Tok... tok... tok...
"Nona."
"Masuklah."
Hana langsung membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Ia melihat Lili sedang berbaring di atas ranjang tempat tidurnya. Melihat Hana masuk ke dalam kamarnya, Lili berusaha bangun dan duduk bersandar di ranjang tempat tidurnya.
"Ada apa? Apakah dia datang kemari?"
"Benar. Sesuai dengan dugaan nona. Yang Mulia putra mahkota datang kemari dan menanyakan, apa nona sudah pulang atau belum."
"Hanya itu saja?"
"Oh ya, Yang Mulia putra mahkota Feng juga berkata agar nona pulang tepat waktu dan jangan keluar tanpa perintah darinya. Beliau akan kembali lagi kemari."
"Hehh, belum jadi suami saja sudah mulai memerintah dan mengaturku." gerutu Lili.
"Hana, terima kasih. Kau boleh kembali beristirahat dikamarmu. Lagipula Lexi juga sudah tertidur. Kau boleh membaringkannya di atas tempat tidurnya."
"Terima kasih nona."
"Ya."
"Ini sudah mau tengah malam. Apa dia akan datang menemuiku lagi?"
Lili melirik ke arah kalender duduk yang ada di atas meja riasnya. Ia melihat nama bulan disana.
"Huff, tak terasa hari pernikahanku semakin dekat. Hanya tinggal satu bulan lagi, aku akan menikah dengan putra mahkota Feng. Pria yang selama ini memandangku sebelah mata."
Tiba-tiba ia mendengar seseorang sedang mengetuk pintu jendelanya. Ia melihat Pangeran Sirzechs sedang menatapnya di luar jendela. Lili pun membuka jendelanya dan pangeran Sirzechs masuk ke dalam kamarnya seperti biasanya.
"Sirzechs, kenapa kau datang kemari? Bagaimana dengan lukamu?" tanya Lili sambil memegang lengan kanan Sirzechs
"Aku baik-baik saja." jawab Sirzechs sambil tersenyum.
"Ada apa kau tengah malam begini, datang menemuiku?"
"Aku merindukanmu." jawab Pangeran Sirzechs sambil mengelus pipi kanan Lili dengan lembut.
Lili yang pipi kanannya disentuh lembut oleh Pangeran Sirzechs langsung menepisnya. Ia tak berani menatap wajah pria yang berdiri di depannya. Melihat Lil menepis tangannya, sontak membuat pangeran Sirzechs kaget bukan main. Namun, ia tetap tersenyum dan bersikap tenang.
"Kurang satu bulan lagi, kau akan resmi menjadi istri dari putra mahkota Feng. Kelak aku akan memanggilmu Ratu dan adik ipar. Dan kau akan memanggilku dengan sebutan kakak ipar." kata Pangeran Sirzechs dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Melihat ekspresi sedih di wajah Pangeran Sirzechs, membuat hati Lili menjadi sakit. Ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghibur sahabatnya itu, terlebih menghibur dirinya sendiri.
"Lili."
"Ya Yang Mulia."
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Apa itu?"
"Aku akan pergi."
"Pergi? Kau akan pergi kemana Sirzechs?"
"Kultivasi tertutup.".
"Kenapa?"
"Tentu saja untuk meningkatkan kekuatanku, apa lagi coba?!"
"Tapi, dengan kondisi tubuhmu yang masih terluka... apa tidak berbahaya?"
"Tidak. Aku baik-baik saja. Selama aku bisa melihat senyumanmu, aku akan baik-baik saja."
"Sirzechs."
"Ya."
"Aku dengar kau membatalkan pernikahanmu dengan Putri Cariz. Apa itu benar? Kenapa?"
"Karena baik aku dan dia tidak saling mencintai. Jadi untuk apa dilanjutkan?"
"Tapi, bukankah itu sama saja kau melanggar perintah ayahmu?"
"Tentu saja. Tapi asal kau tahu, dia bukan ayah kandungku. Jadi dia tidak berhak untuk mengatur kehidupanku."
"Benarkah?"
"Ya. Apa kau terlihat seperti pembohong dimatamu?"
"Tidak. Kau terlihat seperti bajingan mesum yang suka menyelinap ke kamar gadis muda setiap malam setiap hari."
"Ahahaha... terima kasih atas pujiannya. Lili, kau tidak memberiku sebuah hadiah."
"Untuk apa?"
"Untuk perpisahan kita. Dan maaf, aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu."
"Begitu ya."
Pangeran Sirzechs melihat ekspresi kekecewaan di wajah Lili. Sambil tersenyum ia menarik Lili ke dalam pelukannya.
"Kau tidak perlu bersedih. Aku akan selalu berada disampingmu. Jika kau membutuhkan aku, kau beritahu saja aku."
"Aku tidak yakin akan hal ini." kata Lili sambil melepas pelukannya dan mendorong Pangeran Sirzechs ke belakang.
"Kenapa?!"
"Sirzechs, sebentar lagi aku akan menjadi adik iparmu dan kau adalah kakak iparku. Dan, adikmu kelak akan menjadi raja. Setidaknya kita harus menjaga jarak. Aku tidak ingin melihat lautan darah. Terlebih kau dengan adik tirimu"
Mendengar perkataan Lili, Pangeran Sirzechs mengepalkan tangan kirinya. Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju ke arah jendela.
"Terima kasih atas perhatianmu. Aku permisi. Selamat malam." kata Sirzechs tanpa menoleh ke belakang dan menghilang seperti siluet bayangan hitam.